8 dari 10 Orang Mengalami Depresi [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin

Ah, yang bener aja! Masak, persentase orang yang mengalami depresi sebesar itu! Mungkin begitu komentar kita saat membaca hasil survei yang dilakukan oleh Tim Riset Majalah Intisari ini. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa depresi hanya dialami oleh sedikit orang saja.

Di dalam statistika, ada sebuah ungkapan satire yang cukup terkenal, “Pembohong terbesar adalah statisik.” Ya, angka statistik memang sering dijadikan sebagai pembenar dari pernyataan berdasarkan dugaan yang sudah dibuat sebelum riset. Survei hanya dijadikan sebagai alat yang didesain sesuai pesanan supaya menghasilkan angka yang menguatkan pendapat itu. Tujuannya jelas, agar pendapat itu terdengar lebih ilmiah.

Tapi untuk sementara mari kita lupakan cemoohan ala ahli statistika di atas. Mari kita lihat data yang dikumpulkan oleh Tim Riset Majalah Intisari. Telesurvei kali ini dilakukan terhadap pembaca majalah Kelompok Kompas-Gramedia di lima kota besar, yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Usia responden antara 20 – 30 tahun, dipilih berdasarkan sampling acak sederhana (simple random sampling) dari populasi sebesar 3.367 pembaca terpilih. Dengan galat pengambilan contoh (sampling error) sebesar 6,7% pada tingkat kepercayaan 95%, inilah hasilnya: 80% orang di lima kota besar itu mengalami depresi dengan berbagai tingkatan.

Tunggu dulu, kita belum sepakat apa dimaksud dengan depresi di survei ini. Ada banyak definisi tentang depresi. Kita tahu, perbedaan kecil saja dalam hal definisi bisa menyebabkan perbedaan yang sangat besar pada hasil riset. Untuk keperluan survei kali ini, tim riset menggunakan definisi Rice P.L., penulis buku Stress and Health. Menurutnya, depresi adalah gangguan suasana hati (mood), kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang.

Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan. Masih menurut Rice, depresi ditandai dengan perasaan sedih yang psikopatologis, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas. Untuk menentukan apakah seseorang mengalami depresi atau tidak, tim riset menggunakan parameter gejala seperti pada Tabel 1.

Tabel 1: Gejala Depresi

1. Sulit berkonsentrasi atau menjadi pelupa
2. Kehilangan semangat untuk melakukan hobi/pekerjaan/aktivitas harian
3. Mengalami gangguan tidur atau sering terbangun di tengah malam
4. Murung, mudah marah
5. Kehilangan selera makan atau ingin ngemil terus
6. Capai berkepanjangan
7. Merasa putus asa atau sulit melupakan permasalahan yang sedang dihadapi
8. Merasa tidak berharga atau sangat bersalah
9. Sedih berkepanjangan atau pikirannya terasa kosong
10. Pesimis terhadap masa depan

Seseorang dianggap mengalami depresi jika ia menunjukkan lima atau lebih gejala dari sepuluh gejala depresi tersebut. Dari sepuluh gejala itu, yang paling sering ditemukan adalah tiga gejala pertama, yaitu sulit berkonsentrasi atau menjadi pelupa; kehilangan semangat untuk melakukan hobi, pekerjaan, atau aktivitas harian; serta mengalami gangguan tidur atau sering terbangun di tengah malam.

5% Depresi Berat
Sebetulnya, angka 80% dari hasil survei ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Pada Juni 2007, Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) juga pernah melakukan penelitian serupa dalam skala yang lebih besar. Hasilnya bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi: 94% penduduk Indonesia mengalami depresi dengan berbagai tingkatan.

Keterangan “dengan berbagai tingkatan” ini perlu ditekankan. Pada telesurvei kali ini, sebagian besar orang mengalami depresi tingkat ringan. Yang mengalami depresi tingkat berat “hanya” sebesar 5%. Depresi dianggap ringan jika gejala yang sering mucul hanya satu. Jika ada paling tidak lima gejala yang sering muncul, depresi bisa dikategorikan tingkat berat. Dalam bahasa sehari-hari kita mungkin menyebutnya dengan istilah stres ringan dan stres berat.

Dari survei di lima kota itu, penyebab utama depresi adalah beban hidup, terutama beban ekonomi, yang makin hari makin berat. Berturut-turut setelah itu: kemacetan lalu lintas; beban kerja atau beban sekolah; problem dengan relasi atau teman; kehilangan orang yang dicintai; ketidakharmonisan keluarga, dan penyakit kronis.

Hasil survei ini juga menunjukkan adanya beberapa kecenderungan. Responden dengan pengeluaran per bulan di atas Rp 5 juta paling banyak mengalami masalah keharmonisan keluarga. Sedangkan pada responden dengan tingkat pendidikan SMA, masalah yang lebih sering menyebabkan depresi adalah problem ekonomi. Kecenderungan lain, responden yang sudah menikah lebih banyak mengalami depresi daripada yang belum menikah. Begitu pula, karyawan swasta lebih banyak mengalami depresi dibandingkan dengan pegawai negeri sipil. Silakan tebak sendiri penyebabnya.

