Perempuan Harus Menerima Tantangan [intisari]

[April 2009]

Penulis: M. Sholekhudin

Sukses di rumah tangga, sukses pula di dunia kerja dan sosial. Tak banyak perempuan seperti Betti Alisjahbana yang bisa memadukan ketiganya. Di tengah masyarakat yang berbudaya patriarki, Betti berhasil membuktikan bahwa sukses di semua urusan itu bukan pilihan ganda yang hanya bisa diambil salah satu tapi bisa ketiga-tiganya.

—–

Di masyarakat kita, kebanyakan perempuan biasanya dibesarnya dengan pola pikir tradisional bahwa perempuan bertugas mengurus pekerjaan domestik sementara laki-laki mencari nafkah. Jika seorang perempuan ingin berhasil di dunia kerja, ia harus memastikan bahwa urusan domestik sudah beres lebih dulu.

Saat di sekolah menengah atau perguruan tinggi, jumlah siswi atau mahasiswi yang berprestasi relatif sama dengan siswa atau mahasiswa berprestasi. Namun, makin tinggi level dunia kerja, makin sedikit jumlah perempuan yang tampil.

Fenomena ini, menurut Betti, terjadi karena pandangan tradisional di atas. Ia sendiri menolak dikotomi tugas seperti itu. Laki-laki dan perempuan harus benar-benar sederajat. “Suami dan istri itu mitra sejajar. Suami punya cita-cita, istri pun boleh punya cita-cita. Itu bisa dibicarakan bersama,” katanya. Pandangan tradisional yang kaku tentang pembagian tugas domestik dan mencari nafkah menurutnya akan membuat perempuan cenderung membatasi diri dan tidak punya cita-cita tinggi.

<b>Ibu terbaik di dunia</b>

Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, Betti sejak kecil dididik ibunya untuk percaya bahwa perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Sejak remaja ia terbiasa sibuk mengikuti berbagai kegiatan di luar sekolah, seperti les bahasa Inggris, piano, sampai les menjahit dan kecantikan.

Banyaknya kegiatan itu membuat Betti terlatih menghargai waktu, “Yang membedakan orang sukses dan orang biasa adalah bagaimana dia menggunakan waktunya. Tuhan mahaadil, semua orang diberi waktu 24 jam sehari semalam, tak ada yang lebih, tak ada yang kurang,” katanya. Aneka macam les itu juga membuat dia belajar hal lain: semua hal bisa dipelajari! Kelak, pandangan ini sangat membantunya meraih berbagai prestasi.

Tahun 1984 ia lulus sebagai aristek dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Lulus kuliah, ia bekerja di IBM Indonesia, perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) asal Amerika Serikat. Saat awal bekerja, ia mengaku hanya punya cita-cita sederhana, bisa bekerja sebaik karyawan yang lain. Itu saja. Maklum, pendidikannya arsitektur sedangkan IBM perusahaan TIK.

Seiring dengan makin seringnya Betti mengikuti acara-acara IBM tingkat internasional, ia mulai banyak mendapat inspirasi dari para pemimpin perempuan kelas dunia. Ia pun mulai menyadari potensinya. Sejak itulah ia mulai punya cita-cita tinggi. Perubahan cita-cita itu ternyata mengubah segalanya. “Ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita akan lebih cepat mencapainya karena kita mempersiapkan langkah-langkah menuju ke sana,” katanya.

Sejak itu, ia mulai membiasakan diri menerima penugasan-penugasan menantang yang pada umumnya diberikan kepada karyawan laki-laki. Ini juga masalah lain yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Pada umumnya, penugasan-penugasan menantang lebih banyak diberikan kepada laki-laki karena perempuan secara alamiah punya keterbatasan-keterbatasan, termasuk urusan domestik rumah tangga. Betti mencoba menembus keterbatasan itu. “Kalau kita tidak pernah mendapat penugasan yang menantang, bagaimana kita bisa belajar dan mendapatan pengalaman-pengalaman baru?” katanya.

