Jimpitan di Era Facebook


Penulis: M. Sholekhudin

Mark Zuckerberg, si pencipta Facebook, bukan seorang politikus. Tapi ia jelas tak asal omong ketika menyatakan bahwa besarnya jumlah facebooker bakal memaksa institusi negara menyelenggarakan pemerintahan secara lebih terbuka. Di Indonesia, gerakan Koin Prita adalah salah satu buktinya (selain tentu saja gerakan Sejuta Facebookers Dukung Bibit & Chandra).
—–

Gerakan-gerakan sosial semacam ini bisa dianggap sebagai sebagai sebuah tonggak sejarah baru di Indonesia. Aksi ini muncul dalam sebuah revolusi yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Gerakan seperti ini bisa muncul karena sekarang ini terjadi revolusi interaksi,” kata sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo.

Zaman dulu, masyarakat Indonesia menggunakan kentongan sebagai alat untuk mengumpulkan warga. Ketika warga mendengar bunyi kentongan, mereka berduyun-duyun datang ke balai desa untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Hanya dalam tempo beberapa dasawarsa, pola interaksi macam ini benar-benar tinggal sejarah. Kini semua orang bisa berinteraksi dengan “kentongan” yang jauh lebih modern, yaitu telepon genggam. Alat interaksi ini jauh lebih luas jangkaunnya, lebih cepat, lebih efisien. Apalagi ketika teknologi telepon genggam kawin dengan teknologi internet. Semua menjadi seolah-olah tak terbatas. Relatif tak ada halangan waktu dan tempat. Setiap warga bisa berinteraksi dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun. Dengan Facebook di ujung jempol, dunia seolah menjadi sebuah jaring yang semua simpulnya bisa berhubungan langsung.

Sekarang, kebutuhan terhadap pulsa telepon genggam sama seperti kebutuhan terhadap pangan. “Berinteraksi itu kebutuhan primer,” kata Imam. Saat awal internet diperkenalkan kepada publik, banyak yang menduga teknologi ini akan membuat manusia semakin menjadi individualis. Sekarang dugaan ini terbukti tidak benar. Internet ternyata tak membuat penggunanya menjadi soliter, tapi malah sebaliknya: makin solider.

Facebook adalah buktinya. Ketika pemberitaan tentang Prita Mulyasari muncul bertubi-tubi di berbagai media massa, terutama televisi, opini masyarakat pun segera terbentuk. Terlepas dari debat hukum yang menyertainya, opini yang diikuti oleh simpati terhadap Prita ini pun segera menguasai ruang publik.

Simbol Protes Sosial
Sebagian besar masyarakat mungkin tak begitu paham dengan pasal 27 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika (UU ITE) yang menjadi dasar tuntutan terhadap Prita. Tapi masyarakat tetap punya hak untuk berpendapat dengan cara mereka sendiri. “Di atas hukum ada keadilan. Di atas keadilan ada wisdom. Pasal-pasal itu hanya mekanisme untuk menegakkan keadilan. Secara hukum formal, mungkin saja sebuah putusan itu benar tapi belum tentu adil. Adil pun belum tentu wise,” kata Imam.

Masyarakat menilai dengan logika sederhana saja. Prita dianggap sebagai korban yang, seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ia dianggap mewakili keadaan sebagian besar warga yang tak punya daya tawar di depan penyedia jasa layanan kesehatan, lembaga peradilan, dan penguasa modal. Karena putusan lembaga peradilan dianggap tidak memenuhi rasa keadilan, maka yang terjadi adalah “pengadilan masyarakat”. Para warga negara yang tak begitu paham pasal-pasal itu pun menggalang dukungan terhadap Prita. “Koin Keadilan bukan mencari sensasi apalagi berniat memecahkan rekor. Ini adalah cara kita menyampaikan pesan tentang rasa keadilan yang terlukai,” begitu pesan resmi gerakan Koin Prita (Koin Keadilan).

Ade Novita, salah satu penggagas gerakan Koin Prita, punya cerita lengkap tentang aksi sosial yang kemudian menjadi peristiwa bersejarah itu. Awalnya ide itu berasal dari celetukan anggota di sebuah milis kesehatan untuk saweran mengumpulkan uang Rp 204 buat Prita untuk membayar denda.

Sebagai langkah awal, mereka menggunakan Facebook dan Twitter sebagai media menggalang sumbangan. Dengan menggunakan internet, para facebooker bisa memberikan dukungan semudah mengirim sms untuk mendukung jagoan mereka dalam acara kontes pencarian bintang di televisi. Ide ini meniru Gerakan Sejuta Facebookers Dukung Bibit & Chandra. Perhitungannya matematika sederhana. Dengan asumsi ada satu juta orang pendukung, jika masing-masing menyumbang Rp 200,- saja, maka akan terkumpul Rp 200 juta.

