Hilangkan Dahaga dengan Es Legen [jajan surabaya]

“<i>Berjalan di lorong-lorong pertokoan, di Surabaya yang panas…</i> (<i>Bis Kota</i>, Franky Sahilatua)

Udara kota Surabaya memang terkenal panas. Bahkan, dibandingkan Jakarta pun, Surabaya masih lebih panas. Siang malam, udara selalu terasa gerah sehingga minuman dingin selalu menyegarkan. Jika Anda ingin merasakan kesegaran dari minuman khas setempat, meluncurlah ke Jalan Undaan Kulon untuk mencari es legen.

Dari arah pusat kota, di belokan setelah Rumah Sakit Mata Undaan, Anda akan menjumpai penjual es legen. Di situ terdapat beberapa penjual legen tanpa papan nama. Jangan salah pilih, carilah warung yang paling ramai pembeli. Lokasi persisnya di sebelah kiri jalan, setelah bengkel Klean Rite, sebelum Toko Obat Sehat Utama. Pemilik warung ini bernama Pak Ihwan.

Legen sebenarnya bukanlah minuman asli Surabaya. Legen adalah nira yang disadap dari mayang pohon siwalan (lontar) betina. Di Surabaya, tak ada ladang siwalan. Minuman ini berasal dari daerah pesisir tetangga Surabaya, yaitu Tuban, Lamongan, dan Gresik. Di ketiga kabupaten ini, terutama di Tuban, banyak dijumpai ladang pohon siwalan. Pak Ihwan sendiri memang bukan warga Surabaya, melainkan warga Plumpang, Tuban. Ditemani dua orang saudaranya, setiap hari ia pergi pulang Tuban – Surabaya.

Legen berbeda dengan tuak. Tuak adalah legen yang telah mengalami fermentasi sehingga kandungan alkoholnya bisa sampai memabukkan. Legen masih bebas alkohol, dijamin seratus persesn halal.

Di Surabaya sebetulnya banyak terdapat penjual legen. Tapi legen-legen yang dijual pedagang kakilima umumnya punya ciri khas, yaitu sudah bercita rasa sedikit masam. Warnanya juga sudah agak putih keruh, tidak lagi bening. Ini terjadi karena umur legen sudah lebih dari satu hari sehingga gula di dalamnya sudah mengalami fermentasi sebagian.

Adapun legen milik Pak Ihwan ini dijamin selalu segar. Penyadapan nira dilakukan pada sore hari dari ribuan pohon siwalan di Plumpang. Selama semalam, cairan nira ditampung di dalam bumbung batang bambu. Satu pohon siwalan, dalam semalam, bisa menghasilkan sekitar 5 liter legen. Pagi harinya, nira ini dimasukkan ke dalam jerigen lalu dibawa ke Surabaya dengan mobil bak terbuka.

Karena selalu segar, legen Pak Ihwan ini masih terasa manis nira. Warnanya pun belum keruh. Tak terasa asam sama sekali. Legen juga tidak dicampur dengan air, hanya diberi sedikit es batu supaya dingin dan lebih menyegarkan. Harganya murah sekali, segelas cuma Rp1.000,-.

Ihwan meneruskan usaha ini dari Bapaknya, Haji Masirin, yang mulai berjualan es legen 27 tahun yang lalu. Warung ini boleh dikatakan sebagai penjual es legen paling laris se-Surabaya. Dalam sehari, Pak Ihwan bisa menghabiskan 30 jerigen legen. Satu jerigen berisi sekitar 20 liter. Total sehari ia bisa menjual 600 liter. Satu liter bisa untuk tiga gelas. Jadi, dalam sehari, ia melayani hampir 2.000 orang. Karena tak ada tempat duduk, semua pembeli minum legen sambil berdiri.

Selain bisa diminum di tempat, legen juga bisa dibawa pulang. Wadahnya berupa botol bekas air mineral kemasan 1,5 liter. Harganya Rp5.000,- per botol.

Selain legen, Pak Ihwan juga menyediakan aneka camilan, seperti ote-ote, tahu goreng, pastel, dan sate kerang. Harganya sama, Rp.500,- sebiji. Murah meriah, enak, dan menyegarkan. (Emshol)

Es Legen Undaan Pak Ihwan

Jln. Undaan Kulon

Di antara bengkel KleanRite dan Toko Obat Sehat Utama

Buka setiap hari pukul 07.00 – habis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s