Bengkel Wirausaha Anak-anak Jalanan [mind body & soul]

Kita biasanya cuma melihat mereka dari balik kaca mobil saat mereka sedang mengemis atau menyanyikan lagu dengan iringan tepuk tangan atau genjrang-genjreng gitar kecil senar empat. Kadang-kadang mereka malak, minta uang dengan memaksa. Lalu kita pun memberi mereka recehan. Mungkin karena rasa iba, mungkin karena kita takut mereka merusak mobil kita. Tak semua dari kita sungguh-sungguh peduli dengan masa depan mereka.

“Memberi uang kepada mereka itu sama sekali tidak mendidik!” Kalimat ini bukan pernyataan seorang Kepala Dinas Sosial, melainkan ucapan Ali Kohar (biasa dipanggil Aang), aktivis pendamping anak jalanan (anjal) di Duren Sawit, Jakarta Timur. Tentu saja kita boleh tidak sepakat dengan saran Aang. Tapi Aang punya alasan kuat. Ia berani membuat kesimpulan seperti itu setelah belasan tahun terlibat aktif sebagai pendamping anjal.

Tak banyak dari kita yang benar-benar tahu kehidupan sehari-hari para anjal. “Mereka itu korban eksploitasi,” kata pengelola Rumah Sahabat Anak (RSA) Puspita ini. Ironisnya, yang paling banyak mengeksploitasi mereka justru orang-orang terdekat, seperti orangtua, paman, bibi, kerabat, atau tetangga. Anak-anak itu dipaksa mencari uang di jalanan untuk kemudian disetorkan kepada mereka, si pengeksploitasi.

“Penghasilan mereka itu bisa jadi lebih besar daripada gaji karyawan kantoran,” kata pria yang pernah menjadi peneliti UNICEF tentang pekerja seks anak ini. Dalam beberapa jam saja, seorang anjal bisa mengumpulkan uang Rp 50 – 100 ribu. Sebagian uang itu diberikan kepada pengeksploitasi mereka, sebagian menjadi hak milik mereka yang akan segera habis dalam hitungan jam.

“Mereka dengan gampang menghabiskan uang itu untuk hal-hal yang enggak bener,” ucap Aang. Memang ada sebagian anjal yang menyetorkan uang itu kepada keluarganya untuk hal-hal yang bermanfaat. Tapi sebagian besar uang dari jalanan itu akan habis untuk hal-hal yang tidak berguna untuk masa depan mereka. Bukan sekadar untuk bermain play station, tapi juga untuk membeli rokok, bahkan narkoba.

Kriteria mereka pas betul untuk menjadi korban sindikat narkoba anak: punya uang, tak terdidik, dan tak terawasi. Awalnya mereka diberi gratis. Setelah ketagihan, mereka akan melakukan apa saja di jalanan agar bisa mendapatkan narkoba. Kehidupan mereka benar-benar keras. Mungkin jauh dari bayangan kita yang biasa melihat mereka dari balik kaca mobil. Bukan hanya keluarga dan bandar narkoba yang mengeksploitasi mereka. Bahkan, kata Aang, tak jarang oknum petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pun mengeksploitasi mereka. Modusnya dengan meminta uang tebusan saat mereka ditangkap. Lengkap sudah! “Jadi, mereka ini korban eksploitasi yang dilakukan berbagai pihak,” kata Aang.

Beri Pendidikan
Masalah anjal jelas tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan. Problemnya cukup kompleks. Sebagian besar dari mereka adalah para pendatang tunawisma yang sudah secara turun-temurun hidup sebagai keluarga gelandangan di kota. Tahun 2007, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sampai membuat Peraturan Daerah yang melarang memberi mereka uang. Tapi hingga kini cara tersebut tetap tidak efektif mengurangi jumlah anjal.

