Intisari Mewarnai Setiap Generasi [intisari]


Penulis: M. Sholekhudin

Bagi sebuah majalah komersial seperti <i>Intisari</i>, ulang tahun ke-45 tentu sebuah pencapaian yang cukup penting. Selama masa itu, tim redaksi sudah berkali-kali mengalami regenerasi. Pembaca majalah juga sudah berganti generasi. Meski begitu, ada satu hal yang tidak berubah, yaitu pembaca yang setia, kritis, dan selalu punya minat terhadap ilmu pengetahuan.

Karakter pembaca sebuah majalah biasanya tak beda jauh dengan karakter majalahnya sendiri. Hal ini juga berlaku untuk <i>Intisari</i>. Sebagai sebuah majalah <i>general interest</i>, <i>Intisari</i> menyajikan hampir apa saja, mulai dari urusan kesehatan, teknologi, biografi, sejarah, sampai flora fauna, cerita kriminal, dan psikologi. Semua dibahas sehingga isinya lebih menyerupai bunga rampai.

Karena isinya yang beragam, pembacanya pun sangat heterogen. Usianya mulai dari usia siswa SD sampai kakek nenek. Profesinya mulai dari pelajar, mahasiswa, dosen, karyawan, pengusaha, sampai ibu rumah tangga. (Bahkan, seorang pembaca mengirim sms ke redaksi dan tanpa malu-malu mengaku sebagai penganggur.)

Di antara mereka, ada yang baru membaca <i>Intisari</i> beberapa bulan atau tahun, ada pula yang sudah berlangganan sejak majalah ini terbit edisi perdana di bulan Agustus 1963. “Koleksi majalah <i>Intisari</i> saya lengkap! Mulai edisi pertama sampai edisi bulan ini,” kata Husaini Azharny (usia 74 tahun), seorang pensiunan dosen yang tinggal di Bogor.

Husaini tidak sedang melebih-lebihkan diri. Di rumahnya, ia punya perpustakaan pribadi yang berisi ribuan buku dan majalah. Hampir semua terbitan <i>Intisari</i> ia koleksi. Bukan hanya majalah reguler, tapi juga <i>byproduct</i>­-nya. Semua tertata rapi di rak perpustakaannya. Lebih rapi daripada arsip yang dimiliki redaksi <i>Intisari</i> sendiri.

Ia bahkan masih ingat membeli edisi perdana <i>Intisari</i> saat berada di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, ketika menemani istrinya yang sedang melahirkan anak pertama. Saat itu harga <i>Intisari</i> di luar Jawa baru Rp65,-. “Anak pertama saya itu lahir sebulan setelah <i>Intisari</i> lahir,” katanya mengenang.

Saat <i>Intisari</i> masih belum memakai “baju”, Husaini menjaga koleksinya dengan cara menjilidnya rapi sekali, dengan sulaman benang dan kain. “Saya sendiri yang menjilid. Yang dipakai <i>nyulam</i> itu kain seragam saya,” kata Sri Mulyani, istri Husaini yang waktu itu bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Keuangan.

Husaini terus berlangganan karena menganggap majalah ini berisi sesuatu yang ia butuhkan. “Waktu itu belum ada majalah yang menampilkan sesuatu secara semi ilmiah seperti <i>Intisari</i>,” katanya. Tulisan-tulisan di <i>Intisari</i> selalu menarik buat dia karena yang disajikan adalah—mengutip pengantar redaksi terbitan Juli 1969—suatu persoalan, ditindjau setjara ilmiah, tapi disadjikan dengan tjara sederhana, jang mudah dimengerti, enak dibatja.

Saking cintanya dengan <i>Intisari</i>, ia tidak pernah melewatkan satu edisi pun. Ketika sedang tugas belajar di Belanda dan Amerika Serikat, ia berpesan kepada keluarganya di rumah agar menyimpan semua terbitan <i>Intisari</i> yang ia lewatkan. Sehingga, saat kembali ke Indonesia, ia masih bisa membaca artikel yang belum sempat ia baca saat berada di luar negeri.

