TIPS SEHAT: Detoksifikasi

Mengeluarkan Racun dari Tubuh

Setiap hari, mungkin tanpa kita sadari, tubuh kita terpapar dengan berbagai jenis racun (toksin). Bisa dari makanan, minuman, maupun udara yang kita hirup.

Contoh toksin:

  • Residu pestisida dari sayuran dan buah dari pertanian yang tidak baik.
  • Residu hormon atau antibiotik dari daging ayam dari peternakan yang tidak baik.
  • Bahan pengawet, pewarna, pemanis buatan, dsb, misalnya dari tahu, bakso, sirup, dll yang diproduksi denga cara tidak baik.
  • Toksin bakteri atau jamur yang mengontaminasi makanan atau minuman.
  • Logam berat, misalnya dari kerang-kerangan yang berasal dari laut dangkal yang tercemar.
  • Racun tembakau dari asap rokok, baik asap rokok yang kita isap secara aktif maupun yang terisap secara pasif.
  • Obat-obatan yang kita minum.
  • Polutan udara yang kita hirup di jalanan, misalnya dari asap knalpot.
  • Lemak trans dari makanan atau kue kecil buatan pabrik yang kita makan sebagai cemilan.
  • Dan masih banyak lagi.

 

Efek toksin ini tentu bermacam-macam, tergantung jenisnya. Efeknya bisa seketika, bisa juga terjadi pelan-pelan dalam jangka panjang. Efek seketika misalnya berupa gejala sakit kepala. Efek jangka panjang misalnya kerusakan ginjal hingga kanker. Pestisida, pengawet tekstil, dan logam berat, misalnya. Dalam jangka panjang, toksin golongan ini bisa berakibat kanker. Efek ini terjadi secara pelan-pelan, butuh waktu bertahun-tahun.

Secara alami, sebetulnya tubuh kita punya mekanisme detoksifikasi, membuang racun dari dalam tubuh. Misalnya, lewat mekanisme berkeringat, buang air kecil, buang air besar, hingga muntah dan batuk. Ini semua respons alami tubuh.

Sama seperti asupan gizi dari makanan atau minuman, detoksifikasi juga dibutuhkan oleh tubuh kita. Analoginya, dapur saja perlu dibersihkan, apalagi tubuh kita yang setiap hari dimasuki makanan.

Mekanisme detoksifikasi alami di atas bisa kita pacu agar lebih aktif secara alami. Misalnya, agar berkeringat, kita bisa berolahraga. Agar racun bisa terdetoksifikasi lewat urine, kita bisa memperbanyak minum air putih. Agar toksin terdetoksifikasi lewat usus, kita bisa memperbanyak makan makanan yang kaya serat sehingga isi usus terdorong keluar.

Sebetulnya mekanisme alami ini saja sudah cukup efektif untuk membuang racun dari tubuh. Namun, dalam praktik sehari-hari, kita sulit sekali menghindari sumber-sumber toksin dari makanan dan lingkungan. Kita tentu tidak bisa seratus persen makan makanan organik, menghindari polusi, tidak makan daging ayam dari pasar, dsb. Itu sebabnya kita masih butuh detoksifikasi yang dirangsang.

  • Puasa

Salah satu metode detoksifikasi cara alami yang terbukti aman dan efektif adalah berpuasa. Puasa detoks ini boleh dilakukan bersamaan dengan puasa ritus, misalnya di bulan Ramadan. Kalau kita mengikuti cara puasa yang benar, ritus ini sebetulnya cukup efektif untuk tujuan detoksifikasi. “Puasa yang benar” dalam pengertian benar-benar mengurangi makanan, bukan sekadar memindah jam makan, apalagi menambah jumlah makanan, seperti yang lazim dipraktikkan di bulan Ramadan.

Bagaimana kita tahu detoks lewat puasa berhasil atau tidak? Kita bisa melihat dari penurunan berat badan atau penurunan trigliserida (lemak darah) setelah berpuasa. Puasa yang benar akan ditandai dengan efek penurunan berat badan dan trigliserida. Jika keduanya turun, berarti terjadi detoksifikasi. Dalam jangka lama, puasa bisa membakar timbunan lemak di dalam tubuh. Otomatis bahan-bahan toksin yang larut lemak juga bisa ikut terbuang.

Yang tidak menjalankan puasa sebagai ritus pun tetap bisa saja melakukannya dengan cara yang berbeda. Misalnya, tidak dilakukan selama sebulan penuh, melainkan, misalnya, beberapa hari setiap bulan. Puasa bisa melatih tubuh memanfaatkan energi secara efisien. Jadi, dengan makan sedikit, kita sudah berenergi. Selain bermanfaat secara fisik, puasa juga bermanfaat secara mental, bahkan spiritual, terutama jika dilakukan sebagai ritus.

  • Diet sayur dan buah saja

Selain berpuasa, cara detoks alami lainnya adalah berpantang makanan. Misalnya tiap minggu kita menjadwalkan satu atau dua hari di mana kita di hari itu hanya mengonsumsi buah-buahan, sayur, dan air putih. Kenapa buah dan sayur?

Pertama, setiap hari tubuh kita, bagaimanapun, tetap memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi. Kalaupun kita berpuasa atau berpantang, sebaiknya setiap hari tetap ada karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh sebagai sumber energi. Buah mengandung gula. Gula ini bisa menjadi sumber energi pengganti nasi. Jadi, walapun kita berpantang nasi, kita tetap mengonsumsi karbohidrat. Tak perlu takut pingsan. Jika gula dari buah tidak cukup, tubuh akan memecah cadangan glikogen di dalam hati dan timbunan sel lemak di bawah kulit.

Kedua, buah dan sayuran banyak mengandung antioksidan, termasuk vitamin-vitamin. Di dalam tubuh, antioksidan akan menetralkan toksin dalam bentuk radikal bebas yang menjadi biang penuaan dan kanker.

Ketiga, buah dan sayur banyak mengandung serat, baik serat larut air maupun yang tak larut air. Di dalam usus, serat ini akan mendorong sisa-sisa makanan keluar. Otomatis juga akan membuang toksin yang ada di dalam usus.

Lalu kenapa air? Air akan membantu tubuh mengeluarkan toksin lewat urine, keringat, dan feses. Air akan menjaga kita agar tidak mengalami dehidrasi. Jadi, sekalipun kita berpuasa atau berpantang makanan, kita tidak menjadi lemas. “Under-nutrition” tapi bukan malnutrisi.

  • Detoks plus relaksasi

Detoks lewat pembatasan makanan akan menjadi lebih efktif kalau digabungkan dengan detoks-relaksasi, seperti spa, pijat, refleksi, dsb. Bukan olahraga yang berat. Sebab, pada saat puasa atau berpantang makanan, kita kekurangan kalori. Olahraga, apalagi yang berat, mungkin berisiko pada saat semacam itu. Relaksasi akan membuat sistem metabolisme tubuh menjadi lebih aktif tanpa banyak mengeluarkan energi.

Bagaimana dengan cara detoks alternatif seperti cuci usus, suntik obat-obat tertentu, dan sejenisnya? Secara umum, metode-metode alternatif semacam ini tidak seaman berpuasa atau diet sayur dan buah saja. Banyak dokter tidak merekomendasikannya karena dianggap tidak alami. Jadi, kalau Anda berminat menjalani model detoks semacam ini, pastikan Anda mempelajarinya lebih detail agar terhindar dari risiko buruknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s