Selama ini mereka kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Yang lebih mendapat perhatian biasanya anak-anak yatim. Ini setidaknya bisa dilihat dari banyaknya panti asuhan untuk anak yatim. Para anjal ini kurang diperhatikan karena mereka dianggap bukan yatim. Kebanyakan dari mereka memang masih punya orangtua. Padahal, kata Aang, dengan kehidupan mereka yang keras itu, status mereka bisa jauh lebih lebih mengenaskan daripada anak yatim. “Mereka ini anak-anak yang ‘diyatimkan’ oleh keluarga mereka sendiri dan oleh lingkungan,” kata Aang.

Jika kita dilarang memberi mereka uang, lalu apa yang bisa kita lakukan? “Jangan beri kami uang, beri kami kesempatan!” Ini slogan yang pernah dikampanyekan oleh RSA Puspita. Sebab, semakin mudah mereka mendapat uang, semakin lama mereka akan berkubang di jalanan.

Aang memperkirakan, di Jakarta saja terdapat sekitar 10 ribu anjal. Jumlah recehan yang beredar di tangan mereka ini bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap hari. Bahkan bisa miliaran. Sebagian besar uang itu habis untuk sesuatu yang justru berbahaya buat masa depan mereka. “Kalau kita memberi mereka uang di jalan, itu sama saja dengan berinvestasi untuk kebodohan mereka,” katanya.

Sebagai gantinya, kata Aang, masyarakat lebih dianjurkan membantu lembaga-lembaga pengasuh anjal. Jika, katakanlah, dalam sebulan kita biasanya mengeluarkan recehan Rp 20.000,- untuk mereka, mulai sekarang kita bisa menyumbangkan uang sejumlah itu tiap bulan ke lembaga-lembaga pendamping anjal. Kita bisa mendapatkan data lembaga-lembaga ini lewat internet atau lembaga seperti Dinas Sosial. Sekecil apa pun, sumbangan kita tetap sangat bermakna untuk pendidikan mereka.

Segala bentuk usaha pendidikan anjal perlu didukung. Jika mungkin, kita bisa meniru membuat rumah asuh seperti RSA Puspita yang didirikan oleh Aang bersama istri dan kawan-kawannya. Aang menjamin, membuat rumah asuh seperti ini tidaklah sulit asalkan dilakukan dengan niat tulus untuk membantu pendidikan mereka. Tak perlu menunggu uluran tangan Dinas Sosial.

Sejak awal tahun 1990-an, saat masih tinggal di Kediri, Jawa Timur, Aang bersama istrinya sudah mencurahkan hidupnya untuk mendampingi para anjal di Kota tahu ini. Di sini ia tinggal di rumah kontrakan yang punya tiga kamar. Satu kamar, ia gunakan sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Satu kamar lagi digunakan untuk tempat tinggal para anjal. Satu kamar lagi untuk usaha sablon yang ia kelola bersama para anjal itu.

Tahun 1996, ketika ia pulang ke kampung halamannya, Jakarta, ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai pendamping anjal. Di sini, pria yang berasal dari keluarga tradisional Betawi yang berkecukupan ini berkeliling di jalanan mendampingi para anjal di kawasan stasiun di Jakarta Kota, Pasar Senen, Kampung Melayu, dan tempat-tempat lain. Dibantu beberapa orang kawannya, Aang sering bertindak sebagai penjamin jika ada anjal yang berurusan dengan petugas Satpol PP.

KTP Aang dan kawan-kawannya ini biasa dipakai sebagai jaminan di meja Satpol PP atau kepolisian saat ada anak yang telibat perkelahian, pencurian, atau tindak kriminal lainnya. Kalau anak itu sampai dipenjara karena kasus berat, misalnya narkoba, Aang dan kawan-kawan harus bergantian menjenguk anak-anak itu di tahanan. Maklum, kehidupan di jalanan memang sungguh keras. Berita tentang anjal yang diperkosa, disodomi, hamil di luar nikah, terlibat narkoba, perkelahian, pencurian, hingga masuk penjara adalah makanan sehari-hari Aang.

