Buku Gratis untuk Anak Indonesia


Membuka taman bacaan anak sudah banyak dilakukan orang. Tapi menerbitkan buku sendiri khusus untuk disumbangkan ke taman-taman bacaan? Belum banyak yang melakukannya. Renny Yaniar, seorang penulis cerita anak, mungkin bisa disebut sebagai perintis dalam urusan ini.

Sebagai penulis yang sangat produktif, hingga kini Renny sudah menghasilkan banyak sekali buku cerita anak. Rata-rata dalam satu tahun ia bisa menerbitkan sepuluh judul buku. Satu dekade yang lalu, tepatnya sepanjang tahun 2000, ia menulis sepuluh judul buku yang diterbitkan oleh Grasindo. Isinya cerita-cerita anak tentang lingkungan hidup dan fabel dua bahasa. Begitu buku-bukunya terbit, ia memajang karyanya itu di internet. Waktu itu blog dan facebook masih belum dikenal. Renny memajang foto sampul buku-buknya di situs GeoCities, aplikasi gratisan milik Yahoo! yang kini sudah almarhum.

Seorang guru SD dari Nusa Tenggara Barat (NTB) kebetulan singgah di rumah maya miliknya. Ia rupanya berminat membeli buku-buku itu untuk bahan pelajaran bagi murid-muridnya. Tapi apa daya, buku Renny yang beredar di toko buku Gramedia tidak menjangkau wilayah pelosok NTB. Renny kemudian mengirimi guru SD itu lima judul buku karangannya. Setelah menerima kiriman buku, guru SD itu bercerita, buku-buku itu menjadi rebutan sampai harus difotokopi untuk dibagikan kepada murid-muridnya.

Sambutan anak-anak pelosok terhadap buku-buku itu membuat Renny begitu bahagia sekaligus terharu. Rupanya selama ini mereka sangat jarang menjumpai buku bacaan. Sejak itu ia tiap bulan selalu menyisihkan Rp 300.000,- – 500.000,- dari gajinya. Dengan uang sejumlah itu per bulan, ia secara rutin mengirim buku-buku bacaan anak ke taman-taman pendidikan. Semuanya digratiskan. Ongkos kirim juga ia tanggung.

Sebagian buku yang ia kirim itu karyanya sendiri, sebagian buku karya penulis lain yang ia koleksi. Tapi lama-lama ia merasa jumlah buku yang bisa ia beli dengan uang sejumlah itu makin lama makin sedikit. Maklum saja, harga buku makin lama makin mahal. Rata-rata satu buah buku cerita anak seharga belasan ribu rupiah. Uang sejumlah Rp 300.000,- hanya bisa untuk membeli beberapa belas buku. Akhirnya, tahun 2006 ia mengubah caranya berbagi buku. Ia tidak lagi membeli buku dan mengirimkannya tapi menerbitkannya sendiri untuk dikirimkan ke taman-taman bacaan.

Soal materi tulisan tak ada masalah. Ia penulis cerita anak yang sangat produktif. Kebetulan ia bekerja di sebuah penerbitan nasional sehingga sehingga cukup paham terhadap dunia perbukuan. Dengan modal Rp 7 jutaan dari kantungnya sendiri, tahun 2006 ia menerbitkan buku karangannya sendiri sebanyak 1.000 eksemplar. Buku berjudul 5 Dongeng Renny Yaniar ini kemudian ia bagi-bagikan secara gratis kepada sekitar 70-an penerima. Dengan menerbitkan buku sendiri, jumlah buku yang ia sumbangkan bisa jauh lebih banyak daripada jika harus membeli.

Secara simbolis ia memberi nama programnya itu 1.000 Buku untuk Anak-anak Indonesia. Sejak itu, ia juga menyisihkan semua royalti bukunya yang ia terima dari penerbit-penerbit komersial. Lewat kawan-kawannya, Renny menjaring informasi tentang taman-taman bacaan yang membutuhkan sumbangan buku. Penerimanya mulai dari SD, panti asuhan, hingga taman bacaan yang dikelola perorangan.

