Bersepeda Keliling Dunia


Penulis: M. Sholekhudin

Siapa yang tak ingin berkeliling dunia? Mungkin kita semua menginginkannya. Tapi berapa banyak yang melakukannya? Kebanyakan dari kita hanya bermimpi. Rose dan Cyrille, pasangan dari Prancis, tak mau hanya bermimpi. Keduanya mewujudkan keinginan itu dengan modal sepeda.
—-

Rose Sanz dan Cyrille Pinardon hanya sepasang suami-istri pegawai kantor pos di Paris, Prancis. Telah lama mereka berdua merancang impian itu. Untuk mewujudkannya, mereka pun harus menabung. “Kami senang menonton acara televisi, melihat budaya berbagai negara. Tapi itu hanya lewat televisi. Kami ingin merasakannya sendiri,” kata Rose. Kehidupan di Paris bagi mereka sungguh monoton, hanya berputar-putar dari rumah, jalanan, kantor, begitu seterusnya. Di bulan Maret 2009, mereka berdua memutuskan mengambil cuti dari tempat kerja untuk memulai tur keliling dunia. Tak tanggung-tanggung, lama cuti mereka dua hingga tiga tahun.

Kebetulan mereka berdua anggota komunitas pesepeda internasional sekaligus pengguna bahasa Esperanto. Sekadar untuk diketahui, Esperanto adalah bahasa yang diciptakan oleh Lazar Ludwik Zamenhof pada akhir abad ke-19 yang dimaksudkan menjadi alat komunikasi internasional. Di Indonesia, bahasa ini kurang begitu populer.

Dengan memanfaatkan jaringan komunitas Esperanto di internet, Rose dan Cyrille memperoleh informasi mengenai negara-negara yang akan mereka lewati. Untuk keperluan keliling dunia ini, mereka membeli dua sepeda buatan Prancis merek Rando-Cycles yang khusus didesain untuk jarak jauh, dilengkapi dengan kompas dan speedometer. Masing-masing membawa tas seberat 30 kg yang berisi perbekalan penting seperti pakaian, tenda, peralatan memasak, peralatan tidur, suku cadang rem, ban, dan bekal-bekal penting lainnya.

Dari Prancis, mereka memulai safari menyisir benua Eropa melewati Monako, Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia Herzegovina, Montenegro, Albania, Makedonia, dan Yunani. Ketika sebagian besar penduduk dunia mungkin masih harus mencari-cari lokasi negara-negara itu di peta, Rose dan Cyrille sudah melewatinya. Saat berada di suatu negara, mereka biasanya menumpang menginap di rumah teman yang mereka kenal lewat internet. Jika tidak punya teman di suatu daerah, mereka biasanya menginap di penginapan yang paling murah atau mendirikan tenda di mana saja yang bisa dipakai bermalam.

“Kami meninggalkan pekerjaan, apartemen, teman, untuk memasuki sebuah dunia yang sama sekali berbeda,” kata Cyrille. Di satu hari, mereka berada di sebuah negara dengan bahasa dan budaya yang khas. Lalu esok harinya mereka sudah berada di negara lain, dengan bahasa dan budaya yang lain pula.

Dari Yunani, mereka masuk ke Benua Asia melewati Turki, lalu Iran. Di Iran, mereka dibuat heran ketika menjumpai kehidupan masyarakat yang sama sekali berbeda dari yang mereka lihat di televisi. Selama ini di televisi, masyarakat Iran tampil dengan citra keras dan kurang bersahabat. Ketika Rose dan Cyrille sampai di negara ini, mereka menjumpai orang-orang yang ramah terhadap warga asing.

Dari Iran, mereka mestinya mengayuh sepeda menuju Pakistan. Tapi mereka tidak memperoleh visa kunjungan ke Pakistan karena alasan politik dan keamanan. Dari Iran, akhirnya mereka menggunakan transportasi udara langsung ke India.

Selama perjalanan dari Prancis sampai Iran, pasangan pengelana ini tidak pernah satu kali pun jatuh sakit. Kegiatan bersepeda malah membuat kondisi fisik mereka selalu fit. Saat berada di India inilah mereka untuk pertama kalinya jatuh sakit. Penyebabnya sungguh sepele: air minum.

Selama perjalanan dari Prancis sampai Iran, mereka bisa dengan mudah mendapatkan air bersih. Air keran di tempat publik pun cukup bersih untuk langsung diminum. Ketika sampai di India, mereka menyangka kondisi kebersihan lingkungan sama dengan negara-negara yang sudah mereka lalui. Mereka pun minum air yang mereka peroleh di tempat publik. Tak tahunya, setelah minum air itu mereka langsung sakit perut.

