Waspadai Tapi Jangan Bunuh Ular [intisari mei 2009]

Penulis: M. Sholekhudin

Malang nian nasib hewan yang satu ini. Jika ketemu manusia, ia biasanya dibunuh. Paling untung, ia dipukuli dan diuber-uber dengan kayu pentungan. Padahal, pada umumnya ia tidak begitu berbahaya bagi manusia. Ia dimusuhi hanya karena pandangan yang keliru.
—–

Di dalam cerita-cerita mitos, ular biasanya digambarkan sebagai hewan yang bersekutu dengan tukang tenung, penyihir, dan tokoh-tokoh jahat lainnya. Sebagian kalangan malah menganggap hewan ini sebagai jelmaan setan. Hewan ini juga menjadi tokoh hitam dalam cerita Adam dan Hawa saat keduanya masih di surga. Alkisah, saat iblis hendak menggoda Adam dan Hawa, ia minta bantuan ular agar bisa menyusup ke dalam surga.

Sampai kini pun sebagian besar dari kita berpandangan negatif terhadap ular. Kita beranggapan bahwa semua ular adalah hewan berbahaya. Ia menggigit, berbisa, dan mematikan. “Padahal, dari sekitar 300-an ular yang ada di Indonesia, hanya 5% di antaranya yang berbisa,” kata Aji Rachmat, ahli ular dari Sioux, Lembaga Studi Ular Indonesia. Selebihnya, yang 95%, adalah ular yang tidak berbahaya. Karena itu, bukan hanya tidak perlu dibunuh, ular-ular ini harus dilestarikan sebagaimana reptilia lainnya.

Di alam, ular adalah salah satu mata rantai makanan yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menjadi predator tikus. Jika ular tidak dilindungi dari kepunahan, keseimbangan ekosistem pun bisa dipastikan akan terganggu. Hewan ini bisa dijumpai bukan hanya di hutan, kebun, atau rawa di desa, tapi juga di kota yang dipenuhi hutan beton seperti Jakarta. Mungkin di pohon, got, pekarangan rumah, bahkan kadang di dalam rumah.

Ular berbisa kuat Berdasarkan tingkat racunnya, ular dibagi menjadi tiga: tidak berbisa, berbisa menengah, dan berbisa kuat. Dari ketiga jenis di atas, yang paling perlu diwaspadai adalah yang berbisa kuat. Gigitan ular ini bisa sampai menyebabkan cacat atau bahkan kematian.

Contohnya ular kobra (Naja Spuitatrix). Kobra di Indonesia punya warna bermacam-macam: abu-abu, cokelat, muda, cokelat tua, hitam, merah, dan kuning. Ular ini agresif. Saat hendak menyerang, ia berdiri dan mengembangkan lehernya, kadang sambil mendesis.

Contoh lain, ular pudak seruni atau ular picung (Rhabdophis subminiata). Tingkat racunnya di bawah kobra. Ular ini sering ditemui, termasuk di kota besar seperti Jakarta. Ciri utamanya, leher berwarna merah, kuning, dan kehijauan. Ular ini sering berada di tempat sampah, kompos, kebun kering, dan tumpukan daun. Aktif di siang hari, biasanya berjemur di pagi hari antara pukul 08.00 – 10.00 WIB di daerah yang terkena sinar Matahari langsung. Ukuran tubuhnya pendek, hanya sekitar 30 cm dengan diameter badan sebesar jempol tangan orang dewasa. Kepala oval, gerakannya gesit dan agresif.

Contoh lain, ular welang (Bungarus candidus), ular weling (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Agkistrodon rhodostoma). Dua yang pertama, kobra dan pudak seruni, adalah dua ular berbisa kuat yang paling perlu diwaspadai. Kata Aji, Sioux Indonesia, yang bermarkas di Cibubur, Jakarta, beberapa kali mendapat laporan warga Jabodetabek yang menemukan ular ini di tempat tinggal mereka. Adapun tiga yang terakhir (ular welang, weling, dan ular tanah) relatif lebih jarang ditemui.

