TIPS SEHAT: Jauhkan Racun dari Dapur

Jauhkan Racun dari Dapur

Dapur adalah salah satu bagian rumah yang paling banyak menghasilkan sampah dan racun. Tak percaya? Mari kita tengok satu-satu.

–       Kompor gas.

Kandungan utama gas elpiji adalah propana dan butana. Keduanya golongan gas yang sangat mudah terbakar. Butana dan propana sebetulnya tidak berbau. Agar tabung bocor mudah dideteksi, kedua gas ini ditambah merkaptan yang berbau menyengat. Bau merkaptan inilah yang kita cium saat tabung elpiji bocor.

Begitu keluar dari sumbu kompor, kedua gas ini terbakar, bereaksi dengan oksigen. Hasil utama dari reaksi ini adalah karbon dioksida (CO2). Sama dengan hasil dari pernapasan paru-paru kita. Namun, jika tidak terjadi berlangsung dengan sempurna, pembakaran ini juga akan menghasilkan gas beracun karbon monoksida (CO). Ini merupakan gas racun yang harus kita hindari. Dalam konsentrasi tinggi, gas ini akan membuat kita lemas.

Bagaimana kita tahu pembakaran terjadi sempurna atau tidak? Butana, propana, karbon dioksida, maupun karbon monoksida termasuk gas yang tidak berbau. Kita tidak bisa mendeteksinya dari bau. Salah satu ciri pembakaran elpiji yang tidak sempurna adalah warna nyalanya tidak biru tapi merah-kuning.

Itu sebabnya, agar terhindar dari racun gas, rajin bersihkan tungku tempat gas keluar dan dibakar agar nyala api selalu biru. Yang tak kalah penting, pastikan dapur memiliki sistem ventilasi yang baik. Pastikan udara di dapur bisa bertukar dengan udara luar saat kita memasak. Gas karbon dioksida yang bukan termasuk racun bisa bisa berbahaya kalau jumlahnya terlalu banyak di dapur karena akan mengurangi jatah oksigen yang kita hirup.

–       Kulkas.

Ini merupakan perabot dapur yang paling banyak menyimpan kotoran dan kuman. Suhu kulkas dan freezer yang dingin bisa membuat bakteri sulit berkembang biak. Itu sebabnya makanan yang kita masukkan ke dalamnya bisa lebih tahan lama karena tidak cepat diuraikan oleh bakteri. Jika begitu, kenapa kulkas disebut sebagai sarang kuman?

Di dalam kulkas, bakteri memang sulit berkembang biak. Tapi bukan berarti kuman-kuman ini mati. Bakteri dan jamur bisa bertahan hidup di dalam kulkas. Mereka tidak mati tapi menunggu waktu dan lingkungan yang tepat untuk berkembang.

Kita punya kebiasaan memasukkan begitu saja makanan dan sayuran ke dalam kulkas. Jika makanan ini mengandung bakteri, artinya kita menyimpan bakteri di dalam kulkas. Itu sebabnya agar terhindar dari bahaya kuman ini, kulkas harus rajin dibersihkan, tak perlu menunggu sampai bau atau lapisan esnya tebal. Jika hendak menyimpan makanan mentah, misalnya ikan atau daging ayam, cuci dulu lalu masukkan wadah kedap, baru masukkan ke dalam kulkas.

–       Bak cuci.

Bak cuci merupakan salah satu tempat paling kotor di dapur. Ini wajar karena fungsinya memang sebagai tempat membersihkan kotoran. Kotoran isi perut ikan, jerohan ayam, makanan basi, sisa sayuran, dan sebagainya adalah makanan lezat bagi bakteri dan jamur.

Itu sebabnya, agar terhindar dari bahaya kuman, pastikan bak dalam keadaan selalu bersih setiap kali habis digunakan. Rajin-rajin bersihkan bak cuci piring untuk membersihkan kotoran yang menempel. Selain di permukaan bak cuci, kuman juga senang bersarang di dalam busa (spons) yang basah. Agar kuman tak mudah berkembang biak, sebagai pengganti spons, pilihlah materi yang tidak mudah menyerap dan menyimpan air.

Selesai menggunakan alat dapur, segera cuci, tidak perlu menunggu sampai kotoran mengerak karena hal itu akan membuat kotoran dan kuman menjadi lebih sulit dibersihkan.

–       Talenan, sendok kayu.

Pada umumnya talenan di dapur Indonesia terbuat dari bahan kayu atau plastik. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Talenan berbahan plastik kurang dianjurkan dipakai karena plastik mudah meneyerpih saat tergores pisau. Serpihan ini tentu saja akan ikut termakan karena ikut masuk ke dalam makanan.

