Flu Babi Belum Selesai [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Aneka macam virus flu maut beberapa tahun belakangan menjadi ancaman wabah. Mulai dari SARS, flu burung, hingga yang terakhir flu meksiko (flu babi). Hingga saat ini memang wabah-wabah tersebut berhasil dikendalikan meskipun sudah menelan korban. Tapi siapkah kita menghadapi wabah virus serupa di masa datang?

Bulan Maret-April lalu dunia dikejutkan oleh ancama wabah flu meksiko. Flu maut yang disebabkan oleh virus influenza tipe A (H1N1) ini pertama kali terdeteksi di Meksiko dan Amerika Serikat. Sejak itu ketakutan menyebar ke seluruh dunia. Reproduksi berita begitu cepat. Semua media massa, televisi, koran, internet, dipenuhi oleh berita perkembangan terbaru wabah virus ini. Dalam hitungan beberapa minggu sejak ditemukan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan waktu itu menaikkan status siaga menjadi level lima. Ini hanya terpaut satu level dari status pandemi alias penyebaran di seluruh dunia.

Gejalanya awal flu Meksiko ini mirip dengan flu yang berat, seperti menggigil, demam, radang tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala yang berat, batuk, lemah, dan meriang. Namun, tidak seperti flu biasa yang hanya menjengkelkan, flu meksiko ini bisa berakhir dengan kematian jika pasien tidak mendapat penanganan.

Meksiko, sebagai pusat penyebaran awal virus, bahkan sempat lengang selama beberapa hari tanpa kegiatan ekonomi. Orang-orang dilarang dan takut keluar rumah. Di televisi, koran, dan internet, kita bisa melihat jalanan di kota-kota Meksiko lengang, seperti kota mati.

Beberapa minggu kemudian memang WHO sudah menurunkan level siaga flu Meksiko. Namun, itu tidak berarti ancaman virus ini sudah selesai. Perkembangan terbaru menjunjukkan wabah flu Meksiko belumlah selesai. Negara tetangga kita, Australia dan Selandia Baru, melaporkan bahwa jumlah penderita flu Meksiko di kedua negara itu meningkat dalam sebulan terakhir.

Bahkan, sesuai perkembangan terakhir, pada 11 Juni lalu WHO mengumumkan status flu Meksiko sebagai pandemi. Saat pengumuman ini dibuat, flu meksiko sudah menginfeksi lebih dari 27 ribu orang dan menewaskan lebih dari 140 orang. Meski begitu, WHO menegaskan masyarakat dunia tak perlu panik berlebihan. Ini memang pandemi tapi tingkatannya masih moderat. Angka penularannya cukup tinggi tapi angka kematiannya bisa dibilang rendah, hanya sekitar 1- 4%.

SARS
Sebelum ini, antara November 2002 hingga Juli 2003, dunia juga dikejutkan oleh wabah penyakit pernapasan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Penyakit ini juga disebabkan oleh virus, tepatnya coronavirus, dan sempat mewabah. Pada kurun waktu itu tercatat sekitar 8.000 orang terinfeksi penyakit ini. Sekitar 800-an alias 10% di antaranya meninggal dunia.

Gejalanya awal SARS ini pun mirip dengan gejala flu berat, seperti demam, nyeri otot, gangguan saluran cerna, batuk, radang tenggorokan, dan sesak napas. Tapi dalam tempo beberapa hari, gejala bisa menjadi berat dan penderita bisa meninggal dunia.

Jika virus flu babi menyerang Meksiko, virus SARS menjadikan Guangdong, Cina, sebagai “zona perang”. Virus ini pertama kali dideteksi pada seorang pasien di Guangdong, Cina. Tapi pada saat itu, pemerintah Cina masih belum mengumumkan kasus ini secara terbuka. Setelah penyakit ini menular ke mana-mana dan beritanya menyebar di internet, masyarakat dunia baru mengetahuinya. Akhirnya, pada Maret 2003, WHO pun mengumumkan secara resmi siaga SARS. Virus ini bahkan sempat menyerang banyak negara selain Cina, antara lain Kanada, Amerika Serikat, Hongkong, Singapura, Taiwan, Vietnam, Filipina, dan masih beberapa lagi.

Saat virus ini menyebar, dunia pun dilanda kepanikan. Media massa melaporkan perkembangan wabah virus ini menit demi menit, bahkan detik demi detik. Di koran dan layar teve, kita bisa melihat orang memakai masker di kendaraan umum, di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di tempat liburan.

