STOP Tuberkulosis dengan DOTS [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Sampai sekarang Indonesia masih menduduki peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan jumlah penderita tuberkulosis (TB atau TB) terbanyak. Padahal, cara efektif pengobatannya sudah diketahui dengan jelas dan gamblang. Prosedur tetap yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan pun sudah ada. Lalu, di mana masalahnya?

—–

“Masalahnya, karena masih banyak yang menggunakan cara tidak standar!” Itu adalah jawaban tegas dr. Jane Seopardi, Kepala Subdit Pencegahan Penyakit Tuberkulosis, Ditjen PP&PL, Departemen Kesehatan RI. Cara standar yang dimaksud oleh Jane adalah Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang diterbitkan Departemen Kesehatan. Ini satu-satunya pedoman resmi bagi semua petugas kesehatan. Buku teks selain pedoman ini, kata Jane, mestinya tidak boleh dipakai sebagai acuan.

Mengapa kita harus menggunakan pedoman yang seragam? Karena, TB adalah masalah kesehatan masyarakat yang program penanganannya sudah diambil alih oleh pemerintah. Semua pihak yang terkait harus mengikuti prosedur tetap Departemen Kesehatan. TB berbeda dengan darah tinggi atau diabetes yang metode pengobatannya diserahkan kepada dokter yang menangani.

Cara standar ini dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment, ShortCourse), yang berisi lima kunci pokok. Pertama, adanya komitmen dari semua pihak yang terkait, termasuk pemerintah dan sarana pelayanan kesehatan. Komitmen ini penting karena memang metode penanggulangan TB sebetulnya sederhana saja tapi membutuhkan kedisiplinan yang ketat dari semua pihak.

Kunci kedua, tes utama untuk diagnosis TB adalah pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hingga kini pun masih banyak tenaga kesehatan yang belum mengikuti pedoman ini. Mereka menganggap, diagnosis TB cukup ditegakkan dari foto rontgen dada. Padahal, rontgen ini tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Ini tidak berarti bahwa pemeriksaan rontgen sudah tidak diperlukan lagi. Foto rontgen tetap bisa dijadikan metode pemeriksaan, tapi bukan yang utama. Bukan pula berarti dahak adalah satu-satunya pemeriksaan. Pada kasus-kasus tertentu, misalnya TB pada anak, diagnosis ditegakkan dari banyak pemeriksaan. Pada pemeriksaan ini, dahak pasien diambil tiga kali pada waktu yang berbeda. Kuman di dalam dahak diperiksa dengan menggunakan mikroskop.

<b>Obatnya jadi satu</b>

Kunci ketiga dalam strategi DOTS, pengobatan TB harus memakai metode standar. Jenis obat anti-TB (OAT) yang dipakai di metode standar ini tetap seperti yang selama ini dipakai, yaitu Isoniazida, rifampisin, pirazinamida, streptomisin, dan etambutol. Obat-obatan ini juga diberikan dalam kombinasi. Bedanya, sekarang obat-obat ini sudah digabungkan menjadi satu tablet (<i>four in one</i>).

Biasanya, masing-masing obat di atas dibuat dalam tablet atau kapsul yang terpisah-pisah. Ini sering menimbulkan masalah bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Tiap hari, pasien harus minum banyak sekali obat. Dosis satu obat berbeda dari yang lain sehingga membingungkan. Kadang, satu obat sudah habis tapi obat yang lain masih tersisa banyak. Jika pasien keliru minum atau salah dosis, pengobatan bisa gagal dan kuman malah menjadi kebal.

Masalah ini tidak akan terjadi pada obat standar. Soalnya, satu tablet obat standar sudah berisi beberapa macam OAT. Pasien hanya perlu menelan satu obat saja dalam satu dosis. Ia tidak perlu dipusingkan dengan empat macam obat. Menurut Jane, sampai sekarang pun masih banyak dokter yang tidak meresepkan OAT standar ini buat pasien TB. Resepnya masih mengikuti cara lama, yaitu menggunakan beberapa jenis OAT yang terpisah-pisah.

