Masih Muda Kok Sudah Pikun [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Seperti halnya keriput di wajah, penyakit gampang lupa juga bisa saja datang lebih cepat di usia muda. Penyebab dan faktor risikonya bermacam-macam. Kabar baiknya, sebagian faktor risiko itu bisa dicegah dan dikendalikan.

“Pikun saya ini sudah tingkat berat. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya kehilangan dokumen-dokumen penting karena lupa menaruhnya. Lupa menaruh kunci dan dompet itu sudah seperti makanan sehari-hari,” kata Rei, seorang eksekutif muda Jakarta. “Kalau sedang <i>nyetir</i> mobil di jalan, saya sering lupa mau pergi ke mana sampai saya harus berhenti dulu di tengah jalan untuk mengingat kembali tujuan saya. Dulu saya cepat sekali mempelajari program baru di komputer. Sekarang, saya cepat sekali lupa. Hari ini diajari, besok sudah tidak ingat lagi,” ia melanjutkan.

Jangan bayangkan Rei adalah seorang bapak-bapak yang sudah mau pensiun. Usianya baru 36 tahun. Belum tampak ada sehelai uban pun di kepalanya.

Apa yang terjadi pada Rei mungkin saja terjadi pada orang-orang muda yang lain. Usia belum di atas 40 tahun tapi pikunnya seperti orang yang sudah berumur di atas 50 tahun. Tentu saja ini kepikunan seperti ini tidak boleh dinggap remeh. Bukan hanya merepotkan, kepikunan di usia muda bisa jadi merupakan gejala permukaan dari masalah kesehatan yang tidak tampak.

Kepikunan berkaitan dengan erat dengan fungsi memori. Seperti kita tahu, organ yang paling bertanggung jawab terhadap fungsi ini adalah otak. Di dalam organ vital ini terdapat kompartemen (bagian) khusus yang menjadi tempat menyimpan semua data ingatan. Mirip folder <i>my document</i> di dalam <i>hard disk</i> komputer kita.

Menurut dr. Vivien Puspitasari, Sp.S, dari RS Siloam Karawaci, Tangerang, fungsi memori setidaknya melibatkan dua mekanisme penting. Yang pertama, mekanisme penyimpanan data. Jika dianalogikan dengan komputer, fungsi ini mungkin seperti perintah <i>save</i>. Yang kedua, mekanisme membuka kembali data itu, mirip perintah <i>open</i>. Jika salah satu atau kedua mekanisme ini mengalami gangguan, saat itulah seseorang mengalami gangguan memori.

Dalam istilah medis, kepikunan ini biasa disebut demensia. Tapi dalam kebanyakan kasus kepikunan di usia muda seperti yang dialami oleh Rei, gejala ini belum bisa disebut demensia. Ini adalah kepikunan dalam pengertian gampang lupa. Belum benar-benar pikun dalam pengertian demensia. Seseorang dikatakan menderita demensia jika ia, misalnya, sudah tidak bisa ingat jalan pulang ke rumah, tidak tahu bulan dan tahun hari ini, atau tidak lagi mengenali orang yang sebelumnya ia kenal. Sedangkan yang terjadi pada Rei masih “sekadar” lupa tempat meletakkan kunci dan dompet.

Meski begitu, gejala gampang lupa di usia muda harus tetap diwaspadai. Sebab, gejala ini bisa merupakan sinyal datangnya masalah kesehatan yang lebih gawat di masa datang.

Pada orang yang mengalami demensia, sel-sel otak tempat menyimpan data itu mengalami kerusakan. Mirip masalah <i>bad sector</i> yang menyerang <i>hard disk</i> komputer. Artinya, data itu memang sudah benar-benar hilang sehingga tidak mungkin dibuka atau dipanggil kembali.

Yang terjadi pada Rei, data itu masih ada. Sel-sel otak yang menyimpan data itu masih berfungsi. Hanya saja, proses pemanggilan data mengalami problem karena adanya gangguan konsentrasi. Inilah yang menyebabkan ia lupa tujuan ketika sedang menyetir mobil, tapi bisa ingat lagi setelah berhenti dan mengingat-ingat kembali. Jadi, yang bermasalah hanyalah perintah <i>open</i>, bukan karena adanya <i>bad sector</i> di dalam <i>hard disk</i>.

