Mari Ikut Selamatkan Bumi [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Mungkin tak ada masalah lingkungan yang lebih panas daripada isu pemanasan global. Koran, majalah, televisi, radio, internet, semua berkampanye mengajak kita untuk menghentikannya. Para ahli lingkungan sepakat, semua penduduk planet Bumi harus ikut ambil bagian dalam upaya ini tanpa kecuali. Kita bisa ikut serta mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang!

—–

Kita sudah terlalu sering mendengar ulasan tentang pemanasan global di media massa. Orang-orang kampung yang tak pernah membaca koran saja sekarang bisa bicara tentang es yang meleleh di kutub utara. Wajar saja, isu ini memang masalah nyata yang dihadapi umat manusia sekarang dan di masa datang. Karena itu, hampir bisa dipastikan masalah ini akan terus menjadi topik bahasan di media massa. Harap maklum.

Sekadar mengulas kembali, biang keladi masalah pemanasan global adalah menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer Bumi. Ada beberapa macam gas rumah kaca, antara lain karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitro-oksida (N2O), dan sejenisnya. Dari beberapa jenis gas rumah kaca itu, yang paling besar pengaruhnya terhadap masalah pemanasan global saat ini adalah gas karbon dioksida. Itu sebabnya, istilah gas rumah kaca biasanya identik dengan karbon dioksida.

Sebetulnya gas karbon dioksida adalah gas yang normal terdapat di alam dalam jumlah melimpah. Gas ini ada di dalam udara yang kita hirup setiap saat. Di atmosfer, karbon dioksida diperlukan untuk menjaga agar Bumi tetap hangat. Selain itu, gas yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai asam arang ini juga diperlukan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Tapi jika jumlahnya di udara melebihi batas keseimbangan alam, gas ini bisa menimbulkan masalah.

Di atmosfer Bumi, molekul-molekul karbon dioksida ini menahan panas dari radiasi Matahari yang semestinya dipantulkan ke angkasa luar. Inilah yang menyebabkan suhu permukaan Bumi menjadi naik. Kenaikan suhu ini menyebabkan perubahan iklim serta timbulnya berbagai bencana alam yang terkait dengan iklim seperti angin topan, badai, kekeringan, gagal panen, banjir bandang, dan sebangsanya.

Menumpuknya gas karbon dioksida di alam disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, karena semakin berkurangnya jumlah tumbuhan yang melakukan fotosintesis (mengurai karbon dioksida menjadi oksigen). Pohon-pohon ditebang, hutan tropis semakin tipis. Kedua, karena produksi gas ini juga terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama sejak Revolusi Industri di abad ke-18. Saat ini jumlah kendaraan bermotor semakin tak terbilang, pabrik-pabrik juga semakin banyak.

Produksi gas ini terutama berasal dari pemakaian bahan bakar hidrokarbon, dalam hal ini adalah bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara. Kita tahu, hampir semua orang saat ini sudah sepenuhnya tergantung dengan bahan bakar fosil. Nyaris semua aktivitas kita sehari-hari tidak bisa dipisahkan dari bahan bakar ini.

Naik kendaraan, butuh bensin atau solar. Memasak, butuh elpiji. Bekerja, butuh listrik. Listrik dihasilkan dari pembangkit berbahan bakar batubara. Begitu seterusnya, kita nyaris tidak mungkin menghindari pemakaian bahan bakar fosil.

<b>Berpikir global</b>

Jika kita tidak bisa melepaskan diri dari bahan bakar penghasil karbon dioksida, apakah masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mengurangi laju pemanasan global? Jelas masih ada. Bukan hanya <i>ada</i> tapi <i>banyak</i>. “Kuncinya, kita harus menciptakan keseimbangan,” kata Nursiwan Taqim, Asisten Deputi Urusan Edukasi dan Komunikasi Lingkungan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Keseimbangan itu bisa kita ciptakan dengan cara menambah jumlah tanaman yang melakukan fotosintesis serta mengurangi produksi gas karbon dioksida.

