Bersekolah di Tengah Bau Sampah


Tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, mungkin bisa disebut sebagai sisi kebalikan dari Jakarta yang megah dan gemerlap. Setiap hari ribuan ton sampah dari Jakarta dibuang ke tempat ini. Tak jauh dari gunungan sampah itu, hidup ratusan keluarga pemulung di bedeng-bedeng gedek yang sempit dan bau. Jika musim hujan tiba, air yang membawa sampah, lumpur, dan belatung masuk ke dalam rumah mereka.

“Pertama kali ke sini, saya sampai mual-mual,” Wulan Sari, sarjana pertanian Universitas Brawijaya, Malang, menceritakan pengalaman pertama berkunjung ke Bantar Gebang tiga tahun lalu. Yang membuatnya mual bukan hanya bau busuk sampah, tapi juga pemandangan lalat hijau gemuk-gemuk yang seolah hidup berdampingan dengan manusia. Sangat kontras dengan lingkungan di perumahan elite Kemang Pratama, Bekasi, yang baru saja ia tempati bersama keluarganya. Di tumpukan sampah itu ia melihat anak-anak kecil keleleran, mengorek-ngorek sampah bersama orangtua mereka pada jam sekolah.

Melihat kondisi anak-anak itu seketika membuat mantan wakil kepala SD ini bertekad untuk membuat sekolah gratis bagi anak-anak pemulung itu. “Mereka yang tidak menyayangi sesama tidak patut disayangi,” demikian ucapan Nabi Muhammad yang selalu Sari ingat. Dengan menyisihkan penghasilan keluarganya, ia meminjam sebuah musala kardus di Desa Sumur Batu sebagai tempat menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) gratis. Musala yang berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berada di tengah rumah-rumah bedeng para pemulung. Karena letaknya tak jauh dari gunungan sampah, bau sampah pun sampai ke situ. Pada musim hujan, air yang membawa sampah, lumpur, dan belatung pun masuk ke dalam musala.

Berkali-kali ia merekrut guru bantu, berkali-kali itu pula satu demi satu mereka mengundurukan diri karena tak tahan dengan bau sampah, serta jijik dengan belatung dan lalat hijau. Akhirnya Sari merekrut warga setempat yang sudah terbiasa dengan bau sampah untuk menjadi guru. Setelah setahun menempati musala kardus, PAUD itu kemudian pindah ke rumah sewa tak jauh dari tempat semula. Meski saat hujan masih bocor, tempat baru yang diberi nama Kelompok Belajar Al-falah ini cukup lapang untuk menampung 60-an anak.

Semuanya gratis. Biaya operasional sekolah ditanggung semuanya oleh Sari. Tiap minggu, anak-anak yang kebanyakan kurang gizi itu mendapat susu dan vitamin. Di tempat baru inilah anak-anak “terbuang” itu belajar. Mereka ini adalah anak-anak yang tidak mungkin bersekolah di TK atau SD “biasa” karena pola tinggal yang tidak menetap.

Keluarga pemulung itu sebagian besar berasal adalah pendatang jauh dari daerah-daerah minus. Jika di kampungnya sedang musim panen, mereka biasanya pulang kampung selama beberapa bulan. Begitu musim paceklik tiba, mereka kembali ke Bantar Gebang. Pola tinggal tidak menetap ini membuat anak-anak pemulung tidak mungkin mengikuti kegiatan belajar yang teratur. Di Al-falah, kondisi itu tidak menjadi hambatan. Mereka biasa tiba-tiba membolos selama dua bulan lalu masuk lagi begitu keluarga mereka kembali Bantar Gebang. “Tidak apa-apa, yang penting tidak ada yang putus sekolah,” kata Sari.

Bukan hanya pola masuk mereka yang tidak lazim, perilaku mereka sebagai murid pun di luar kewajaran. Kata Sari, anak-anak pemulung ini pada umumnya lebih tidak tertib daripada anak-anak TK atau SD kebanyakan. “Mengajari mereka untuk buang sampah di tempatnya saja sulitnya bukan main,” ujar ibu dua anak ini. Tak jarang, buku, majalah, pensil, penghapus, dan alat-alat belajar lain hilang dibawa pulang begitu saja oleh anak-anak ini. Mungkin karena mereka sudah terbiasa memulung dan membawa pulang barang apa saja yang mereka temukan di gunungan sampah.