Jangan Remehkan
Sebagai salah satu bentuk gangguan jiwa, depresi jelas tak bisa diremehkan. Apa pun kesimpulan dari survei ini, ada satu hal yang perlu ditekankan bahwa sudah waktunya kita mengubah cara pandang terhadap pengertian gangguan jiwa ini. Karena depresi termasuk gangguan jiwa, maka kita bisa mengatakan bahwa 80% (atau 94%) orang menderita gangguan jiwa. Mungkin terdengar menyeramkan, tapi itulah faktanya. Setidaknya menurut para psikiater.

Dokter Suryo Dharmono, Sp.KJ (K), psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menuturkan, masyarakat awam sering salah paham mengenai depresi. Banyak yang menganggap depresi sebagai kesedihan biasa yang lumrah, bukan sebuah gangguan jiwa yang perlu mendapat perhatian khusus. Padahal, jika dibiarkan dan tidak segera diatasi, depresi bisa menjadi pemicu dari gangguan kesehatan mental atau kesehatan fisik lainnya. Survei ini membuktikan, depresi bisa terjadi pada siapa saja, tak memandang status ekonomi, sosial, pendidikan, pernikahan, tempat tinggal, dan sebagainya.

Sangat mungkin kita sendiri pun pernah mengalaminya. Siapa pun kita, di mana pun kita tinggal dan bekerja, masalah dan beban hidup selalu ada. “Stress is the spice of life. Complete freedom from stress comes only with death,” kata Hans Selye, mantan presiden International Institute of Stress, University of Montreal, Kanada. Stres memang berbeda dari depresi. Namun dalam pengertian di topik ini, keduanya bisa berada di dalam satu bab.

Problem kesehatan jiwa semacam ini memang masalah klasik yang dihadapi manusia. Dari tahun ke tahun, masalah gangguan jiwa seperti ini menunjukkan kecenderungan meningkat, baik jenis maupun jumlah penderitanya. Para futurolog di bidang kedokteran pun meramalkan bahwa di masa depan manusia akan makin banyak menghadapi penyakit-penyakit kejiwaan. Mungkin pada masa itu para ilmuwan sudah bisa menemukan obat untuk penyakit-penyakit infeksi, degeneratif, maupun genetik yang mematikan dan sampai saat ini masih belum bisa diobati. Namun, masalah gangguan jiwa, termasuk depresi, diprediksi akan semakin kompleks dan merepotkan.

Distresor-Eustresor
Jika mungkin, idealnya memang kita harus masuk kelompok 20% yang tidak mengalami depresi itu. Kalaupun tidak bisa menghindari, cukup depresi ringan saja.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah timbulnya depresi? Jawabannya mungkin klise. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengar nasihat kebajikan, tips, dan aneka saran dalam menghadapi masalah ini. Baiklah, kita ulangi
sebagian. Kalau fakta menunjukkan kita tidak kunjung bisa menyelesaikan satu masalah klasik, itu indikasi bahwa kita harus menyegarkan lagi aneka tips tersebut. Jika beban ekonomi, masalah kemacetan lalu lintas, atau problem di tempat kerja bisa membuat kita depresi, itu artinya kita (menurut psikiater) belum cukup sehat secara mental. Belum cukup layak disebut sebagai Homo sapiens, manusia yang bijaksana, yang bisa menyelesaikan masalahnya.

Dalam tinjauan psikiatri, depresi timbul akibat adanya stresor negatif yang tidak dikelola dengan baik. Stresor sendiri ada dua macam: distresor dan eustresor. Distresor adalah stres yang membuat kita tertekan (negatif). Sedangkan eustresor adalah “stres” (tekanan) yang membuat kita makin bersemangat (positif). Tidak ada batas yang tegas antara eustresor dan distresor. Tekanan yang bagi seseorang merupakan distresor, mungkin saja bagi orang lain adalah eustresor. Semua tergantung dari cara pandangnya. Intinya, distresor bisa diubah menjadi eustresor. Untuk mengubah jenis stresor ini kita memerlukan alat bantu yang biasa kita sebut sebagai positive thinking. Dua kata yang gampang sekali diucapkan tetapi tak mudah dipraktikkan.

Sebetulnya ini bukanlah penjelasan baru di dunia psikologi atau psikiatri. Tapi penjelasan ini bisa membantu kita memetakan masalah dengan jelas. Sekadar contoh, saat menghadapi beban ekonomi, distresor nomor satu. Penghasilan yang pas-pasan bisa dipandang secara sangat berbeda oleh dua orang. Bisa saja yang satu menganggapnya sebagai beban hidup yang berat (distresor), sedangkan yang lain menganggapnya sebagai tantangan untuk lebih kreatif mencari penghasilan tambahan (eustresor).