Masalah pemanasan global adalah tanggung jawab semua penduduk Bumi. Di antara usaha-usaha melawan masalah ini, ada yang menjadi tanggung jawab negara, ada juga yang merupakan tanggung jawab kita semua sebagai individu. Program penyelamatan Bumi adalah kerja kolektif seluruh penduduk planet Bumi yang berjumlah lebih dari enam miliar manusia. Upaya ini adalah kerja kolektif dari Patar Parlindungan Butarbutar di Medan, Ahmad Sudarmaji di Sidoarjo, Ni Ketut Sukerti di Bali, Richard Salampessy di Ambon.

Untuk ikut serta dalam usaha ini, kita tak harus berpikir yang besar-besar. Cukup yang kecil-kecil saja. Jika semua orang di seluruh globe (bola Bumi) melakukannya secara bersama-sama, maka upaya kolektif ini akan menghasilkan sebuah hasil kerja yang bersifat global. Dalam bahasa para penggiat cinta lingkungan, <i>think globally, act locally</i>. Mari berpikir global, bertindak lokal. Melakukan hal-hal yang kecil, untuk tujuan besar. Bertindak kecil bisa dilakukan di rumah, di jalan raya, di kantor, di pusat perbelanjaan, di tempat liburan, dan di semua tempat lainnya.

Masalah pemanasan global sangat terkait dengan masalah-masalah lingkungan lainnya seperti sampah, polusi udara, dan masalah air. Jika kita peduli terhadap masalah-masalah tersebut, berarti secara langsung maupun tidak, kita telah ikut serta dalam upaya melawan laju pemanasan global. Untuk tujuan ini, organisasi nirlaba di bidang lingkungan hidup WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia telah membuat selebaran yang berisi aneka tips sed
erhana yang bisa kita lakukan dalam aktivitas sehari-hari.

· <b>Hemat listrik</b>

Sekilas mungkin listrik tampak tidak berhubungan dengan urusan pemanasan global. Menurut perhitungan WWF, sekitar sepertiga gas rumah kaca berasal dari sektor energi ini. Di Indonesia, sebagian besar pembakit listrik masih berbahan bakar fosil, terutama batubara. Pembangkit listrik ini melepaskan karbon dioksida ke atmosfer secara kolosal sepanjang waktu tanpa henti karena memang kita terus-menerus mengonsumsi listrik. Makin boros kita memakai listik, artinya makin banyak gas rumah kaca yang kita hasilkan.

1. Gunakan alat-alat elektronik seperlunya. Matikan alat-alat itu saat tidak digunakan. Dalam keadaan siaga (<i>stand-by</i>) pun, alat-alat ini tetap mengonsumsi listrik meskipun jumlahnya kecil. Untuk menerapkan tips ini kita tidak harus mencabut stop kontak listrik tiap kali kita tinggalkan. Ini cara yang berbahaya. Bisa-bisa malah kita kesetrum. Untuk menyiasatinya, gunakan stop kontak yang memiliki tombol on/off. Dengan begitu kita tidak perlu mencabutnya saat meninggalkannya, tapi cukup dengan memencet tombol off.

2. Gunakan alat elektronik yang hemat energi. Kini di pasaran banyak tersedia alat-alat elektronik yang hemat listrik, mulai dari lampu, kulkas, setrika, televisi, komputer, dan sebagainya. Lampu neon lebih irit listrik daripada lampu pijar. Setrika dengan pengatur panas otomatis lebih hemat daripada yang manual. Laptop lebih hemat listrik daripada <i>personal computer</i>. Monitor komputer tipe LCD lebih hemat listrik darpada tipe CRT. Dan seterusnya.

3. Saat membangun rumah, pilih desain hemat energi, misalnya langit-langit yang cukup tinggi, jendela yang cukup lebar, pengaturan ruangan yang mempermudah sirkulasi udara, cat tembok yang terang, dan sebagainya. Desain ini memungkinkan kita mematikan lampu di siang hari dan menggunakan cahaya Matahari untuk penerangan rumah. Desain hemat listrik juga membuat rumah tak memerlukan terlalu banyak lampu di malam hari. Rumah juga tetap terasa adem tanpa menggunakan kipas angin atau pendingin udara (AC). Dengan penghematan listrik dari lampu, kipas angin, dan AC saja kita sudah bisa ikut mengurangi laju pemanasan global. Solusi rumah hemat energi bisa dengan mudah kita temukan di buku-buku atau majalah arsitektur yang banyak tersedia di toko buku.