Dengan perhitungan itu, maka diputuskan bahwa sumbangan cukup dilakukan dengan uang koin! Alat tukar dalam satuan terkecil. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata penggunaan uang koin ini menimbulkan dampak yang luar biasa. “Pemilihan koin itu tepat sekali,” kata Imam. Orang kaya tak merasa rendah menyumbang koin, orang miskin juga tak merasa berat mengeluarkan beberapa ratus rupiah.

Koin punya dua mata sisi. Satu sisi koin bergambar burung jalak bali dan tulisan angka nominal Rp 200,- sebagai bentuk sumbangan. Sisi lainnya bergambar garuda pancasila, sebagai bentuk protes sosial. Seolah-olah gambar garuda itu mengingatkan semua pihak tentang sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebentuk sindiran yang sangat efektif karena uang itu berasal dari siapa saja, termasuk dari lapisan masyarakat paling bawah seperti pengamen dan pemulung.

Pesan sindiran ini mungkin tak begitu mengena kalau saja sumbangan diberikan lewat transfer bank, misalnya. Sumbangan Fahmi Idris bisa kita jadikan contoh konkret. Meskipun nilai sumbangannya besar sekali, Rp 102 juta, pesan protesnya tak sekuat koin. “Koin itu simbol protes sosial,” kata Imam.

Tapi Ade Novita sendiri tidak mau menggunakan kata “sindiran”. “Ini bentuk ketaatan hukum yang bermartabat,” katanya. Para penggagas ide Koin Prita tidak hendak mencampuri proses hukum. Mereka menyumbang untuk denda yang harus dibayar Prita. Target mereka adalah revisi UU ITE.

Partisipasi Warga
Suksesnya gerakan ini jelas tak bisa dipisahkan dari peran media massa. Dari Facebook dan Twitter, kampanye Koin Keadilan menyebar ke media-media massa, terutama televisi. Media inilah yang bisa menjangkau lapisan masyarakat paling rendah. Secara sosiologis, ini adalah gerakan sosial yang efektif. Motor gerakan ini adalah para facebooker yang dalam kajian sosiologi dikelompokkan sebagai masyarakat kelas menengah. Sejarah membuktikan lapisan menengah inilah yang biasanya menentukan perubahan di sebuah masyarakat.

Karena sumbangan berupa uang koin, maka semua lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi. Bukan hanya kelas menengah tapi juga termasuk kelas paling bawah. Ade menuturkan, banyak penyumbang yang berasal dari lapisan masyarakat paling bawah. Seorang pengamen datang ke posko dengan membawa recehan koin Rp 50,- hasil mengamen yang tidak bisa dipakai membeli apa-apa. Penyumbang lain, seorang pemulung, datang hendak menyumbang Rp 1.000,-. Ia mengaku hanya punya uang Rp 5.000,- di kantongnya. Padahal ia harus pulang naik angkutan umum. Para relawan di posko kemudian menyarankan dia menyumbang Rp 300,- saja.

Hasilnya luar biasa, bahkan di luar dugaan para penggagas ide ini. Dalam waktu hanya sekitar setengah bulan, jumlah koin yang terkumpul sekitar Rp 700 juta (di luar sumbangan selain koin). Jumlah ini jauh lebih banyak dari target semula Rp 204 juta. Inilah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, uang sumbangan terkumpul bukan lagi dalam satuan juta rupiah, tapi juga dalam satuan ton! Jika diasumsikan semua koin dalam satuan Rp 500,- berat koin sejumlah itu diperkirakan sekitar 8 ton!

Fenomena ini persis seperti tradisi jimpitan di masyarakat desa zaman dulu. Dalam tradisi ini, semua warga di sebuah desa menyumbang sejumput (sejimpit) beras yang akan dikumpulkan lalu hasilnya digunakan untuk kebutuhan bersama. Dengan modal hasil jimpitan, warga desa bisa membangun jalan, tempat ibadah, lembaga pendidikan, hingga menyantuni fakir miskin. Dalam jimpitan, ada dua unsur utama yang menjadi dasar. Pertama, semua warga bisa berpartis
ipasi. Kedua, nilai sumbangan dalam satuan terkecil, yang dalam hal ini hanya sejumput beras.

