Infeksi Pun Bisa Memicu Stroke [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Selama ini, penyakit stroke dan jantung koroner identik dengan kolesterol. Bahasan tentang kedua penyakit ini biasanya tak jauh-jauh dari kolesterol, lemak jahat, dan kawan-kawan. Tidak salah, memang. Tapi belakangan para dokter menemukan bukti bahwa infeksi kronis pun bisa sama berbahayanya dengan kolesterol karena bisa menjadi pemicu serangan stroke.

—–

Anda mungkin masih ingat saat komedian Leysus meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Saat itu dokter yang merawatnya menduga kuat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan parahnya sakit Leysus adalah infeksi gigi. Pada mulanya hanya sakit gigi biasa, selanjutnya infeksi di gigi ini menjadi kronis lalu memicu serangan stroke.

Bagaimana infeksi bisa memicu stroke?

Stroke, seperti sudah umum diketahui, adalah gangguan saraf akibat kerusakan pembuluh darah di otak. Berdasarkan tipe penyebabnya, serangan stroke dibagi menjadi dua: karena perdarahan dan karena penyumbatan.

Stroke karena perdarahan, dalam bahasa dokter, biasa disebut sebagai stroke hemoragik. Stroke ini disebabkan karena pembuluh darah di otak pecah sehingga menyebabkan perdarahan lokal di otak. Akibatnya, aliran darah ke sel-sel saraf otak pun terganggu. Darah, yang mestinya menyuplai nutrisi dan oksigen ke sel otak, malah mengalir ke tempat lain.

Adapun stroke karena penyumbatan pembuluh darah otak dalam bahasa medis biasa disebut stroke iskemik. Kadang disebut stroke nonhemoragik karena tidak dijumpai perdarahan. Menurut dr. Alfred Sutrisno, Sp.BS, penulis buku <i>Stroke, You Must Know Before You Get It</i> (terbitan Gramedia), sekitar 80% kasus serangan stroke merupakan jenis ini. Dengan kata lain, sebagian besar kasus stroke terjadi karena penyumbatan pembuluh darah otak, dan sebagian kecil karena perdarahan.

Serangan stroke nonhemoragik ini mirip dengan serangan jantung koroner. Sama-sama terjadi penyumbatan pembuluh darah. Bedanya hanya lokasi. Yang satu terjadi di pembuluh darah otak, yang lain di pembuluh koroner jantung. Keduanya sama-sama berbahaya dan bisa mematikan karena menyerang organ yang sangat penting.

<b>Radang dulu stroke kemudian</b>

Kedua penyakit ini pun memiliki faktor risiko yang sama, antara lain hipertensi, diabetes, tinggi kolesterol, tinggi lemak, obesitas (kegemukan), merokok, dan kurang olahraga. Kedua penyakit ini juga dimulai oleh proses yang sama, yaitu pengerasan dan penyempitan pembuluh darah, yang biasa disebut aterosklerosis.

Dalam keadaan sehat, pembuluh darah kita seperti pipa yang elastis, bagian dalamnya tidak berkerak sehingga cairan darah bisa mengalir dengan lancar. Jika seseorang memiliki faktor-faktor risiko di atas (hipertensi, tinggi kolesterol, dsb), secara perlahan-lahan bagian dalam pembuluh darah ini “berkerak”. Kerak ini menyebabkan dinding dalam pembuluh darah mengalami penebalan dan penyempitan.

Kerak ini dikenal dengan istilah plak ateroma. Pembentukannya terjadi secara pelan-pelan dan kronis, dalam jangka lama, tanpa kita sadari, pada saat kita berkawan dekat dengan kolesterol. Kerak plak ateroma inilah yang bisa menjadi biang keladi stroke jika seseorang menderita infeksi kronis.

Di tahap ini infeksi bisa berkaitan dengan penyumbatan pembuluh darah. “Mekanismenya lewat inflamasi kronik derajat rendah (<i>low-grade chronic inflammation</i>),” kata Prof. dr. Harmani Kalim, MPH, Sp.JP (K), dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta.

Pada mulanya infeksi menyebabkan inflamasi (peradangan). Peradangan ini selanjutnya menyebabkan kerak di dinding pembuluh darah mudah retak dan mengalami erosi, lepas dari dinding pembuluh. Kerak yang lepas ini menyebabkan terjadinya penggumpalan darah di pembuluh yang memang sudah mengalami penyempitan.

Lalu cerita selanjutnya bisa ditebak: gumpalan darah ini menyebabkan penyumbatan aliran darah. Jika lokasinya di pembuluh darah otak, penyumbatan ini menyebabkan serangan stroke. Jika terjadi di pembuluh darah koroner jantung, penyumbatan ini menyebabkan serangan jantung.

Namun, Harmani menandaskan bahwa infeksi ini tidak begitu saja bisa menyebabkan stroke. “Jadi, infeksi itu tidak berdiri sendiri menyebabkan stroke. Dia itu memicu,” katanya. Infeksi kronik hanya akan memicu stroke kalau p
embuluh darah sebelumnya sudah mengalami aterosklerosis (penebalan dan penyempitan).

Harus dicatat, jika seseorang mengalami infeksi, bukan berarti ia berisiko tinggi terkena serangan stroke. Infeksi bisa memicu stroke kalau memang terdapat faktor-faktor risikonya: hipertensi, diabetes, tinggi kolesterol, tinggi lemak, merokok, obesitas, dan kurang olahraga.

