Eksperimen dengan Tubuh Sendiri

Penulis: M. Sholekhudin

Saat ini kita sudah begitu terbiasa dengan berbagai tindakan medis yang beberapa dasawarsa lalu mungkin masih sangat berbahaya untuk dilakukan. Jantung bisa diutak-atik, organ-organ tubuh bisa dioperasi dan bahkan dicangkokkan. Semua itu jelas tak lepas dari jasa para dokter yang sebagian di antara mereka bahkan berani melakukan eksperiman terhadap diri mereka sendiri.

Dalam metode standar, eksperimen kedokteran lazimnya dilakukan terhadap hewan coba kemudian pada manusia, yang biasanya adalah pasien. Tapi para dokter ini menempuh jalan yang tidak umum. Sebelum mencoba sebuah tindakan medis kepada pasien, mereka bersedia mempertaruhkan diri menjadi “kelinci percobaan”.

Salah satu tokoh sejarah yang paling fenomenal dalam urusan ini adalah Werner Forssmann, dokter bedah asal Jerman. Dialah yang berjasa besar memperkenalkan teknik pemeriksaan dan pengobatan lewat pembuluh darah yang sekarang kita kenal sebagai kateterisasi jantung. Dengan teknik ini, seorang dokter bisa mengutak-atik jantung pasien menggunakan kateter (selang kecil) yang dimasukkan lewat pembuluh darah di lengan atau tungkai.

Tahun 1929, teknik ini belum ditemukan. Para dokter saat itu beranggapan bahwa memasukkan selang lewat lengan lalu diarahkan ke jantung adalah sebuah tindakan yang sangat berbahaya dan mematikan. Tapi Forssmann, seorang dokter berusia 29 tahun, berani melawan arus pemikiran saat itu. Dia yakin bahwa tindakan itu bisa dilakukan secara aman.

Tapi saat itu ia masih belum benar-benar bisa memprediksi apa yang bakal terjadi ketika sebuah selang mengenai bagian-bagian sensitif dari jantung. Jika ia menggunakan pasien sebagai kelinci percobaan, ada kemungkinan tindakan itu berakibat fatal bagi pasien. Dia tidak ingin mengorbankan pasien untuk eksperimen ini. Akhirnya dia menjadikan dirinya sebagai manusia coba.

Saat itu dia bekerja sebagai asisten Richard Schneider, seorang dokter bedah di Berlin. Sebelum melakukan eksperimen berbahaya tersebut, ia meminta izin kepada Schneider. Tapi bosnya tidak memberi izin karena menganggap eksperimen itu terlalu riskan, tidak sesuai dengan metode standar di dunia kedokteran. Tapi Forssmann bersikukuh dengan pendiriannya. Akhirnya ia melakukan eksperimen ini tanpa sepengetahuan Schneider.

Dengan bantuan seorang perawat, ia membius lokal lengannya lalu memasukkan selang kateter ke dalam pembuluh venanya. Untuk meyakinkan perawat itu, Forssmann sampai harus membujuk dan mengatakan kepadanya bahwa ia bisa menjadi bagian dari sejarah penemuan besar di bidang kedokteran. Setelah satu lengannya dibius, ia menggunakan tangannya yang tidak dibius untuk memasukkan selang lewat pembuluh vena lalu mendorongnya pelan-pelan ke dalam. Ketika ujung selang itu sampai di pembuluh darah pundak, ia menghentikannya sejenak karena ia ingin mendokumentasikan eksperimennya setahap demi setahap.

Untuk bisa melihat posisi ujung selang, ia harus melakukan foto rontgen. Tapi saat itu kamar rontgen berada di ruang lain. Maka ia pun pindah tempat menuju kamar rontgen sambil memegangi selang kateter yang sebagian telah masuk ke dalam pembuluh darahnya. Ketika Forssman sedang melakukan pemeriksaan rontgen, ia dipergoki oleh teknisi rontgen dan dokter lain. Mereka sempat adu mulut tapi Forssman tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Ia melanjutkan eksperimen, mendorong selang hingga jantungnya. Tahapan ini ia dokumentasikan dengan foto rontgen. Ia berhasil. Ternyata ujung selang itu bisa masuk ke pembuluh darah jantung tanpa menimbulkan problem apa pun di jantungnya.