Kendalikan faktor risiko

Ada banyak faktor yang menyebabkan kepikunan datang lebih cepat. Faktor-faktor ini pada umumnya bisa dikendalikan.

· Stres berkepanjangan

Di Klinik Memori RS Siloam Karawaci, Vivien sering menangani pasien-pasien usia muda yang datang dengan keluhan gampang lupa. Berdasarkan hasil tes memori, kebanyakan masalah yang mereka hadapi mirip yang dihadapi Rei, yaitu masalah konsentrasi. Setelah ditelusuri, masalah ini berpangkal dari problem stres, biasanya stres dalam urusan pekerjaan.

Kabar baiknya, gampang lupa akibat stres bersifat sementara. Jika stres bisa dikendalikan, maka fungsi memori akan kembali normal. Stres yang terjadi temporer tidak sampai menyebabkan kematian sel-sel otak di bagian memori, tapi hanya menyebabkan gangguan konsentrasi. Namun jika stres dibiarkan terus-menerus menjadi santapan sehari-hari, maka sel-sel otak yang menyimpan memori bisa saja ikut terganggu.

· Kurang istirahat

Secara alami sel-sel otak kita mengalami penuaaan dan secara alami pula sel-sel yang menua itu diganti dengan sel baru. Proses regenerasi sel-sel otak ini terjadi terutama pada saat kita beristirahat. Jika kita kurang tidur, sel-sel otak yang sudah rusak itu tidak cepat diganti. Jika terjadi secara berkepanjangan, misalnya karena insomnia kronis, kurang istirahat ini akan menyebabkan kepikunan datang lebih cepat.

Sama seperti stres, kurang tidur juga bisa menyebabkan gangguan konsentrasi, yang selanjutnya menyebabkan seseorang menjadi pelupa. Masalah ini juga bersifat sementara. Jika problem tidur segera diatasi, maka gangguan konsentrasi ini pun bisa diselesaikan. Fungsi memori pun akan kembali normal.

Menurut Vivien, tidur yang cukup sekitar 6 – 8 jam. Tapi, selain perkara kuantitas (lamanya tidur), ada parameter lain yang tak kalah pentingnya, yaitu kualitas tidur. Masalah kurang tidur ini biasanya
berkait erat dengan stres. Seseorang akan susah tidur kalau siang harinya stres. Untuk urusan ini, Vivien mempersilakan para penderita gangguan tidur menerapkan metode-metode relaksasi untuk mendapatkan tidur yang benar-benar lelap.

Masih dalam kaitannya dengan kuantitas dan kualitas tidur, penurunan fungsi memori juga bisa disebabkan oleh <i>sleep apneu</i> (henti napas saat tidur) yang kronis. Penyebab gangguan ini bermacam-macam. Yang paling sering, karena adanya gangguan struktur saluran pernapasan. Jika seseorang mengalami henti napas saat tidur, suplai nutrisi dan oksigen ke otak akan terganggu. Jika gangguan ini bersifat kronis, sel-sel otaknya bagian memori bisa ikut terganggu.

· Konsumsi obat-obatan tertentu

Tidak semua jenis obat bisa mempercepat datangnya kepikunan. Yang masuk dalam kategori ini antara lain obat-obatan yang bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak. Contohnya, obat-obat penenang, obat tidur, dan obat golongan narkotika-psikotropika. Jika dikonsumsi terus dalam jangka panjang, obat-obatan jenis ini bisa menyebabkan timbulnya “bad sector” di kompartemen otak bagian memori.

· Diabetes, hipertensi, dan hiperkolesterolemia

Penyakit diabetes menyebabkan penyempitan di pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk di otak. Walapun penderitanya tidak sampai mengalami serangan stroke, pembuluh-pembuluh darah kecil di otaknya, termasuk di bagian memori, banyak yang terganggu. Itu sebabnya, saat menjalani tes fungsi memori, pasien diabetes pada umumnya menunjukkan hasil yang lebih buruk daripada orang sehat. Mekanisme ini juga terjadi pada mereka yang menderita hipertensi dan hiperkolesterolemia kronis.

