Vaksin Influenza Buatan Indonesia [intisari]

Penulis: M. Sholekhudin, Febriana Firdaus, & Trinanti Sulamit

Tahun 2009 lalu dunia, tak terkecuali Indonesia, sempat dibuat panik oleh pandemi flu H1N1 (yang secara awam kita sebut sebagai flu babi). Tak tertutup kemungkinan, wabah ini terulang lagi di waktu mendatang. Jika itu sampai terjadi, Indonesia, tidak bisa tidak, harus bisa membuat vaksin sendiri jika tidak ingin menjadi sangat tergantung kepada pihak asing.

Sepanjang tahun 2009, jumlah penderita yang positif terinfeksi virus flu H1N1 di Indonesia sekitar 1.000-an orang. Korban meninggal sekitar 1%. Angka ini memang terbilang kecil jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 200-an juta orang. Apalagi jika dibandingkan dengan angka kejadian di negara dekat episentrum pandemi seperti Amerika Serikat yang menelan korban positif terinfeksi hingga 1 jutaan orang.

Beberapa bulan terakhir, kasus flu H1N1 memang tidak banyak dilaporkan. Namun, itu tidak berarti wabah ini sudah sama sekali berhenti. Menurut Prof. Dr. dr. Amin Soebandrio, Sp.MK, Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza, wabah influenza punya pola dua atau tiga gelombang. Wabah yang sama bisa berulang kembali dan menjadi lebih ganas di musim dingin.

Gelombang pertama biasanya muncul dengan intensitas rendah pada pertengahan tahun, sekitar Mei, Juni, dan Juli. Selanjutnya wabah ini mereda, lalu gelombang kedua muncul lagi dengan intensitas lebih tinggi pada musim dingin, sekitar Desember, Januari, dan Februari. Kebutuhan Mendesak Seperti flu musiman (seasonal influenza) kasus flu H1N1 ini memang banyak terjadi di negara empat musim. Kebetulan di bulan-bulan ini negara empat musim sedang berada di musim dingin. Saat ini mereka semua sedang sibuk mengantisipasi munculnya gelombang kedua. Negara-negara maju di Eropa dan Amerika yang merasa terancam oleh virus H1N1 saat ini sibuk dengan usaha penyediaan vaksin.

Para produsen vaksin dunia saat ini pun sedang berlomba mengembangkan vaksin H1N1 dan H5N1 (flu burung). Kebutuhan terhadap vaksin dianggap sedemikian darurat sampai lembaga regulasi obat di beberapa negara memperbolehkan tahap pengujian vaksin dipadatkan. Tujuannya jelas, agar vaksin H1N1 cepat tersedia sebelum pandemi serupa muncul lagi.

Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah negara kita tidak punya musim dingin? Betul, Indonesia memang negara tropis. Tapi jika suatu wabah flu telah menjadi pandemi, nyaris tak ada satu negara pun yang bisa duduk tenang karena interaksi manusia antarnegara yang begitu intensif. Dalam hitungan jam, mereka yang berasal dari negara empat musim bisa datang ke Indonesia sewaktu-waktu. Begitu pula sebaliknya. Artinya, penyebaran virus bisa terjadi setiap jam, bahkan setiap menit. Jadi, episentrum wabah bisa saja di Benua Eropa atau Amerika, tapi Indonesia tetap bisa terimbas efek penularannya.

Satu hal lagi yang harus diingat, transmisi virus juga bisa terjadi melalui para jemaah haji dari Tanah Suci. Kebetulan sejak awal Desember 2009 yang lalu, rombongan jemaah haji mulai pulang ke Indonesia secara bertahap. Pada saat proses ibadah haji sedang berlangsung, sebanyak 20 orang jemaah positif terinfeksi virus H1N1. Kita tahu, di sana seluruh jemaah berbaur menjadi satu pada saat melakukan ritus haji. Percampuran manusia ini sangat mungkin menjadi media penularan. Bisa saja sebagian jemaah haji pulang ke Indonesia dengan membawa virus H1N1 di tubuhnya walaupun tidak menunjukkan gejala sakit. “Jadi, oleh-oleh mereka bukan hanya air zamzam tapi juga virus H1N1,” kata Amin. Semua kemungkinan ini tidak boleh diremehkan dan harus diantisipasi.

Indonesia Belum Mandiri Menurut Kartono Mohamad, pengurus Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS), dalam urusan vaksin secara umum, Indonesia sebetulnya cukup mandiri. Kita punya PT Bio Farma di Bandung yang memproduksi vaksin-vaksin dasar seperti vaksin polio, TT, DPT, campak, BCG, dan hepatitis B. Hanya beberapa jenis vaksin yang masih diimpor, seperti vaksin kanker serviks, dan sebagian vaksin hepatitis, polio, dan DPT.

