NUTRISI: Jahe

Jahe, Obat Alami dari Dapur

Di antara berbagai jenis rimpang yang banyak tumbuh di negara kita, jahe adalah salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dapur. Bukan hanya untuk memasak aneka sayur dan lauk, tapi juga untuk minuman penghangat badan. Bahkan, bukan hanya di dapur, jahe juga banyak dimanfaatkan di dalam produk obat tradisional dan makanan-minuman olahan karena minyak asirinya yang harum, menyegarkan, dan berkhasiat obat.

Banyaknya manfaat jahe memang bukan sekadar kepercayaan tradisional yang turun-temurun, melainkan sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah. Rimpang jahe mengandung berbagai minyak asiri (minyak menguap) yang menimbulkan aroma wangi. Zat inilah yang paling berperan di dalam berbagai khasiat jahe.

Di mulut dan kerongkongan, minyak asiri ini menimbulkan rasa hangat yang melegakan. Itu sebabnya jahe bisa digunakan sebagai obat tradisional untuk batuk dan radang tenggorokan. Di lambung dan usus, minyak asiri bisa memacu kerja pencernaan. Itu sebabnya jahe juga bisa digunakan untuk mengatasi perut kembung dan mual yang terjadi akibat kurang aktifnya sistem pencernaan. Dalam istilah medis, khasiat ini dikenal sebagai “karminatif”. Secara umum, jahe relatif aman dikonsumsi siapa saja, termasuk ibu hamil. Itu sebabnya jahe bisa dimanfaatkan untuk mengatasi mual saat hamil.

Secara umum, minyak asiri jahe punya khasiat memperlancar metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh yang lancar akan menjaga daya tahan tetap tinggi. Karena khasiat ini, jahe bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk kondisi seperti flu dan masuk angin yang umumnya terjadi akibat turunnya daya tahan tubuh.

Minyak asiri jahe juga punya manfaat mengurangi peradangan (inflamasi). Itu sebabnya orang yang rajin mengonsumsi jahe secara rutin memiliki risiko lebih rendah terhadap gangguan radang sendi.

Di Indonesia, jahe yang paling banyak dimanfaatkan untuk bumbu dapur biasanya dari jenis jahe gajah (yang rimpangnya besar-besar, berwarna pucat, tidak begitu pedas) dan jahe biasa (yang rimpangnya berukuran menengah, sedikit lebih pedas). Adapun yang banyak digunakan untuk jamu dan minuman kesehatan biasanya jahe merah (yang rimpangnya kecil-kecil, sangat pedas).

Jika kita ingin mengambil manfaat jahe untuk obat tradisional, sebaiknya kita menggunakan jahe merah yang mengandung lebih banyak minyak asiri dan alkaloid. Jika menggunakan jahe dapur, pilihlah rimpang yang sudah tua dan masih segar. Jahe yang sudah kering biasanya sudah kehilangan sebagian minyak asiri karena memang minyak ini mudah menguap. Makin tua jahe, makin banyak kandungan minyak asiri dan alkaloidnya. Jahe tua biasanya lebih berserat dan tidak banyak mengandung air.

Oleh karena minyak asiri jahe mudah menguap, proses memasak berpengaruh terhadap aromanya. Makin lama dimasak, aroma yang tertinggal makin sedikit. Meski mudah menguap akibat panas, minyak sebagian asiri jahe bisa berubah menjadi lebih aromatis saat dipanaskan. Itu sebabnya jahe lebih wangi ketika dipanaskan. Contoh paling gampang adalah jahe panggang. Agar kita bisa memperoleh aroma jahe yang wangi untuk minuman hangat, kita bisa memanggang jahe lebih dulu di atas bara baru dijadikan wedang. Aromanya lebih harum daripada jika kita menggunakan jahe segar yang langsung digunakan tanpa dipanggang lebih dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s