Gunung yang Selalu Berselimut Halimun

Tidak salah gunung ini disebut sebagai Gunung Halimun (kata “halimun” berasal dari bahasa Sunda yang berarti kabut). Siang, malam, pagi, dan petang, punuk-punuk bukit dan lekuk lembahnya selalu diliputi kabut tipis. Seolah malu-malu menampakkan keindahannya.

Gerbang menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini berada di Cikaniki, Sukabumi *). Kantor TNGHS yang berwenang mengeluarkan perizinan wisata ke daerah ini berada di Kabandungan, Parungkuda, Sukabumi.

Kami berangkat dari Jakarta naik bis jurusan Sukabumi. Sampai di Terminal Parungkuda, kami pindah angkutan menuju Desa Cipeutey, melewati kantor TNGHS. Cipeutey adalah desa terakhir yang dilewati mobil angkutan. Sampai di sini, kami oper ojek ke Cikaniki, dengan tarip Rp80.000,-. Cukup mahal karena memang jaraknya lumayan jauh dan rutenya tidak bersahabat.

Dari Cipeteuy, petualangan sudah dimulai. Jalan menuju Cikaniki belum beraspal dan hanya berupa batu-batu gunung yang ditata selebar badan mobil. Jaraknya sekitar 15 kilometer dengan rute menanjak-menurun. Sepeda motor Pak Ojek, yang mestinya hanya menggunakan gigi satu, dipacu ngebut dengan gigi dua dan bahkan gigi tiga. Ini membuat kami terguncang-guncang dengan hebat sampai tas punggung harus kami lepas dan kami letakkan di depan sadel. Kedua tangan kami harus berpegangan pada besi sadel motor. Saking lamanya terguncang-guncang di atas motor, saya sampai mengalami kram perut ketika sampai di Cikaniki.

Sebetulnya di kawasan Gunung Halimun terdapat banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Tapi karena cuma waktu efektif satu hari, kami hanya sempat mengunjungi Curug Macan (curug adalah bahasa Sunda yang berarti air terjun), Kebun Teh Nirmala (yang ini benar-benar tea plantation, bukan kebun milik Teteh Nirmala), rute hiking dari Stasiun Penelitian Cikaniki ke Desa Citalahab melewati hutan, dan Jembatan Kanopi (Canopy Trail).

Yang disebut terakhir ini mungkin objek wisata paling khas dari Gunung Halimun. Air terjun, kebun teh, dan hutan bisa dijumpai di banyak tempat. Tapi jembatan kanopi mungkin sulit dijumpai di tempat lain. Jembatan kawat baja sepanjang 100 meter ini dibuat di ketinggian 25 meter di atas tanah, menghubungkan lima pohon rasamala yang lingkar batangnya kira-kira sepanjang dua sampai tiga depa orang dewasa. Di bawah jembatan ini mengalir sungai yang airnya menuju Curug Macan. Dari atas jembatan, kita bisa menikmati suasana hutan dari sudut pandang yang tidak biasa karena posisi kita berada 25 meter di atas permukaan tanah.

Jembatan ini pada mulanya adalah tempat para peneliti melakukan pengamatan satwa Gunung Halimun. Saat ini, selain tetap berfungsi sebagai pos pengamatan satwa, jembatan kanopi ini juga dibuka untuk wisatawan.


Tiga satwa penting di hutan ini adalah macan tutul, owa jawa, dan elang jawa. Tapi selama di sini, kami hanya mendengar suara uwik-uwik owa jawa, melihat sepasang elang (tampaknya, elang hitam) terbang di tempat yang cukup jauh, dan didatangi oleh macan tutul di dalam mimpi. Semuanya tidak memungkinkan untuk dipotret.

Di sini untuk kali pertama saya menyaksikan kesaktian kawan saya. Dia, yang mestinya membawa kompor, lupa akan tugasnya. Untuk menebus kesalahannya, dia bersedia mengeluarkan kesaktiannya: menyemburkan api dari mulutnya untuk memasak mi instan
. Ya, kami memasak dengan ranting-ranting kering, dan ia bertugas meniup api terus-menerus sampai mi instan matang.

Sebetulnya di Cikaniki tersedia wisma untuk pengunjung dengan tarip Rp250.000,- sehari. Ditambah biaya makan Rp15.000,- sekali makan, per orang. Jika ingin lebih berhemat, kita bisa menginap di wisma di Desa Citalahab, tarifnya Rp75.000,-. Kalau mau lebih hemat lagi, kita bisa membawa tenda, seperti yang kami lakukan, dan berkemah di Bumi Perkemahan di dekat wisma tamu di Citalahab. Jangan lupa membawa kompor kalau tidak punya kemampuan menyemburkan api dari mulut.


*) Kantor TN Gunung Halimun Salak, Jln. Raya Cipanas, Kec. Kabandungan, Parungkuda, Sukabumi. Telp. 0266-621256.Faks. 0266-621257.

Advertisements

3 thoughts on “Gunung yang Selalu Berselimut Halimun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s