Menunggu Angin di Gunung Salak


Gunung yang masuk dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini bisa dijangkau dari Bogor dan Sukabumi. Pada saat kami mendaki, pintu masuk di Sukabumi sedang ditutup, bersamaan dengan ditutupnya semua pintu masuk menuju Gunung Gede-Pangrango.

Pos pendakian dari wilayah Bogor berada di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan. Dari Terminal Baranangsiang, kami naik angkutan ke Terminal Bubulak. Dari Terminal Bubulak, kami pindah angkutan ke Cibatok. Dari pertigaan Cibatok, kami oper lagi angkutan yang sekaligus kami carter sampai di pos pendakian di Desa Gunung Sari.

Aturan di pos pendakian Gunung Sari ini terbilang cukup ketat. Setiap rombongan pendaki harus disertai pemandu. Tidak boleh tidak. Tarif pemandu Rp50.000,- ditambah tarif masuk Rp5.000,- per pendaki. Ini berbeda dengan pos pendakian gunung-gunung tetangganya, seperti Gede-Pangrango dan Halimun, yang menyediakan pemandu tetapi sifatnya tidak wajib. Menurut petugas pos pendakian, aturan ketat ini diterapkan sejak tahun lalu setelah kasus meninggalnya enam orang pelajar akibat menghirup gas beracun di Kawah Ratu.

Kawah gunung aktif ini memang masih produktif mengeluarkan gas beracun, terutama H2S, SO2,dan CO. Yang paling berbahaya adalah CO karena gas ini tidak berbau, tidak berwarna, dan mematikan. Pada saat hari cerah dan angin bertiup kencang, gas-gas beracun ini bisa langsung terencerkan dengan udara. Tapi pada saat udara lembap dan angin tidak bertiup kencang, gas-gas ini bisa tetap terkonsentrasi di kawah dan membahayakan penghirupnya.

Konsentrasi gas semburan kawah ini tergolong cukup pekat. Ini setidaknya kami buktikan saat berkemah. Kami berkemah di tempat yang jaraknya sekitar setengah kilometer dari Kawah Ratu. Antara kawah dan tempat berkemah dipisahkan oleh lebat pepohonan. Dari jarak sejauh itu saja, selama bermalam, kami berkali-kali disengat oleh bau busuk belerang yang terbawa angin dari kawah. Pada sore hari, air yang mengalir di dekat kami berkemah masih terasa menyegarkan untuk diminum langsung. Tapi pada malam harinya, rasa air berubah sedikit asam dan pahit sebagai pertanda telah tercemar belerang.

Pagi harinya kami terpaksa menunda keberangkatan ke kawah, sambil menunggu bau belerang hilang. Setelah matahari cukup tinggi dan angin bertiup cukup kencang, kami baru mulai berangkat menuju kawah. Kata kawan saya yang pernah naik ke sini, sebelum tragedi meninggalnya enam pelajar tahun lalu di sini, Kawah Ratu sebetulnya tidak angker. Pendaki biasa melewatinya dan mengambil foto berlama-lama di sana. Tapi sejak tragedi itu, Kawah Ratu berubah seolah-olah menjadi lebih angker. “Dilarang turun ke dalam kawah. Sewaktu-waktu gas sangat berbahaya,” kata papan peringatan di situ.


Advertisements

3 thoughts on “Menunggu Angin di Gunung Salak

  1. Sayangnya saya tidak begitu piawai motret seperti bang tomi. Dan dari sekian banyak foto yang kami dapat di Gunung Salak, inilah yang menurut saya paling bagus. Judulnya: Lintah Darat Salah Memilih Sasaran. Caption-nya: “Toloooooong!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s