Tas Inovatif Buatan Arek Blitar

Penulis: M. Sholekhudin

Jika Anda suka berimajinasi dan mengutak-atik peralatan, mungkin Anda bisa mengikuti jejak Muhamad Rois Abidin. Mahasiswa semester terakhir jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini baru saja memenangi kontes Black Innovation Awards 2009 lewat dua karya kreatifnya sekaligus: Cankingz (tas durian kedap bau) dan BagCamp (tas kemah praktis).

Ide kreatif bisa datang di mana saja, kapan saja. Orang kreatif selalu menyiapkan pikirannya untuk mengubah apa saja yang ia alami menjadi sebuah ide. Itu pula yang dilakukan oleh Rois.

Saat terdaftar sebagai mahasiswa baru di Unesa, ia harus mengikuti Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), yang waktu itu dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Di sana para peserta tidur di dalam tenda yang, kata Rois, mirip barak pengungsian.

Suatu malam, dia tidak kebagian tempat tidur di dalam tenda. Kondisi di dalam tenda berantakan dan semrawut. Para peserta tidur berjejal, berimpitan di dalam tenda. Bau tak sedap yang berasal dari kaus kaki dan baju-baju kotor memenuhi seluruh tenda. Akhirnya Rois memutuskan untuk tidur di luar tenda dengan menggunakan tasnya sebagai bantal. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa suhu di luar tenda ternyata sangat dingin sampai membuatnya menggigil. “Seperti tidur di dalam kulkas,” katanya.

Karena kedinginan, malam itu ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Di saat matanya terjaga dan badannya menggigil, imajinasinya pun ikut terbangun. Ia membayangkan seandainya ia membawa tenda sendiri, tentu ia bisa tidur dengan nyaman. Alangkah seandainya ia punya tas praktis yang sekaligus bisa berfungsi sebagai tenda, yang bobotnya ringan sehingga bisa ia bawa dengan mudah. Semua masih andai-andai.

Tak mau hanya berangan-angan, Rois kemudian mengambil kertas dan mulai mencoret-coret, membuat sketsa tas yang bisa sekaligus berfungsi sebagai tenda. Malam itu juga ia berhasil menyelesaikan rancangan gambar alat yang baru ada di angan-angannya. Saat itu, ia hanya membuat rancangan alat, sama sekali belum berpikir untuk mengikutkan rancangan alat itu untuk lomba apa pun.

Tahun 2008, ia mendengar adanya kontes Djarum Black Innovation Awards (BIA 2008). Tapi ia terlambat mengetahuinya. Kontes itu rupanya sudah berakhir sebelum ia sempat ikut ambil bagian. Ia lalu mencari informasi tentang karya-karya yang menang. Tidak berhenti sampai di situ, ia pun berkenalan dan berguru pada para pemenang BIA 2008, antara lain dengan Ana Ningsih (pencipta kloset duduk sekaligus kloset jongkok), dan Irvan Hermawan (pencipta Shotore, pelindung sepatu skate).

Setelah memperoleh cukup informasi, mahasiswa yang senang mengikuti aneka lomba kreativitas ini mantap untuk mengikutsertakan rancangan karyanya dalam BIA tahun berikutnya. Skesta tas-tenda ia sempurnakan. Dari informasi yang ia kumpulkan, ia yakin produk seperti itu belum ada di pasaran sehingga layak dikutsertakan dalam lomba.

Ia pun mematangkan rancangan dengan mengumpulkan aneka informasi seputar tas, tenda, bahan-bahan yang digunakan, serta berbagai detail mengenai kedua alat ini. Dengan bantuan program komputer CorelDraw, ia membuat rancangan awal alat ini. Lalu bersama, Mukafi, seorang kawannya, ia menyempurnakan rancangan ini menjadi bentuk tiga dimensi menggunakan program 3D MAX.

