The Seven Habits of Highly Humorous People [*]

“Namanya juga hidup, kalau enggak ada susahnya ya bukan hidup namanya,” kata tetangga saya ketika mengomentari kenaikan harga BBM akhir Mei lalu. Komentar ini, sekalipun terkesan asal saja, bagi saya sama bermutunya dengan ucapan Hans Selye, penulis buku Stress of Life, “Stress is the spice of life. Complete freedom from stress comes only with death.

Ya, stres menyerang siapa saja, kapan saja, di mana saja. Tak terkecuali di tempat kerja. Tak peduli apa pun pangkatnya, semua pekerja tentu pernah mengalami stres. Termasuk saya yang bekerja sebagai buruh ketik di sebuah industri penerbitan media massa.

Bagi saya, yang pekerjaannya menulis, urusan stres ini seperti sebuah ironi. Saya beberapa kali ditugasi membuat artikel tentang bagaimana cara mengelola stres. Tapi ironisnya, saya menulis artikel itu dalam kedaan stres karena dikejar deadline. Aneka tips yang saya tulis itu seperti tidak berguna bagi diri saya sendiri. Singkat kata, mengelola stres itu (amat sangat) jauh lebih sulit daripada menulis tips tentang mengelola stres.

Namun, tentu saja tidak semua tips itu gagal saya praktikkan. Sebagian berhasil. Beberapa tips saya dapatkan dengan cara belajar secara diam-diam dari seorang “motivator” yang pernah saya wawancarai dua kali, yaitu Tukul Arwana. Jika diperbolehkan menjiplak Stephen R. Covey, tips ala Tukul ini saya beri nama The Seven Habits of Highly Humorous People.

Tips pertama Tukul, berusahalah untuk selalu positip tinking—sesuai cara dia melafalkannya. Saya yakin, siapa pun setuju bahwa pola pikir positip tinking ini bukan sesuatu yang gampang dipraktikkan. Dalam banyak hal, saya masih sering gagal menerapkan teknik ini. Tapi dalam beberapa hal, saya sudah berani mengatakan teknik ini berhasil.

Profesi sebagai tukang wawancara mengharuskan saya sering bertemu dengan aneka jenis orang. Sebagian di antara mereka, menurut saya, (maaf) agak menyebalkan. Ini sering membuat saya stres. Sekali waktu saya pernah ditugasi mewawancarai seorang artis. Untuk bisa mewawancarainya selama 15 menit saja, saya dipingpong berkali-kali dan harus membuang waktu untuk menunggu dia selama tiga hari kerja di tiga studio teve yang berbeda.

Saat itu, sejujurnya saya jengkel bukan alang kepalang. Saya menulis artikel seperti wartawan Bodrex—wartawan yang langganan sakit kepala dan gemar minum Bodrex. Baru setelah tulisan selesai, saya baru bisa berpikir agak waras. Saya sadar telah melakukan kesalahan karena tidak menyadari bahwa itu merupakan konsekuensi yang harus saya terima ketika memutuskan menjadi tukang wawancara. Sejak itu, saya selalu membekali diri dengan buku yang bisa saya baca kalau sedang menunggu narasumber. Belakangan, ke mana pun pergi, saya selalu membawa buku tulis kecil yang saya gunakan untuk menulis cerita fiksi. Jadi, ketika saya harus menunggu narasumber, saya bisa mengisinya dengan aktivitas yang positif. Itu kemudian juga membuat saya (relatif) lebih sabar menghadapi narasumber lain yang menyebalkan.

Tips kedua Tukul, anggap kesulitan sebagai tantangan. Dari sekian banyak teknik mengelola stres, ada satu teori yang paling saya sukai. Teori ini saya dapatkan saat jumpa pers dengan narasumber seorang psikiater. Kata dia, stresor itu ada dua macam, yaitu distresor dan eustresor. Distresor adalah stres yang membuat kita tertekan (negatif). Sedangkan eustresor adalah “stres” yang membuat kita makin bersemangat (positif).