· Kebiasan merokok dan minum alkohol

Sama seperti diabetes, kebiasaan merokok juga menyebabkan penyempitan pembuluh darah kecil di otak. Sementara alkohol pengaruhnya lebih parah lagi. Minuman ini, selain mengganggu keseimbangan kimiawi otak, juga bisa merusak sel-sel otak. Konsumsi alkohol terus-menerus, selain mempercepat datangnya kepikunan, juga menyebabkan kemunduran intelektual.

Pelajari hal baru

Semua yang disebut di atas merupakan faktor risiko yang bisa mempercepat datangnya kepikunan. Dengan kata lain, jika kita tidak ingin cepat pikun, semua faktor risiko ini harus kita hindari. Kalaupun tidak bisa dihindari, sekurang-kurangnya dikelola sebaik mungkin, terutama faktor yang pertama: stres. Bukan apa-apa, karena ini merupakan faktor yang paling sering menyebabkan orang muda menjadi sangat pelupa. Untuk urusan ini, Vivien menyarankan teknik-teknik pengelolaan stres seperti yang banyak ditulis di majalah-majalah atau buku.

Selain itu, masih ada beberapa tips yang disarankan agar kepikunan tidak datang lebih cepat.

· Pelajari hal-hal baru

Ketika kita mempelajari hal-hal baru, kita melatih sel-sel otak untuk melakukan fungsi <i>save</i>. Pada saat kita mengingat kembali hal yang baru dipelajari itu, kita melatih sel otak untuk melakukan fungsi <i>open</i>. Latihan ini akan membuat otak lebih aktif dan tidak gampang pikun.

Sebaliknya, jika kita malas mempelajari hal baru dan merasa nyaman dengan hal-hal rutin yang monoton, sel otak kita akan terbiasa hanya dengan fungsi <i>open</i> saja (membuka data). Tidak terbiasa dengan fungsi <i>save</i> (menyimpan ingatan). Padahal, kedua fungsi ini sama pentingnya dalam kaitannya dengan daya ingat.

Jika pekerjaan Anda monoton, carilah aktivitas yang membuat Anda sering mempelajari hal-hal baru. Sehingga, otak terlatih dengan fungsi merekam dan membuka data.

· Jangan bebani otak melebihi kapasitasnya

Terus mengaktifkan otak dan mempelajari hal-hal baru itu memang diperlukan. Tapi otak juga punya titik jenuh. Butuh istirahat. Jika ia terus-terusan bekerja, kinerjanya akan seperti komputer yang terus dipakai bekerja. Fungsi konsentrasi pun akan terganggu. Karena itu, jika otak sudah terasa capek diajak bekerja, istirahatkan. Jika kepala sudah pening, itu pertanda otak perlu istirahat. Aturlah rencana kerja sehingga tidak menyebabkan stres di satu waktu dan “bengong” di waktu lain. Jika jadwal harian Anda padat, biasakan menulis agenda harian dan menetapkan target optimum yang bisa dicapai tanpa stres.

· Perbanyak kegiatan interaktif

Kegiatan interaktif membuat sel-s
el otak kita terlatih menerima data, menyimpan, mengolah, dan membukanya kembali. Kegiatan interaktif ini misalnya bertemu dan berdiskusi dengan orang lain. Di situ ada proses mendengar informasi, mengolahnya, dan mengeluarkannya secara aktif. Kurangi kegiatan yang pasif yang hanya membuat kita menerima data saja, seperti menonton teve.

· Terapkan gaya hidup sehat

Olahraga yang teratur akan memperlancar pasokan nutrisi dan oksigen ke otak sehingga sel-sel otak bagian memori pun selalu bugar. Begitu pula, gizi yang cukup akan membuat proses regenerasi sel otak menjadi lancar. Dalam urusan konsumsi oksigen dan nutrisi, otak tidak boleh diremehkan. Meskipun ukurannya kecil dan bobotnya hanya 2% dari bobot tubuh, otak mengonsumsi 20% dari seluruh pasokan oksigen yang kita hirup dan 50% pasokan glukosa yang kita makan.

Itulah otak. Kecil ukurannya, banyak makannya, banyak fungsinya. Jika rusak, fatal akibatnya.

Advertisements

2 thoughts on “Masih Muda Kok Sudah Pikun [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s