Boenyamin Setiawan: Pemimpin Djitu Kalbe Farma [intisari]


Kita tentu tak asing lagi dengan nama-nama produk buatan Grup Kalbe Farma (selanjutnya ditulis Kalbe) seperti Promag, Extra Joss, Mixagrip, Prenagen, Entrostop, dan sebagainya. Kalbe adalah salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Seperti perusahaan-perusaahan besar lainnya, Kalbe pun bermula dari sebuah usaha kecil skala rumahan yang mengedepankan kreativitas dan inovasi. ]

Pendirinya, dr. Boenyamin Setiawan, Ph.D, biasa dipanggil Boen, mengaku awalnya tak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Saat remaja, anak keempat dari enam bersaudara ini mengagumi Albert Schweitzer, dokter-filsuf asal Jerman yang mengabdikan hidupnya di pedalaman Afrika. Tokoh ini membuat Boen muda bercita-cita menjadi dokter. Kebetulan, tiga orang saudaranya juga dokter.

Tahun 1951, pemuda kelahiran Tegal 1933 ini masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Ketika kebanyakan dokter tidak tertarik menekuni farmakologi, Boen memilih jurusan ini. Saat itu bagian farmakologi FKUI menjalin kerja sama akademik dengan University of California, Amerika Serikat (AS). Dengan memilih farmakologi, ia punya kesempatan besar untuk mendapat beasiswa ke AS.

Perhitungannya tidak salah, setelah tamat dari FKUI tahun 1958, ia langsung dikirim ke AS. Di sinilah ia mulai belajar tentang budaya unggul seperti disiplin dan kerja keras yang kelak ia terapkan di perusahaannya. Setelah tiga tahun di AS, ia kembali ke tanah air dengan gelar Ph.D. Sebagai dokter-peneliti, ia ingin melanjutkan penelitian di Indonesia tapi ia berhadapan dengan kendala dana riset yang terbatas.

Suatu hari di tahun 1963, ia bertemu dengan Wim Kalona, pemilik perusahaan farmasi Dupa. Boen menyampaikan minatnya meneliti tanaman obat untuk diabetes dan hipertensi. Untuk penelitian itu, ia membutuhkan dana yang kalau dikonversikan dengan uang sekarang kira-kira sebesar Rp 30 juta. Tanpa diduga sebelumnya oleh Boen, saat itu juga Wim Kalona langsung memberinya sejumlah uang yang ia perlukan. Sambil terkaget-kaget, Boen berpikir betapa enaknya punya perusahaan farmasi sendiri. Itulah momen pertama yang membuat anak pedagang kerupuk ini bermimpi memiliki perusahaan farmasi.

Tahun 1965 ia diskors mengajar sebab dianggap komunis hanya karena ia pernah mengikuti simposium ilmiah di Beijing, Cina. Skorsing ini ternyata malah membawa berkah bagi Boen karena memberinya kesempatan melakukan eksperimen membuat usaha farmasi.

Tahun 1966, ia membeli sebuah bengkel di Jakarta Utara yang kemudian disulap menjadi tempat produksi obat. Ia memulai usaha rumahan yang ia beri nama Kalbe Farma itu dengan alat-alat seadanya seperti tungku dan panci yang biasa digunakan untuk memasak.

Waktu itu Boen membuat obat anticacing yang diberi merek dagang Kalixon untuk merebut pasar Upixon (obat anticacing buatan Bayer). Ini adalah produk pertama Kalbe yang sukses dan laris di pasaran. Mengikuti sukses Kalixon, Kalbe meluncurkan satu demi satu produk obat yang semuanya masih bisa dibuat dengan alat-alat sederhana. Produk sirup dibuat dengan panci. Produk kapsul dibuat secara manual dengan cara bubuknya dimasukkan satu demi satu ke dalam cangkang. Produk salep dibuat dengan pompa gemuk (pelumas). Selanjutnya, keuntungan dari produk-produk ini digunakan untuk membeli mesin tablet, begitu seterusnya.

Kini Kalbe adalah sebuah grup dengan bidang usaha farmasi yang luas, mulai dari produksi sampai distribusi. Produknya pun tak sebatas obat tapi juga makanan, minuman, dan aneka produk consumer goods.

Kegagalan Itu Pelajaran
Sebelum sukes dengan Kalbe, Boen sempat dua kali mendirikan usaha farmasi tapi gagal. Sepulang dari AS, ia bersama beberapa koleganya di Bagian Biologi FKUI mendirikan usaha bersama yang diberi nama Farmindo. Tapi usaha ini tidak berhasil.