Latihan Mandiri
Sempat menjadi peneliti UNICEF selama beberapa bulan, tahun 1999 Aang mendapat tawaran dari donatur perorangan untuk lebih serius menangani an
jal. Dengan dana dari donatur itu, Aang menyewa rumah sederhana di Jln. Tegal Amba No. 7, Duren Sawit, Jakarta Timur. Tak jauh dari rumahnya di Cakung, Jakarta Timur. Rumah ini kemudian mereka beri nama Rumah Sahabat Anak Puspita, berfungsi sebagai tempat tinggal para anjal. Siang hari mereka masih mengamen di jalanan, malam harinya tidur di sini. Istri Aang bertindak sebagai ibu asuh yang menyediakan makanan setiap hari.

Di tahun keempat, setelah melalui perjuangan yang sangat rumit, mereka berhasil membeli rumah itu seharga Rp 90 juta dengan dana bantuan dari Kedutaan Besar Swiss. Waktu itu jumlah total anak asuh RSA Puspita beberapa puluh orang. Selain menjadi tempat tinggal, rumah itu juga menjadi tempat belajar. Aang merancang semua materi pendidikan. Model pendidikan menggunakan metode yang berbeda dari cara pendidikan konvensional. Maklum, para anjal itu sudah terbiasa hidup di jalanan tanpa aturan. Tak ada disiplin. Kebanyakan dari mereka tak bisa menjalani ritme hidup seperti anak-anak kebanyakan.

Makin lama, jumlah donatur makin bertambah. Banyak di antaranya warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Seiring dengan makin banyaknya donatur, secara pelan tapi pasti RSA Puspita akhirnya sanggup menyekolahkan para anjal itu ke SD atau SMP. Sejak itu mereka praktis kembali menjadi seperti anak kebanyakan. Tidak lagi turun ke jalanan. Dengan bantuan para relawan yang jumlahnya juga puluhan, RSA Puspita juga menyelenggarakan kegiatan yang makin beragam. Pulang dari sekolah, anak-anak itu belajar agama, bahasa Inggris, matematika, komputer, bermain musik, beladiri, magang kerja, juga berlatih wirausaha.

Dengan bantuan para relawan, anak-anak ini belajar mejalankan usaha sablon, cuci motor, pertukangan, bengkel, kerajinan tangan, sulam kaos, membuat kue, susu kedelai, dan sebagainya. Secara berkelakar, Aang sampai berani menjamin bahwa kegiatan pendidikan di RSA Puspita tidak kalah dibandingkan dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah elite. Semua pelatihan wirausaha ini dilaksanakan untuk membekali anak-anak itu agar tidak kembali ke jalan. “Ini bagian dari belajar untuk mandiri,” kata bapak dari dua anak ini.

Saat ini, di tahun kesepuluh, RSA Puspita menampung sekitar 70 orang anak. Mulai dari anak usia TK, SD, SMP, hingga SMA. Anak-anak generasi pertama yang ditampung di sini sekarang kebanyakan sudah siswa SMA. Beberapa di antaranya bahkan sudah kuliah. Biaya pendidikan anak-anak ini semua ditanggung oleh para donatur yang bertindak sebagai orangtua asuh.

Karena keterbatasan tempat, hanya sebagian anak yang tinggal di RSA Puspita. Sebagian lainnya masih ikut orangtua mereka dan ke sini ketika ada kegiatan. “Rata-rata pengeluaran tiap bulan sekitar Rp 15 – 25 juta,” kata Sahroji, sahabat Aang yang bertindak sebagai sekretaris RSA Puspita. Saat tahun ajaran baru atau hari raya, kebutuhan biasanya meningkat dua kali lipat.

Yang hebat, semua dana operasional RSA Puspita sepenuhnya berasal dari donatur. Sama sekali tidak bergantung pada bantuan dari Dinas Sosial seperti banyak rumah singgah untuk anjal. Bahkan Aang dan istrinya, yang dipanggil Ummi oleh anak-anak RSA Puspita, pun total seratus persen mengurus anak-anak di sini. Tak ada gaji untuk relawan maupun pengurus. Semua dipersatukan oleh niat baik untuk berbagi. “Sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat bagi sesama,” kata Aang mengutip sebuah nasihat kebajikan. (M. Sholekhudin)

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s