Namun, dalam urusan vaksin influenza (H1N1 dan H5N1) saat ini Indonesia masih belum mandiri. Ketika tulisan ini dibuat, Indonesia sedang menunggu donasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 3,5 juta dosis vaksin H1N1. Bibit vaksin yang dipakai berasal dari virus H1N1 tipe Kalifornia yang sudah disetujui WHO. Bantuan vaksin 3,5 juta dosis ini sekilas kelihatan sangat besar. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 200 juta, angka ini jelas relatif kecil, tak sampai 2% dari total penduduk Indonesia.

Vaksin sejumlah itu tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan semua penduduk Indonesia. Karena itu, kata Amin, vaksin akan diberikan berdasarkan urutan prioritas. Prioritas utama diberikan kepada para tenaga kesehatan, kemudian para ibu hamil, lalu mereka yang punya gangguan paru-paru, baru yang lain.

Jika gelombang kedua pandemi muncul, jelas kita akan membutuhkan vaksin jauh lebih banyak dari itu. Karena itu, bantuan dari WHO ini tidak boleh membuat kita lupa bahwa Indonesia tetap harus punya kemampuan membuat vaksin influenza. Pasalnya, pada saat pandemi, semua negara di dunia pasti berlomba-lomba membeli vaksin. Di saat seperti itu, maka yang berlaku adalah hukum dagang pertama: jika permintaan meningkat, maka harga pun akan meningkat. Setelah itu, berlaku hukum dagang kedua: negara yang punya banyak uang akan lebih diutamakan daripada yang tidak punya uang. Dalam urusan uang, kita mafhum, Indonesia masuk kategori mana.

Satu-satunya solusi, Indonesia harus mandiri dalam penyediaan vaksin influenza. Saat ini, semua prasyarat menuju ke sana sudah tersedia. Amin menjamin, sumber daya manusia kita jelas sudah mampu. Kita juga punya beberapa lembaga penelitian yang sanggup melakukan riset vaksin influenza. Selain punya Bio Farma yang sudah memenuhi standar WHO, Indonesia juga memiliki tiga laboratorium yang mampu membuat bibit vaksin, yaitu Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD Unair), Institute of Human Virology and Cancer Biology of the University of Indonesia (IHVCB-UI), dan Eijkman Institute, Jakarta. Ketiga laboratorium ini sudah memenuhi syarat biosafety level-3 untuk membiakkan virus influenza yang ganas ini secara aman.

Bahkan, pada akhir tahun 2009 kemarin, ITD Unair sudah berhasil membuat sendiri bibit vaksin H1N1 dan H5N1. Langkah konkret ini adalah bukti awal bahwa Indonesia mampu membuat vaksin sendiri. Apalagi Bio Farma saat ini juga sudah mulai menyiapkan fasilitas produksi telur ayam khusus untuk produksi vaksin. Semua ini adalah langkah awal yang tidak boleh tersendat atau terhenti di tengah jalan karena alasan klasik riset di Indonesia: kurang dana.

Tentu saja kita berharap pandemi tidak akan terulang. Tapi kalaupun pandemi gelombang kedua terjadi, setidaknya kita sudah siap memproduksi vaksin sendiri, tidak tergantung pada pihak asing.

Boks-1
Harus Antre Berbulan-bulan

Membeli vaksin influenza dalam jumlah besar dari pihak luar bukan hanya membuat Indonesia tergantung pada asing, tapi juga berpotensi membuat kita menjadi makin miskin. Sekadar ilustrasi, harga satu dosis vaksin influenza sekitar $ AS 10,-. (Anggap saja Rp 100.000,-.) Jika Indonesia harus menyediakan vaksin untuk 10% saja dari total penduduk (sekitar 20 juta orang), berarti kita harus menyediakan Rp 2 triliun. Silakan dihitung sendiri kalau kita harus menyediakan vaksin lebih banyak.

Itu pun belum tentu kita bisa mendapatkan vaksin dalam jumlah besar itu. Pada saat pandemi, permintaan dunia jelas meningkat tajam. Saat ini penduduk dunia mengandalkan vaksin influenza dari Baxter, produsen vaksin di Cekoslovakia yang kapasitas produksinya 2 juta dosis/minggu.

Jika Indonesia mengandalkan diri pada perusahaan farmasi asing, kita harus antre berbulan-bulan untuk menunggu jatah produks
i vaksin. Padahal, pada saat pandemi, vaksin harus tersedia dalam waktu cepat. Artinya, mau tidak mau, Indonesia harus bisa memproduksi vaksin influenza sendiri.

