PENYAKIT: Nyeri Sendi Lutut

Penulis: M. Sholekhudin

Ibarat mesin mobil, tulang manusia juga punya “shock absorber” di bagian sendi. Fungsinya sebagai bantalan peredam tekanan saat tulang bergerak (misalnya saat berjalan) maupun saat diam (misalnya saat berdiri). Jika bantalan ini aus, sendi akan meradang dan terasa nyeri. Jika terus dibiarkan, tak mustahil akan menyebabkan kecacatan.

Dalam bahasa awam, kerusakan bantalan tulang ini biasa disebut radang sendi. Istilah ini sebetulnya kurang tepat karena radang sendi penyebabnya macam-macam. Para dokter menyebutnya osteoartritis. Awalan <i>osteo-</i> ini sering membuat orang awam menyangka penyakit ini masih saudaranya osteoporosis (pengeroposan tulang). Kenyatannya tidak. Meskipun sama-sama berawalan osteo-, kedua penyakit ini tidaklah sama. Osteoporosis adalah pengeroposan tulang sementara osteoartritis adalah kerusakan pada tulang rawan sendi.

Masyarakat awam kadang menyebut penyakit ini dengan nama rematik. Seperti kita tahu, di masyarakat kita, kata “rematik” telah menjadi semacam nama generik untuk menggambarkan rasa sakit di tulang. “Rematik itu jenisnya banyak. Ada seratusan lebih. Osteoartritis ini hanya salah satu jenisnya,” kata Prof. dr. Zuljasri Albar, Sp.PD-KR, ahli reumatologi dari FKUI.

Osteoartritis bermula dari kelainan pada rawan sendi. Pada tingkat lanjut, semua struktur yang membentuk sendi misalnya tulang, otot, tendo dan ligamen dapat terkena. Dalam struktur tubuh manusia, sendi berfungsi sebagai engsel penghubung antartulang. Struktur sendi ini memungkinkan tulang bergerak. Kaki bisa dipakai berjalan, jari bisa ditekuk, tangan bisa dipakai mengangkat, punggung bisa dibungkukkan, dan seterusnya.

Sebagai engsel, sendi punya struktur yang memungkinkan tulang bergerak dengan mulus. Salah satunya tulang rawan. Tulang rawan ini melapisi bagian ujung tulang yang bersinggungan dengan tulang lainnya. Ketika dua tulang bersinggungan dan saling menekan, bagian tulang rawan ini berfungsi sebagai bantalan yang meredam tekanan dan memuluskan gerakan sendi.

Bagian batang tulang punya saraf, tapi bagian rawan sendi ini tidak. Karena itulah, ketika kita menggerakkan tungkai kaki, lutut kita tidak terasa sakit. Sebab bagian yang berbenturan hanya rawan sendi lutut, bukan tulangnya sendiri.

Pada keadaan normal, tulang rawan ini permukaannya rata, halus, seperti kaca. Sehingga ketika bergesekan dengan tulang rawan lainnya, gerakannya mulus. Tapi pada orang-orang tertentu, tulang rawan sendi ini mengalami penipisan alias aus. Sebelum menipis, permukaan rawan sendi tidak rata dan bergelombang sehingga gerakan sendi terasa tidak lancar bahkan kadang-kadang berbunyi. Jika rawan sendi menipis, maka pada saat sendi digerakkan atau mendapat tekanan akan timbul rasa sakit karena fungsi peredam kejut (<i>shock-breaker</i>) rawan sendi berkurang. Sebagian besar tekanan akibat beban akan langsung diteruskan ke tulang.

Karena bagian tulang punya saraf, maka tekanan ini akan menimbulkan rasa nyeri. Ketika dipakai berjalan, lutut akan terasa sakit dan ngilu. Kondisi inilah yang dikenal sebagai osteoartritis.

Jika osteoartritis masih ringan, sendi baru akan terasa sakit saat dipakai beraktivitas berat. Misalnya saat mengangkat beban berat atau naik turun tangga. Tapi pada osteoartritis yang parah, sendi terasa sakit meskipun hanya dipakai untuk aktivitas ringan, seperti berjalan. Bahkan, jika sudah kelwat parah, saat duduk atau tidur pun, sendi terasa nyeri.