4. Gunakan alat-alat elektronik secara optimal dengan listrik minimal.

· Bersihkan saringan pengisap debu dan AC secara teratur. Saringan yang kotor menyebabkan motor bekerja lebih berat dan mengonsumsi listrik lebih banyak.

· Atur suhu AC sesuai kebutuhan. Jangan distel terlalu dingin sampai membuat kita harus memakai baju hangat. Semakin rendah suhunya, semakin tinggi konsumsi listriknya.

· Pastikan pintu lemari es cukup rapat. Isi secukupnya, jangan terlalu penuh. Jangan masukkan makanan atau minuman dalam keadaan panas-panas ke dalamnya. Pintu yang tidak tertutup rapat, isi yang terlalu penuh dan panas akan menyebabkan konsumsi listrik lebih tinggi.

· Gunakan mesin cuci jika jumlah cucuian sudah sesuai kapasitasnya.

“Ini bukan perkara sanggup <i>bayar</i> atau tidak,” kata Verena Puspawardani, Climate & Energy Campaigner, WWF Indonesia. Menurut Verena, ini merupakan masalah klasik yang sering ditemui di kalangan ekonomi menengah ke atas. Masih banyak dari mereka yang berpikir, buat apa hemat listrik kalau masih mampu bayar.

· <b>Hemat BBM</b>

Menurut perhitungan WWF, sektor transportasi menyumbang sekitar seperempat dari total gas rumah kaca yang terakumuluasi di atmosfer. Sektor ini menempati urutan kedua setelah pembangkit listrik. Semakin banyak kita menggunakan BBM, semakin besar pula sumbangan kita kepada pemanasan global.

· Sebisa mungkin gunakan transportasi umum. Makin banyak pemakai kendaraan pribadi di jalan raya, makin besar produksi karbon dioksida.

· Jika mungkin, bergabunglah dengan komunitas <i>bike to work</i>, bersepeda ke kantor.

· Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah kendaraan yang hemat bahan bakar. Jika bisa, ajak serta kawan-kawan satu jurusan untuk berangkat dan pulang kerja seperti yang dilakukan oleh komunitas Nebeng. Rawat mesin kendaraan secara teratur supaya mesin tetap hemat bahan bakar. Pastikan tekanan ban mobil tidak di bawah normal (karena tiap penurunan tekanan sebesar 0,5 bar di bawah normal akan meningkatkan konsumsi bahan bakar sebesar 5%.) Keluarkan isi bagasi yang tidak perlu (karena tiap kenaikan 100 kg beban akan meningkatkan konsumsi bahan bakar sebesar 1 l/100 km.)

· <b>Hemat kertas</b>

Kertas (termasuk tisu) merupakan barang konsumsi yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena bahan bakunya adalah serat pohon. Sedangkan pohon merupakan pengolah karbon dioksida menjadi oksigen. Jika kita berhemat kertas, berarti kita turut menjaga “pabrik” pengurai gas rumah kaca. Supaya hemat, gunakan kertas untuk mencetak bolak-balik, hindari mencetak terlalu banyak dokumen yang bisa disimpan dengan <i>soft copy</i>, salurkan kertas bekas ke pemulung untuk didaur ulang.

· <b>Konsumsi seperlunya</b>

Prinsip konsumsi seperlunya ini boleh dikatakan sebagai intisari dari gaya hidup ramah lingkungan. Semakin banyak kita membeli, berarti semakin banyak kita menggunakan energi dan menghasilkan sampah. Makin banyak barang kita tumpuk, makin besar pula emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan.

Apa pun jenis barang yang kita konsumsi, prinsip hemat harus diterapkan, terutama untuk barang-barang yang berpotensi merusak kelestarian lingkungan. Batasi penggunaan plastik, bawa kantong dari rumah saat berbelanja, salurkan sampah plastik yang bisa didaur ulang kepada pemulung. Biasakan membeli produk yang kemasannya punya label bisa didaur ulang. Sebisa mungkin kurangi pengggunaan barang sekali pakai atau yang cepat menjadi sampah.