Salah satu masalah utama dalam terapi TB adalah kepatuhan pasien minum obat. Sebagaimana diketahui, pengobatan TB harus dilakukan secara disiplin selama 6 – 8 bulan. Lamanya minum obat ini sering membuat pasien bosan dan behenti di tengah jalan.

Biasanya, setelah minum obat selama dua bulan, pasien merasa sehat lalu berhenti minum obat. Padahal, kondisi sehat itu tidak berarti bahwa kuman TB sudah terbasmi secara sempurna. Pasien memang sudah sehat, tapi kuman masih bersembunyi di dalam tubuh. Pengobatan hanya dianggap tuntas kalau pasien minum obat selama 6 – 8 bulan.

Ketidakpatuhan minum obat ini merupakan masalah besar dalam penanggulangan TB. Jika pasien tidak patuh, kuman TB bisa menjadi kebal (resisten) dan menjadi lebih ganas. Jika itu terjadi, pengobatan selanjutnya menjadi lebih rumit, pemilihan obat lebih sulit, waktu pengobatan lebih lama, biayanya pun lebih mahal. Lebih dari itu, pasien juga akan menjadi sumber penularan yang berbahaya. Ia tidak sekadar menularkan kuman TB biasa, tapi kuman TB yang kebal dan ganas.

Ini masalah yang sangat serius. Dalam strategi DOTS, masalah ini diatasi dengan cara “pengawasan melekat”. Setiap pasien TB harus punya seorang pendamping yang disebut sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). Persyaratan ini tidak boleh ditawar. PMO ini umumnya anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien. Ia dilatih secara khusus, tugasnya memastikan pasien minum obat secara disiplin dalam waktu yang telah ditentukan. Tugas PMO ini tidak sekadar seperti jam weker yang mengingatkan pasien agar mimun obat. Ia harus mengawasi dan memastikan pasien benar-benar menelan obatnya.

<b>Puskesmas lebih siap</b>

Pemberantasan TB menuntut komitmen dari semua pihak. Bukan hanya pasien yang dituntut disiplin minum obat, pemerintah dan sarana pelayanan kesehatan pun dituntut disiplin memastikan OAT standar selalu tersedia. Ini kunci ketiga dalam strategi DOTS. Jangan sampai pasien putus obat hanya karena ia tidak mendapatkannya di sarana pelayanan kesehatan.

Sayangnya, kata Jane, saat ini belum semua sarana pelayanan kesehatan mengikuti cara standar DOTS ini. Jika begitu, apa yang bisa dilakukan pasien TB agar bisa mendapatkan pelayanan standar? Jawabannya mungkin terdengar mengherankan bagi sebagian kalangan: daripada ke rumah sakit swasta, lebih baik datanglah ke Puskesmas! Ya, datanglah ke Pusat Kesehatan Masyarakat yang selama ini sering dianggap sebagai sarana pelayanan kesehatan kelas bawah itu.

Dalam urusan penanggulangan TB, Puskesmas secara umum lebih bisa diandalkan daripada rumah sakit swasta. Kata Jane, sekitar 98% Puskesmas di seluruh Indonesia sudah secara seragam menerapkan strategi DOTS. Hanya 2% yang belum. Itu pun biasanya di daerah-daerah terpencil.

Sementara, jumlah rumah sakit yang menerapkan strategi DOTS ini baru sekitar 40%. Selebihnya, 60%, masih belum m
enggunakan cara standar. Itu berarti, kalau pasien datang ke rumah sakit, kemungkinan besar ia mendapatkan layanan yang tidak standar. Sebaliknya, kalau ia datang ke Puskesmas, hampir bisa dipastikan ia mendapatkan pelayanan standar. Dalam urusan penyakit lain, mungkin rumah sakit lebih unggul. Tapi dalam perkara TB ini, Puskesmas lebih bisa diandalkan.

Tak perlu khawatir jika, misalnya, ternyata penderita memerlukan perawatan yang fasilitasnya tidak dimiliki oleh Puskesmas. Jika itu terjadi, Puskesmas akan merujuk pasien ke rumah sakit yang memang telah memakai strategi DOTS. Data tentang rumah-rumah sakit kategori ini tersedia di Puskesmas.

