Cermat Minum Obat Saat Menyusui [menu sehat]

Air susu ibu (ASI) adalah hadiah tak ternilai yang bisa diberikan orangtua kepada bayinya di masa-masa awal hidupnya. Sebisa mungkin, orangtua sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif buat buah hatinya selama enam bulan pertama. Tapi bagaimana jika pada masa itu si ibu sakit dan harus minum obat? Apakah ia tetap boleh memberikan ASI buat anaknya?

—–

Ini pertanyaan yang sering diajukan orangtua kepada dokter. Pertanyaan yang sederhana tapi membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.

Pada umumnya (tidak semua) obat-obatan yang diminum seorang ibu bisa keluar bersama ASI, terlepas dari besar kecilnya kadar di ASI. Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu obat bisa keluar lewat ASI. Salah satunya, kadar obat tersebut di dalam darah. Makin besar kadarnya, makin besar kemungkinan obat tersebut ikut keluar bersama ASI. Ini wajar karena memang darah adalah salah satu komponen pembuat ASI.

Sebetulnya, antara darah dan ASI terdapat <i>blood-milk barrier</i>. <i>Barrier</i> ini berfungsi sebagai saringan. Tidak semua yang ada di dalam darah pasti masuk ke dalam air susu. Makin kecil ukuran molekul suatu obat, makin besar kemungkinannya menembus saringan ini dan keluar bersama ASI.

Jika suatu obat keluar bersama ASI, obat itu bisa saja menimbulkan efek merugikan buat si bayi. Efeknya tergantung dari jenis obat itu serta besar kecilnya konsentrasi di dalam ASI.

<b>Hindari minum obat</b>

Panduan WHO <i>Breasfeeding Counseling: A Training Course</i> memberikan beberapa contoh. Obat-obatan antiinfeksi golongan sulfonamida (misalnya kotrimoksazol) bisa menyebabkan bayi kuning. Obat golongan estrogen (misalnya kontrasepsi yang mengandung estrogen) dan obat golongan diuretik tiazida (biasanya diminum penderita hipertensi) bisa menyebabkan penurunan produksi ASI. Ada pula obat-obatan yang jika diminum si ibu bisa menyebabkan bayi mengantuk. Ini hanya beberapa contoh bahwa apa yang diminum si ibu bisa menimbulkan efek merugikan buat si bayi.

Karena alasan kesehatan bayi itulah, selama menyusui, si ibu dianjurkan sebisa mungkin untuk tidak minum obat. “Ini prinsip utama buat ibu yang menyusui,” kata dr. Utami Roesli, Sp.A, IBCLC, FABM, pakar ASI dari Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta.

Caranya, tentu saja dengan menjaga kesehatan secara ketat. Jika berdasarkan pengalaman, gorengan atau makanan tertentu bisa menyebabkan batuk atau radang tenggorokan, maka si ibu sebisa mungkin harus menghindarinya. Demi cinta kepada buah hati, menghindari makanan tertentu selama menyusui tentu bukan perkara besar.

Lalu bagaimana jika si ibu sudah berusaha keras menjaga kesehatan tapi tetap sakit? Jika itu terjadi, si ibu sebisa mungkin disarankan mengobati sakitnya dengan cara non-farmakologis (tanpa minum obat). Misalnya, jika si ibu terkena flu, sebisa mungkin ia tidak minum obat flu atau suplemen yang isinya bermacam-macam. Mungkin dengan cara istirahat, dipijit, dikerok, minum sup hangat, banyak mengonsumi vitamin lewat buah-buahan, dan sebagainya.

Mengapa si ibu harus demikian ketat menghindari obat? Ini semata-mata karena alasan kebutuhan bayi. Sebisa mungkin, ASI tidak boleh dihentikan, termasuk ketika si ibu dalam kondisi kurang fit.

<b>Minum obat tunggal</b>

Kalaupun terpaksa minum obat, saran Utami, pilihlah obat tunggal yang memang aman untuk ibu menyusui. Hindari obat-obatan yang kandungannya berupa kombinasi bermacam-macam zat aktif. Ini misalnya banyak kita jumpai di dalam obat flu dan obat batuk yang banyak dijual bebas. Sebagai contoh, obat-obat flu dan batuk mungkin saja berisi campuran parasetamol, dekstrometorfan, fenilpropanolamin, gliserilguajakolat, dan CTM. Sebagian isi obat ini sangat mungkin tidak diperlukan si ibu.

