Sekolah Gratis di Teras Rumah



Penulis: M. Sholekhudin

Di saat sistem pendidikan murah masih dirancang dan diujicobakan, Ade Pujiati, seorang guru piano di Jakarta Selatan, telah membuktikan bahwa pendidikan gratis bukan utopia. Di teras dan ruang makan rumah keluarganya, ia membuat SMP gratis untuk siswa dari keluarga miskin. Tak tanggung-tanggung, sebagian gurunya doktor dan master lulusan Eropa. Sistem pendidikannya tak kalah dari SMP Negeri.

—-

Sekolah ini benar-benar gratis tis. Tidak “gratis tapi bayar” seperti yang banyak dikampanyekan sejak tahun 2005. Sejak maraknya iklan sekolah gratis itu, Ade merasa bahwa biaya pendidikan malah menjadi lebih mahal dari sebelumnya. Saat itu ia menyekolahkan beberapa anak asuh dari keluarga tak mampu di beberapa SMP. Orangtua anak-anak itu sebagian adalah pemulung, tukang sampah, tukang jamu, pengamen, dan golongan fakir miskin lain. Sebagian anak yatim.

Tahun 2005 sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dihapus. Namun, sebagai gantinya anak-anak siswa harus membayar ini-itu. Ironisnya, jumlah total iuran ini-itu tersebut malah lebih besar daripada total biaya sekolah sebelumnya. “Mendingan ada SPP,” kata Ade.

Ia sempat protes ke pihak sekolah. Tapi tindakannya itu malah membuat anak-anak asuhnya merasa terintimidasi di sekolah. Para orangtua anak-anak itu malah meminta Ade tidak usah protes karena anak-anak itu menjadi takut bersekolah. Akhirnya Ade memang memilih untuk tidak protes lagi. Sebagai gantinya ia melakukan sesuatu yang jauh lebih hebat dari protes: mendirikan SMP sendiri di tahun 2007.

Ini adalah sebuah langkah yang berani mengingat Ade “hanya” seorang guru piano yang cuma sempat kuliah (tidak sampai lulus) di Program Studi Sastra Inggris Uinversitas Indonesia. Ia tidak punya pengalaman merancang sistem pendidikan setingkat SMP. Tapi keberaniannya membuat halangan itu bukan persoalan besar. Dengan mempertimbangakn sumber daya yang ia miliki, ia memilih mendirikan SMP Terbuka berbasis Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM). Sekolah ini menginduk pada SMP 67 Jakarta. “Dengan mendirikan sekolah sendiri, ada lebih banyak anak miskin yang bisa ditolong,” katanya.

Sekolah Anak Miskin dan Bodoh

Murid-murid angkatan pertama berasal dari anak-anak keluarga miskin yang sudah biasa menjadi anak asuhnya. Kegiatan belajar mengajar dilakukan di teras rumah dan ruang makan menggunakan kursi lipat. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menjadi guru relawan (biasa disebut guru pamong) yang mengajar tanpa dibayar. Anak-anak itu dibebaskan dari semua jenis sumbangan pendidikan. Semua biaya ditanggung oleh keluarga Ade dan beberapa donatur dari kerabat, kawan dekat, termasuk guru pamong.

Bukan hanya gratis, setiap siswa juga memperoleh dua setel seragam sekolah, seragam olahraga, seragam batik, sepatu, jaminan kesehatan, buku tulis, alat gambar, alat praktikum, dan hampir semua kebutuhan belajar lainnya. Semua murid SMP Terbuka Ibu Petiwi ini adalah “siswa buangan”. Mereka tidak bisa bersekolah di SMP Negeri karena nilai ujian nasional (NEM) yang sangat rendah. Mereka juga tidak bisa masuk SMP swasta karena tak sanggup membayar biaya sekolah. Dalam tradisi orang-orang miskin ini, biasanya mereka cukup bersekolah sampai lulus SD. Bersekolah di SMP bukan prioritas dalam hidup mereka. Secara lugas Ade menyebut, “Ini memang sekolah untuk anak-anak miskin dan bodoh.”

Untuk membuat anak-anak itu tetap bersekolah, Ade menerapkan aturan yang sangat ketat. Jika seorang murid membolos, maka ia didenda Rp 5.000,-/hari. Sekalipun mereka bilang tidak punya uang, aturan tetap ditegakkan. Mereka harus menandatangani surat utang untuk kemudian dilunasi dengan cara dicicil. “Ini untuk melatih mereka disiplin. Jangan mau enaknya saja, semuanya ‘kan sudah gratis,” kata Ade.

