Intisari Itu Apa? [intisari]

Salah satu perintis majalah <i>Intisari</i> adalah P. Swantoro (kini usianya 76 tahun dan sudah pensiun dari Kompas Gramedia tahun 2002). Saat itu ia bisa dibilang sebagai “koresponden” <i>Intisari</i> pertama di luar Jakarta. Pada masa itu memang belum ada istilah koresponden atau kontributor. Swantoro sendiri menyebut dirinya sebagai “pembantu lepas” <i>Intisari</i>.

Kebetulan, Jakob dan Swan (panggilan akrabnya) adalah dua sahabat karib yang sudah saling kenal sejak 1946. Waktu <i>Intisari</i> lahir, Swantoro sudah berprofesi sebagai dosen ilmu sejarah di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Jika <i>Intisari</i> hendak melakukan liputan di Yogyakarta atau Jawa Tengah, Jakob biasanya minta tolong kepada Swantoro.

Karena pada masa itu teknologi komunikasi masih sederhana, “surat penugasan” dikirimkan dari Jakarta lewat pos. Begitu menerima surat dari Jakob, Swantoro baru melakukan liputan. Sebagai dosen yang gajinya sering hanya cukup untuk setengah bulan, tak jarang Swantoro tidak bisa melakukan liputan karena alasan biaya. Terutama jika liputan di luar kota Yogyakarta. Jika itu terjadi, Swantoro biasanya minta dikirimi uang dari Jakarta lebih dulu. Lalu Jakob akan mengirimkan uang lewat wesel (lagi-lagi lewat pos sehingga memerlukan waktu beberapa hari). Setelah menerima kiriman uang dari Jakarta, Swantoro baru bisa berangkat liputan.

Saat Swan melakukan liputan untuk <i>Intisari</i>, ada banyak hal berkesan yang masih ia ingat hingga sekarang (45 tahun kemudian). Salah satunya ketika ia mewawancarai keluarga Yos Sudarso, pahlawan nasional yang meninggal tahun 1962 di Laut Aru dalam Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

Swan mewawancarai orangtua Yos Sudarso di rumah mereka di Salatiga. Waktu itu ia ditemui oleh Pak Karno, bapak Yos. Sepanjang wawancara, Pak Karno banyak bercerita tentang kenangan saat Yos masih hidup. Pengalaman wawancara ini Swan ceritakan di tulisannya di <i>Intisari</i>:

<i>Sedang asjik kami berbitjara, mendadak terdengar suara wanita menangis, berkeluhkesah dari balik kamar. Bu Karno, jang sedang menderita sakit, tak tahan mendengar suaminja mentjeritakan kenangan tentang puteranja. Katanja putus<sup>2</sup>: “Sudahlah, djangan suka bitjara banjak<sup>2</sup> tentang anak kita. Hatiku rasa<sup>2</sup>nya seperti ditarik<sup>2</sup>.”</i>

Kali lain, ia mewawancari Prof. Dr. Sardjito, rektor pertama Universitas Gadjah Mada, yang kini namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat DI Yogyakarta. Wawancara ini terjadi tahun 1964, saat <i>Intisari</i> baru berumur satu tahun. Pada masa itu, rupanya Sardjito masih belum mengenal nama majalah <i>Intisari</i>. Ketika Swan memperkenalkan diri dari majalah <i>Intisari</i>, Sardjito malah bertanya balik, “<i>Intisari</i> itu apa?” Akhirnya, Swan melakukan wawancara atas nama mahasiswa karena memang waktu itu ia masih kuliah di UGM.

Selama menjadi kontributor itu pula, Swan melakukan liputan mengenai WJS Poerwadarminta, penyusun <i>Kamus Umum Bahasa Indonesia</i> asal Yogyakarta yang sangat masyhur itu. Juga liputan tentang Slamet Riyadi, pahlawan nasional asal Solo.

Setelah liputan selesai, Swan membuat tulisan yang kemudian dikirimkan ke Jakarta, lagi-lagi dengan bantuan Pak Pos. Maklum, waktu itu belum ada <i>email</i> atau faksimili. Swan tidak ingat apakah artikel untuk <i>Intisari</i> itu ia ketik ataukah ia tulis tangan. Yang jelas, pada masa itu ia biasa mengirim artikel dalam bentuk tulisan tangan. Sekalipun komunikasinya mengandalkan jasa pos, tulisan tetap tidak basi karena memang sifat artikel yang <i>timeless</i> dan frekuensi terbitan <i>Intisari</i> yang sebulan sekali.

Setelah tulisan diterbitkan, ia baru menerima honorarium, juga lewat wesel. Ia sudah tidak ingat berapa besar honor yang ia terima. Yang Swan ingat, honor itu sangat berarti baginya karena gaji sebagai dosen sering habis di tengah bulan. Sebagai gambaran, pada masa itu harga <i>Intisari</i> Rp60,- dan honor untuk penulis luar yang artikelnya dimuat sebesar Rp3.000,-.

Swan banyak menulis artikel untuk <i>Intisari</i> selama tiga tahun pertama kelahiran majalah ini, antara tahun 1963 – 1966. Sejak 1966, ia resmi menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian <i>Kompas</i>. Sejak itu, ia praktis lebih banyak menghabiskan waktu untuk <i>Kompas</i>. (emshol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s