Tidak ada batas yang tegas antara eustresor dan distresor. Tekanan yang bagi seseorang merupakan distresor, mungkin saja bagi orang lain adalah eustresor. Begitu pula sebaliknya. Semua tergantung dari cara pandangnya. Sebetulnya teori ini bukanlah sesuatu yang baru di dunia psikologi atau psikiatri. Tapi saya menyukai penjelasan tentang eustresor ini karena bisa memetakan masalah dengan jelas sehingga lebih mudah saya ingat saat menghadapi stres. Paling tidak, saya punya satu kosakata baru (yang bisa saya pakai saat menulis) yaitu eustresor. Paling tidak lainnya, saya juga punya satu mantra baru tiap kali menghadapi stres, “Distresor bisa diubah menjadi eustresor.” Atau, yang dalam peribahasa Inggris, “What doesn’t kill us makes us stronger.” Kalimat yang terakhir ini bukan berasal dari Tukul karena dia tidak begitu mahir berbahasa Inggris.

Dalam banyak hal, cara pandang ini sering berhasil buat saya. Ketika beban kerja saya ditambah, saya mencoba menerimanya sebagai tantangan. Saya berusaha lebih efektif mengatur waktu. Di luar dugaan saya, ternyata produktivitas saya juga memang meningkat. Saya masih bisa menyelesaikan tugas-tugas saya yang sebelumnya saya anggap tidak akan bisa diselesaikan. Ditambah lagi, saya juga menjadi lebih bersemangat menulis, termasuk menulis untuk pribadi, misalnya ikut lomba (meskipun jarang sekali menang).

Tips ketiga Tukul, hadapi hidup dengan humor. Tips ala Tukul ini saya praktikkan dengan cara yang agak malu-malu kepada diri sendiri. Ketika menerima beban kerja tambahan yang membuat stres, saya selalu mengatakan kepada diri sendiri bahwa itu adalah latihan buat saya untuk menjadi penulis yang lebih baik dan lebih produktif. Kadang, bahkan saya mengatakan secara bercanda bahwa itu latihan buat saya untuk menjadi “penulis yang top markotop”. Sedikit megalomania, memang. Seperti Tukul, yang saya kira adalah juga seorang megalomania yang rasional.

Saya benar-benar mengatakan ini kepada diri sendiri sekalipun saya agak malu kalau didengar orang lain. Itu sebabnya saya hanya mengatakannya di dalam hati. Saya memerlukan frasa “penulis yang top markotop” untuk membuat saya benar-benar bersemangat. Dan memang kenyataannya cara ini sering berhasil.

Salah satu tanda seseorang merasa tertekan adalah hilangnya selera humor. Artinya, kalau kita masih bisa berhumor, paling tidak kepada diri sendiri, itu berarti kita tidak merasa tertekan.

Tips keempat Tukul, jangan pernah anderistimit kepada diri sendiri. Kalau mau jujur, sebagian besar dari kita sebetulnya bukan hanya suka anderistimit kepada orang lain tapi juga sebetulnya anderistimit kepada diri sendiri ketika merasa tidak mampu melakukan sesuatu sebelum mencobanya. Kita jarang menyadari bahwa kita sebetulnya punya potensi. Tapi potensi itu sering tidak terasah karena kita sering menghindari tantangan. Tukul Arwana, menurut saya, adalah contoh yang baik dari tips ini. Sebelum ngetop, saya kira ia juga jarang menyadari potensinya.

Tips kelima Tukul, jangan suka mengeluh. “Di rumah, saya membina pelawak-pelawak baru. Kepada mereka saya tegaskan, jangan manja. Saya paling tidak suka dengan orang yang suka mengeluh. Hidup adalah kristalisasi keringat,” katanya
dengan gayanya yang khas, bibir monyong ke segala arah. Saya akui, Tukul memang benar. Dia seolah juga menyindir saya yang sering mengeluh ketika harus bekerja keras atau menghadapi hal yang tidak menyenangkan dari pekerjaan. Padahal, masih banyak sisi menyenangkan dari pekerjaan saya. Tapi semua itu seolah tidak saya sadari. Yang saya lihat hanya bagian buruknya saja. Dengan kata lain, saya masih terlalu manja.

