TIPS SEHAT: Mencegah Kegemukan

Agar Berat Badan Tak Menjadi Persoalan

Bagi kebanyakan perempuan, kata “gemuk” mungkin merupakan sinonim dari kata “amit-amit”. Di luar urusan konsep kecantikan, kegemukan memang sering dinyatakan sebagai salah satu faktor pencetus berbagai macam penyakit.

“Kegemukan” dalam bahasa Indonesia sering dipakai untuk dua keadaan yang dalam bahasa Inggris disebut “overweight” dan “obesity”. Keduanya sebetulnya berbeda. Pengaruhnya terhadap kesehatan pun berbeda. Seseorang bisa saja mengalami kelebihan berat badan (overweight) tapi tetap sehat. Akan tetapi, jika seseorang mengalami obesity (obesitas), secara medis kondisi itu sudah dianggap tidak sehat.

Batas antara overweight dan obesitas ditentukan oleh besarnya indeks massa tubuh (body mass index, BMI). Seseorang disebut mengalami kelebihan berat badan (overweight) jika BMI-nya antara 25-29,9. Dan disebut mengalami obesitas jika BMI-nya 30 atau lebih.

Berat badan dalam kg

Indeks Massa Tubuh =

——————————

(Tinggi badan dalam m)2

Obesitas terjadi karena adanya penumpukan lemak di dalam tubuh. Ini sedikit berbeda dengan overweight. Kelebihan berat badan pada kondisi overweight bisa disebabkan karena timbunan lemak, bisa juga disebabkan oleh tulang, jaringan otot, atau air. Seseorang yang memiliki perawakan besar karena volume tulang atau ototnya besar, ia mungkin saja mengalami overweight. Tapi kondisi ini bukan termasuk masalah kesehatan.

Kegemukan merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami oleh masyarakat modern, termasuk Indonesia. Di negara kita, jumlah penduduk yang mengalami overweight diperkirakan mencapai 17,5%. Sementara yang mengalami obesitas mencapai 5%. Angka ini menunjukkan bahwa kegemukan sudah merupakan masalah umum.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kegemukan, antara lain:

  • Inaktivitas. Jika kita tidak aktif secara fisik, maka makanan yang kita konsumsi akan ditimbun terus-menerus karena memang tidak dibakar menjadi energi. Di zaman modern seperti sekarang, makin banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan duduk di depan komputer tanpa perlu banyak bergerak. Kemudahan hidup yang disediakan oleh berbagai macam teknologi seperti kendaraan bermotor, komputer, ponsel, internet, tangga berjalan, lift, mesin cuci, remote control, dsb. secara tidak disadari membuat kita makin sedikit melakukan aktivitas fisik. Padahal, aktivitas fisik, terutama berjalan kaki, merupakan salah satu fungsi alami tubuh yang bisa mencegah kegemukan.
  • Pola makan dengan gizi tidak seimbang. Masyarakat modern cenderung mengonsumsi kalori lebih banyak dari yang dibutuhkan. Akibatnya, kelebihan kalori setiap hari itu akan terus ditimbun menjadi jaringan lemak. Ini bisa kita lihat dari tingginya tingkat obesitas di negara-negara dengan tingkat kesejahteraan yang baik. Di negara-negara industri seperti Amerika, kegemukan bahkan sudah dianggap sebagai “epidemi” alias masalah nasional.

Dalam hal obesitas, kelebihan karbohidrat sama buruknya dengan kelebihan lemak. Jika seseorang mengonsumsi karbohidrat terlalu banyak, sisa karbohidrat yang tidak dibakar menjadi energi akan disimpan sebagai cadangan gula di dalam tubuh. Jika surplus karbohidrat masih terus berlanjut, maka kelebihan karbohidrat ini akan disimpan menjadi lemak. Begitu seterusnya. Makin lama tubuh akan makin terlatih mengubah karbohidrat menjadi lemak sehingga menyebabkan tubuh mudah menjadi gemuk meskipun hanya makan sedikit.