Beruntung, ia bekerja di IBM yang menerapkan organisasi modern. Lebih beruntung lagi karena ia bisa mengatasi keterbatasan sebagai ibu rumah tangga dengan sistem <i>mobile office</i>. Saat harus mengambil rapor anaknya, ia masih bisa bekerja dari mana saja dengan memanfaatkan teknologi. Enam belas tahun sejak masuk IMB, setelah melewati berbagai tahap penugasan, ia akhirnya dipercaya menjadi Chief Executive Officer (CEO) IBM Indonesia pada 2000. Ia adalah CEO perempuan pertama di IBM kawasan Asia Pasifik.

Saat awal memegang posisi CEO, ia pernah punya pengalaman lucu. Suatu kali ia pergi menemui klien. Waktu ia masuk ruangan, kliennya sempat terpana memandangi Betti dari atas sampai bawah. Mungkin dia tidak menyangka CEO yang akan ia temui ternyata seorang perempuan. Perempuan mungil. Tapi Betti berhasil menghilangkan keraguan klien itu setelah mereka terlibat diskusi profesional. Kejadian-kejadian seperti ini malah membuat Betti makin termotivasi untuk membuktikan diri bahwa dia, perempuan mungil itu, memang tidak salah menempati posisi CEO.

Usahanya terbukti berhasil. Sejak menjadi CEO di IBM, ia meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Piagam yang ia terima jumlahnya bertumpuk. Sebagian di antaranya ia pasang di dinding ruang kerjanya. Meskipun ia telah menjadi seorang CEO kelas internasional, Betti tetaplah seorang ibu yang perhatian kepada anak-anaknya. “Itu adalah piagam yang paling berharga buat saya,” katanya sambil menunjuk sebuah “piagam” yang diberikan oleh Aslan, putra pertamanya, sebagai hadiah Hari Ibu. Piagam itu menobatkan Betti sebagai “The Best Mother Worldwide.” Ibu mana yang tidak bahagia dinobatkan anaknya sebagai Ibu Terbaik di Seluruh Dunia?

Hadiah mahal tentu hasil kerja keras. Perjuangannya sebagai ibu rumah tangga jelas tidak ringan karena pada saat yang sama ia juga menjadi Ibu Presiden Direktur di IBM. Ia dituntut bisa secara disiplin membagi waktu. Untungnya, ia sudah memperoleh pelajaran cara mengatur waktu yang ia dapat sejak ikut berbagai macam les di SMP.

Suatu kali, karena saking sibuknya, Betti pernah diprotes oleh Nadia, putri bungsunya. Protes itu membuat Betti merasa bersalah sekaligus tersenyum karena dilakukan dengan cara yang sadar-teknologi. Nadia menyusup ke kalender kerja elektronik Betti dan mengubah salah satu jadwalnya menjadi “Mengantar Nadia Naik Kuda.”

Di lain waktu, ia pun pernah dihadapkan pada masalah dilematis yang khas dihadapi perempuan karier. IBM memberikan penugasan internasional dan mengharuskan Betti tinggal di Singapura. Sebelum menerima tawaran itu, ia sempat bimbang karena itu berarti ia harus meninggalkan keluarganya di tanah air. Untungnya, suami dan kedua anaknya malah mendukung dia menerima penugasan itu. “Semua masalah bisa dibicarakan bersama-sama,” itu prinsipnya. Akhirnya ia pindah ke Singapura bersama kedua anaknya, sementara suaminya mengunjungi mereka tiap dua minggu sekali.

“Saya beruntung menikah dengan suami yang berpandangan modern,” katanya. Sejak awal menikah dengan Mario Alisjahbana, pengusaha yang jug
a putra pujangga Sutan Takdir Alisjahbana, keduanya sepakat tidak menganut sistem dikotomi tugas yang tradisional. Betti dan suaminya terbiasa berbagi tugas domestik. Karena itu bukan hal aneh kalau suaminya pergi berbelanja kebutuhan rumah tangga tanpa ia temani.

Sesibuk apa pun, Betti selalu berusaha punya waktu dengan keluarga. Di hari libur, ia menyempatkan diri makan di luar atau jalan-jalan menemani anaknya ke mal. Selama menjalankan peran ganda sebagai ibu dan CEO itu Betti tak jarang sampai mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tapi demi cintanya kepada keluarganya, ia menyembunyikan itu seperti layaknya seorang ibu yang memendam rasa sedih di depan orang-orang yang ia cintai.