Ia mengulangi lagi prosedur serupa lewat lengan satunya, juga lewat tungkainya, berulang kali dan semuanya berhasil. Tapi tindakannya yang berani ini malah membuat ia dikeluarkan dari rumah sakit karena ia dianggap melakukan prosedur yang berbahaya, sekalipun itu dilakukan terhadap dirinya sendiri dan berhasil. Tapi tahun 1956, alias 26 tahun kemudian, ia mendapat penghargaan Nobel di bidang kedokteran. Kini ia dianggap orang yang paling berjasa di bidang angiografi jantung (prosedur pengambilan gambar jantung lewat pembuluh darah).

Minum Bakteri
Kisah serupa masih banyak terjadi di dunia kedokteran, misalnya yang dilakukan oleh Barry Marshall, dokter asal Australia. Dia adalah ilmuwan yang berhasil membuktikan adanya bakteri yang sanggup hidup di dalam lambung dan menyebabkan radang serta tukak (luka) lambung. Sebelum ia membuktikan keberadaan bakteri yang dinamai Helicobacter pylori itu, semua ilmuwan sepakat bahwa bakteri tidak bisa hidup di lambung karena akan mati oleh cairan lambung yang sangat asam.

Menurut mereka, tukak lambung disebabkan oleh stres dan makanan atau minuman yang terlalu asam. Tapi Marshall tidak sependapat dengan keyakinan umum itu. Sejak tahun 1982, ia sudah berani membuat hipotesis yang dianggap menyimpang dan menjadi bahan tertawaan saat itu. Masalahnya, ia tidak bisa membuktikan bahwa bakteri itulah biang penyakit tukak lambung.

Tahun 1984, ia melakukan eksperimen yang berbahaya. Ia meminum satu cawan biakan bakteri Helicobacter pylori. Lalu tak lama kemudian ternyata ia mengalami radang lambung, yang untungnya sembuh setelah beberapa hari. Mirip yang dialami Forssmann, tahun 2005, alias sebelas tahun kemudian, Marshall bersama koleganya memperoleh penghargaan Nobel di bidang kedokteran atas jasanya menemukan bakteri Helicobacter pylori sebagai penyebab radang dan tukak lambung.

Eksperimen yang tak kalah berbahaya juga dilakukan oleh William J. Harrington, dokter asal Amerika Serikat. Di tahun 1950, ia meneliti penyakit yang sekarang dikenal sebagai idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP). Penyakit ini ditandai dengan turunnya trombosit secara drastis. Mirip yang terjadi pada pasien demam berdarah, tapi tanpa penyebab yang jelas. Saat itu para dokter belum mengetahui apa pun tentang penyakit ini.

Harrington saat itu baru membuat hipotesis bahwa penyakit ini disebabkan oleh sebuah faktor yang berasal dari darah pasien sendiri. Tapi bagaimana ia membuktikan postulat itu? Ia memutuskan untuk melakukan eksperimen dengan dirinya sendiri. Ia mengambil darah pasien ITP lalu menyuntikkan darah itu ke badannya sendiri. Sebuah eksperimen yang sangat berbahaya. Benar saja, dalam hitungan jam, trombositnya turun sangat drastis sampai ia hampir saja kolaps. Untungnya, trombositnya bisa kembali normal setelah beberapa hari.

Harrington memang tidak lantas mendapat Nobel seperti Forssmann atau Marshall. Tapi keberaniannya melakukan eksperimen terhadap diri sendiri kini memberi manfaat bagi jutaan penderita ITP di seluruh dunia.

Menabrakkan Diri Sendiri
Lawrence K. Altman, dokter sekaligus penulis untuk The New York Times, mengumpulkan kisah-kisah heroik para dokter pemberani ini di dalam bukunya Who Goes First? The Stoy of Self-Experimentation in Medicine.

Salah satu alasan para dokter itu adalah masalah etika yang mereka yakini. Mereka melakukan eksperimen yang berbahaya dan tidak mau membahayakan orang lain. Forssmann, Marshall, dan Harrington tidak mau membunuh atau menyakiti pasien hanya karena sebuah eksperimen berbahaya yang hasilnya masih belum bisa diprediksi. Mereka berani mengorbankan diri sendiri sekalipun dengan cara yang dianggap tidak standar di dunia kedokteran.