Kedua unsur ini juga bisa ditemukan dalam aksi Koin Prita. Bedanya, sumbangan bukan dalam bentuk sejumput beras tapi uang koin. Bedanya lagi, dalam jimpitan tak ada protes sosial. Sementara koin tidak hanya bermakna sumbangan tapi juga bermakna protes sosial. Protes dengan cara ini ternyata sangat tepat sasaran. Selain itu, aksi lewat organisasi tanpa bentuk (OTB) ini memudahkan siapa saja bisa ikut bergabung tanpa direpotkan oleh masalah-masalah formalitas. Koin juga meminimalkan risiko adanya korupsi. (Bagaimana mau dikorupsi, uang Rp 100.000,- saja beratnya sampai beberapa kilogram). Dengan koin, partisipasi dilakukan seratus persen secara anonim. Nama penyumbang tak perlu dicatat.

Aksi jimpitan gaya modern ternyata bisa menjadi alternatif solusi ketika rasa keadilan—meminjam ungkapan Pamplet WS Rendra—“membentur meja kekuasaan yang macet”. Gotong royong ala jimpitan dan Koin Prita membuktikan bahwa yang receh tak selalu remeh. Yang kecil tak berarti nihil.

—-xxxx—-


Aset Berharga yang Tidak Dihargai

Sebagai alat tukar dalam satuan paling kecil, nilai koin sering diabaikan. Contoh paling gampang adalah uang Rp 50,- dan Rp 25,- yang secara resmi masih berlaku tapi sehari-hari sudah tidak bisa digunakan berbelanja. Lewat gerakan pengumpulan koin, alat tukar ini terbukti masih bisa bermanfaat.

Ini sama persis seperti dalam tradisi jimpitan. Secara harfiah, sejimpit berarti jumlah yang bisa diambil dengan menggunakan jari tangan (tanpa memakai telapak tangan). Beras sejimpit tak bermakna apa-apa. Tapi ketika yang sejimpit itu dikumpulkan dari seluruh desa, hasilnya bisa dipakai untuk membiayai kebutuhan bersama.

Sebetulnya ide Koin Prita tidaklah sama sekali baru. Masyarakat kita sudah terbiasa dengan kotak amal yang biasanya ditaruh di tempat ibadah. Sebelum munculnya aksi Koin Prita juga sudah ada gerakan sosial Coin A Chance (http://coinachance.com/). Sama seperti Koin Prita, gerakan ini juga dalam bentuk pengumpulan koin untuk kemudian disumbangkan di bidang pendidikan.

Setelah Koin Prita, kini kita bisa melihat munculnya gerakan serupa seperti Koin Cinta Bilqis (anak penderita kelainan saluran empedu dan membutuhkan biaya operasi sekitar Rp 1 miliar). Aksi semacam ini lebih merupakan bentuk kepedulian, bukan protes. Uang yang dikumpulkan dari aksi ini bahkan mencapai lebih dari Rp 1 miliar, meski tidak semuanya koin.
Gerakan ini adalah pesan jelas bahwa kita tidak boleh meremehkan benda yang biasa tidak kita hargai ini. Dengan memanfaatkan momentum yang tepat, gerakan sosial jimpitan di era modern ini bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan banyak masalah. Mungkin saja termasuk masalah-masalah yang luput dari perhatian pemerintah.

Supaya aksi semacam ini tetap berjalan di koridor yang benar, Ade Novita memberi saran, penggalangan koin sebaiknya dilakukan seratus persen dengan kesadaran. Jadi, tidak dilakukan dengan menyodorkan kotak seperti yang dilakukan di lampu merah. Cara seperti ini berpotensi membuat orang menyumbang dengan terpaksa.

Kasus yang hendak ditangani pun sebaiknya dipelajari dengan teliti. Misalnya, setelah mendapat sumbangan, apakah kasus akan selesai ataukah masih akan terus berkepanjangan. Ade memberi contoh kasus Prita dan Bilqis. Menurut perhitungan, begitu denda dibayar, kasus Prita akan selesai. Begitu pula Bilqis. Secara medis, operasi adalah terapi pilihan yang diharapkan bisa menyembuhkan dia dari penyakitnya.


Membantu Bank Indonesia

Bagi Bank Indonesia (BI), uang koin termasuk jenis uang yang merepotkan. Nilainya kecil tapi biaya pembuatannya besar. Normalnya, setelah dikeluarkan oleh BI, uang harus berputar di masyarakat lalu kembali lagi ke BI untuk diputar lagi. Tapi mekanisme ini tidak terjadi pada uang koin.

Selama ini uang koin lebih banyak ngendon di masyarakat. Tak diketahui rimbanya. Dengan adanya aksi penggalangan koin, uang koin ini kembali terkumpul dan masuk lagi ke BI.

Kata Ade, sebagian uang hasil sumbangan itu berupa uang kuno tahun 1970-an. Sebagian yang lain sudah sangat usang. Oleh BI, koin ini kemudian dilebur lagi. “Makanya BI seneng banget dengan aksi semacam ini,” katanya.

Anda mau ikut membantu BI?

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

5 thoughts on “Jimpitan di Era Facebook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s