Orang Dewasa pun Bisa Gondongan [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak. Sangat jarang kita menjumpai orang dewasa menderita gondongan. Padahal, sebetulnya penyakit ini tak pandang usia. Itu sebabnya ketika orang dewasa kena gondongan, diagnosisnya bisa keliru dengan penyakit lain.

—–

Anda tentu masih ingat kasus sengketa antara Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional beberapa bulan lalu. Saat itu, menurut penuturan Prita, ia didiagnosis dan diterapi sebagai penderita demam berdarah. Karena kondisinya malah memburuk, ia pun pindah ke rumah sakit lain. Di rumah sakit kedua ini, diagnosisnya sama sekali berbeda. Ia ternyata menderita gondongan. Setelah diterapi sebagai pasien gondongan, penyakitnya pun sembuh. Terlepas dari urusan malapraktik atau bukan, kasus ini bisa menjadi pelajaran bahwa gondongan pada orang dewasa harus diwaspadai. Diagnosisnya bisa saja keliru dengan penyakit lain jika penyakit ini dianggap hanya menyerang anak-anak.

Virus gondongan (mumps) sebetulnya bisa menyerang semua kelompok umur. Hanya saja, orang dewasa jarang terkena penyakit ini karena pada umumnya mereka sudah kebal. “Sebagian besar orang dewasa kebal karena sudah pernah kena waktu kecil,” kata dr. Khie Chen Lie, Sp.PD, konsultan penyakit tropik dan infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Sekali seseorang terserang gondongan, ia akan memiliki kekebalan terhadap penyakit ini. Jadi, kalau seseorang belum pernah kena gondongan sewaktu kecil, juga belum pernah mendapat vaksin MMR (measles, mumps, rubela), ia punya kemungkinan terserang penyakit ini saat dewasa.

Sama seperti pada anak-anak, penyebab penyakit ini pada orang dewasa juga paramiksovirus. Virus ini menular lewat percikan napas yang keluar dari mulut atau hidung penderita saat ia batuk, bersin, atau bicara. Pada anak-anak, penyakit ini biasanya menular dengan mudah di antara sesama kawan sekolah atau kawan bermain. Begitu ada satu anak yang kena, yang lain segera ketularan. Penyakit ini juga mudah menular dalam satu keluarga. Jika si buyung kena, dalam dua minggu kemudian si upik bisa ketularan, bapak dan ibu pun bisa ketularan jika mereka belum punya kekebalan.

Pada anak-anak, biasanya sumber penularan bisa dilacak. Misalnya dari teman sekolah atau teman bermain. Pada orang dewasa, sumber penularan mungkin susah dilacak. Mungkin saja ia ketularan dari penderita saat keduanya berpapasan di dalam kendaraan umum, di rumah sakit, di jalan, atau di tempat-tempat publik lainnya.

<b>Gejala lebih berat</b>

Masa inkubasi virus mumps ini sekitar dua minggu. Ketika virus gondongan menyerang seseorang, penyakit tidak langsung menampakkan gejala. Setelah dua minggu, barulah gejalanya timbul.

Secara umum, gejala gondongan pada orang dewasa sama dengan pada anak. Infeksi virus mumps biasanya diikuti dengan gejala demam. Ini gejala yang tidak khas. Soalnya, kebanyakan infeksi ditandai dengan gejala panas tinggi. Sebut saja demam berdarah, demam tifoid (tifus), atau roseola. Ketiga penyakit infeksi ini juga ditandai dengan demam.

<b>Biasanya gejala gondongan pada orang dewasa lebih berat dibandingkan pada anak-anak. Demam yang ditimbulkan juga lebih tinggi.</b> Jadi, yang sudah pernah kena penyakit ini sewaktu kecil boleh merasa senang. Pada orang dewasa, di beberapa hari pertama, mungkin saja gondongan disangka demam berdarah atau tifus. Setelah hari ketiga atau kelima, ia baru bisa dibedakan dari demam berdarah. Pada demam berdarah, panas badan akan turun di hari ketiga sampai kelima. Lalu di kulit umumnya timbul bercak-bercak kemerahan. Ini gejala khas demam berdarah yang tidak dijumpai pada gondongan.