Boks-2
Dibiakkan di Telur Khusus
Virus influenza tergolong susah dikendalikan. Sewaktu-waktu ia bisa bermutasi, mengubah “bajunya” sehingga tidak dikenali oleh sistem pertahanan tubuh manusia. Karena sifatnya ini, urusan virus influenza cukup merepotkan. Andaikan pandemi terulang lagi tahun ini, belum tentu penyebabnya sama dengan virus penyebab pandemi tahun 2009. Agar sebuah vaksin bisa diproduksi, ilmuwan harus lebih dulu memetakan struktur tubuh virus secara jelas.

Dari virus ini selanjutnya dibuat bibit vaksin. Bibit ini bisa berupa virus utuh yang dilemahkan, virus utuh yang dimatikan, atau bagian tertentu dari badan virus yang dipotong. Bibit vaksin ini selanjutnya dibiakkan dengan media khusus. Bisa menggunakan sel dengan alat khusus bernama fermentor, bisa juga dengan menggunakan telur khusus. Teknologi kedua inilah yang akan digunakan oleh Bio Farma. Medianya berupa telur khusus yang disebut telur specific pathogen-free (SPF).

Telur ini dihasilkan oleh ayam khusus yang dipelihara secara khusus dengan standar suci hama yang juga khusus. Fasilitas produksi telur khusus inilah yang sekarang sedang disiapkan oleh Bio Farma. Jika nanti Bio Farma sudah bisa membuat vaksin H1N1, baik itu dengan bibit dari WHO maupun bibit dari ITD Unair, maka produsen vaksin Indonesia ini bisa membuat vaksin influenza lain. Bukan hanya untuk kebutuhan dalam negeri, tapi juga bisa untuk tujuan ekspor seperti yang sudah dilakukan oleh Bio Farma selama ini untuk beberapa vaksin dasar.

Boks-3
Indonesia Terbukti Mampu
Keberhasilan Laboratorium Avian Influenza ITD Unair menghasilkan bibit vaksin H1N1 dan H5N1 tak lepas dari peran A.C. Nidom, peneliti sekaligus kepala laboratorium. Dengan dana yang pas-pasan, ia bersama tujuh rekannya sudah mulai meneliti virus H5N1 sejak 2003.

Menurut penuturan Nidom, selama mengerjakan penelitian ini, timnya harus berjuang ekstra keras menghadapi banyak sekali kendala, mulai dari masalah dana, birokrasi, hingga perkara politik. Tipikal kendala riset di Indonesia. Awal tahun 2003, ITD Unair menerima sampel lima spesimen usapan hidung dan tenggorokan pasien flu burung dari Departemen Kesehatan (Depkes).

Dari kelima spesimen tersebut, satu spesimen berhasil dikembangkan menjadi vaksin. Sayangnya, penelitian kemudian mandek karena laboratorium saat itu belum memenuhi syarat biosafety level-(BSL) 3. Sekadar untuk diketahui, sebuah laboratorium harus memenuhi syarat BSL-3 jika hendak melakukan pengembangan vaksin H5N1 karena virus ini tergolong ganas dan mudah menular lewat udara.

Baru pada tahun 2007, setelah mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang, laboratorium ITD Unair memperoleh fasilitas penelitian dengan standar BSL-3. Namun, karena saat itu Indonesia dan WHO sedang berpolemik mengenai sampel virus flu burung, penelitian ini pun lagi-lagi tersendat. Penelitian dilanjutkan kembali setelah pada tahun 2008 Depkes RI bersedia membiayai riset itu.

Di tengah jalan, penelitian kembali menghadapi kendala karena Nidom dkk. kekurangan contoh virus flu burung untuk tahap pengujian yang disebut uji tantang. Uji ini bertujuan untuk meyakinkan hasil penelitian akhir bahwa vaksin ini benar-benar mampu melawan virus flu burung. Begitu masalah ini teratasi, tim peneliti kembali dihadapkan pada masalah lain, kali ini masalah birokrasi. Penelitian mengharuskan pemakaian hewan coba ferret (sejenis musang dengan kategori SPF yang diimpor dari Amerika Serikat). Tapi saat itu Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak mengizinkan impor ferret. Untungnya, Nidom dkk pantang menyerah. “Semakin sulit sebuah penelitian, semakin menantang,” ujarnya mantap.

Masalah ini terselesaikan setelah Bio Farma ikut turun tangan dengan memberi bantuan teknologi pengembangan vaksin senilai Rp 2 miliar. Setelah berkolaborasi dengan Bio Farma, penelitian ini pun memberikan hasil nyata berupa bibit vaksin H5N1 dan H1N1. “Bangsa kita punya skill. Kita terbukti bisa!” ujar Nidom bersemangat. Ditargetkan, vaksin H5N1 siap diproduksi dalam skala industri pada tahun 2011, sementara vaksin H1N1 pada tahun 2010. Kita tunggu saja vaksin flu burung dan flu babi made in Indonesia ini.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s