TIPS SEHAT: Lebaran

Agar Tetap Sehat Saat Lebaran

Dilihat dari urusan pola makan, Ramadan dan Syawal (bulan Idul Fitri) merupakan dua bulan yang bertolak belakang. Ramadan adalah bulan puasa, menahan diri dari makan dan minum. Sebaliknya, Idul Fitri dalam tradisi Indonesia adalah “bulan pesta”. Aneka jenis masakan tampil di hari raya ini. Baik sebagai hidangan di meja makan di rumah, maupun sebagai suguhan saat kita bertamu ke sanak kerabat. Banyaknya jenis makanan ini bisa saja menjadi pemicu gangguan kesehatan.

Idul Fitri juga identik dengan hari mudik nasional. Karena sebagian besar orang mudik pada saat bersamaan, maka acara pulang kampung bisa menjadi penyebab kelelahan fisik dan mental. Kampung halaman yang biasanya cukup ditempuh dengan perjalanan beberapa jam bisa terasa menjadi sangat jauh karena jalanan macet hingga berkilo-kilo meter.

Kelelahan ini terutama harus kita waspadai jika kita sudah berangkat mudik pada saat berpuasa. Ketika kita dalam kondisi lelah, daya tahan tubuh kita otomatis akan menurun. Saat itulah kita menjadi mudah jatuh sakit. Penyebab yang remeh pun bisa membuat kita sakit.

Kalaupun kita tidak ikut mudik, kelelahan bisa saja terjadi, misalnya karena pembantu mudik dan kita harus mengerjakan semua urusan domestik sendiri. Karena pembantu tidak ada, kita harus mencuci, memasak, dan membersihkan rumah sendiri. Bagi orang perkotaan yang sudah terbiasa hidup dengan pembantu, ini adalah problem besar yang sangat menguras energi.

Kelelahan tidak hanya terjadi akibat urusan mudik, tapi juga bisa terjadi pada hari Lebaran. Saat Idul Fitri, sesuai tradisi, kita melakukan silaturahmi ke sanak saudara. Mungkin banyak di antaranya harus ditempuh dengan perjalanan beberapa jam. Ini pun bisa menjadi pemicu “penyakit lebaran”.

Semua hal di atas bisa sangat mempengaruhi kesehatan kita saat Lebaran tiba. Tidak ada aturan khusus menjaga kesehatan menjelang Lebaran. Aturan umum seperti makan bergizi seimbang, cukup beristirahat, berolahraga, dan sebagainya masih berlaku. Hanya saja, pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi kita yang masih harus berpuasa.

  • Jika harus mudik, lakukan persiapan mudik jauh-jauh hari. Ini akan menghemat energi kita menjelang dan saat mudik. Jika kita baru mempersiapkan segala sesuatu menjelang mudik, maka pada saat hari mudik, kita sudah mengalami kelelahan.
  • Siapkan obat-obat dan perlengkapan pertolongan pertama yang mungkin saja akan kita perlukan di jalan, seperti obat antimabuk, antidiare, multivitamin, obat salah cerna, balsem, minyak angin, dan sebagainya.
  • Jika kita menyandang penyakit tertentu, misalnya sakit mag, hipertensi, atau asma, jangan lupa persiapkan obat yang diperlukan. Menjelang mudik, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk memastikan bahwa kondisi kita layak untuk melakukan perjalan jauh.
  • Siapkan bekal makanan atau minuman yang cukup, misalnya cemilan berkalori dan air mineral. Pada saat mudik, kita akan banyak mengeluarkan kalori dan keringat tanpa kita sadari.
  • Menjelang mudik, beristirahatlah yang cukup. Tidak disarankan kita berangkat mudik setelah pulang kerja atau melakukan aktivitas yang melelahkan. Saat pulang kerja, kita sebetulnya dalam keadaan lelah. Tapi karena kita sudah lama menunggu tibanya waktu mudik, rasa lelah itu mungkin tidak kita rasakan. Akibatnya, kelelahan bisa terakumulasi setelah kita sampai di kampung halaman.
  • Pada hari kita melakukan perjalanan jauh, sebaiknya konsumsi makanan dan minuman yang banyak mengandung vitamin. Jika memang diperlukan, kita bisa minum suplemen multivitamin.
  • Pada saat mudik, jangan memaksakan diri di jalan, terutama jika kita mengendarai mobil. Jika memang sudah mengantuk, beristirahatlah. Saat hari mudik nasional, biasanya banyak posko mudik di jalan yang bisa kita manfaatkan secara gratis.
  • Jika kita tidak mudik pada hari Lebaran, bukan berarti urusannya menjadi lebih mudah. Hidup tanpa pembantu mungkin saja lebih melelahkan daripada mudik. Itu sebabnya, jika kita terpaksa ditinggal pembantu, lakukan persiapan jauh-jauh hari sebelum pembantu mudik. Jika memang memasak sendiri dirasa terlalu melelahkan, kita bisa makan di luar rumah. Namun, jangan lupa, pilihlah rumah makan yang higienis, yang menu-menunya seperti menu masakan rumahan, seperti sayur-sayuran. Secara umum, menu rumahan lebih aman dikonsumsi sering-sering sambil menunggu pembantu kembali dari kampung.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s