· <b>Satu orang satu pohon</b>

Selain dalam bentuk mengurangi emisi gas karbon dioksida, kita juga bisa turut serta menahan laju pemanasan global dengan cara memperbanyak jumlah tumbuhan yang melakukan fotosintesis. Targetnya tak usah terlalu tinggi, satu orang satu pohon saja. Pohon bisa ditanam di tanah pekarangan, jika memang ada. Akan lebih baik lagi jika di lahan tersebut juga dibuat lubang biopori. Kalaupun rumah tidak punya sisa halaman, seperti di permukiman yang padat, kita tetap bisa menanam pohon di dalam pot. Jadi, tak ada alasan keterbatasan lahan, seperti yang dilakukan warga Kampung Banjarsari, Jakarta Selatan, yang sukses menjadi kampung percontohan ramah lingkungan.

Saat ini kampanye “satu orang satu pohon” juga sedang digalakkan di berbagai daerah dan institusi. Misalnya, di Surabaya, kini ada peraturan daerah yang mewajibkan orangtua menanam satu pohon saat mengurus akte kelahiran anaknya. Di beberapa daerah lain, seperti Sulawesi Utara dan Cianjur, juga ada peraturan daerah yang mewajibkan orang yang akan menikah untuk menanam pohon. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) juga mencanangkan program satu guru satu pohon (Sagu Sapo).

Agar program tanam pohon ini tidak berhenti sebatas tindakan seremonial, Nursiwan menegaskan perlunya masyarakat punya kesadaran untuk merawat pohon yang sudah ditanam. Kalau cuma ditanam tapi tidak dirawat, <i>sama juga boong</i>. “Menanam itu gampang, memeliharanya yang susah,” katanya.

<b>Kita yang untung</b>

Satu hal yang perlu ditekankan, kita tid
ak akan rugi sedikit pun kalau menerapkan
gaya hidup raham lingkungan. Sebaliknya, kita malah akan untung, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai contoh, kalau kita hemat listrik, manfaatnya akan langsung bisa dirasakan dari berkurangnya tagihan PLN. Kalau kita menanam pohon di halaman rumah, kita sendirilah yang akan merasakan udara menjadi lebih adem, rumah juga jadi lebih indah. Kalau kita hemat kertas, anggaran belanja bisa dipangkas. Begitu seterusnya.

Gaya hidup ramah lingkungan adalah bentuk kesadaran masyarakat, bukan karena tekanan dari pemerintah atau lembaga. “Kalau kita bicara tentang masalah lingkungan, yang utama adalah kesadaran,” kata Nursiwan.

Tak perlu malu-malu atau takut dibilang sok jika ingin memulainya di kantor maupun di lingkungan tempat tinggal. Kita tidak sendirian. Gerakan gaya hidup ramah lingkungan kini sudah banyak diterapkan di sekolah, di rumah sakit, dan di kantor-kantor. Makanya sekarang kita mengenal istilah <i>green school, green hospital, green office</i>. Pendek kata, gaya hidup hijau sekarang telah menjadi gerakan masyarakat. Kalau kita ketinggalan kereta, <i>apa kata dunia</i>? Jika bisa, bergabunglah dengan komunitas-komunitas sadar lingkungan seperti yang dibangun oleh WWF Indonesia (www.supporterwwf.org).

Yang tak boleh dilupakan, sikap ramah lingkungan merupakan usaha merawat Bumi jangka panjang. Kalau kita tidak memulainya sekarang, yang akan menanggung akibat buruknya adalah anak-anak kita yang saat ini masih bocah-bocah lucu. Jika mereka sudah bisa diberi pengertian, tanamkan sikap ini pada mereka sejak dini. Kita harus bersama-sama memulai usaha ini dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dari sekarang.

Kalau boleh meniru slogan warga Betawi, “Bumi <i>kite</i>, kalau bukan <i>kite nyang ngerawat</i>, lalu <i>siape</i> lagi?”

Advertisements

6 thoughts on “Mari Ikut Selamatkan Bumi [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s