Mungkin solusinya bukan dengan meningkatkan penghasilan tambahan, tetapi memangkas kebutuhan. Para ahli perencanaan keuangan berulang-ulang menasihati kita dalam hal ini. Sangat jamak dijumpai persoalan ekonomi timbul karena ketidakmampuan kita membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want). Mungkin saja solusinya adalah mengubah mindset tentang batas antara merasa cukup dan merasa kurang. Jadi, solusinya bisa berasal dari siapa saja: perencana keuangan, psikolog, psikiater, cendekiawan, atau bahkan teman yang mencerahkan. Dalam survei ini, kebanyakan responden mengaku menjadikan teman sebagai tempat curhat. Bukan konsultan semacam psikolog atau psikiater.

Menderita itu Subjektif
Bagaimana dengan distresor lain seperti masalah kemacetan jalan raya? Ini pun masalah klasik di kota-kota besar, terutama di DKI Jakarta. Untuk menghadapi distresor klasik semacam ini, mungkin kita bisa memakai nasihat yang juga klasik, yang sering kita baca lewat buku-buku kebajikan klasik. Kalau memang kita bisa mengubah distresor itu, kita harus mengubahnya. Tapi kalau kita tidak bisa mengubahnya, kita harus bisa menerima apa adanya. Ini aturan umum dalam menghindari perasaan tertekan atau depresi.

Untuk bisa melakukan ini, pertama-tama tentu saja kita harus punya kemampuan untuk membedakan mana yang bisa kita ubah dan mana yang tidak. Tips ini paling tidak bisa diterapkan untuk distresor lain yang tidak bisa diubah, seperti kehilangan orang yang dicintai atau menderita penyakit kronis yang tidak bisa sembuh. Dua orang yang sama-sama menderita kanker bisa saja memberikan respons yang jauh berbeda.

Yang satu mungkin bisa sampai depresi, tapi yang lain mungkin saja tetap menikmati hidupnya dengan penuh semangat. Keduanya mungkin merasakan nyeri fisik yang sama, tetapi tingkat stres psikisnya bisa saja jauh berbeda, tergantung penerimaan terhadap kanker itu. Dalam ungkapan para praktisi olah mental, “Musibah itu objektif, sedangkan menderita itu subjektif.” Kita tidak bisa mengubah musibah yang sudah terjadi, tapi kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap musibah itu. Persis seperti nasihat Transito Ariza, tokoh ibu di film Love in the Time of Cholera kepada anaknya, Florentino, yang mengalami depresi berat karena kehilangan orang yang ia cintai, “Enjoy your pain.” Dalam hidup, ada banyak hal tidak menyenangkan yang tidak bisa dihindari. Daripada tertekan, lebih baik kita menerimanya saja apa adanya.

Aturan umum menghadapi stresor di atas pun bisa diterapkan pada distresor urutan ke-4 dan 6, yaitu problem hubungan dengan relasi, kawan, dan pasangan. Ketika menghadapi masalah-masalah ini kita harus selalu memetakannya lebih dulu, mana yang bisa diubah dan mana yang tidak. Kita mungkin tidak bisa mengubah perilaku seseorang agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi kita masih bisa mengubah sikap kita. Dengan kata lain, perilaku kawan atau pasangan yang menyebalkan itu objektif, tapi jengkel dan marah itu subjektif. Itu tergantung kita.

Sebelum mengeluh menyalahkan teman atau pasangan, mungkin sebaiknya kita melakukan koreksi diri terlebih dulu. Tanpa kita sadari, mungkin saja stres dan depresi itu timbul karena kesalahan kita sendiri. Mungkin kita, misalnya, terlalu perfeksionis dan terlalu menuntut orang lain untuk berperilaku seperti yang kita harapakan.

Jika tingkat depresi cukup berat dan semua cara sudah dicoba dan tetap tidak berhasil, mungkin kita perlu mencoba sesuatu yang sama sekali baru dalam hidup. Seperti yang dilakukan Elizabeth Gilbert, penulis memoar Eat, Pray, and Love. Setelah mengalami depresi akibat kegagalan dalam urusan cinta, Gilbert memutuskan berkelana sampai akhirnya menemukan cinta dan kedamaian di Bali. Sebuah tempat yang di sana—seperti kata Mr. Joger— everyday is holiday he he he…

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

5 thoughts on “8 dari 10 Orang Mengalami Depresi [intisari]

  1. bambangpriantono said: Jangan2 salah satu gejalanya lagi aku derita nih

    Berarti cak nono masih normal karena termasuk mayoritas, yg 80% itu (:p)Mestinya bukan “jangan-jangan”, tapi jangan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s