Saatnya Beralih ke Bahan Bakar Nabati [intisari]


Penulis: M. Sholekhudin

Seperti kita tahu, pada 24 Mei 2008, harga harga bahan bakar minyak (BBM) kembali naik rata-rata 28,7%. Lalu seperti biasa, begitu harga naik, perdebatan yang muncul lebih banyak bicara tentang perkara subsidi. Tak banyak yang melihat bahwa ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan penghematan APBN lewat realisasi program nasional bahan bakar nabati (BBN). Dengan harga BBM terbaru, program BBN sudah mencukupi syarat ekonomi untuk direalisasikan. Tinggal menunggu kemauan.

Penggunaan BBN untuk substitusi BBM bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Rencana ini sudah didengung-dengungkan sejak dua dekade yang lalu. Hanya saja, program ini tidak kunjung terwujud sebab memang faktanya program ini masih belum memenuhi syarat ekonomi. Bahasa gampangnya, harga BBN masih lebih mahal daripada BBM. Tapi itu dulu. Sekarang, berdasarkan harga BBM terbaru, alasan itu sudah harus dikoreksi, terutama untuk bioetanol.

Sekadar kilas balik, istilah bahan bakar nabati (<i>biofuel</i>) bisa dipakai untuk bioetanol (bensin nabati) maupun biodiesel (solar nabati). Seperti namanya, bioetanol berarti etanol yang berasal dari bahan nabati. Dalam bahasa sehari-hari, etanol ini biasa disebut sebagai alkohol.

Alkohol yang dipakai sebagai bahan bakar punya tingkat kemurnian minimal 99,5%. Berbeda dengan alkohol yang biasa kita beli di apotek, yang umumnya hanya sekitar 70%. Alkohol <i>fuel grade</i> ini tidak dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dalam keadaan tunggal tapi dicampur dengan bensin dengan persentase tertentu, biasanya tidak lebih dari 10%. Campuran antara bensin dan alkohol ini biasa disebut sebagai gasohol, dari kata gasolin (bensin) dan alkohol.

Adapun biodiesel, sesuai dengan namanya, adalah bahan bakar diesel yang berasal dari minyak nabati. Minyak ini diolah secara khusus menjadi <i>fatty acid methyl ester</i> (FAME) lalu dicampur dengan solar pada persentase tertentu, seperti pada bioetanol. Campuran inilah yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor diesel.

<b>Sebuah Keharusan</b>

Dengan melihat harga minyak bumi sekarang, program BBN semestinya sudah tidak bisa ditawar lagi. <i>Harus kudu wajib</i>. Tidak bisa tidak. Terlebih lagi saat ini produksi minyak bumi Indonesia juga semakin turun, sementara konsumsinya terus naik. Terhitung sejak Mei 200 kemarin, Indonesia juga sudah menyatakan keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Status kita saat ini bukan lagi eksportir tapi importir minyak bumi.

Lebih dari itu, BBN adalah sumber energi terbarukan yang sumbernya melimpah di Indonesia. Tidak akan habis meskipun terus “ditambang”. Berbeda dengan cadangan minyak bumi yang makin lama makin habis. Bahkan, menurut Alhilal Hamdi, Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati, 16 tahun lagi cadangan minyak bumi kita akan habis. Saat itu, era bahan bakar minyak bumi murah sudah berakhir. Dengan kata lain, pada masa itu tak ada pilihan lain kecuali menggunakan sumber-sumber energi terbarukan, salah satunya BBN.

Penggunaan BBN sebagai substitusi BBM sebetulnya bukan sebuah teknologi yang baru di dunia. Teknologi ini sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Tahun 1975, Brasil, negara berkembang yang boleh dibilang taraf kesejahteraannya setara dengan Indonesia, sudah memopulerkan penggunaan etanol sebagai bahan bakar dalam program nasional <i>Proalkohol</i>. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan impor BBM. Negara ini adalah pemakai gasohol terbesar di dunia. Mereka sudah mulai menggunakannya jauh sebelum Indonesia mulai merencanakan penggunaannya.

Setelah Brasil, tiga tahun berikutnya, Amerika Serikat (AS) juga melakukan hal yang sama. Tujuannya pun sama, mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar fosil serta meminimalkan polusi udara. Belakangan ini AS bahkan semakin menggiatkan produksi bioetanol dalam negeri dari jagung.