Dalam urusan serpihan ini, talenan kayu lebih aman karena materi kayu bersifat organik. Sekalipun terbawa ke dalam makanan, serpihan kayu relatif tidak berbahaya. Namun, talenan kayu punya kekurangan. Kayu biasanya lebih sulit dbersihkan. Setelah dicuci pun, talenan ini tidak gampang kering. Padahal, kayu basah merupakan media tempat tumbuh bakteri dan jamur yang sangat baik. Hal yang sama juga terjadi pada sendok/spatula kayu.

Agar terhindar dari masalah ini, pastikan talenan atau sendok kayu selalu dibersihkan sehabis dipakai. Tak perlu menggunakan deterjen untuk membersihkannya sebab deterjen mungkin akan melekat di sela-sela serat kayu dan susah dibilas. Lebih baik bersihkan dengan air dan garam lalu keringkan. Usahakan alat dari kayu ini selalu bersih dan kering, lebih baik lagi jika dijemur di bawah sinar matahari. Penjemuran di bawah matahari merupakan cara sterilisasi alami yang efekti. Sebaiknya gunakan talenan yang berbeda untuk menyiapkan makanan yang siapk dikonsumsi dan menyiapkan makanan mentah.

–       Teflon. Peralatan masakn teflon memang sangat membantu kita. Selain meminimalkan penggunaan minyak goreng, teflon juga membuat peralatan memasak mudah dibersihkan. Namun, lapisan teflon diyakini tidak aman bagi kesehatan.

–       Dalam hal kesehatan, wajan stainless steel lebih sehat daripada teflon. Tingkat keamanan teflon bisa kita lihat dari perubahan yang terjadi pada lapisan teflon. Pada saat masih baru, lapisan teflon ini halus. Makin lama digunakan, lapisan teflon ini makin rusak akibat terkena gesekan logam. Ke mana serpihan teflon ini? Jelas ke dalam masakan dan masuk ke dalam tubuh kita. Jadi, kalau menggunakan teflon, sebaiknya gunakan spatula dari kayu yang tidak merusak lapisan teflon.

–       Peralatan dapur dari plastik. Sebisa mungkin hindari penggunaan alat dapur dari plastik. Bahan ini mudah rusak oleh panas, mudah larut dalam minyak, mudah menyerpih jika tergores oleh logam. Plastik mengandung bisfenol-A. Bisfenol A yang berbahaya bagi kesehatan.

Hindari penggunaan alat dapur dari melamin. Melamin dibuat dari formaldehida, salah satu bahan yang banyak digunakan untuk pengawet mayat. Materi terbaik untuk alat dapur adalah beling, gelas, keramik, dan stainless steel. Materi ini tidak mudah rusak, tidak menyerpih, tidak larut ke dalam minyak atau air panas. Alat berbahan besi tidak menimbulkan racun pada makanan. Tapi besi, terutama jika dipanaskan, bisa merusak kandungan vitamin dan antioksidan pada sayuran.

–       Deterjen. Bahan ini bisa kita gunakan untuk membersihkan kotoran. Tapi di sisi lain, bahan ini sebetulnya tidak cukup aman kalau tersisa di peralatan dan masuk ke dalam makanan kita. Karena itu, jika menggunakan bahan deterjen untuk membersihkan peralatan dapur, pastikan untuk membilasnya sampai bersih. Sebetulnya kita bisa saja menghindari pemakaian detergen dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di dapur, misalnya cuka, air jeruk nipis, soda kue, dan garam.

–       Sayuran. Jika sayuran ditanam tidak dengan cara organik, misalnya diberi pupuk kimia dan disemprot dengan pestisida, maka hampir mungkin residu ini masih tersisa saat kita membeli dan membawanya pulang. Agar terhindar dari bahaya residu, pastikan untuk mencucuinya sampai bersih dengan air mengalir.

  • Pestisida antiserangga. Dapur yang tidak bersih bisa menjadi sarang semut atau kecoa. Kadang kita menggunakan cara gampang menyemprotnya dengan antiserangga atau menggunakan kapur antisemut. Bagaimanapun, kapur dan semprotan antiserangga ini mengandung pestisida. Itu sebabnya, agar terhindar dari masalah ini, pastikan dapur selalu dalam keadaan bersih sehingga tidak menjadi sarang semut dan kecoa. Jika terpaksan menggunakan kapur semut atau semprotan antiserangga, gunakan seminimal mungkin.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s