Yang tak kalah dramatis dari ketiga dokter di atas adalah eksperimen yang melibatkan John Paul Stapp, seorang dokter angkatan udara Amerika Serikat tahun 1947. Saat itu teknologi transportasi, terutama transportasi udara, membutuhkan data-data medis tentang pengaruh kecepatan kendaraan terhadap fisiologi tubuh manusia. Data ini diperlukan untuk merancang desain tempat duduk penumpang yang memberikan tingkat keamanan paling tinggi, terutama saat kendaraan mengalami kecelakaan.

Penelitian ini membutuhkan sukarelawan manusia yang bersedia duduk di “kendaraan maut”. Kendaraan ini dipacu dengan kecepatan roket lalu
direm secara tiba-tiba. Risikonya jelas, ia mungkin meninggal dunia, patah tulang, atau seringan-ringannya luka berat yang mengharuskan dia masuk rumah sakit. Ketika tim peneliti kesulitan memperoleh sukarelawan, John Stapp menawarkan diri menjadi manusia coba. Dan memang benar, akibat eksperimen itu, Stapp harus mengalami retak tulang. Tapi itu tidak membuatnya jera.

Ia bahkan berulang-ulang melakukan percobaan itu dan berulang-ulang cedera, mulai dari cedera tulang sampai perdarahan di retina. Hasil eksperimen itu kemudian menjadi dasar para insinyur untuk merancang sistem keamanan kendaaran, terutama pesawat terbang. Kita semua saat ini jelas berhutang besar kepada para sukarelawan seperti Stapp.

Dunia kedokteran banyak sekali menyiman cerita eksperimen semacam ini karena memang sifat ilmu kedokteran yang tidak bisa dipisahkan dari percobaan yang berisiko tinggi. Max von Pettenkofer, imuwan asal Jerman, punya cerita serupa. Tahun 1892, para ilmuwan masih berdebat tentang penyebab kolera. Pettenkofer yakin kolera disebabkan oleh mikroorganisme yang saat itu belum berhasil diidentifikasi. Untuk membuktikan postulatnya itu, ia menenggak cairan berisi bakteri yang baru saja menyebabkan pasien meninggal dunia. Setelah menenggak cairan itu, ia memang benar-benar mengalami gejala kolera tapi untungnya tidak sampai membunuhnya.

Tahun 1986, Daniel Zagury, seorang dokter asal Prancis juga melakukan eksperimen yang menantang bahaya. Saat melakukan penelitian vaksin AIDS, ia rela menyuntik dirinya sendiri dengan virus HIV yang dilemahkan untuk mengetahui respons kekebalan di dalam tubuhnya. Karena calon vaksin itu masih dalam tahap percobaan, tak ada jaminan bahwa virus itu tidak akan membuatnya terinfeksi HIV.

Setelah eksperimen berbahaya ini, Zagury tiap minggu memeriksa darahnya untuk melihat apakah dia terinfeksi HIV. Ia beruntung sebab sampai beberapa bulan sesudahnya, pemeriksaan masih menunjukkan hasil negatif, dan ia sama sekali tidak menunjukkan gejala infeksi HIV/AIDS. Sekalipun hingga kini penelitian tentang vaksin HIV/AIDS masih belum selesai, keberanian Zagury telah membuka pintu riset tentang vaksin HIV/AIDS.

Tidak semua eksperimen berani seperti itu berhasil dengan baik. Anton Storck, seorang dokter asal Austria, sampai harus mengalami gangguan bicara saat melakukan eksperimen minum ekstrak tanaman beracun yang dia yakini memiliki efek antinyeri. Frederick Prescott and Scott Smith, dua orang dokter asal Amerika Serikat, pada tahun 1940-an harus mengalami kelumpuhan sementara saat bereksperimen minum zat kimia yang kelak dimanfaatkan untuk tujuan anestesi (pembiusan).

Memang ada eksperimen berani yang sukses, ada pula yang gagal. Namun, seremeh apa pun hasilnya, kemajuan ilmu kedokteran yang kita nikmati saat adalah hasil jutaan eksperimen pada masa lalu. Setiap kita minum obat atau menjalani tindakan medis, kita jelas berhutang budi kepada para ilmuwan yang berani mengambil risiko demi generasi sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s