Di Indonesia, penelitian bioetanol, yang dalam hal ini dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 1984. Hanya saja, saat itu bioetanol kurang dilirik karena harganya masih kalah murah dibandingkan BBM yang bersubsidi. Namun seiring dengan makin mahalnya harga BBM dan terus dikuranginya subsidi, selisih harga antara BBM dan bioetanol itu pun makin lama makin kecil. Titik temunya terjadi pada saat harga minyak mentah dunia melampaui AS $ 130 perbarel—yang akhirnya memaksa pemerintah ikut menaikkan harga BBM akhir Mei kemarin.

Saat ini harga bensin di tingkat konsumen Rp6.000,-. (Ini bukan harga riil karena saat ini bensin masih disubsidi). Menurut Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, harga bensin bersubsidi ini sama dengan harga bioetanol sekarang. Artinya, secara ekonomi bioetanol saat ini sudah bisa bersaing dengan bensin. Jadi, tak ada lagi alasan program bioetanol belum layak direalisasikan karena alasan harganya masih mahal. Inilah saat yang tepat untuk mengalihkan subsidi BBM ke BBN.

Jika Pertamina melakukan substitusi bensin dengan etanol, katakanlah 10%, berarti perusahaan milik negara ini akan membantu pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi. Yang tak kalah penting, pemerintah juga bisa mengurangi subsidi BBM. Dengan perhitungan matematis, menurut Unggul, berdasarkan tingkat konsumsi Premium nasional sebesar 17 juta kiloliter/tahun, negara bisa menghemat Rp5 triliun dalam setahun. Jelas ini bukan angka yang kecil.

Jika bensin disubstitusi 10% dengan etanol, Pertamina memang tidak memperoleh untung karena harganya sama dengan harga Premium yang tidak dicampur etanol. Dalam hal ini, yang akan diuntungkan adalah konsumen. Soalnya, walaupun harganya sama, gasohol-10 (mengandung etanol 10%) kualitasnya setara dengan Pertamax. Adanya etanol 10% di dalam bensin membuat nilai oktan naik menjadi 91. Dengan kata lain, harganya Premium, kualitasnya Pertamax. Produk ini jelas akan lebih diminati konsumen karena membuat <i>tarikan</i> mesin menjadi lebih <i>kenceng</i>. Emisinya juga menjadi lebih bersih.

Saat in
i, beberapa SPBU memang sudah menyediakan Biopertamax (merek dagang milik Pertamina untuk campuran bensin dan etanol). Tapi jumlah SPBU ini masih sangat sedikit.

Kalau Pertamina tidak mau merugi, saran Unggul, harga gasohol-10 bisa dinaikkan sedikit untuk menutupi biaya pencampuran bensin dan etanol. Dengan catatan, masyarakat perlu mendapat edukasi bahwa gasohol-10 itu setara dengan Pertamax. Unggul menjamin, konsumen pasti akan lebih suka membayar sedikit lebih mahal asalkan bisa mendapatkan kualitas Pertamax.

Semua perhitungan di atas seratus persen perhitungan bisnis. Artinya, kalau Pertamina tidak segera melakukannya, Unggul menjamin peluang murahnya bioetanol ini akan diambil oleh perusahaan minyak swasta. “Menurut saya, hal ini sangat mungkin terjadi,” katanya dengan intonasi yakin dan mantap.

<b>Jarak belum siap</b>

Baik Alhilal maupun Unggul berpendapat bahwa program bioetanol lebih layak didahulukan daripada biodiesel. Tapi hal itu tidak berarti program biodiesel boleh diabaikan. Ini hanya perkara prioritas. Saat ini harga biodiesel masih lebih mahal daripada solar. Program bioetanol lebih siap direalisasikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi. Biodiesel tetap harus berjalan tapi posisinya berada di belakang bioetanol. “Di mana-mana, di seluruh dunia, yang berjalan duluan itu bioetanol, baru kemudian disusul biodiesel,” ujar Unggul.

Pandangan ini berbeda dengan tren yang berkembang di masyarakat. Selama ini, jika bicara tentang <i>biofuel</i>, perhatian kita lebih tertuju kepada biodiesel dari jarak pagar. Media massa juga memberitakan biodiesel jarak lebih gencar daripada bioetanol. Akhirnya, yang ada di pikiran kita hanya jarak, jarak, dan jarak.

Padahal, perhitungan produksi biodiesel dari jarak masih belum benar-benar matang. Ini berbeda dengan perhitungan bioetanol yang sudah bisa dibilang lengkap. Beberapa pabrik juga sudah memproduksi bioetanol <i>fuel grade</i> dari tetes tebu. Penelitian BPPT tentang produksi bioetanol dari singkong yang dilakukan di Lampung juga sudah siap diaplikasikan menjadi program nasional. “Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu kemauan,” kata Alhilal.