Tahun berikutnya, ia melanjutkan program bagi-bagi buku dengan cara yang sama. Dengan modal tabungannya sendiri, ia kembali menerbitkan 1.000 eksemplar buku untuk dibagi-bagikan ke taman-taman bacaan. Dua tahun berikutnya, 2008 dan 2009, jumlah buku yang dibagikan naik menjadi 2.000 buah. Lewat penerbit yang ia beri nama Pustaka Riang, tahun 2010 ini jumlah buku ditargetkan 3.000 buah.

Untuk proyek penerbitan buku yang terbaru ini Renny harus menabung hingga belasan juta rupiah. Bukan hanya jumlah buku yang meningkat, tebal dan ukuran buku yang diterbitkan juga meningkat.

Dibantu Banyak Kawan
Dalam hal tampilan, buku yang diterbitkan oleh Renny ini tergolong sederhana. Halamannya hitam putih. Tidak seperti buku-buku anak yang dikemas cantik dengan gambar warna-warni yang disukai anak-anak. “Kalau bukunya dicetak warna, biayanya bisa tiga kali lipat,” kata pemimpin redaksi majalah anak-anak Mombi ini. Bagi kebanyakan orang yang sering pergi ke toko buku semacam Gramedia, buku-buku Renny sekilas tidak istimewa. Keistimewaan buku-buku ini memang bukan dalam hal tampilan fisiknya, tetapi ketulusan di baliknya.

Bagi anak-anak yang tinggal di pelosok atau tinggal di kota tapi jarang bertemu bahan bacaan, buku-buku Renny adalah hadiah istimewa. Seorang guru SD di daerah terpencil di Polewali, Sulawesi Barat, menuturkan bahwa murid-muridnya sampai harus antre untuk membaca buku kiriman Renny. Seorang guru SD lain di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena saking senangnya mendapat kiriman buku, mengirimkan kain tenun khas Flores kepada Renny sebagai ungkapan terima kasih. Bagi mereka yang tinggal di pelosok, buku bacaan termasuk sesuatu yang mahal.

Kebanyakan buku dikirim dengan jasa kurir. Selain itu, Renny juga mendapatkan banyak bantuan teman-temannya yang sering bepergian ke wilayah-wilayah pelosok Indonesia. Tiap kali bepergian, mereka menyempatkan diri mengantarkan paket buku Renny ke penerimanya.

Tak hanya dalam hal distribusi, Renny juga mendapat banyak bantuan dari teman-temannya yang lain. Beberapa orang kawannya menjadi donatur untuk penerbitan bukunya. Suaminya, musisi Jubing Kristianto, juga memberi dukungan penuh. Ia selalu menjadi donatur tetap untuk tiap terbitan buku Renny.

Dalam bukunya yang terbaru, Renny juga dibantu oleh sepuluh orang temannya sesama penulis bacaan anak. Mereka masing-masing menyumbang satu tulisan untuk buku yang berjudul 11 Dongeng Istimewa untuk Anak-anak yang Istimewa.

Dalam buku yang saat ini sedang dalam proses penerbitan, bantuan yang mengalir menjadi lebih banyak lagi. Bukan hanya dari teman-teman sesama penulis, tapi juga dari para ilustrator buku anak-anak. Lewat halaman facebook dengan nama Rumah Riang, ada 25 orang penulis cerita anak dan 21 orang ilustrator yang mendaftarkan diri untuk bergabung. Lewat facebook, Renny berhasil menularkan semangat untuk berbagi. Semua bersedia menyumbang karya tanpa imbalan. Sebelumnya, Renny harus membayar ilustrator untuk setiap buku yang ia terbitkan. Seperti kita tahu, buku bacaan anak biasanya memang banyak berisi gambar agar menarik.

Kita Pun Bisa Membantu
Karena khusus untuk dibagi-bagi secara gratis, buku-buku yang diterbitkan oleh Pustaka Riang tidak tersedia di toko buku. Selain lewat mekanisme pemberian secara cuma-cuma, Renny juga mengadakan program tukar-menukar buku sejak 2009. Bentuknya, Renny menyediakan sekitar 50 buku karangannya. Ia mempersilakan siapa saja untuk memperoleh bukunya dengan cara menukarnya dengan buku lain yang masih dalam kondisi bagus untuk disumbangkan. Biasanya 1 buah buku Renny ditukar dengan 3 – 4 buku lain. Jadi, dengan modal 50 buku, Renny bisa mendapatkan sekitar 200 buku lain.