  • Kehamilan. Pada saat hamil, perempuan akan mengalami pertambahan berat badan yang signifikan. Ini bagian dari proses normal. Supaya janin bisa berkembang dengan sehat, si ibu memang harus gemuk. Namun, pada sebagian perempuan, kegemukan ini menetap sehabis melahirkan.
  • Kurang tidur. Sebagian besar orang membutuhkan istirahat sekitar 7-8 jam sehari. Kondisi kurang istirahat bisa menyebabkan kadar hormon ghrelin meningkat. Tingginya kadar hormon ini menyebabkan peningkatan nafsu makan. Inilah yang menyebabkan orang yang kurang tidur cenderung makan lebih banyak, mungkin tanpa disadari.
  • Usia. Makin tua usia seseorang, makin besar kemungkinannya mengalami kelebihan berat badan, terutama pada wanita. Pada saat menopause, wanita mengalami perubahan hormonal permanen yang menyebabkan tubuhnya lebih mudah menimbun jaringan lemak.
  • Faktor genetik. Sebagian orang memang punya “bakat gemuk” sekalipun ia makan sedikit. Sama seperti sebagain orang punya kecenderungan kurus sekalipun ia banyak makan. Ini faktor yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.

Dari sekian banyak faktor di atas, yang paling berperan adalah dua faktor pertama, yaitu pola aktivitas fisik dan pola makan. Dalam ilmu kesehatan, “aktivitas fisik” tidak harus selalu berupa olahraga, latihan treadmill, berenang, atau senam aerobik. Olahraga hanyalah salah satu jenis aktivitas fisik. Dalam hal manajemen kalori, kebiasaan berjalan kaki, naik tangga, atau berkebun sama baiknya dengan olahraga. Kelebihan olahraga adalah bahwa aktivitas ini lebih terukur dan terprogram sehingga hasilnya pun lebih bisa terukur.

Kita jelas sulit menghindari kehadiran teknologi modern. Berbagai mesin boleh membantu aktivitas kita. Namun, agar hidup kita seimbang, kita juga harus memanfaatkan teknologi modern yang memudahkan kita melakukan olahraga. Kita tahu, teknologi tak hanya menyediakan mobil tapi juga treadmill, tak hanya tangga berjalan tapi juga sepeda statis, tak hanya komputer tapi juga video senam aerobik. Semua itu bisa membuat kita lebih mudah berolahraga di mana saja, di rumah ataupun kantor.

Dalam urusan kegemukan, masih berlaku ungkapan lawas “Mencegah lebih mudah daripada mengobati”. Sekali kita mengalami kegemukan, butuh kerja keras untuk menurunkan berat badan. Sebab memang timbunan lemak pada dasarnya sulit dibakar menjadi energi.

Kalau timbunan kalori masih berupa cadangan gula (glikogen), stok ini mudah dibakar dengan diet rendah kalori, puasa, olahraga, atau aktivitas fisik ringan. Namun, jika kelebihan kalori sudah telanjur disimpan sebagai lemak, diet atau olahraga ringan dan sebentar tak akan sanggup membongkarnya menjadi energi. Butuh olahraga atau diet rendah kalori dalam waktu lama untuk membakarnya.

Dalam banyak kesempatan, mungkin kita tidak bisa menghindari godaan makan banyak, apalagi jika berhadapan dengan makanan yang lezat. Itu tak masalah asalkan makan banyak itu diikuti dengan aktivitas fisik yang juga intensif.

Dari sekian banyak faktor di atas, hanya dua faktor terakhir, yakni usia dan gen (keturunan) yang tidak bisa diubah. Selebihnya merupakan faktor-faktor yang bisa dikendalikan. Kitalah yang menentukan. Kadang kita menyalahkan faktor kebiasaan lingkungan sebagai faktor keturunan padahal keduanya berbeda. Misalnya, anak yang sejak kecil dibiasakan banyak makan oleh orangtuanya agar gemuk biasanya membawa kecenderungan gemuk saat dewasa. Ini bukan faktor keturunan melainkan kebiasaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s