Rancangan ini ia beri nama Bagcamp, dari kata “bag” yang berati tas dan “camp” yang berarti kemah. Rancangan inilah yang ia ikut sertakan di BIA 2009 dan menjadi juara. Bagcamp berupa tas kompak yang didalamnya terdapat tenda, menyatu dengan tas. Tenda ini bisa dilepas, dicuci, dan diganti dengan tenda warna lain. Bobotnya relatif lebih ringan dibandingkan bobot total tas dan tenda yang terpisah. Cocok digunakan untuk kegiatan luar-ruang karena tidak begitu membebani orang yang membawa.

Tas Kedap Bau
Yang hebat, di ajang BIA 2009 ini Rois memboyong sekaligus dua medali juara. Satunya lagi lewat karyanya yang lain, yaitu tas kedap bau untuk membawa durian. Dengan tas ini, masalah klasik bau durian yang menyengat itu bisa diatasi. Lewat kedua karya kreatif ini Rois berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp 50 juta. Jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran mahasiswa.

Ide tas durian ini muncul saat Rois berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya di Surabaya. Ia melihat banyak penjual buah durian berjajar di jalan. Pembelinya pun banyak sekali. Semua pembeli itu membawa durian dengan cara yang sama, yaitu diikat dengan tali rafia. Tak peduli pembeli itu naik sepeda motor, naik angkutan umum, ataupun naik mobil mewah. Cara kuno membawa durian ini melahirkan ide di otaknya yang kreatif untuk membuat tas kedap udara. Jika hanya diikat dengan tali rafia, bau dirian yang sangat menyengat itu bisa menimbulkan masalah.

“Saya ingin mengangkat citra durian sebagai The King of Fruit untuk memperkenalkan durian ke berbagai pelosok negeri dan bahkan mancanegara,” kata arek Blitar yang telah mengikuti 64 sayembara, banyak di antaranya menajdi juara ini. Karena gelar “king” itulah, ia sengaja membuat rancangan tas yang istimewa, elegan, dan bisa diterima oleh penikmat durian dari kelas menengah ke atas, termasuk penikmat durian mancanegara.

Alat rancangannya ini ia beri nama unik Cankingz, dari kata dalam bahasa Jawa “cangking” yang artinya menjinjing alias membawa dengan mudah tanpa beban. Tas ini punya ruang yang kedap udara sehingga bau durian tidak akan lolos. Karena masalah bau bisa diatasi, tas ini bisa digunakan untuk membawa durian di pesawat terbang sekalipun. Rois berharap tas rancangannya ini bisa meningkatkan minat wisatawan mancanegara untuk menjadikan buah durian sebagai oleh-oleh ke negera asal mereka.

Dengan lapisan luar yang keras, tas ini juga menghilangkan kemungkinan kulit durian melukai orang yang membawanya. Dengan bentuk yang modis dan cantik, Cankingz dilengkapi pula dengan radio, pemutar MP3, dan monitor kecil untuk memantau suhu di dalamnya. Jadi, saat tidak dipakai membawa durian, alat ini bisa berfungsi sebagai sarana hiburan dan informasi. Bagian “cangkingan”-nya nyaman untuk dipegang dan tidak menyebabkan capek di tangan. Bentuknya bulat namun alasanya dibuat rata sehingga tas ini bisa diletakkan dalam posisi berdiri.

Hingga sekarang Cankingz dan BagCamp masih dalam prototipe, belum diproduks
i secara massal. Rois mengaku masih ingin menyempurnakan rancangan kedua alat kreasinya. Prototipe skala 1:1 sudah dibuat oleh RuRu (Studio Ruang Rupa) Jakarta. Prototipe alat inilah yang digunakan untuk demonstrasi produk dalam acara roadshow BIA. Rois juga berharap suatu saat ia bisa bekerja sama dengan produsen skala industri untuk membuat alat rancangannya ini dalam skala massal sehingga idenya bisa bermanfaat nyata, tidak hanya di lembar kerja CorelDraw dan 3D MAX.

Advertisements

3 thoughts on “Tas Inovatif Buatan Arek Blitar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s