Kadang Renny juga mendapat titipan buku dari teman-temannya sesama penulis bacaan anak untuk disumbangkan. Lewat jaringan yang ia bentuk itu, Renny berharap bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat. Di tengah dominasi tontonan teve sering kurang mendidik, menyediakan taman baca dan bahan bacaan adalah sesuatu yang jelas manfaatnya. “Saya ingin mengajak orang untuk ikut berbagi. Saya sendiri hanya melengkapi. Mereka punya tempat, saya punya buku,” kata lulusan ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Anda juga bisa ikut ambil bagian dalam program Rumah Riang. Jika Anda punya koleksi buku-buku anak, Anda bisa menitipkannya kepada Renny untuk nanti disumbangkan lewat jaringan Rumah Riang.

Hingga saat ini, buku-buku Renny sudah menjangkau cukup banyak wilayah terpencil di Indonesia. “Tapi sampai sekarang, Papua masih belum terjangkau,” katanya. Ia berharap ada kawan yang bersedia membuka jaringan di wilayah paling timur Indonesia ini. Ada yang mau membantu? (M. Sholekhudin)

Boks-1
Gerakan 1 Bulan 1 Buku

Di luar jaringan yang ia bentuk, Renny juga mengajak masyarakat yang mampu untuk lebih peduli anak-anak dengan menyediakan buku gratis buat mereka. “Tidak usah banyak-banyak, sebulan cukup satu buku saja yang disumbangkan. Saya yakin banyak orang mampu melakukannya,” katanya. Ia bermimpi gerakan semacam ini menjadi sebuah gerakan nasional.

Saran ini jelas bukan sekadar saran teoretis. Renny sendiri telah membuktikannya. Penghasilannya sekadar termasuk kategori cukup. Tapi dengan disipilin menyisihkan uang tiap kali gajian, ia bisa menerbitkan buku tiap tahun untuk dibagi-bagikan secara gratis. Renny sendiri mengaku, ia harus banyak menekan keinginan pribadi agar bisa menabung untuk biaya mencetak buku. “Makin banyak kita memberi, makin banyak kita menerima,” katanya.

Boks-2
Pilih Cerita Anak yang Mendidik
Dengan mengutip pendapat pakar psikologi asal Amerika Serikat, David McClelland, Renny berpendapat, masa depan sebuah negara sangat dipenuhi oleh bahan bacaan anak-anak. Karakater masyarakat Indonesia mendatang sangat dipengaruhi oleh dongeng anak-anak saat ini.

Memilihkan bahan bacaan buat anak harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak semua bahan bacaan cocok untuk mereka. Renny memberi contoh, tidak semua cerita rakyat cocok begitu saja dikonsumsi anak-anak. Sebelum disuguhkan kepada mereka, cerita-cerita itu harus disaring dan diadaptasi lebih dulu.

Cerita harus selalu mengandung pesan positif. Misalnya, jadilah orang yang jujur, jadilah orang yang pantang menyerah, dan sejenisnya. Tapi pesan itu sebaiknya disampaikan dengan menarik. Ajak mereka bertualang ke negeri di atas pelangi atau menyelam ke dasar samudera. Nasihat cukup disampaikan secara implisit saja dengan memperhatikan pola pikir mereka yang lugu. “Biarkan anak-anak menarik kesimpulan sendiri tanpa harus dinasihati,” kata peraih penghargaan Adikarya IKAPI tahun 2002 lewat buku cerita anak Lautan Susu Coklat ini.

Renny memberi contoh karakter si kancil dalam cerita-cerita anak di Indonesia. Karakter fabel yang cerdik dan kadang licik ini bisa memberikan pesan negatif kepada anak jika disampaikan dengan keliru. Itu sebabnya dalam kumpulan cerita anak yang akan diterbitkan tahun ini, judulnya adalah 11 Dongeng Pembangkit Semangat.

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

2 thoughts on “Buku Gratis untuk Anak Indonesia

  1. mas…aku mau dunk ikutan ini karena 4 bulan terakhir ini kesibukan luar bisa di koas bikin rumah cahaya stagnan jadi blm bisa nambah buku lagi. mungkin anak2 dah mulai rada bosen gk ada buku2 baru.kira2 aku ngirim buku2nya kemana ya ntarmksih^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s