Komposisi obat ini secara mudah bisa kita baca di kemasan atau brosurnya. Makin banyak kandungan obat yang diminum si ibu, makin besar risiko si bayi mengalami efek merugikan. Jika si ibu memerlukan obat penurun demam atau pereda nyeri dan sakit kepala, ia bisa minum obat yang isinya parasetamol tunggal. Bukan yang campuran dengan beberapa jenis obat lain. Jika kita tidak tahu merek dagang obat yang isinya tunggal, kita bisa bertanya di apotek. Sekali lagi, prinsipnya, batasi hanya minum obat yang memang diperlukan saja.

Untuk satu jenis gangguan kesehatan mungkin tersedia beberapa jenis obat. Sebisa mungkin pilihlah obat yang paling aman untuk ibu menyusui. Sebagai contoh, untuk pereda nyeri dan penurun demam, kita bisa menggunakan parasetamol atau asetosal. Tapi, dalam kasus ibu menyusui, parasetamol diketahui lebih aman daripada asetosal.

Begitu pula jika si ibu menderita sakit maag. Ia tetap boleh minum obat sakit maag yang paling sederhana, misalnya obat yang berisi magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Obat jenis ini relatif aman buat ibu dan bayinya.

Contoh lain, obat antiinfeksi. Jika si ibu sampai memerlukan antibiotik, pemilihan jenis antibiotik pun harus didasarkan pada pertimbangan kesehatan bayi. Seperti diketahui, antibiotik jenisnya bermacam-macam. Sebisa mungkin si ibu tidak mendapatkan antibiotik seperti kloramfenikol, tetrasiklin, metronidazol, dan golongan kuinolon (seperti ciprofloksasin) karena obat-obat ini relatif kurang aman bagi bayi.

Tapi untuk urusan yang ini, yang lebih menentukan adalah pihak dokter, bukan si ibu. Soalnya, antibiotik termasuk golongan obat etikal yang hanya diminum berdasarkan resep dokter. Ini berbeda dengan obat flu atau obat batuk yang termasuk golongan obat bebas yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Yang bisa dilakukan oleh ibu adalah memastikan dokter tahu bahwa si ibu sedang menyusui.

<b>Manfaat lebih besar</b>

Informasi kemananan suatu obat buat ibu menyusui biasanya tercantum di dalam brosur yang ada di kemasan obat. Kadang, informasi hanya menyebutkan keamanan pada ibu hamil. Pada umumnya, obat yang tidak aman buat ibu hamil juga tidak aman buat ibu menyusui.

Tapi tidak semua obat mencantumkan informasi ini karena keterbatasan data penelitian. Utami Roesli sendiri menggunakan buku panduan <i>Medication & Mother’s Milk</i>, tulisan Thomas W. Hale. Buku ini boleh disebut
sebagai referensi paling lengkap dalam hal keamanan obat buat bayi dan ibu menyusui.

Perlu tidaknya ibu menyusui minum obat harus selalu didasarkan pada pertimbangan rasio antara risiko dan manfaat. Seberapa besar risiko buat bayi dan seberapa besar manfaat buat si ibu. Ini patokan umum dalam ilmu kedokteran. Si ibu diperbolehkan minum obat hanya jika memang risiko buat si bayi bisa lebih kecil daripada manfaat yang didapat si ibu.

Sebagai contoh, kalau ibu menderita demam tifoid (tifus), tentu infeksinya harus disembuhkan supaya ibu tetap sehat dan tetap bisa menyusui. Begitu pula jika ia menderita asma, penyakit ini harus diobati untuk mencegah timbulnya gangguan yang lebih fatal. Contoh lain, jika si ibu menderita penyakit kronis seperti hipertensi atau diabates, si ibu tetap boleh minum obat. Tapi, sekali lagi, pemilihan obat harus dilakukan secara cermat. Harus mempertimbangkan kesehatan bayi. Aturan ini harus ditaati terutama jika si bayi dalam keadaan baru lahir atau lahir kurang bulan (lahir prematur).

<b>Berikan ASI lebih dulu</b>

Yang perlu diperhatikan dalam pengobatan bukan hanya jenis obatnya tetapi juga cara minumnya. “Kalau memang terpaksa minum obat saat menyusui, berikan ASI lebih dulu, baru obatnya diminum,” kata Utami memberikan tips.