<b>Tantangan baru</b>

Setelah delapan tahun menjadi CEO IBM, Betti merasa dirinya harus mendapatkan tantangan baru. “Supaya energi dan <i>passion</i> tetap terjaga, kita harus punya <i>next mountain to climb</i>,” katanya. Tahun 2008, ia memutuskan pensiun dari IBM dan mencoba tantangan baru menjadi wirausahawan. Sebuah pilihan yang berani dan berisiko karena wirausaha adalah dunia baru baginya. Sebagai CEO perempuan di IBM, ia memang telah berhasil membuktikan dirinya mampu. Tapi tantangan menjadi pengusaha tentu berbeda dari tantangan menjadi manajer perusahaan multinasional. “Setiap pilihan mengandung risiko. Kalau sudah mengambil keputusan, jangan menengok lagi ke belakang,” katanya.

Ia hanya percaya bahwa segala sesuatu bisa dipelajari. Ini pelajaran yang ia dapat ketika mengikuti berbagai macam les keterampilan di SMP. Perempuan, kata Betti, secara alamiah sebetulnya punya potensi menjadi pengusaha karena perempuan cenderung tekun dan tepercaya. Karena alasan itulah, menurutnya, Muhammad Yunus, peraih Nobel asal Bangladesh, memberikan kredit tanpa jaminan kepada para ibu rumah tangga.

Namun, tekun dan tepercaya saja belum cukup untuk menjadi seorang wirausahawan. Dari futuris Alvin Toffler, ia belajar merancang ide bisnis. Kata Toffler, ekonomi dunia berkembang mengikuti tahap-tahapan, mulai dari ekonomi pertanian (masa lalu), ekonomi industri (sedang di penghujung), ekonomi informasi (saat ini), lalu ekonomi kreatif (masa depan). Maka dengan bendera QB Creative ia pun merancang bisnis kreatif di bidang teknologi informasi dan aristektur, dua bidang yang ia tekuni. Saat ini Betti sedang dalam masa pembuktian apakah ia juga bisa berhasil sebagai pengusaha.

Sembari menjalani masa pembuktian itu, ia kini juga mengikuti panggilan hatinya sebagai pekerja sosial. “Saya merasa Tuhan telah bermurah hati kepada saya. Kini saatnya bagi saya untuk berbagi,” katanya. Fokus kerja sosialnya pun tak jauh-jauh dari naluri perempuan: cinta dan pendidikan. Lewat Yayasan ITB-79 yang ia pimpin, Betti dan kawan-kawan sesama alumni ITB seangkatan menyelenggarakan pendidikan gratis buat sekitar 250-an anak jalanan. Lewat Majelis Wali Amanah ITB, Betti dan kawan-kawannya juga menggagas program ITB untuk Semua yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa dari keluarga tidak mampu.

Lewat QB Headlines, Betti juga berbagi ilmu melalui pelatihan-pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan. Seolah masih punya banyak waktu cadangan, Betti juga aktif sebagai duta di Aliansi Open Source Indonesia yang aktif menggiatkan pemajuan teknologi di Indonesia. Dan masih sederet lagi aktivitas sosial lainnya.

Saking aktifnya di kegiatan sosial, Betti pun sampai memanfaatkan hobinya untuk tujuan produktif kerja sosial. Kebetulan ia punya hobi yang feminin: menyanyi. Meski mengaku suaranya tidak sekelas penyanyi, ia berani memutuskan untuk membuat album lagu. Semua bisa dipelajari. Maka, ia pun belajar olah vokal kepada guru vokal kawakan Bertha. Hasilnya, album pertama “From Betty with Love” bisa menggalang dana sampai Rp 70 juta untuk pendidikan anak-anak jalanan.

Menyanyi dan berbagi. “Itu cara saya berterima kasih dan merayakan kehidupan.”

Advertisements

3 thoughts on “Perempuan Harus Menerima Tantangan [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s