Sendi yang biasanya menjadi korban osteoartritis adalah sendi yang memikul berat badan, misalnya sendi lutut. Dengkul. Maklum saja, lutut merupakan sendi yang paling banyak menerima tekanan beban. Sendi lain yang juga bisa terkena osteoartritis misalnya sendi di tulang belakang, sendi panggul, pergelangan kaki, dan pangkal ibu jari kaki.

<b>Rawan pada orang gemuk</b>

Hingga sekarang penyebab pasti penyakit ini masih terus diteliti. Meski begitu, para ahli reumatologi sudah mengenali faktor-faktor risikonya. Faktor risiko ini sedikit berbeda dengan penyebab. “Faktor risiko” adalah istilah medis untuk menggambarkan kemungkinan penyebab. Jika faktor ini ada pada seseorang, ia punya kemungkinan lebih tinggi terkena osteoartritis.

Di antara faktor risiko yang sudah dikenali, salah satunya, kegemukan. Ya, lagi-lagi kegemukan. Ini memang faktor yang cukup besar pengaruhnya. Pada orang gendut, tulang-tulang sendi harus menanggung beban yang lebih berat. Tekanan akibat berat badan yang terus-menerus ini menyebabkan lapisan tulang rawan sendi lebih cepat aus.

Namun ini tidak berarti orang kurus atau yang berat badannya ideal boleh meremehkan penyakit ini. Kegemukan hanya salah satu faktor risiko. Faktor lainnya yang tak boleh dilupakan adalah aktivitas sendi yang berlebihan. Faktor kedua ini sebetulnya masih punya kesamaan dengan kegemukan. Persamaanya terletak pada beban sendi.

Tekanan pada sendi bisa disebabkan oleh berat badan maupun oleh aktivitas yang berlebihan. Terutama aktivitas yang berhubungan dengan kerja sendi. Contohnya, mengangkat beban berat. Ini misalnya terjadi pada atlet atau mereka yang pekerjaannya mengangkat beban. Bisa juga terjadi pada mereka yang biasa naik turun gunung. Beban dari aktivitas inilah yang akan memberi tekanan pada tulang rawan sendi dan menyebabkannya mudah aus.

Tentu saja tidak semua jenis aktivitas bisa meningkatkan risiko osteoartritis. Hanya aktivitas yang memberi beban berat pada sendi. Olahraga biasa, misalnya main futsal, bulutangkis, joging, atau bersepeda, tidak masuk ke dalam kategori ini. Jadi, saran Zuljasri, kita tak perlu menghentikan kebiasaan olahraga hanya karena takut kena osteoartritis. Selain masalah kerja sendi, diabetes juga termasuk salah satu faktor yang meningkatkan risiko osteoartritis.

Faktor risiko lainnya adalah umur. Semakin tua seseorang, risiko terkena osteoartritis juga semakin besar. Karena itu penyakit ini biasanya dijumpai pada orang-orang di usia sekitar 50-an tahun. Ini merupakan faktor yang tidak bisa kita kendalikan. Berbeda dengan dua faktor pertama (kegemukan dan aktivitas) yang masih bisa dikendalikan. Berat badan yang berlebihan bisa diturunkan, aktivitas yang kelewat berat bisa dikurangi. Tapi umur, siapa yang bisa melawan?

Selain umur, ada faktor risiko lain yang juga tidak bisa dikendalikan yaitu jenis kelamin. Ini memang kabar tidak menyenangkan buat kaum perempuan. Jenis kelamin ini punya kemungkinan lebih besar terkena osteoartritis daripada laki-laki. Belum diketahui dengan jelas kenapa demikian, tapi diduga karena faktor hormon estrogen, yang memegang peranan penting di tubuh kaum Hawa.

