Kesederhanaan Geplak Jago [jajan jogja]


Kesederhanaan Geplak Jago

Salah satu oleh-oleh khas Yogya adalah geplak. Jajanan ini mungkin bisa dikatakan sebagai makanan paling sederhana. Lebih sederhana dari kipo, yang juga termasuk jajanan khas Yogya. Bahan geplak hanya dua: gula dan kelapa. Kebersahajaan tampaknya memang menjadi ciri khas Yogya, tak terkecuali dalam urusan makanan.

Jika kipo yang terkenal berasal dari Kotagede, geplak yang terkenal berasal dari Bantul. Tepatnya, Geplak Jago. Toko sekaligus rumah untuk produksinya berada di Jln. Wachid Hasyim No. 28, Gose, Bantul. Fauzan Jafar, pemilik toko ini, sudah mulai berjualan geplak sejak 1967.

Sejarah geplak, kata Fauzan, tidak terlepas dari keberadaan Bantul pada masa lalu sebagai penghasil gula dan buah kelapa. Pada masa kolonial Belanda, Bantul terkenal sebagai penghasil gula tebu. Tidak tanggung-tanggung, tercatat ada enam buah pabrik gula pada masa itu. Tanah-tanah pertanian ditanami tebu.

Selain penghasil gula tebu, Bantul, yang letak geografisnya di pesisir selatan, juga penghasil buah kelapa, dan tentu saja sekaligus penghasil gula kelapa. Produksi kelapa dan gula yang melimpah inilah yang melahirkan geplak. Makanan ini bisa membuat gula dan kelapa punya nilai tambah.

Bahan utama geplak adalah kelapa. Kelapa ini diparut lalu dicampur dengan gula. Gula yang dipakai bisa gula kelapa, bisa gula tebu. Campuran ini lalu dibentuk menjadi bola-bola yang kemudian disangrai. Hanya begitu prosesnya. Sederhana sekali.

Jika gula tebu yang dipakai, hasil akhirnya berupa geplak berwarna putih kelabu. Jika gula kelapa yang dipakai, geplaknya berwarna cokelat. Rasanya tentu saja campuran antara gurih kelapa dan manis gula yang sangat legit. Yah, namanya juga gula. Begitu manisnya sampai bisa membuat kita haus setelah makan satu biji. Bahkan, mungkin saja kita tidak berselera menghabiskan satu biji karena saking manisnya. Setelah makan geplak, makanan atau minuman lain yang rasanya manis menjadi tawar karena kalah oleh rasa manis geplak. Teh manis pun akan terasa seperti teh tawar.

Pada masa lalu, masih kata Fauzan, geplak juga kadang berfungsi sebagai makanan alternatif pengganti. Pada saat paceklik, warga biasa mengonsumsi geplak sebagai makanan pokok.

Kini, geplak lebih dikenal sebagai makanan kecil sekaligus oleh-oleh khas Bantul dan Yogya. Seiring dengan permintaan konsumen, Geplak Jago kini membuat variasi rasa. Awalnya, hanya tersedia geplak gula kelapa dan geplak gula putih tanpa tambahan rasa. Kini tersedia juga geplak rasa vanili, cokelat, stroberi, dan durian.

Gula yang dipakai pun bukan lagi gula lokal Madukismo, satu-satunya pabrik gula yang masih tersisa di Bantul. Yang dipakai hanya gula tebu yang warnanya putih bersih. Pasalnya, kalau gula tebunya berwarna kelabu, warna geplaknya pun ikut menjadi kelabu. Tidak menarik.

Aneka pilihan rasa geplak itu dijual kiloan. Harganya Rp16.000,- per kilo. Setelah ditimbang, geplak ini dimasukkan ke dalam <i>besek</i> (anyaman bambu). Dari sekian banyak varian, geplak rasa durian paling favorit di kalangan pembeli. Makanan ini tergolong awet. Sampai satu bulan pun geplak tetap tidak tengik.

Sekalipun tampak seperti makanan yang remeh, hingga kini geplak masih cukup digemari konsumen. Buktinya, dalam sehari Fauzan bisa menjual hingga enam kuintal. Pada musim liburan, dalam satu hari ia kadang bisa menjual sampai dua ton! Tak salah, Geplak Jago memang jagonya geplak.

Selain menjual geplak, toko ini juga menjual aneka jajanan tradisonal lain seperti jenang dodol ketan, madumongso (jenang dari tape ketan), yangko (kue berbahan tepung ketan), dan juga bakpia. Madumongso Rp18.000,- per kilo. Jenang ketan Rp16.000,-. Bakpia kemasan kotak isi 18 biji Rp15.000,-.

Semua penganan ini diproduksi sendiri, bukan titipan. Proses produksinya dilakukan di rumah Fauzan yang luas, persis di belakang toko. Nyaris semua bagain rumahnya dipakai sebagai tempat produksi sampai Fauzan sendiri tidak punya kamar tidur. “Kalau malam, ya saya tidur di sini,” katanya sambil menunjuk dipan di toko yang tidak disekat oleh dinding.

Sehari-hari ia tinggal di tokonya. Karena itu, jam buka tokonya pun sesuai dengan jam ketika ia membuka pintu depan rumah sekaligus tokonya. “Habis subuh juga sudah buka,” katanya. Jam tutupnya pun sesuai dengan jam tidurnya. “Pokoknya kalau pintunya terbuka, berarti pembeli bisa dilayani,” katanya.

Geplak Jago

Jln. Wachid Hasyim No. 28, Gose, Bantul.

Telp. 0274 – 367727

Buka sejak subuh sampai jam tidur malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s