Selepas India, mereka melanjutkan safari ke Nepal. Dari Nepal, mereka mestinya menggowes sepeda menuju Myanmar. Tapi, lagi-lagi mereka tidak memperoleh visa kunjungan karena alasan politik. Akhirnya, dari Nepal mereka berdua langsung bablas ke Thailand, lalu Malaysia, kemudian Singapura.

Dari Singapura mereka kembali ke Malaka, Malaysia, kemudian masuk ke Indonesia lewat Dumai, Riau. Selanjutnya mereka menyusuri Pulau Sumatra melewati Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, lalu Banten, dan Jakarta. “Dari Jambi ke Palembang (Sumatra Selatan) kami butuh waktu empat hari bersepeda,” kata Rose. Rutenya naik turun. Banyak di antaranya berupa jalanan yang sekelilingnya masih hutan belantara. Beberapa kali mereka berhenti di tepi jalan, membangun tenda di dekat hutan atau perkebunan.

Ketika sampai di Indonesia, mereka berdua sudah melakukan perjalanan selama 10 bulan. Berada di Indonesia, bagi mereka, adalah pengalaman yang sangat mengesankan. Sebelumnya mereka tak banyak tahu tentang negara tropis yang terdiri dari 17.000-an pulau ini. Sebelumnya, mereka hanya sempat membaca sedikit tentang Indonesia dari situs Wikipedia.org.

Rose mengaku paling suka melihat pohon kelapa di pantai sepanjang jalan yang mereka lalui. “Di Prancis kami lebih sering melihat pohon kelapa artifisial,” katanya seraya tertawa, “Paling indah saat bangun pagi di sini lalu kami melihat pohon kelapa.”

Seperti saat berada di Iran, Rose dan Cyrille juga merasa warga Indonesia paling ramah di antara warga-warga dunia yang pernah mereka jumpai. Sepanjang jalan, saat berpapasan dengan penduduk lokal, mereka berdua dipanggil, “Halo Mister!” Bagi Rose, panggilan ini jelas menggelikan. Dia perempuan, mestinya tidak dipanggil “Mister” tapi “Mistress”.

Ketika masuk ke Indonesia sehabis dari Malaysia, keduanya merasa seolah-olah harga m
akanan menjadi sangat mahal. Di Malaysia mereka membeli makanan hanya dengan beberapa ringgit saja. Begitu masuk ke Indonesia, harga makanan tiba-tiba melonjak menjadi beberapa ribu menurut mata uang lokal. Maklum saja, nilai tukar rupiah memang jauh di bawah ringgit. Angka nol-nya banyak sekali.


Selama di Indonesia, mereka sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Mereka berdua hanya bisa berbahasa Prancis, Inggris, dan Esperanto. Sebagain besar orang Indonesia tak menguasai ketiga bahasa Itu. Ketika berada di Bakauheni, Lampung, mereka punya cerita lucu. Ketika hari menjelang senja, mereka bertanya kepada penduduk setempat lokasi hotel terdekat. Penduduk desa yang tidak begitu sadar dengan satuan kilometer itu menjawab enteng, lokasi hotel tinggal 1 km.

Mereka pun mengayuh sepeda. Tapi setelah 3 km bersepeda, mereka masih juga belum menemukan hotel. Mereka pun bertanya lagi kepada penduduk setempat yang memberikan jawaban serupa. Lagi-lagi, setelah bersepeda beberapa kilometer, mereka masih belum menemukan hotel. Akhirnya, karena sudah capek bersepeda, mereka pun mendirikan tenda. “Lebih mudah mencari alamat rumah di Jakarta daripada mencari desa di Sumatra,” kata Cyrille yang saat di Jakarta menginap di rumah seorang kawan dari teman kawannya.

Selama di Indonesia, mereka begitu kagum dengan begitu banyaknya buah-buahan tropis. Banyak di antaranya adalah buah khas tropis yang belum pernah mereka makan di Paris, seperti durian, salak, duku, dan sebangsanya. “Di Indonesia, masalah kami hanya satu: nyamuk! Nyamuk di sini banyak sekali dan besar-besar,” kata Rose, membandingkan dengan nyamuk di Prancis.

Saat sampai di Jakarta, mereka telah menempuh perjalanan sekitar 22.000 km! Dari Jakarta, mereka menyusuri Pulau Jawa menuju Indonesia bagian timur sebelum melanjutkan perjalana ke Australia. Dari Australia, mereka berencana ke Benua Amerika, Afrika, lalu kembali lagi ke Eropa. Saat ini mereka belum menyelesaikan separuh perjalanan. Kegiatan keliling dunia mungkin baru akan selesai satu atau dua tahun mendatang, melewati 40 – 50 negara. “Inilah cara kami menikmati hidup,” kata Cyrille.

Kredit foto: Dok. Rose & Cyrille/Emshol

Advertisements

8 thoughts on “Bersepeda Keliling Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s