Dengan cara seperti ini, risiko si bayi terpapar obat-obatan bisa dihindari hingga seminimal mungkin. Jika si ibu minum obat menjelang menyusui, ASI-nya akan mengandung obat tersebut dalam kadar yang relatif lebih tinggi. Sehingga, risiko buat bayi pun akan lebih besar karena ia seolah dipaksa ikut “minum” obat tersebut lewat ASI. Jika ibu minum obat setelah memberikan ASI, diharapkan pada saat ia menyusui, kadar obat di dalam darahnya sudah turun. Sehingga, risiko buat si bayi pun bisa lebih kecil.

Ada pendapat yang menyarankan agar si ibu memerah ASI lebih dulu sebelum minum obat. ASI perah ini nanti diberikan pada bayi jika ia memerlukan. Tapi Utami punya pendapat lain. ASI perah punya kekurangan jika dibandingkan dengan ASI langsung dari si ibu. Menurut Utami, aturan minum ASI harus ditentukan oleh si bayi, bukan si ibu. Kalau si bayi ingin menetek, berati itulah saat pemberian ASI yang paling tepat. Kalau si bayi berhenti menetek, berarti itulah saat tepat menghentikan pemberian ASI.

ASI punya komposisi yang khas. Di isapan-isapan pertama, ASI lebih banyak mengandung air, diperlukan oleh bayi kalau ia merasa haus. Sedangkan di isapan-isapan terakhir, ASI lebih banyak mengandung karbohidrat dan lemak, diperlukan oleh bayi saat ia lapar. Dengan kata lain, isapan pertama adalah “air minum”, sedangkan isapan-isapan terakhir adalah “nasi”. Kalau bayi minum ASI perah, berarti yang menentukan pemberian ASI adalah ibu, bukan bayinya sebab ASI perah tidak membedakan apakah bayi haus atau lapar.

Aturan-aturan di atas berlaku untuk obat-obatan yang memang masih bisa ditoleransi oleh bayi. Ada obat-obat tertentu yang sama sekali tidak boleh ada di dalam ASI, alias kontra indikasi terhadap ibu menyusui. Jumlah obat golongan ini tidak sebanyak golongan obat yang bisa ditoleransi si bayi. Contohnya adalah obat golongan antikanker dan logam berat. Jika si ibu terpaksa minum obat ini, maka dengan terpaksa pula ia harus menghentikan pemberian ASI. Apa boleh buat. (M. Sholekhudin)

Boks

<b>Tetap Makan Seperti Biasa</b>

Selain obat, makanan ibu juga bisa berpengaruh kepada bayi. Tapi dalam hal ini, si ibu tidak perlu takut berlebihan. Aturan umumnya, si ibu tetap boleh makan seperti biasa. Menurut Utami, setiap bayi sudah mulai membiasakan diri dengan makanan si ibu sejak ia berada di dalam kandungan. Bahasa awamnya, kalau si ibu gemar makan sambal dan jengkol, maka air ketubannya pun akan berasa sambal dan jengkol. Si bayi sudah terbiasa menyesuaikan diri dengan kondisi ini.

Kalau memang si ibu tidak biasa makan pedas, sebaiknya ia menghindari makan pedas saat menyusui untuk mencegah bayi terserang diare. Tapi kalau si ibu sudah terbiasa makan pedas, ia tidak perlu menghindari sambal saat menyusui.

Ketika bayi diare pun, itu tidak selalu akibat makanan orangtua. Utami memberi contoh diare yang terjadi pada bayi usia di bawah 1,5 tahun. Pada usia itu, bisa saja bayi mengalami diare tapi tidak berbahaya. Diare normal. Penyebabnya, karena selama di dalam kandungan ibu, usus bayi tidak pernah dipakai. Begitu bayi lahir, ususnya akan mengalami “pembersihan” yang tampak sebagai diare. Tapi ini diare normal. Meskipun bayi mengalami diare, berat badannya terus naik. Jika ini terjadi, si ibu tidak perlu menghentikan ASI lalu menggantinya dengan susu formula rendah laktosa karena memang diare itu masih normal. Sekali lagi, sebisa mungkin, usahakan bayi harus mendapat ASI eksklusif sampai usia enam bulan.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s