Surat untuk Auli dan Aaf

Auli, Aaf, mudah-mudahan kalian sempat membaca tulisan Paman ini saat kalian beranjak remaja dan dewasa kelak. Paman menulis surat ini tak lama setelah bapak kalian memasuki pintu kehidupan kedua setelah kematiannya.

Seminggu sebelum Bapak meninggal, Paman menjenguknya saat ia sedang berjuang di batas antara hidup dan mati. Saat itu rupanya Bapak sudah mencium aroma Malaikat Izrail menyelusup ke dalam kamarnya lewat celah-celah dinding blabak rumah kalian. “Seminggu lagi akan ada tamu istimewa,” katanya kepada Mbah Putri. Dan firasat Bapak ternyata benar. Tepat seminggu setelah itu, di sebuah pagi yang menegangkan, sambil terbaring di atas tempat tidurnya, dengan suara gemetar menahan sakaratul maut, ia mengucapkan kata terakhirnya, “Allah… Allah… Allah…” di depan Mbah Putri, lalu setelah itu Malaikat Izrail mendekap jiwanya.

Seminggu sebelum itu, ketika Paman menjenguk Bapak, dari atas tempat tidurnya, ia berwasiat kepada Paman. Ini yang ingin Paman ceritakan kepada kalian: Bapak meminta Paman untuk menjaga kalian. Kalian tahu, tak ada orangtua yang tidak bahagia melihat anak-anaknya hidup bahagia, sekalipun (entah) ia hanya bisa melihatnya dari alam lain.

Paman tidak tahu apakah kalian sudah pernah merasakan pengalaman kejiwaan ketika kalian bertanya, kenapa kalian dilahirkan dari keluarga miskin. Kalian boleh dan harus menanyakan itu untuk mencari jawabannya, tapi jangan sekali-kali kalian mengeluhkannya.

Kalian tak bisa memilih bapak, tak bisa memilih ibu. Tapi kemiskinan bukan “burung gagak yang licik dan hitam.” Dengan kemiskinan itu, Tuhan ingin membentuk kalian menjadi manusia-manusia yang berjiwa kuat. Paman yakin suatu hari kelak kalian justru akan bersyukur kepada Tuhan karena kalian telah dibuat yatim dan miskin sejak kecil.

Bahkan Paman pun tak pernah punya pengalaman hidup seperti kalian, yang harus menjadi yatim ketika kalian masih membutuhkan pelukan seorang ayah saat kalian pulang sekolah. Hingga dewasa pun, Paman masih punya Mbah Putri dan Mbah Kakung yang setiap hari berdoa kebaikan buat Paman, juga buat Bapak, waktu itu. Paman bisa merasakan kehadiran doa-doa itu dalam setiap kebaikan yang Paman peroleh dalam hidup.

Auli, Aaf, sepanjang menulis surat yang tidak panjang ini, bagaimanapun juga Paman tak bisa mengingkari bahwa laki-laki pun punya air mata meskipun tidak harus menjadi cengeng. Paman mengatakan ini kepada kalian agar kalian tahu betapa Bapak, juga Paman, sangat mencintai kalian. Cinta. Ya, hanya itulah yang bisa Paman katakan kepada kalian ketika Paman menulis surat ini.

Karena cinta ini pulalah, Aaf, Paman sempat sedih ketika mendengar kabar kamu tidak bersedia masuk pesantren. Padahal, pesantren akan memberimu bekal kesadaran terhadap Tuhan. Kesadaran ini adalah bekal utama yang kamu perlukan ketika kamu beranjak dewasa nanti.

Tanpa kesadaran itu, kemiskinan akan benar-benar menjadi burung gagak yang licik dan hitam. Ia akan menghasut dan membuat gelap jalan hidup kalian. Dengan bekal kesadaran itu, kalian akan terhindar dari kemungkinan menjalani hidup dengan ukuran-ukuran yang dibuat orang lain. Kalian akan setia menjalani hidup dengan yakin. Hanya dengan bekal itulah, Paman baru akan merasa telah menjalankan wasiat Bapak.

Mungkin nanti kalian akan dihadapkan pada masalah SPP dan biaya pendidikan yang makin hari makin tidak bersahabat buat orang-orang seperti kita, tapi Paman yakin, bekal kesadaran terhadap Tuhan akan membuat kalian pasti bisa menghadapi masalah itu. Tak perlu khawatir. Paman pun dulu menghadapi masalah itu. Tapi toh semua bisa diatasi. Setelah melewati masa remaja, Paman baru tahu jawabannya: kemiskinan akan membuat kita menjadi orang yang tidak gampang mengeluh. Paman ingin kalian juga menjadi orang-orang yang tidak suka mengeluh. Karena Paman sangat mencintai kalian. Sangat!

Paman mungkin tidak bisa menyekolahkan kalian dengan berkecukupan seperti kebanyakan anak-anak seusia kalian yang masih punya bapak, punya ibu. Tapi Paman berjanji: Paman akan akan berusaha sebisa mungkin mengantarkan kalian sampai kalian benar-benar menjadi laki-laki yang siap mengambil alih tanggung jawab atas kebetulan-kebetulan yang terjadi di sekitar kalian.

Ah, kalian dengar itu: manusia selalu berpikir ia masih akan hidup lama untuk meraih keinginan-keinginannya. Padahal, tak ada satu orang pun yang tahu kapan ia akan mati. Paman pun tak tahu kapan akan menyusul Bapak.

Maafkan Paman karena surat ini terlalu murung. Seolah-olah hidup kita tidak ceria. Kalian tahu, kematian orang-orang tercinta memang selalu menyisakan duka cita. Tapi Paman berjanji, setelah ini Paman akan menulis surat yang lebih ceria dan lebih lucu buat kalian supaya hidup kita tidak terlalu murung.

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Auli dan Aaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s