Flu burung
Tak lama setelah SARS berhasil dikendalikan, pada bulan Juli 2005, virus lain, yakni virus flu burung, mewabah di Asia. Kali ini Indonesia mendapat “kehormatan” sebagai tuan rumah wabah. Sama seperti SARS, virus ini pun cukup mematikan. Sebagai episentrum wabah, Indonesia sempat menjadi perhatian dunia. Negera-negara lain memperingatkan warganya agar tidak pergi ke Indonesia.

Sebetulnya flu burung bukanlah penyakit baru. Kasus flu burung sebelumnya sudah pernah dilaporkan di Hongkong pada tahun 1997. Sebanyak 18 orang terserang virus ini, 6 orang di antaranya meninggal dunia. Tapi kasus tahun 2005 ini menjadi perhatian karena luasnya daerah yang terkena wabah.

Wabah virus H5N1 ini terasa begitu dekat, seolah-olah terjadi di rumah tetangga sebelah, menimbulkan kepanikan hebat. Maklum, korban yang meninggal adalah orang-orang Jakarta dan sekitarnya yang dengan cepat beritanya bisa masuk televisi nasional. Jutaan ayam, burung, itik dimusnahkan. Orang-orang takut makan daging unggas sampai para pejabat mengampanyekan makan daging ayam yang dimasak secara benar. Indonesia sampai menyiapkan jutaan dosis obat antivirus Tamiflu (oseltamivir) untuk menangani wabah flu burung ini.

Lagi-lagi, gejala penyakit ini pun mirip dengan gejala flu antar lain demam, batuk, radang tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, lemas. Jika tidak mendapat perawatan, penderita bisa mengalami radang paru (pneumonia) berat yang bisa menimbulkan kematian dalam hitungan hari. Yang mengerikan, angka kematiannya jauh lebih tinggi daripada flu Meksiko. Pada flu Meksiko, angka kematian hanya sekitar 4%, sementara angka kematian flu burung bisa mencapai di atas 80%.

Untungnya, waktu itu belum ada laporan penularan berkesinambungan antarmanusia. Sebagian besar penderita terinfeksi oleh virus yang menular dari unggas ke manusia. Menurut Prof. Dr. dr. Amin Soebandrio, Sp.MK, Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza, penularan manusia ke manusia hanya sangat terbatas pada mereka yang mesih memiliki kekerabatan dekat. Selain Indonesia, virus ini juga sempat menyerang banyak negara, antara lain Vietnam, Mesir, Cina, Thailand, dan masih beberapa lagi.

Tak lam setelah flu burung mulai reda, dunia kembali dikejutkan oleh wabah flu meksiko. Belakangan memang berita tentang wabah flu meksiko di media massa tidak begitu gencar. Kalah oleh berita tentang gosip artis dari dunia hiburan. Namun, ini bukan berarti kita boleh meremehkannya. Bisa saja virus ini mewabah kembali dengan lebih ganas, bisa juga muncul virus baru lainnya dari subtipe yang berbeda. Setelah SARS, flu burung, flu Meksiko, mungkin saja akan muncul ancaman baru. Kita belum tahu.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyiapkan diri menghadapi bencana ini? Sebagai negara, Indonesia, mau tak mau harus mengembangkan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk menangani wabah virus flu ganas seperti di atas. Termasuk kemampuan laboratorium untuk menganalisis virus sekaligus membuat vaksinnya.

Masyarakat pun harus selalu waspada. Begitu Departemen Kesehatan (Depkes) mengumumkan kesiapsiagaan menghadapi wabah, kita semua harus mengikuti petunjuk yang ditetapkan Depkes. Upaya penanganan wabah sangat tergantung dari kerja kolektif kita semua.

Dari sisi individu, kita semua harus membiasakan diri hidup bersih untuk mengurangi risiko penularan. Pola hidup bersih itu misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat batuk atau bersin, menjaga kebersihan lingkungan, terutama kebersihan udara. Kebersihan udara ini penting karena virus-virus di atas menular lewat udara. Bukti ilmiah menunjukkan cara hidup bersih ini, meskipun sederhana, sangat efektif untuk mengendalikan penyebaran virus flu-flu ganas di atas.

Jika ada kecurigaan gejala flu ganas, jangan tunda, segera pergi ke dokter. Lebih-lebih jika ada riwayat kemungkinan kontak dengan penderita atau riwayat bepergian ke negara yang sedang kena wabahnya. Tak perlu panik tapi harus tetap waspada.

[INTISARI Juli 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s