<b>Jenis-jenis infeksi</b>

Selain mekanisme di atas, ternyata infeksi kronis juga juga bisa mempercepat terjadinya aterosklerosis. Bahasa gampangnya, lemak dan kolesterol akan lebih mudah menempel menjadi kerak di pembuluh darah kalau seseorang mengalami infeksi kronis. Ini yang kurang disadari kebayakan orang.

Ada banyak jenis infeksi kronis yang sudah terbukti berkaitan dengan stroke. Salah satunya, infeksi di rongga mulut, misalnya yang menyerang gigi dan gusi. Mungkin awalnya hanya sakit gigi biasa. Tapi jika dibiarkan terus dan menjadi kronis, infeksi bisa saja mempercepat terjadinya aterosklerosis, lalu memicu terjadinya serangan stroke.

Contoh lain, infeksi <i>Helicobacter pylori</i>. Bakteri ini biasa menyebabkan infeksi di lambung lalu menyebabkan tukak (luka) dan kanker lambung. <i>Helicobacter pylori</i> ini tergolong bakteri yang cukup tangguh karena bisa bertahan hidup di dalam cairan lambung yang asam.

Contoh lain, infeksi <i>Chlamydia pneumoniae</i>. Bakteri ini biasa menyebabkan infeksi saluran napas, misalnya pneumonia (radang paru-paru). Gejala penyakit ini di antaranya batuk, demam, dan kesulitan napas. Jika berlangsung dalam jangka lama, infeksi bakteri ini pun berpotensi menjadi pemicu stroke pada penderita yang punya faktor risikonya.

Selain beberapa contoh di atas, masih terdapat banyak lagi infeksi yang berkaitan dengan stroke, seperti infeksi cytomegalovirus dan herpes simpleks. Kedua jenis infeksi ini biasanya diperiksa pada ibu hamil untuk mencegah bayi lahir prematur atau lahir cacat. Orang awam mengenal kedua infeksi ini lewat pemeriksaan TORCH (toksoplasma, rubela, <i>cytomegalovirus</i>, dan herpes).

Lokasi infeksi pemicu stroke juga tidak terbatas di gigi, paru-paru, dan lambung. Infeksi kronis di ginjal dan saluran kemih pun bisa saja berkaitan dengan stroke. Bahkan, kata Harmani, infeksi flu pun bisa berkaitan dengan stroke. Syaratnya, sekali lagi, penderita memang sudah memiliki faktor risiko stroke. Topik ini dibahas tuntas di artikel berjudul <i>Inflammation and Infection in Clinical Stroke</i>, yang dimuat <i>Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism</i>, 2002.

<b>Bisa dicegah</b>

Semua fakta di atas bisa menjadi kabar buruk. Tentu saja ini adalah peringatan bagi kita semua untuk sebisa mungkin menghindari faktor risiko. Nasihatnya mungkin terdengar klise dan membosankan. Sebisa mungkin cegah dan kontorl hipertensi dan diabetes. Kurangi konsumsi lemak dan kolesterol. Jauhi rokok, lakukan olahraga secara rutin. Ini aturan pertama.

Aturan kedua, jika kita sudah memiliki faktor risikonya, berarti kita harus ekstra hati-hati bila terkena infeksi. Jika sakit gigi atau mengalami gejala radang paru-paru, segera ke dokter. Semakin cepat pasien ke dokter, semakin kecil kemungkinan infeksi menjadi kronis.

Di samping menyembuhkan infeksinya, menurut Harmani, ada satu cara pencegahan yang bisa mengurangi risiko stroke jenis ini, yaitu dengan pemberian obat golongan statin. Obat ini biasanya diresepkan dokter untuk penderita tinggi kolesterol. Namun, dalam kaitannya dengan infeksi ini, statin tidak berurusan dengan kolesterol melainkan dengan hs-CRP (<i>highly sensitive C-reactive protein</i>). Ini adalah paramater dalam darah yang menunjukkan derajat inflamasi akibat infeksi kronis. Kira-kira mirip dengan kadar lekosit yang biasa kita baca di lembar hasil tes darah di laboratorium.

Jika seseorang menderita infeksi kronis, nilai hs-CRP ini meningkat di atas normal. Kadar hs-CRP dianggap tinggi jika lebih dari 3 mg/dl. Penelitian membuktikan, orang yang hs-CRP-nya tinggi, risiko serangan jantung dan strokenya juga tinggi. Jika hs-CRP ini berhasil diturunkan, diharapkan risiko terjadinya serangan jantung dan stroke juga turun.

Intinya, kolesterol tetap harus diwaspadai, tapi jangan remehkan infeksi.

Advertisements

One thought on “Infeksi Pun Bisa Memicu Stroke [intisari]

  1. Kabar baik nih bagi penderita stroke.. ada teknologi terbaru yaitu TRANSFER FACTOR yang bisa membantu penyembuhan penderita stroke karena Transfer factor merupakan molekul ajaib karunia Tuhan yang dibuktikan lewat sains.. setelah lebih dari 50 tahun penelitian dan telah mendapatkan rekomendasi dari kementrian kesehatan Rusia dan masuk ke dalam buku rujukan dokter (PDR) di Amerika, Transfer Factor mampu mempercepat penyembuhan penderita stroke…http://www.thetransferfactorindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s