Angkatan pertama di kelas 7 (kelas 1 SMP) berjumlah 27 orang. Karena minimnya pengawasan orangtua, anak-anak ini gampang bolos hanya karena tergoda ikut kawan-kawan mereka bermain bola atau berenang di sungai. Sekalipun mereka dibebaskan dari semua biaya, perlahan-lahan satu demi satu anak-anak itu berhenti sekolah. “Motivasi mereka itu rendahnya minta ampun,” kata Ade. Ini merupakan masalah klasik pendidikan masyarakat kelas bawah. Yang lebih parah lagi, orangtua mereka yang juga tidak terdidik malah sering mengondisikan anak mereka malas bersekolah.

Di SMP ini, murid dan orangtunya sama-sama bermasalah. Di sinilah justru terlihat pentingnya SMP Terbuka ini. Biasanya golongan masyarakat ini kurang tersentuh oleh dunia pendidikan padahal merekalah orang yang paling perlu mendapat pendidikan. Kata Ade, “penyakit mental” mereka banyak sekali, terutama malas kronis dan hidup tidak berdasarkan skala prioritas.

Mereka tidak mampu menyekolahkan anak, tapi pada saat yang sama mereka sangat boros, misalnya dalam urusan belanja ponsel berikut pulsanya. Mereka tidak sanggup membayar SPP anak mereka tapi belanja rokok untuk sebulan mencapai beberapa ratus ribu rupiah. Untuk mendidik mereka secara tidak langsung, SMP Gratis Ibu Pertiwi menerapkan aturan tegas: siswa yang orangtuanya merokok harus membayar SPP Rp 1.000,-/hari. Aturan ini dibuat bukan untuk memaksa murid membayar, tapi lebih merupakan “paksaan halus” agar orangtua murid menempatkan kebutuhan terhadap pendidikan anak di atas kebutuhan terhadap rokok. Siswa yang ketahuan merokok, di mana pun, hari itu juga akan dikeluarkan dari sekolah. Tidak ada ampun.

Bukan hanya siswa yang dituntut disiplin. Guru pamong dituntut lebih disiplin lagi. Sekalipun mengajar tanpa gaji, mereka harus menandatangani kontrak yang menyatakan bahwa mereka harus mengajar secara profesional seperti guru SMP reguler. Tidak boleh membolos tanpa alasan yang kuat. SMP ini sengaja menerapkan aturan disiplin yang sangat ketat karena memang hanya dengan cara itu siswa mau bersekolah dengan benar.

Guru Bekerja Keras

Karena keterbatasan tempat, seleksi murid dilakukan dengan cara survei langsung ke rumah orangtua. Bukan berdasarkan nilai ujian nasional, tapi berdasarkan tingkat ekonominya. “Kami hanya menerima siswa dari keluarga yang memang benar-benar miskin,” kata Ade.

Mendidik anak-anak yang kurang cerdas dari keluarga miskin bukanlah pekerjaan gampang. Selain motivasi yang rendah, rata-rata tingkat kecerdasan (IQ) mereka pas-pasan. Ini menyebabkan para guru pamong harus bekerja ekstra keras di kelas. Secara kocak, Ade menuturkan pengalaman di bulan pertama anak-anak itu masuk sekolah. Ketika mereka ditanya ibu kota Indonesia, sebagian murid menjawab: Ibu kita Kartini. Sebagian yang lain menjawab: Ibu Pertiwi, Megawati, Gus Dur, Habibi, dan nama-nama lain yang membuat Ade tertawa sekaligus prihatin. Banyak di antara mereka masih belum paham operasi perkalian, bahkan penambahan. “Mereka itu lulusan SD Negeri lo,” kata Ade.

Di awal masuk sekolah, mereka semua menjalani tes IQ. Hasil tes ini menjadi pedoman bagi para guru agar menyesuaikan pola pengajaran dengan tingkat kecerdasan mereka. Para guru pamong, tiga di antaranya lulusan S2 dan S3 di Eropa, merancang metode active learning yang cukup efektif buat murid-murid SMP tapi berpengetahuan SD itu.

Setiap anak diobservasi secara individual oleh psikolog pamong. Guru tak segan datang langsung ke rumah keluarga murid. Observasi ini ternyata mengungkap sebuah fakta menarik. Ternyata banyak an
ak kelihatan bebal di kelas tapi sebetulnya ia cukup pintar. Masalah utama mereka rupanya terletak di dalam keluarga. Mungkin karena mengalami kekerasan rumah tangga atau sebab lain yang tidak berkaitan dengan IQ. Ini terbukti, setelah hambatan di keluarga ini diatasi, mereka mengalami kemajuan belajar dengan cepat.