Ular berbisa menengah Contoh ular berbisa menengah adalah ular hijau atau ular pucuk daun (Ahaetulla prasina), ular cincin mas (Boiga dendrophila), dan ular kadut (Homalopsis buccatta). Ular hijau kulitnya berwarna hijau terang, gerakannya gesit. Ular cincin mas berwarna selang-seling hitam-kuning-hitam-kuning. Ular kadut berwarna cokelat, biasa keluar di malam hari untuk berburu ikan di air.

Ketiganya adalah contoh ular berbisa menengah yang sering ditemui di permukiman di kota. Gigitan ular-ular ini biasanya menyebabkan demam yang akan sembuh dengan sendirinya, tidak sampai menyebabkan cacat atau kematian. Sebagian besar ular tidak termasuk kedua kelompok di atas, alias tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Contoh yang sering ditemukan antara lain ular kayu (Ptyas corros), ular cabe atau ular kepala dua (Cylindropis rufus), dan ular piton (Phyton reticulatus).

Ular kayu biasanya dijumpai di pinggiran kota yang masih dekat dengan sawah dan ladang. Di tengah kota, ular ini jarang ditemukan. Adapun ular cabe biasanya muncul pada musim penghujan. Sering ditemui di tengah kota karena hidupnya di liang di dalam tanah. Makanannya katak dan cacing. Disebut ular kepala dua karena bentuk ekor dan kepalanya mirip sehingga sulit dibedakan.

Adapun ular piton mungkin bisa dibilang sebagai ular yang tidak berbisa tapi paling ditakuti. Maklum, ular ini memang terkenal dengan ukurannya yang besar dan panjang. Kita biasanya menilai tingkat bahaya seekor ular dari ukurannya. Padahal, ular ini tidak berbisa. Dia melawan dengan cara membelit musuhnya.

Tangkap dan amankan

Sebagian besar ular termasuk kelompok ketiga, alias tidak berbisa. Ini kabar baiknya. Sayangnya, kebanyakan dari kita tak punya cukup pengetahuan untuk membedakan ular berbisa dan tidak. Saat bertemu ular, respons kita pastilah langsung panik. Dalam keadaan seperti itu, kita tentu tidak bisa membedakan apakah ular itu berbisa atau tidak.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? “Jika kita tidak tahu apakah ular itu berbisa atau tidak, anggap saja ular itu berbisa. Jadi, jangan asal pegang!” kata Aji. Dengan bantuan alat-alat yang tersedia di rumah, usir ular itu. Ular hanya akan menyerang kita kalau dia mera
sa diserang. Cara mengusirnya, dorong dengan sapu pelan-pelan. Begitu dia ketemu dengan tanah, dia akan pergi menjauh.

Tak perlu takut ia akan kembali lagi ke rumah karena ular sebetulnya tidak merasa nyaman tinggal di dekat manusia. Hewan ini tidak punya telinga, ia sensitif dan mudah terganggu oleh getaran yang ditimbulkan aktivitas manusia. Jika seekor ular masuk ke dalam rumah, kemungkinan besar dia tersesat alias salah masuk. Mungkin karena dia mengejar mangsanya. Jika ular kembali lagi setelah diusir, kemungkinan besar di dalam rumah kita memang ada sesuatu yang menarik ular untuk datang, misalnya karena rumah kita banyak tikus.

Jika kita khawatir ular itu akan pindah ke rumah orang lain, sebaiknya ular itu ditangkap dan dibuang ke sungai yang jauh dari permukiman. Cara menangkapnya, kalau kita berani memegang kepalanya, tekan ular itu di bagian kepalanya dengan menggunakan tongkat, sandal, atau alat lain. Setelah itu, pegang ular dengan sangat hati-hati di bagian tengkuknya, lalu masukkan ke dalam kantung.

Kalau kita tidak berani memegang kepalanya, pegang bagian ekornya. Pada saat yang sama, dengan menggunakan tongkat, jauhkan bagian kepalanya dari badan kita. Lalu, masukkan ular ke dalam wadah yang bisa ditutup, misalnya tong, ember, atau kantung.

Tindakan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Untuk ular yang pendek, misalnya pudak seruni, sebaiknya kita tidak menangkapnya dengan cara ini. Panjang ular ini hanya sekitar 30 cm. Jika ekornya kita pegang, kepalanya bisa dengan mudah menjangkau badan kita. Sedikit saja kita salah pegang, bisa-bisa kita tergigit.