Lebih dari itu, mengeluh adalah ciri seseorang yang merasa tertekan, stres. Kalau kita sanggup untuk tidak mengeluh, itu tandanya kita tidak merasa tertekan.

“Tanpa kita sadari, sebetulnya banyak stres yang kita ciptakan sendiri. Mungkin karena kita terlalu perfeksionis, mungkin karena kita tidak mengelola waktu dengan baik. Jadi, daripada mengeluh terus, lakukan dulu koreksi terhadap diri sendiri,” kata narasumber saya, seorang psikolog sumber daya manusia, yang juga mengagumi Tukul sebagai “motivator”.

Tips keenam Tukul, terima kenyataan apa adanya. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan, setiap orang tentu akan berusaha menghindarinya. Tapi kalau tidak bisa, mau pegimane lagi? “Dalam hidup, ada banyak hal yang tidak menyenangkan, yang tidak bisa dihindari. Hidup yang sempurna, yang enak terus itu hanya ada di dalam sinetron,” kata narasumber saya yang lain, seorang psikolog perempuan, pengasuh rubrik konsultasi di media perempuan, yang tampaknya sangat benci sinetron.

Kalau sudah tidak bisa menghindar, maka tidak ada cara lain, “Terima saja dengan ikhlas dan sabar, daripada naik darah,” kata seorang dokter ahli penyakit jantung yang saya wawancarai untuk topik hipertensi akibat stres. Jika keadaan sudah benar-benar tidak menyenangkan, saya memakai nasihat Tránsito Ariza kepada anaknya, Florentino, di film Love in the Time of Cholera, “Enjoy your pain.” Nikmati saja semua ketidaknyamanan itu karena di dalam hidup ada banyak hal tidak menyenangkan yang tidak bisa dihindari.

Tips ketujuh Tukul, jadilah diri sendiri. Hidup adalah pilihan. Dalam pengertian ini pula, kita berhak untuk menjadi diri sendiri, tidak harus meniru Tukul. Tips ini biasa saya praktikkan kalau saya benar-benar stres. Sesekali, menurut saya, cuek is the best. Untuk sementara, saya melupakan pesan para motivator yang selalu menekankan, “Kita pasti mampu!” Mereka tak pernah memberi perkecualian. Padahal, saya yakin kemampuan manusia sangat terbatas. Ada kalanya kita benar-benar tidak mampu tapi terus memaksakan diri untuk meraih sesuatu sampai membuat kita tidak pernah merasa tenang dalam hidup.

Saya kira secara naluriah semua manusia mengejar sesuatu yang kita sebut sebagai kebahagiaan. Dalam urusan ini, saya percaya sikap syukur dalam ajaran spiritualisme adalah sebuah terapi yang manjur. Menurut saya, ada kalanya kita harus memutuskan berhenti pada suatu titik kompromi di mana kita bisa mensyukuri apa yang sudah kita raih tanpa harus memaksakan diri untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi tapi dengan mengorbankan kebahagiaan.

Saya sengaja menjadikan tips ini sebagai pamungkas supaya saya tidak sering-sering menjadikannya sebagai alasan untuk menyerah. Hadapi dulu semua tantangan seperti Tukul, kalau memang benar-benar tidak mampu, ya mau pegimane lagi? Toh hidup adalah pilihan.

Jika semua tips ini saya sarikan menjadi satu saja, maka satu tips itu adalah selalu positip tinking tanpa kehilangan selera humor. Terus terang, sampai sekarang pun saya masih sering stres. Kiat-kiat ala Tukul itu kadang tidak berhasil saya praktikkan. Saya kira bohong besar kalau kita bisa menghindari stres sama sekali. Kalau ada orang seperti itu, saya kira itu hanya ada di dalam sinetron. Tapi setidaknya, dalam beberapa kasus stres, saya berani mengatakan bahwa The Seven Habits of Tukul Arwana ini sering berhasil, setidaknya buat saya.

[* Gedabrusan ini dibuat karena sebuah kesalahpahaman]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s