Setelah kongsi ini bubar, Boen kembali mencoba berkolaborasi dengan kawannya yang lain, kali ini satu orang farmakolog dan satu orang pengusaha apotek. Tapi untuk kedua kalinya usahanya gagal.

Waktu itu Boen membuat Minyak Angin Cap Beo untuk merebut pasar Minyak Angin Cap Lang yang saat itu sangat populer. Supaya minyak angin buatannya berwarna hijau seperti Cap Lang, ia menggunakan pewarna alami klorofil dari daun suji. Tak tahunya setelah tiga bulan, semua minyak angin buatannya berubah menjadi cokelat. Ia tidak tahu bahwa klorofil teroksidasi menjadi cokelat selama masa penyimpanan. Akhirnya semua produk Minyak Angin Cap Beo harus ditarik dari peredaran.

Gagal dengan minyak angin, Boen mencoba mencari keberuntungan dengan membuat kina. Waktu itu para serdadu AS banyak yang terkena malaria saat perang di Vietnam. Mereka banyak membutuhkan kina. Tapi mereka hanya menerima kina bubuk, bukan kina tablet. Boen mencoba mengambil peluang ini dengan cara mengekstraksi bubuk kina dari tablet kina dengan menggunakan alkohol. Dengan panci terbuka dan alat-alat seadanya, ia melakukan ektraksi di atas tungku.

Ia tak menyadari bahwa cara ini sangat berbahaya. Alkohol yang panas menguap dari panci langsung disambar api dari tungku. Dalam keadaan panik, ia membawa lari panci itu ke empang di depan rumah. Karena tangannya kepanasan, panci itu ia jatuhkan sampai membuat kakinya mengalami luka bakar. ”Saya waktu itu masih bodoh,” katanya dengan tertawa enteng.

Tapi dua kali gagal tak membuat Boen putus semangat. ”Kegagalan itu pengalaman yang bermanfaat,” katanya. Tahun 1966, ia mendirikan Kalbe dengan bantuan saudara-saudaranya. Sejak itu, selebihnya adalah sejarah.

Manusia Djitu
Penampilan Boen sehari-hari jauh dari kesan seorang pengusaha besar. Gaya berpakaiannya sederhana dan santai. Gaya bicaranya lugas apa adanya, sering kali lucu, dengan logat Jawa yang medok. Tapi di balik penampilannya yang sederhana itu, Boen adalah seorang pemimpin yang efektif dan ”DJITU”. DJITU adalah akronim yang ia ciptakan sebagai budaya kerja di Kalbe yang berarti:
1. Disiplin dan Dedikasi
2. Jujur dan Jeli
3. Inovatif dan inisiatif
4. Tulus dan tanggung jawab
5. Ulet dan unggul

Disiplin adalah kunci utama keberhasilan dalam hal apa pun. Kalau memulai sesuatu, lakukanlah dengan penuh dedikasi. Jangan memulainya karena semata-mata ingin memperoleh uang banyak.

Sejak awal, Boen mengelola Kalbe dengan jaminan kejujuran. Modal usaha Kalbe adalah patungan yang berasal dari saudara-saudaranya. Sekalipun besarnya sumbangan itu berbeda-beda, kepemilikan saham tetap dibagi rata di antara mereka. Boen tidak menganggap dirinya punya saham lebih besar se
kalipun ia paling aktif membesarkan Kalbe yang saat ini sudah menjadi perusahaan terbuka (Tbk).

DJITU juga berarti jeli menangkap peluang. ”Peluang itu kalau tidak ditangkap ya tidak bermakna apa-apa,” katanya. Boen memberi contoh penemuan penisilin oleh Alexander Fleming yang terjadi secara kebetulan. Secara tidak sengaja, cawan petri eksperimennya tidak ditumbuhi bakteri. Karena Fleming jeli menangkap peluang, peristiwa kebetulan itu bisa berubah menjadi sebuah penemuan sejarah. Kata Boen, semua orang sebetulnya dihampiri oleh peluang dalam jumlah yang sama. Yang membedakan kemudian adalah kejelian masing-masing orang menangkap peluang itu.

Agar peluang itu bisa dimanfaatkan dengan baik, diperlukan sifat inovatif dan kerja inisiatif. Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Agar kita tetap fokus dalam mencapai satu tujuan, kita harus berusaha dengan ulet untuk terus menjadi yang paling unggul.