Sedangkan produksi biodiesel jarak, terutama menyangkut produktivitasnya, hingga kini masih dalam tahap penelitian. Kita belum tahu bibit jarak yang produktivitasnya paling tinggi, juga belum tahu berapa produksinya perhektar pertahun. Harap maklum, sekalipun jarak sudah lama dikenal, kita belum punya banyak data tentang produktivitasnya dalam menghasilkan biodiesel. Jarak memang sudah lama dikenal, tapi biodiesel jarak masih baru diteliti.

Ini berbeda, misalnya, dengan kelapa sawit. Tanaman ini juga merupakan salah satu penghasil biodiesel yang produktivitasnya sudah diketahui. Kelapa sawit sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Departemen Pertanian sudah mengantungi semua data tentang bibit yang unggul dan perawatan yang benar sehingga produksinya optimal.

Saat ini, kata Alhilal, produksi minyak sawit (<i>crude palm oil</i>) Indonesia 18 juta ton setahun sementara konsumsi nasional hanya 3,6 juta ton. Artinya, masih ada surplus sekitar 14 juta ton yang bisa dimanfaatkan untuk biodiesel. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, produksi biodiesel dari kelapa sawit justru lebih siap daripada jarak.

Namun, bukan berarti jarak tidak prosepektif di masa depan. Sekali lagi, bukan. Ini hanya masalah lengkap tidaknya data penelitian saat ini. Selama ini masyarakat selalu menganggap budidaya jarak itu mudah. Itu memang tidak salah. Tapi supaya jarak menghasilkan minyak dengan tingkat produktivitas yang menguntungkan, itu bukan perkara sepele. Semua harus diperhatikan, mulai dari pemilihan bibit sampai perawatan. Jadi, sekalipun persoalannya “hanya” bertanam jarak, semua kaidah ilmu pertanian tetap harus dilakukan di sini. Ini yang kita belum punya data lengkap. “Singkat cerita, kita lebih tahu tentang kelapa sawit daripada jarak,” tandas Unggul.

Selain alasan ekonomi, bioetanol lebih perlu didahulukan daripada biodiesel karena alasan peningkatan kualitas BBM. Jika bensin dicampur alkohol 10%, oktannya naik sampai setara dengan Pertamax. Bahan bakar ini bisa meningkatkan performa mesin dan memperbaiki emisi.

Tapi kalau solar dicampur dengan biodiesel 10%, kualitasnya boleh dibilang tidak naik signifikan. Solar ya tetap solar. Tidak ada super solar yang membuat performa mesin menjadi lebih baik seperti Pertamax.

<b>Perlu kebijakan tegas</b>

Selain faktor kesiapan teknis, hal penting lainnya, menurut Alhilal dan Unggul adalah peraturan yang tegas dan jelas dari pemerintah. Timnas Pengembangan BBN yang dibentuk pemerintah hanya berwenang membuat strategi. Sementara aplikasinya tergantung departemen-departeman terkait, misalnya Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Pertamina. Kalau palu sudah diketok dan ada peraturan yang jelas, semua departemen terkait bisa bergerak secara serempak.

Kita sudah punya Undang-undang No. 30 Tahun 2007 Tentang Energi yang memberikan amanat agar pemerintah meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Tapi undang-undang ini perlu rincian lebih jelas yang bisa dijadikan sebagai panduan bagi semua departemen terkait. Dengan adanya aturan yang mengikat dan mewajibkan penggunaannya, program BBN tetap bisa berjalan meskipun, misalnya, terjadi fluktuasi harga yang membuat BBN lebih mahal daripada BBM.

Dalam urusan ini, baik Alhilal maupun Unggul menyarankan Indonesia agar belajar dari Thailand. Negara ini termasuk salah satu negara berkembang yang serius menjalankan program BBN. Di negara ini, kementerian yang menangani masalah energi dipecah menjadi dua. Satu menangani urusan energi tidak terbarukan, satunya lagi menangani energi terbarukan, yang di antaranya adalah <i>biofuel</i>.

Bensin di Thailand konsisten menggunakan campuran etanol 10%. Sama seperti Brasil, negara jiran kita ini bisa menjadi pembanding yang realistis karena tingkat kemajuannya relatif sama dengan Indonesia. “Kita tidak usah melihat Amerika (Serikat) atau Eropa. Terlalu jauh!” kata Unggul.

Bahan bakar nabati adalah solusi masa depan ketika minyak bumi sudah habis. Hampir bisa dipastikan harga BBM akan terus naik di waktu mendatang. Karena itu, jangan sampai kita baru serius memulai program BBN setelah harga Premium di atas Rp10.000,-. Kita harus segera beralih
ke BBN. Sekarang!

