Pilih Yoga Sesuai Hati Anda [intisari: mind body & soul]

Awal tahun ini yoga banyak menjadi bahan diskusi terkait fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menjadi subjek fatwa bukanlah yoga sebagai sebuah latihan (<i>exercise</i>), tapi sebagai ritual yang mirip agama. Tanpa bermaksud memihak pada kelompok yang pro maupun yang kontra, kita perlu mengenal bagian yoga yang dianggap sebagai “ritual” agama itu.

Hal pertama yang perlu diketahui, yoga terbagi menjadi sembilan aliran. Salah satunya, mantra yoga, yang latihannya banyak menggunakan unsur mantra, yaitu suara dan bunyi. Banyaknya unsur mantra ini mungkin bisa dianggap mirip dengan ritual agama. Sementara, aliran yang paling banyak dipraktikkan adalah hatha yoga, yang menitikberatkan pada penguasaan tubuh dan napas. Mantra hanya bagian sangat kecil dari latihan. Kalaupun ada, itu bukan mantra dalam pengertian agama. “Mantra” di sini hanya bermakna kata yang diulang-ulang. Bukan doa.

Sebagai contoh, di dalam latihan, pelaku yoga mengucapkan kata “lam” secara berulang-ulang. “Kata ini tidak ada artinya. Hanya suara berkualitas yang fungsinya menimbulkan vibrasi energi di cakra dasar,” kata Pujiastuti Sindhu, guru Yoga Leaf, Bandung. Kata “lam” tidak punya makna komunikatif. Fungsinya hanya sebagai <i>sound therapy</i>. Bukan komunikasi kepada Tuhan. Jadi, tidak ada unsur doa di dalamnya.

Begitu juga pada saat praktisi hatha yoga bermeditasi, bagian ini pun tidak mengandung unsur ritual agama. Tidak ada mantra yang dibaca. Juga tidak ada pribadi (Tuhan) yang diagungkan atau dikultuskan lewat meditasi itu. Ini hanya teknik latihan konsentrasi lewat olah napas.

Contoh lain, di dalam latihan yoga terdapat gerakan yang bernama Surya Namaskar (arti harfiahnya penghormatan terhadap Matahari). Sebagian kalangan menganggap ini ritual penyembahan. Padahal, ini hanya sebuah simbol alam yang dipakai sebagai nama gerakan. Di dalam Hindu pun tidak ada ritual seperti ini. Jadi, ini memang hanya gerakan yang diciptakan sebagai latihan seperti senam.

<b>Produk budaya</b>

Sebagai guru yoga, Pujiastuti sering ditanya muridnya tentang kaitan yoga dan Hindu. Jawabannya sederhana: yoga adalah produk budaya. Oleh karena yoga lahir di India yang mayoritas penduduknya Hindu, wajar jika yoga pun diwarnai tradisi Hindu. “Itu memang tidak bisa diingkari. Tapi yoga dan Hindu adalah dua hal yang berbeda,” kata Uji, panggilan akrab Pujiastuti.

Karena diwarnai Hindu, istilah-istilah di dalam yoga pun banyak merujuk pada konsep Hindu. Tapi itu sebatas spiritualisme saja, bukan agama. “Agama itu ‘kan eksklusif, sedangkan spiritualisme itu universal,” katanya. Kalaupun di dalam yoga ada unsur merasakan kehadiran Tuhan, maka yang dimaksud di sini adalah Tuhan menurut iman pelakunya.

Jika dianalogikan, yoga mungkin seperti pencak silat. Karena pencak silat lahir di Indonesia yang mayoritas Muslim, wajar jika bela diri ini pun diwarnai tradisi Islam. Tapi, batas keduanya tetap jelas. Pencak silat dan Islam berada di dua wilayah yang berbeda.

Saat awal belajar yoga, Uji, yang seorang Muslim ini, sempat mengalami keraguan karena merasa latihan ini berasal dari budaya lain. Saat belajar yoga ke India, ia pun mengamati, di sana yoga diajarkan secara sangat Hindu. Tapi makin dalam ia mempelajari yoga, ia makin paham batas antara yoga dan agama. Karena itu, ketika ia mengajarkan yoga di Indonesia, ia pun banyak melakukan penyesuaian dengan budaya lokal.

Dalam mengajar pun Uji memilih berhati-hati karena muridnya sangat heterogen. Bukan hanya heterogen dalam agama, tapi juga heterogen dalam pandangan beragama. Itu sebabnya ia membatasi memfokuskan yoga pada latihan postur dan olah napas. Bagian mantra hanya ia ajarkan jika muridnya menghendaki.

Menurut pengamatan Uji, praktik-pratik yoga di Indonesia pun pada umumnya netral. Tidak mengajarkan ritual agama. Bahkan, saat ini yoga cenderung menjadi gaya hidup yang tentu saja makin jelas terpisah dari ritual agama. Di Indonesia, yoga pada umumnya memang dilakukan untuk tujuan kesehatan fisik dan mental.

Sebagai solusi praktis, saran Uji, jika kita hendak mulai belajar yoga, carilah informasi sedetail mungkin tentang latihannya. Tanyakan kepada gurunya. Jika mungkin, ikutilah kelas percobaan. Bagaimanapun juga, latihan ini menuntut penerimaan dari hati pelakunya. Semua orang berhak meyakini pandangannya masing-masing. Jika memang hati kita merasa kurang sreg, carilah tempat lain yang latihannya lebih sreg di hati. Pengajaran yoga sangat bermacam-macam. Sangat mungkin, di satu tempat kita merasa kurang mantap, tapi di tempat lain hati kita merasa mantap. (Emshol)

Advertisements

3 thoughts on “Pilih Yoga Sesuai Hati Anda [intisari: mind body & soul]

  1. Saya setuju dengan pendapat Uji ,karena kebetulan saya juga ikut kelas yoga. Kalo menurut saya sich , semua kembali kepada niat kita masing masing…..

  2. saya setuju mas, semua kembali pada niat kita masing masingkalau memang yoganya untuk tujuan kesehatan jasmani, olah tubuh agar sehat, why not? ;))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s