Meski banyak menyerang orang berusia baya, bukan berarti orang muda tak mungkin kena osteoartritis. Bisa saja. Kata Zuljasri, ini terutama untuk kategori osteoartritis sekunder. Istilah sekunder ini untuk membedakan dengan osteoartritis primer yang penyebabnya tidak diketahui dengan jelas. Osteoartritis yang timbul karena proses degenerasi sendi akibat proses penuaan termasuk kategori primer.

Osteoartritis sekunder bisa terjadi pada orang yang lututnya pernah mengalami trauma, misalnya karena kecelakaan. Juga terjadi terutama pada mereka yang punya faktor risiko berupa kelainan fisik bawaan. Misalnya, kelainan bentuk tungkai kaki (tidak lurus, tapi berbetuk O atau X), otot kuadrisep (yang di paha) tidak kuat, atau kelainan hemofilia (kesulitan pembekuan darah).

Khusus untuk osteoartritis sekunder ini, Zuljasri mengaku tak jarang menjumpai pasien yang masih muda. Bahkan yang usianya di bawah 20 tahun pun ada.

<b>Bisa dicegah dan dihambat</b>

Hingga sekarang penyakit ini belum ada obatnya. Sekali seseorang terkena osteoartritis, ia harus menjalani perawatan seumur hidup. Terapi yang ada sebatas membuat kualitas hidup pasien menajdi lebih baik, misalnya dengan mengatasi nyeri. Yang semula sulit berjalan, dibuat bisa berjalan kembali.

Pengobatan osteoartritis meliputi tiga aspek, yaitu nonfarmakologis (tidak pakai obat), farmakolgis, dan tindakan operatif. Terapi nonfarmakologis misalnya dengan edukasi, menurunkan berat badan dan menghindari aktivitas sendi yang berat. Juga lewat fisioterapi, misalnya dengan pemanasan, alat bantu atau latihan khusus.

Terapi farmakologis meliputi pemberian obat antinyeri atau penyuntikan <i>viscosupplement</i>. <i>Viscosupplement</i> ini berpa cairan yang disuntikkan ke dalam sendi, berfungsi sebagai pelumas sekaligus <i>shock absorber</i>. Obat lain yang juga sering dipakai dalam terapi osteoartritis adalah glukosamin dan kondroitin sulfat. Keduanya diharapkan dapat memperbaiki rawan sendi.

Terapi farmakologis dan non-farmakologis ini dilaksanakan bersama-sama. Paling akhir, terapi operatif. Ini dilakukan terutama jika rawan sendi sudah terkikis habis. Kadang-kadang juga dilakukan untuk mengoreksi faktor risiko, misalnya pada individu dengan kaki O.

Pemilihan terapi untuk satu pasien sangat mungkin berbeda dari pasien lainnya. Tergantung penyebabnya. Namun, meskipun terapinya berbeda, ada beberapa tata laksana osteoartritis yang sama untuk semua penderita. Intinya, semua faktor risiko harus dikendalikan.

Beberapa faktor risiko osteoartritis memang tidak bisa dikendalikan, seperti umur dan jenis kelamin. Tapi sebagian faktor lainnya bisa dikendalikan, misalnya kegemukan, aktivitas berlebihan, dan diabetes. Jika faktor-faktor ini dikendalikan, kita bisa meminimalkan risikonya. Baik risiko munculnya maupun risiko progresivitasnya  (perkembangannya), jika sudah kena.

Zuljasri menegaskan bahwa penurunan berat badan, meskipun tampak sepele, sangat besar pengaruhnya terhadap progresivitas osteoartritis. Ini tindakan yang sangat dianjurkan, baik sebelum mapun sesudah terserang osteoartritis.

Sebelum osteoartritis muncul, penurunan berat badan akan memperkecil kemungkinan menyerang. Kalaupun sudah telanjur kena osteoartritis, penurunan berat badan sekali lagi tetap punya arti penting karena bisa menghambat laju keparahan penyakit.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan sebesar 5 kg dapat menurunkan kejadian osteoartritis lutut sebesar 50 % pada wanita, terutama wanita yang kelebihan berat badannya dari berat badan ideal diatas 10 %.

Karena itu, sekali lagi, jangan terlalu gemuk!

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s