Yang khas dari gondongan adalah pembengkakan kelenjar getah bening di leher lalu diikuti pembengkakan kelenjar liur di daerah pipi. Gejala ini tidak dijumpai pada demam berdarah, tifus, maupun roseola. Karena terjadi pembengkakan di daerah parotis (kelenjar liur di daerah pipi), penyakit ini disebut juga parotitis.

Pembengkakan kelenjar liur ini bisa dilihat dari pembengkakan di daerah pipi. Selain membengkak, pipi juga kelihatan sedikit terangkat. Pembengkakan ini bisa disertai radang pada kelenjar getah bening di daerah leher. Tapi kedua pembengkakan terjadi di daerah yang berbeda. Yang satu terjadi di kelenjar liur, satunya lagi terjadi di kelenjar getah bening.

<b>Selain gejala di atas, gondongan pada orang dewasa juga bisa menimbulkan komplikasi. Setelah pipi bengkak, giliran buah zakar (testis) pun bisa ikut meradang.</b> Ini komplikasi yang cukup sering dijumpai pada pasien dewasa. Angka kejadiannya sekitar 20 – 30%. Yang terserang bisa satu buah testis saja, bisa juga dua-duanya, tergantung keganasan penyakit.

Kabar baik buat kaum Hawa, komplikasi alat reproduksi ini jarang dijumpai pada wanita. Jarang pasien gondongan wanita dewasa yang mengalami komplikasi radang di daerah indung telurnya. Radang ini memang bisa saja terjadi tapi kemungkinannya kecil.

Jika parah, radang ini bisa menyebabkan testis tidak berkembang dengan baik sehingga fungsinya pun menurun. Jadi, ini memang kabar buruk buat kaum Adam. Virus gondongan ternyata lebih ganas terhadap pria dewasa dibandingkan kepada wanita dewasa maupun anak-anak.

Pada kasus gondongan yang parah, radang testis bisa sampai menyebabkan kemandulan. Tapi ini jarang terjadi kecuali pada pasien yang daya tahan tubuhnya sedang sangat lemah. Ini misalnya terjadi pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, orang dengan HIV/AIDS, atau pasien penyakit otoimum (misalnya lupus) yang mendapat obat penekan sistem imun. Jika daya tahan pasien benar-benar sedang lemah, infeksi gondongan bisa saja menyebar ke otak, pankreas, dan organ-organ lain. Namun, sekali lagi, ini hanya terjadi pada pasien dengan imunitas tubuh yang sangat rendah. Jarang terjadi pada kebanyakan pasien.

<b>Pada sebagain besar pasien dewasa, gondongan biasanya akan sembuh dengan sendirinya, seiring dengan peningkatan daya tahan tubuhnya.</b> Ini sesuai dengan sifat alamiah penyakit ini sebagai <i>self-limiting disease</i>, gangguan kesehatan yang akan sembuh dengan sendirinya.

Perawatan yang perlu dijalani pasien pun tidak rumit. Ia hanya perlu istirahat sembari minum vitamin atau suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Jika dijumpai demam, dokter akan memberikan obat penurun panas. Prinsip pengobatan ini sama saja antara pasien gondongan anak-anak maupun dewasa. Makan pun tetap seperti biasa, tidak ada aturan khusus. Untuk menghindari penularan, pasien sebaiknya tidur di kamar pribadi, tidak bercampur dengan orang lain. Saat batuk atau bersin, ia harus menutup mulut dan hidungnya. Alat makan dan minumnya juga tidak dipakai bersama dengan orang lain.