Di tahun ajaran pertama itu, para guru pamong bekerja keras mengajari pelajaran-pelajaran SD yang tidak mereka kuasai. Pada beberapa mata pelajaram, jam belajar dibuat dua kali lipat dibanding di SMP kebanyakan. Di luar kelas reguler, mereka diwajibkan mengikuti bimbingan belajar yang juga gratis. Tiap Sabtu-Minggu mereka diharuskan membuat catatan harian tentang apa saja yang mereka lakukan di akhir pekan. Anak-anak khusus ini dididik dengan cara yang juga khusus. Dengan pembelajaran ekstra itu, lambat laun mereka bisa mengejar ketertinggalan sampai akhirnya mereka bisa setara dengan siswa-siswa SMP Negeri kebanyakan.

Diajari Wirausaha

Selain mendapat pelajaran SMP reguler, murid-murid itu juga memperoleh pelajaran tambahan, yakni wirausaha. Secara berkala sekolah mendatangkan guru keterampilan untuk mengajari mereka membuat kerajinan tangan, membat telur asin, dan sebagainya. Pihak sekolah juga menyediakan modal sehingga mereka bisa langsung praktik di luar kegiatan belajar.

Kegiatan ektrakurikuler ini cukup berhasil, termasuk mengalihkan mereka dari kegiatan sebelumnya. Di luar jam sekolah, anak-anak ini biasanya membantu orangtuanya bekerja. Beberapa di antaranya memulung di malam hari. Setelah punya keterampilan membuat kerajinan tangan dan telur asin, mereka berhenti memulung. Di sekolah, mereka juga diajari menabung setiap hari. Sebagian hasil tabungan itu bahkan bisa digunakan untuk menyumbang TKBM lain. “Sedekah itu bukan hak orang kaya saja. Orang miskin juga bisa bersedekah,” ujar Ade.

Memberantas Korupsi

Di tahun pertama berdiri, SMP Terbuka Ibu Pertiwi memerlukan dana sebesar Rp 8 juta tiap bulan. Kini, setelah tiga tahun berjalan, dengan 37 murid, kebutuhan per bulan menjadi Rp 14 juta. Di tahun pertama, semua biaya ditanggung oleh keluarga Ade dan donatur. Memasuki tahun kedua, SMP Terbuka ini memperoleh bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari Departemen Pendidikan Nasional lewat SMP induknya, yaitu SMP 67 Jakarta. Di tahun ketiga, SMP ini juga memperoleh bantuan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dana BOS sebesar Rp 47.000 per siswa per bulan. Sementara dana BOP Rp 110.000,- per siswa per bulan.

Kedua bantuan pemerintah ini menyumbang sepertiga dari keseluruhan biaya operasional tiap bulan. Yang dua pertiga tetap ditanggung oleh keluarga Ade dan donatur. Ade mengaku, setelah menerima bantuan itu ia baru tahu bahwa anak-anak miskin itu punya hak dari pemerintah dalam bentuk bantuan pendidikan.

Rupanya bantuan pemerintah tahun 2008 dan 2009 ini mengungkap fakta baru yang membuat Ade makin sibuk dengan urusan pendidikan. Sebagai Ketua Forum TKBM se-DKI Jakarta, Ade mendapat laporan dari para pengelola SMP Terbuka bahwa mereka selama dua tahun itu tidak mendapatkan bantuan BOS dan BOP. SMP Terbuka Ibu Pertiwi adalah satu-satunya dari delapan TKBM SMP Terbuka di Jakarta yang memperoleh BOS dan BOP secara utuh lewat SMP induknya. Ade mengaku, seandainya SMP Terbuka Ibu Pertiwi tidak menerima BOS dan BOP dari sekolah induknya, mungkin ia tak pernah mengetahui adanya indikasi korupsi itu.

Merasa menemukan kejanggalan itu, ia meminta bantuan Indonesia Corruption Watch (ICW). Dengan bantuan ICW, Ade bersama para pengelola TKBM SMP Terbuka mengumpulkan bukti. Dengan perhitungan rinci, mereka menemukan adanya indikasi korupsi dana BOS dan BOP sebesar 1,2 miliar. Setelah menemukan bukti kuat, mereka mengadukan perkara ini ke DPRD DKI Jakarta. Tapi hasilnya dirasa kurang memuaskan.

Tak berhenti, mereka kemudian membawa masalah ini ke Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Lagi-lagi hasilnya masih tidak memuaskan mereka. Tak putus asa, mereka membawa masalah ini ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Saat ini mereka sedang menunggu proses pengumpulan data dan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK.

Tekad mereka jelas, mengembalikan hak yang mestinya diterima anak-anak miskin itu. Ini adalah sebuah ironi. Ketika sebagian anggota masyarakat secara swadaya berinisiatif membuat sekolah untuk anak-anak miskin, sebagian oknum aparat negara malah mengorupsi hak anak-anak duafa itu. “Orang-orang miskin itu kan enggak ngerti hak mereka,” katanya. Sudah bodoh dan miskin, masih dizalimi pula. Kok tega-teganya.

Advertisements

2 thoughts on “Sekolah Gratis di Teras Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s