Menurutnya, kegagalan di dua usaha pertamanya lebih disebabkan karena kurangnya dedikasi dan tanggung jawab di antara para pendirinya. Ketika ia dan saudara-saudaranya mendirikan Kalbe, mereka semua berkomitmen penuh. Kakaknya yang punya uang menyumbang dana. Ia mengundurkan diri dari FKUI. Adiknya yang menjadi apoteker di Medan pun harus keluar dari pekerjaannya. Adik satunya lagi yang kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pun berhenti kuliah demi tugas pemasaran.

Starts Small, Ends Big
Kalbe adalah potret perusaahaan yang sukses memanfaatkan peluang dengan baik. Keberhasilan Kalbe, kata Boen, adalah hasil gabungan dari banyak faktor yang tepat, antara lain the right time, the right products, the right price, the right startegy, and the right people.

Saat Kalbe berdiri, di Indonesia baru ada beberapa industri farmasi lokal seperti Kimia Farma, Indofarma, Dupa, dan Ethica (Soho). Produk-produk farmasi buatan dalam negeri biasanya dijual dengan harga yang rendah. Sementara produk-produk buatan pabrik farmasi asing, seperti Bayer dan Pfizer, dijual dengan harga yang tinggi.

Boen melihat selisih harga yang cukup besar ini sebagai peluang. Ia membuat produk serupa lalu menjualnya dengan harga di tengah. Dengan cara ini, Kalbe bisa memperoleh laba relatif lebih banyak daripada pabrik-pabrik farmasi lokal lain. Laba ini selanjutnya digunakan untuk kegiatan promosi dan riset. Saat itu, yang mampu melakukan promosi hanya perusahaan farmasi asing. Perusahaan lokal tak mampu melakukannya karena keuntungannya tidak begitu banyak akibat harga jual yang rendah. Promosi ini membuat produk-produk Kalbe bisa merebut pasar yang sebelumnya dikuasai perusahaan lain.
Dengan promosi yang efektif, hanya dalam tempo sepuluh tahun sejak berdiri, Kalbe menjadi perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Starts small, ends big. ”Jangan mulai langsung dengan yang besar,” kata Boen. Selain untuk menyiasati keterbatasan modal, cara ini juga bisa meminimalkan kerugian materi andai kata sebuah usaha belum berhasil.

Penelitian untuk Kemajuan Bangsa
Dalam urusan inovasi, Boen percaya dua hal. Pertama, untuk merangsang inovasi diperlukan dukungan sumber dana yang cukup. Kedua, inovasi itu harus bisa diwujudkan dalam bentuk produk yang bisa dijual dan menghasilkan dana.

Kata Boen, semua negara maju punya satu ciri, yaitu mengalokasikan dana yang cukup untuk riset. Hingga saat ini negara dengan alokasi dana riset terbesar adalah AS, Cina, Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, dan India. Dari data ini kita tak perlu heran kenapa Cina dan India dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jika dihitung sebagai persentase terhadap produk domestik bruto (gross domestic product), Israel adalah negara yang mengalokasikan dana riset paling besar, yaitu sekitar 4% dari GDP. Kebanyakan negara lain hanya sekitar 2%. Indonesia? Maaf, kita masih jauh di bawah 1%.

Agar inovasi banyak tercipta, Boen punya tips AQOEN, yang merupakan akronim dari association, question, observation, experiment, dan networking. Orang yang inovatif harus pandai mengasosiasikan dan menghubungkan hal-hal yang ia temui. Ia juga harus memiliki sifat ingin tahu serta kemauan besar untuk melakukan observasi dan eksperimen. Yang tak kalah penting, ia harus bisa menjalin kerja sama dengan orang lain.

Boen menegaskan, generasi saat ini sangat dipermudah dengan adanya internet. Dulu, jika ingin mengetahui sesuatu, Boen harus pergi ke perpustakaan. Kini, jika kita ingin mengetahui sesuatu, kita tinggal masuk ke internet, dan jawaban bisa langsung tesedia dalam hitungan menit. Gratis lagi.
Agar sebuah inovasi bisa terus berkembang semakin baik, inovator harus bisa 4A: adopt, adapt, align, dan terakhir act. Mengadopis ide baru, melakukan penyesuaian, menyelaraskan semua sumber daya, dan yang terakhir, mengeksekusinya. (yoris/emshol)

Advertisements

4 thoughts on “Boenyamin Setiawan: Pemimpin Djitu Kalbe Farma [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s