Saat ini masyarakat awam memang masih sulit membedakan rumah sakit yang sudah atau belum menggunakan straegi DOTS. Tidak ada tanda fisik yang bisa dilihat. Namun, ke depan, kata Jane, pemerintah akan melakukan sertifikasi DOTS bagi semua sarana pelayanan kesehatan. Kelak, sarana-sarana pelayanan kesehatan yang sudah memenuhi standar DOTS akan mendapatkan sertifikat dan berhak memasang logo khusus yang bisa dilihat pasien. Mungkin kira-kira seperti logo lingkaran biru bagi sarana pelayanan kesehatan yang menyediakan layanan keluarga berencana.

Jika sertifikasi ini nanti sudah berjalan, rumah sakit yang tidak punya logo DOTS tidak boleh melayani pengobatan TB. Ini sifatnya mengikat secara hukum. Rumah sakit tersebut harus merujuk pasien ke sarana pelayanan kesehatan lain yang sudah menggunakan strategi DOTS. Namun, karena saat ini program sertifikasi ini belum berjalan, maka cara paling gampang yang bisa kita lakukan adalah datang ke Puskesmas.

<b>Obatnya gratis</b>

Keuntungan lain buat pasien, di Puskesmas, obat TB standar ini sama sekali gratis. Pasien tidak perlu membayar karena memang tanggung jawab penyediaan obat ini ada di tangan pemerintah. Dengan datang ke Puskesmas, pasien secara tidak langsung telah membantu program pemerintah memberantas TB. Di Puskesmas, semua data penderita TB tercatat secara nasional. Ini akan memudahkan pemerintah dalam memantau keberhasilan program pemberantasan TB.

Dokumentasi ini merupakan kunci kelima dalam strategi DOTS. Puskesmas akan memantau perkembangan pasien sampai ia sembuh. Jika, misalnya, pasien tidak kembali ke Puskesmas sebelum dinyatakan sembuh, maka pihak Puskesmas akan melacaknya untuk memastikan bahwa pasien tidak putus obat. Sebagian Puskesmas tertentu bahkan menerapkan strategi yang lebih ketat. Semua pasien dan PMO harus menandatangani semacam surat perjanjian kontrak yang menyatakan bahwa pasien akan menjalani pengobatan sampai tuntas.

TB memang bukan penyakit yang bisa diremehkan. Penyakit ini mudah menular melalui percikan batuk penderita. Jumlah penderitanya di Indonesia masih sangat banyak. Diperkirakan 1% penduduk Indonesia terinfeksi kuman <i>Mycobacterium tubeculosis</i>. Sekitar 10% di antaranya akan menjadi penderita TB. Tiap satu orang penderita TB yang aktif bisa menularkan kuman ini kepada 10 – 15 orang lain. Itu sebabnya, penyakit ini harus diberantas dengan gerakan terpadu secara nasional.

Pendekatan dalam strategi DOTS ini telah terbukti ampuh dalam memberantas TB. Agar program ini berhasil secara nasional, Jane menegaskan, semua tenaga kesehatan harus mengacu pada strategi DOTS ini. Yang tidak menggunakan pedoman Departemen Kesehatan ini bisa dianggap melanggar aturan alias <i>mbalelo</i>. “Buku pedoman itu bukan sekadar <i>textbook</i> tetapi peraturan yang harus ditaati oleh semua pihak,” Jane menandaskan.

Boks-1:

<b>Gejala TB Bisa Berbeda</b>

Di Indonesia, hampir semua orang diperkirakan pernah terpapar kuman TB, meskipun tidak semuanya berkembang menjadi penyakit TB. Kuman <i>Mycobacterium tubeculosis</i> umumnya menginfeksi paru. Gejala utamanya, batuk berdahak selama 2 – 3 minggu.

Gejala tambahan lainnya, dahak bercampur darah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan dan berat badan menurun, berkeringat di malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam meriang lebih dari satu bulan. Jika muncul gejala yang dicurigai TB, jangan tunda, segera pergi ke Puskesmas.

Kuman TB bisa juga menginfeksi organ lain, misalnya tulang, ginjal, dan kelenjar getah bening. Gejalanya tentu sesuai dengan organ yang terinfeksi. Sekadar contoh, gejala TB tulang bisa saja seperti gejala nyeri rematik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s