Kalau terjadi komplikasi, barulah dokter akan memberikan terapi lain sesuai dengan komplikasinya. Menurut Khie Chen Lie, salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah infeksi bakteri di daerah leher. Harap dibedakan, infeksi ini terjadi di daerah leher, bukan di kelenjar liur di belakang pipi seperti pada gondongan. Penyebabnya juga bakteri, bukan virus seperti pada gondongan.

Karena tampilan luarnya mirip gondongan, infeksi ini bisa saja keliru dianggap sebagai gondongan padahal keduanya sama sekali berbeda. Infeksi ini bukanlah gondongan itu sendiri tetapi infeksi lain yang <i>nimbrung</i>. Karena bisa tersamar sebagai gondongan, infeksi bakteri di leher ini bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. Sumber infeksi ini bisa dari infeksi di derah gigi yang menyebar ke daerah leher.

Jika tidak disertai komplikasi yang berat, penyakit ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 1 – 2 minggu. Radang di daerah testis pun akan hilang dengan sendirinya. Setelah itu pasien akan punya kekebalan terhadap gondongan tanpa perlu divaksin.


Boks-1

Gejala Infeksi Mirip

Gondongan pada orang dewasa memang cukup jarang dijumpai. Menurut pengalaman Khie Chen Lie dalam praktik, dalam setahun ia biasanya hanya menangani sekitar lima pasien saja. Ini berbeda dari kasus gondongan pada anak-anak yang cukup sering dijumpai. Dokter yang kurang waspada mungkin saja menyingkirkan kemungkinan diagnosis gondongan jika pasien yang datang kepadanya bukan anak-anak atau remaja.

Sebetulnya ada pemeriksaan darah untuk memastikan gondongan. Namun, biaya pemeriksaan terhitung cukup mahal karena itu jarang dilakukan. Kata Khie Chen Lie, baik pada anak-anak maupun orang dewasa, pemeriksaan fisik saja sebetulnya sudah cukup untuk menegakkan diagnosis gondongan.

Jika dalam beberapa hari pertama dokter keliru mendiagnosis, hal itu mungkin saja terjadi. Bukan sebuah kesalahan, apalagi malapraktik, tapi hanya memang diagnosisnya belum tepat.

Salah satu faktronya, gejala infeksi, lebih khusus lagi infeksi virus, mirip satu sama lain. Meskipun virusnya sama sekali berbeda, gejalanya bisa saja mirip dan susah dibedakan, terutama di hari-hari pertama. Biasanya gejala umum infeksi virus adalah demam, misalnya pada infeksi virus influensa, gondongan, roseola, rubela, campak, dan sebangsanya. Demam jelas bukan gejala khas yang mengacu pada satu infeksi tertetentu. Gambaran hasil pemeriksaan darah juga bisa mirip satu sama lain.

Gejala khasnya mungkin saja baru kelihatan setelah beberapa hari. Pada tiga hari pertama, mungkin saja diagnosis masih bisa berubah. Itu wajar. Dalam menangani pasien infeksi, dokter memakai panduan umum: ia harus menerapi pasien berdasarkan diagnosis terkini dan terkuat. Pada saat yang sama, ia harus terus memantau perkembangan pasien dengan tetap membuka kemungkinan diagnosisnya berubah.

Jadi, kalau di hari pertama diagnosis kuat mengarah ke demam berdarah, dokter harus merawat pasien sebagai pasien demam berdarah. Tapi pada saat yang sama, dokter harus terus memantau perkembangan penyakit pasien. Jika, misalnya, di hari ketiga diagnosis ternyata harus diralat menjadi gondongan, dokter pun segera harus merawat pasien sebagai pasien gondongan. Ini bukan kesalahan karena memang itu adalah keterbatasan ilmu kedokteran yang berada di wilayah ketidakpastian.

 

Advertisements

2 thoughts on “Orang Dewasa pun Bisa Gondongan [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s