Kalau memegang bagian ekornya pun takut, Anda bisa minta tolong Sioux Indonesia, terutama jika Anda tinggal di sekitar Jabodetabek. Lembaga ini punya tim Sioux Snake Rescue (SSR) yang siap membantu Anda menangani ular. Jika diperlukan dan memungkinkan, tim SSR akan datang ke rumah Anda. Jika bisa, kurunglah ular itu di dalam tempat tertutup. Misalnya, jika dia berada di dalam kamar, kuncilah kamar itu dan tutup semua pintu keluar sambil menunggu datangnya tim SSR.

Bisa juga tim SSR hanya memberi panduan penanganan jarak jauh lewat ponsel. Jika ponsel Anda memiliki fasilitas kamera dan pengiriman foto, potretlah ular itu lalu kirimkan ke ponsel SSR. Tim SSR akan mengidentifikasi jenis ular itu dan akan memberikan instruksi jarak jauh. Intinya, sebisa mungkin, tangkap lalu buang ular itu. Kita harus bisa berdamai dengan ular karena hewan ini secara alamiah adalah bagian dari ekosistem tempat manusia tinggal. Waspadai tapi jangan bunuh.

Boks-1
Agar Rumah Tidak Didatangi Ular

1. Rumah harus bersih. Secara berkala, bersihkan gudang dan tumpukan barang. Jangan biarkan barang menumpuk terlalu lama.
2. Lingkungan rumah juga harus bersih. Pangkas rumput yang panjang.
3. Di malam hari, nyalakan lampu taman karena sebagian besar ular takut cahaya
4. Tutup semua lubang yang bisa menjadi pintu masuk ular atau mangsa ular ke dalam rumah. Kalau ada saluran air, tutup dengan kawat kasa.
5. Pangkas cabang pohon dari luar pagar yang merambat ke pagar rumah. Pangkas pula cabang pohon yang menempel di atap rumah.

Boks-2
Sioux Snake Rescue

Telp. 081319007370 Atau 081768 00 446 (bisa menerima kiriman foto). http://siouxindonesia.multiply.com
http://www.siouxsnake.blogspot.com
Jika Anda tinggal di luar Jabodetabek, tim SSR akan merekomendasikan anggota Sioux Muscle yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

Boks-3
Penanganan Gigitan Ular

1. Identifikasi ular itu. Jika sudah telanjur menggigit kita, ular itu dengan sangat terpaksa boleh kita bunuh untuk identifikasi. Kita harus tahu jenis ular itu karena penanganan selanjutnya sangat ditentukan oleh jenis ular yang menggigit. Di rumah sakit, korban ular berbisa akan diberi antibisa ular (ABU). Jika ular yang menggigit tidak berbisa, ABU bukan hanya tidak perlu diberikan, tapi malah akan memperburuk kondisi korban jika disuntikkan.

2. Pasang perban elastis di organ dekat gigitan. Misalnya, jika tangan yang tergigit, pasang perban elastis di lengan bawah.

3. Netralkan racun dengan air panas dengan suhu sekitar 75 oC (kira-kira sama dengan suhu air panas dari dispenser). Misalnya, jika yang tergigit adalah tangan, rendam tangan di dalam air hangat. Jika yang tergigit adalah lengan, kompres lengan dengan air hangat.

4. Segera bawa ke rumah sakit terdekat. Jika ular yang menggigit tidak berbisa, usahakan organ yang tergigit berada di atas jantung untuk mengurangi perdarahan. Tapi jika yang menggigit adalah ular berbisa, usahakan organ yang tergigit berada di bawah jantung supaya racun tidak cepat menyebar.

Advertisements

6 thoughts on “Waspadai Tapi Jangan Bunuh Ular [intisari mei 2009]

  1. Masalahnya kita suka bingung membedakan mana yang berbisa mana yang tidak. Baru2 ini tetanggaku meninggal dipatok ular. :(Dan di halaman rumah kami sering ada kulit ular yang terkelupas… hiiy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s