Ketika <i>Intisari</i> merayakan ulang tahun ke-30, redaksi mengadakan sayembara berhadiah buat para pembaca yang loyal. Syaratnya, pembaca harus punya koleksi lengkap dan menjawab pertanyaan: artikel apa yang paling disukai di tiap tahun, sepanjang 30 tahun. Bagi Husaini yang koleksinya komplet, ini bukan persoalan repot. Ia tinggal membuka kembali arsip di perpustakaan pribadinya. Akhirnya, memang ia terpilih sebagai salah satu dari tiga orang pembaca setia yang menerima cendera mata dari <i>Intisari</i> berupa emas murni 30 gram.

Saat ini, ketika sudah 13 tahun pensiun pun, ia masih tetap rutin berlangganan <i>Intisari</i> dan beberapa “adiknya” seperti <i>Kompas</i> dan majalah-majalah terbitan Gramedia Majalah. <i>Intisari</i> tetap menjadi majalah wajib baginya meskipun ia mengaku tidak membaca semua artikel karena keterbatasan waktu. Ia rela membayar satu eksemplar majalah meskipun hanya membaca, katakanlah, dua artikel saja.

<b>Untuk mempertebal skripsi</b>

Lain lagi cerita Dennis Adishwara, aktor muda yang terkenal lewat iklan “<i>Hare gene gak punya hape</i>?” Pemain di film <i>Jomblo</i> yang tidak jomblo ini mengaku pertama kenal dengan <i>Intisari</i> saat masih di sekolah dasar. Waktu itu ia sering diajak orangtuanya berkunjung ke rumah budhenya.

Ketika orangtua mengobrol dengan sesama orangtua, Dennis kecil memilih membaca koleksi <i>Intisari</i> milik budhenya. Awalnya, ia hanya menikmati kartunnya saja. Tapi lama-lama ia juga menikmati artikelnya, terutama jika berkaitan dengan misteri-misteri, misalnya tentang piring terbang. Hingga SMP, SMA, dan bahkan saat kuliah di Universitas Indonesia (UI) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pun ia terus melanjutkan kebiasaan membaca <i>Intisari</i>.

Secara kocak, ia mengakui manfaat <i>Intisari</i> sebagai “majalah yang bisa dipakai untuk menambah tebal skripsi” karena sifat artikelnya yang semi ilmiah. “<i>Bayangin aja</i>, kalau tiga halaman <i>Intisari</i> diambil, diubah <i>dikit</i> bahasanya, ditulis pakai <i>font</i> Times New Roman 12, spasi ganda, <i>udah</i> jadi berapa halaman skripsi <i>tuh</i>?” katanya sambil ketawa <i>nyengir</i&gt
;
.

Di dunia hiburan yang lekat dengan stigma “modal tampang <i>doang</i>”, Dennis seolah hendak menandaskan bahwa pekerja seni pertelevisian pun butuh majalah ilmu pengetahuan populer seperti <i>Intisari</i>. Ia pernah punya pengalaman unik. Suatu kali, ia mengobrol dengan temannya sesama artis yang suka membaca artikel ilmu pengetahuan. Di tengah obrolan, temannya <i>nyeletuk</i> ingin menjadi foto sampul majalah <i>Intisari</i>. Tak tahunya, beberapa minggu kemudian Dennis mendapat telepon dari redaksi <i>Intisari</i> yang memintanya untuk menjadi foto sampul.

Dua tahun kemudian, ketika ia sedang berada di Tegal untuk keperluan syuting, ia ditegur seseorang yang rupanya pembaca setia <i>Intisari</i>. Orang ini kenal wajah Dennis tapi tidak tahu namanya. “Mas yang pernah jadi <i>cover</i> majalah <i>Intisari</i> kan?” kata orang itu menyapa Dennis. Rupanya, ia lebih mengingat wajah Dennis di sampul <i>Intisari</i> daripada di iklan televisi. “Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah <i>Intisari</i> memerlukan waktu dua tahun untuk sampai di Tegal,” katanya <i>ngelawak</i>.

Jika di dunia peran, Dennis sering tampil sebagai tokoh <i>bloon</i>, di dunia nyata ia justru sebaliknya. Saat ini ia sedang menyusun skripsi dengan tema yang cukup “berat” tentang melek media (<i>media literacy</i>) di kalangan orangtua terhadap acara televisi yang ditonton anak-anak. Makanya tak heran, ia bisa bicara perkara sinetron dengan bahasa semi ilmiah seperti yang dipakai di dalam artikel-artikel <i>Intisari</i>. Bahkan, saat ini ia sudah berancang-ancang untuk melanjutkan ke jenjang S2 di luar negeri setelah lulus dari IKJ nanti.