Meja lipat, lemari, dan semua perabotan lainnya juga cepat sekali rusak. Perilaku mereka pun cenderung kasar dan kurang terdidik. “Salah seorang guru pernah dicakar murid sampai berdarah,” ucap Sari yang mengaku tiap hari harus mengelus dada mengasuh mereka. Tapi tiap kali ia mengelus dada, obatnya adalah ucapan Nabi Muhammad, “Mereka yang tidak menyayangi sesama tidak patut disayangi.” Anak-anak itu harus diterima apa adanya karena mereka berperilaku seperti itu memang akibat kemiskinan yang lengkap. Miskin materi, juga miskin pendidikan.

Tak jarang, anak-anak itu bersekolah dalam keadaan luka akibat kena beling, tertusuk jarum atau paku saat memulung. Bukan hal yang aneh kalau murid masuk sekolah dengan kaki penuh borok yang dikerubungi lalat. Saat awal PAUD buka, empat orang murid meninggal dunia karena tetanus dan infeksi akibat tertusuk benda tajam saat memulung. Beberapa di antara mereka menderita malnutrisi (gizi buruk). Karena kebanyakan kurang gizi, tak heran mereka pun tidak begitu cepat menangkap pelajaran. Jika mendapat pelajaran yang sedikit sulit, mereka mengeluh pusing.

Dari para murid ini, Sari biasa mendapatkan cerita yang membuatnya sampai harus menahan air matanya tumpah. Salah seorang murid dengan santai bercerita bahwa ia baru saja sarapan bakso. Awalnya Sari membayangkan betapa enaknya pagi-pagi makan bakso hangat. Tapi bayangan kelezatan bakso seketika berubah menjadi rasa mual ketika murid itu meneruskan ceritanya bahwa yang ia makan itu adalah bungkusan bakso yang ia temukan di “bulog”—sebutan untuk gunungan sampah Bantar Gebang. Di lain waktu ia mendengar cerita murid lain yang makan ayam goreng, yang juga ditemukan di “bulog”.

Takut Ujian
Karena para muridnya “tidak biasa”, pola pendidikan di sini pun tidak biasa. Sari tetap menggunakan acuan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Tapi metodenya ia sesuaikan dengan kodisi anak-anak itu. Ujian hanya dilakukan di akhir semester. Terlalu sering ujian membuat anak-anak ini malah takut masuk sekolah. Bahkan, jika takut dengan pekerjaan rumah (PR), mereka pun dengan seenaknya bolos sekolah.

Karena jumlah murid terus bertambah, tempat sewa ini pun tidak lagi bisa menampung mereka. Sejak Mei 2009, akhirnya Sari harus memindahkan sekolah ke tempat sewa yang baru, yang bisa menampung 150-an anak secara bergantian. Kini dengan tenaga 10 orang guru, tiga orang di antaranya sarjana, Kelompk Belajar Al-falah menyelenggarakan pendidikan mulai dari PAUD, kejar paket A, B, dan C (berturut-turut setara SD, SMP, dan SMA). Cukup spektakuler untuk ukuran sebuah lembaga pendidikan yang dibiayai perorangan.

Hingga sekarang semua biaya operasional, termasuk gaji guru, masih ditanggung sendiri oleh Sari. Hanya kadang-kadang ia menerima sumbangan dari donatur tidak tetap. Awalnya, ia juga menanggung biaya ujian kesetaraan sebesar Rp 500.000,- per orang. Namun, karena keterbatasan dana, mulai tahun ajaran 2009 ini sekolah mewajibkan murid menabung Rp 3.000,- per bulan untuk biaya ujian kesetaraan nanti.

Agar anak-anak itu terbebas dari kegiatan memulung, Sari membuat mereka sesibuk mungkin di sekolah dengan berbagai kegiatan. Pagi hari mereka bersekolah, siang harinya mereka mengaji. Dengan cara itu, mereka akan terbebas dari kewajiban membantu orangtua mereka memulung sampah.

Kini, di tahun ketiga usia TPA Al-falah, para murid itu sudah menjadi lebih tertib. Mereka sudah bisa membuang sampah di tempatnya, bisa mengaji, bisa mengikuti kegiatan sekolah seperti kebanyakan anak-anak TK dan SD. (M. Sholekhudin)

Advertisements

4 thoughts on “Bersekolah di Tengah Bau Sampah

  1. Bisa minta no konta ibu wulan sari ga? kami dari antv ingin meliput aktivitas beliau di bantar gebang. kalau boleh tolong hubungi/sms kami di no kontak 0856.164.8877 (diu). thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s