Boks-1

<b>Indonesia Kaya Sumber <i>Biofuel</i></b>

Sumber etanol di tiap negara berbeda-beda, tergantung sumber daya alam yang melimpah. Di Brasil dan tetangga kita Thailand, etanol dibuat dari molase (tetes tebu). Di AS, etanol dibuat dari jagung. Di Eropa, etanol dibuat dari gandum atau bit.

Di Indonesia, selama ini etanol untuk keperluan industri dibuat dari molase. Tapi itu tidak berarti program bioetanol nanti akan tergantung sepenuhnya pada tebu. Untuk urusan yang satu ini, Indonesia bisa dibilang sebagai negara yang kaya sumber etanol. Pokoknya semua yang mengandung pati dan gula bisa dipakai. Pati bisa difermentasi menjadi gula, lalu gula difermentasi lebih lanjut menjadi etanol.

Indonesia punya banyak sekali tanaman penghasil tepung (pati-patian). Tapi dari sekian banyak itu, menurut Unggul, singkong dan sorgum (jagung cantel) dinilai paling layak secara ekonomi untuk dipakai sebagai sumber bioetanol dalam program BBN. Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan. Sementara dari daftar tananan penghasil gula (nira), kita punya tebu, aren, siwalan, dan sorgum manis (batangnya).

Dari deretan penghasil biodiesel, kita punya kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, dan algae. Termasuk dalam kategori ini adalah minyak jelantah. Pendek kata, dalam urusan bahan bakar nabati Indonesia adalah negara kaya raya.

Jika program BBN benar-benar dilaksanakan, pemerintah bisa menciptakan lapangan kerja, terutama di bidang pertanian, memperkecil tingkat polusi udara, sekaligus mengatasi krisis energi.

Boks-2:

<b>”Kilang Minyak” Skala Rumahan</b>

Teknologi BBN termasuk teknologi yang sederhana. Masyarakat luas bisa ikut ambil bagian dalam program BBN secara mandiri. Tanpa perlu menunggu Pertamina menyediakan Biopertamax atau Biosolar di semua SPBU.

Hal ini sudah dibuktikan di banyak tempat di Indonesia. Di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, masyarakat setempat mengembangkan industri rumahan yang memproduksi bioetanol dari nira aren. Biasanya nira aren ini dipakai untuk membuat minuman keras.

Mereka menjalankan industri skala kecil ini dengan peralatan sederhana. Rata-rata satu pohon aren menghasilkan 12 – 18 liter sehari, yang setelah disuling menghasilkan etanol sekitar 1 liter. Dengan kata lain, satu pohon aren bisa menghasilkan satu liter etanol sehari. Etanol produksi sendiri ini kemudian dipakai untuk kendaraan pemerintah kabupaten setempat. Alhilal Hamdi mencatat, industri rumahan seperti ini juga telah dilakukan di beberapa kabupaten di Indonesia. Semuanya terbukti menguntungkan.

Boks-3:

<b>BBN Lebih Ramah Lingkungan</b>

Jika dicampur dengan bensin, etanol bisa meningkatkan nilai oktan. Biasanya peningkat oktan konvensional yang dipakai adalah <i>tetraethy lead</i> (TEL). Tapi TEL punya kekurangan karena senyawa ini menjadi sumber pencemaran timbal (Pb) di udara. Etanol tidak demikian karena ia bisa terurai. Dengan alasan ini, program BBN juga bisa ikut mengurangi tingkat polusi udara.

Sebagai peningkat oktan, etanol membuat mesin lebih bertenaga. Sebagai pengganti bensin, etanol mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dari knalpot. Asapnya pun lebih bersih daripada asap pembakaran Premium. Penyebabnya tak lain karena etanol (C2H5OH) lebih kaya oksigen daripada rantai hidrokarbon bensin. Tiap satu molekul etanol mengandung satu atom oksigen. Sehingga, pembakaran (reaksi antara karbon dan oksigen) menjadi lebih sempurna.

[Dimuat di Intisari, Juli 2008/Adidharma Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, November 2008]

Advertisements

2 thoughts on “Saatnya Beralih ke Bahan Bakar Nabati [intisari]

  1. (;p) Ini memang bahan diskusi yang menarik, mas. Tapi secara pribadi, saya tidak sependapat. Menurut saya, istilah “emisi” kendaraan bermotor adalah hasil keseluruhan dari CO2, partikulat, CO, hidrokarbon, dan NO(x). Dalam empat hal yang terakhir, produk pembakaran bioetanol lebih baik. Dalam hal yang pertama, menurut kelompok anti-BBN, lebih buruk. Tapi menurut saya, sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s