Pria yang senang jalan-jalan ini mengaku sering mengunjungi suatu tempat wisata setelah tempat itu dibahas di rubrik Langlang <i>Intisari</i>. Ketika sedang syuting di Semarang, misalnya, ia menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan Laksamana Cheng Ho setelah membaca artikelnya di <i>Intisari</i>.

Sebagai pembaca, ia setuju bahwa kelompok usia muda harus diperhatikan dalam pemilihan topik artikel. Menurutnya, orang muda seperti dia akan tertarik kalau <i>Intisari</i> menulis tentang, misalnya, mengapa laki-laki punya puting susu. “Ini mungkin kayak pertanyaan bodoh, tapi saya yakin pertanyaan ini tidak harus diikuti oleh jawaban yang bodoh,” katanya berteori.

<b>Untuk mengerjakan PR</b>

Pembaca <i>Intisari</i> tak hanya dari kalangan orang dewasa tapi juga anak-anak. Salah satu dari mereka, Dieni Nurulghina, usianya baru 10 tahun, pelajar SD kelas 6 di Bandung. “Saya paling suka flora fauna,” kata bocah yang bercita-cita menjadi guru ini. Meskipun masih SD, ia juga sering ikutan mengisi kuis FIGJIG dan Tolong Dong! “Tapi enggak pernah dapat hadiah!” ucapnya polos.

Teti Mulyana, sang ibu yang sudah mengenal <i>Intisari</i> sejak SMP, menuturkan, “Dieni itu memang kutu buku. Waktu masih bayi, kalau <i>nangis</i>, ia akan diam kalau <i>dibacain Intisari</i>.” Bagi keluarga Teti, <i>Intisari</i> telah menjadi majalah keluarga. Tiap bulan, Dieni, anak keempat dari enam bersaudara, harus gantian membaca <i>Intisari</i> dengan ibu dan tiga orang kakaknya.

Tak jarang, kata Teti, <i>Intisari</i> membantu anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah. Ia masih ingat, <i>Intisari</i> pernah menjadi bahan referensi anak-anaknya yang mendapat tugas membuat karya tulis tentang penyakit ebola, manajemen ekonomi rumah tangga, dan masalah gizi. “Bahannya diambil dari majalah <i>Intisari</i>,” katanya.

Husaini, Dennis, dan Dieni adalah wakil pembaca <i>Intisari</i> dari tiga generasi yang berbeda. Bisa dibilang selama masa 45 tahun, <i>Intisari</i> sudah mewarnai hidup pembacanya dengan cara yang unik-unik. Di sebuah acara diskusi yang diadakan oleh redaksi, seorang pembaca mengaku kenal <i>Intisari</i> secara tidak sengaja saat membeli bumbu dapur di warung. Bumbu dapur yang ia beli dibungkus dengan kertas dari majalah <i>Intisari</i> bekas. Ketika ia iseng membacanya, ia malah jatuh cinta dan akhirnya menjadi pembaca setia.

Basiruddin (usia 18 tahun), pembaca <i>Intisari</i> asal Jambi, juga punya pengalaman unik. Pejalar SMA ini mengenal <i>Intisari</i> sejak SMP. Uang sakunya tidak cukup digunakan untuk membeli <i>Intisari</i>. Akhirnya, ia menyiasatinya dengan cara membeli <i>Intisari</i> bekas di bulan berikutnya karena harganya bisa turun hingga separuhnya. Jadi, tiap bulan ia tetap bisa membaca <i>Intisari</i> tetapi telat satu bulan. Misalnya, edisi Juni ia baca di bulan Juli, edisi Juli ia baca di bulan Agustus, dan begitu seterusnya.

Singkat kata, selama hampir setengah abad, <i>Intisari</i> telah mewarnai setiap generasi. Di tengah kompetisi dengan aneka jenis media massa yang (kata futurolog) bergerak menuju bentuk media tanpa kertas, <i>Intisari</i> saat ini menghadapi tantangan berat. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah majalah ini tetap bisa mewarnai generasi yang akan datang ketika Basiruddin dan Dieni Nurulghina telah menjadi orangtua nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s