SENI MENULIS POPULER (1)

TULISAN

KOMENTAR

Kawanku Ternyata Palsu

Oleh: Razak

Perasaanku hari ini tengah berkecamuk hebat,pergumulan antara rasa senang, bahagia, sedih, dendam dan benci. Semua menumpuk di dalam hatiku, seolah menyelami lorong-lorong hati yang terdalam. Berjalan dengan kencangnya merasuki otakku, menjadikan otak ini seolah mendidih. Membut hati dan otakku ini bergejolak.

Memang hari ini aku tengah merasa bahagia, semangat kerjaku sangat berapi-api. Perasaan itu kembali muncul, menyeretku pada kenangan masa kerja di perusahaan ku yang lama, PT GUNTNER INDONESIA, tepatnya di GEK sub deparment. Aku betah kerja disini, walaupun dengan imbalan yang tidak setinggi langit. Hal ini terlihat dari raut wajahku yang cerah ceria, semangat kerjaku, yan kubagikan dengan kawan-kawanku disana. Seolah semua tak merasa bahwa aku akan pergi meninggalkan mereka semua, meninggalkan untuk sementara. Ya sementara, karena aku pasti akan kembali. Untuk menemui mereka semua, dilain waktu, lain kesempatan, dan pastinya di lain tempat. Bukan ditempat ini, perusahaan ini.

Tetapi ditengah kebahagiaanku itu aku terusik oleh perkataan, dan sikap seorang kawan yang hubungan emosionalnya cukup dekat denganku. Ketika itu, disore hari yang cerah, dengan perasaan yang wajar aku meminjam mobil kantor yang diamanatkan padamu Dengan sombong kau melarangku dan dengan nada yang kasar sekaligus lantang. Padahal aku hanya ingin menikmati sedikit fasilitas itu, yang sangat jarang aku menggunakannya. Mengapa egomu terlalu besar, mengalahkan logika serta perasaanmu. Kau berkata padaku “nanti mobilku bau keringat, akinya tekor,” serta berbagai alas an untukn tidak memperbolehkan aku meminjam mobil kantor itu. Dalam hati aku mengumpat “mobilku???”, sejak kapan mobil itu diberikan padamu? Bukannya hanya diamanatkan? Tapi statusnya tetap iu mobil kantor, mobil perusahaan. Toh, aku juga merupakan bagian dari perusahaan ini, jadi apa salahnya aku menikmati fasilitas ini, fasilitas yang jarang aku gunakan. Jika terjadi apa-apa dengan mobil itu, yang nanggung biaya perbaikan dan tetek bengeknya kan kantor?? Bukan kamu, kawanku. Dengan begitu, kau telah menginjak harga diriku, membuat rasa dendam dan benci di hati ini makin menggelora.

Apakah kau tidak ingat kawan?? Tentang kita yang saling bercerita tentang kelakuan ayah kita terhadap keluarga kita masing-masing, betapa bejat dan tak bermoralnya ayah-ayah kita. Cerita tentang daerah kita, karena kau berasal dari negeri seberang. Di dalam gudang kantor kita yang sunyi dan sepi kau bercerita, bagaimana desamu yang masih makmur dan sejahtera dengan hasil bersawah dan berkebun. Masih rindang dan asri lagi sejuk, belum terjamah teknologi modern yang sangat merugikan, macam desa-desa pinggiran kota yang sudah tergerus arus modernisasi yang malah mencekik manusia yang ada didalamnya. Sesekali telepon berdering, orang-orang staf kantor kita yang menelpon, mengusik asyiknya perbincangan kita, atau klien-klien perusahaan kita, yang berkunjung ke kantor kita ini. Kita juga sering becerita di dalam laboratorium, seraya bergelut dengan dinginnya ruang laboratorium.

Di hari Minggu, kita sering melakukan kegiatan diluar kantor, bersama teman-teman yang lainnya, sekedar berjalan-jalan di pasar minggu di jentung kota pahlawan ini, berjubel, membaur jadi satu dengan lautan manusia, yang haus akan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang sangat miring. Menawar, melihat, mengamati, atau sekedar numpang lewat. Peluh keringat tak mematahkan langkah-langkah kita menyusuri pasar ini. Atau kegiatan berbuka bersama yang juga sering kita lakukan manakala ramadhan tiba.

Rasanya semua itu tak perna berbekas di hatimu, hanya numpang lewat saja dan kemudian pergi,lenyap entah kemana. Aku heran denganmu, dengan sifatmu, kelakuanmu, dan kata-kata yang keluar dari mulut manismu. Apakah semua itu hanyalah kamuflase belaka, untuk memperoleh sesuatu yang kau harapkan dariku?memanfaatkankan diriku demi kepuasan egomu saja, tanpa sedikitpun memikirkan perasaanku? Jika memang iya, sungguh tak bermoral kelakuanmu jika itu yan kau lakukan padaku.

Aku bukan hendak mengungkit, tapi kaulah yang membuatku harus mengungkitnya. Tak peduli kau, orang-orang kantor, atau bahkan orang yang diluaran sana berkata apa kepadaku, aku tak peduli. Toh aku tak akan menjadi bagian dari kalian lagi, menjadi satu team untuk memajukan perusahaan yang mnghidupi kita ini.

Kau selalu meminta bantuanku dengan kata-kata manismu, merayuku, membujukku, untuk sesuatu hal yang ingin kau ambil dariku. Sebagai manusia yang mempunyai sifat “tidak tega”, aku mengiyakan semua kata-kata manismu, meskipun terkadang keluar dari idealismeku. Mulai berbagi makanan atau sarapan pagi, menjemputmu urtuk jalan-jalan dan masih banyak hal yang tak mungkin ku uraikan satu persatu.

Kekecewaanku kali ini semakin membuatku yakin dan tidak ragu-ragu lagi untuk meninggalkan
perusahaan ini, dengan sejuta kenangan yang tergoreskan didalam hatiku, pun tak membebaniku untuk merasa berat meninggalkan perusahaan ini. Terlebih kenangan denganmu kawan, yang ternyata hanyalah PALSU…

Selamat tinggal kawan “PALSU” ku, semoga dengan tulisan ini hatimu bias sedikit tergugah untuk memperbaiki kelakuan palsumu itu,dan tak akan kau ulangi di hari-hari kedepan.

 

Tentang tulisan Mas Razak, komentar saya mungkin agak panjang. Mohon maaf sebelumnya karena saya akan memosisikan diri sebagai TUKANG KRITIK.                                                  

Tulisan ini lebih mengesankan bahwa penulisnya sedang mengungkapkan kejengkelan kepada kawannya. Kejengkelan yang belum termaafkan hingga sekarang. Menurut saya, sekalipun kita sedang menulis tentang kejengkelan, tulisan tidak boleh mengesankan bahwa kita (penulis) adalah orang yang mudah sakit hati dan sulit memaafkan.

Menurut saya, penulis yang baik tidak boleh egois dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Tulisan yang baik harus bisa memberi “sesuatu” kepada pembaca. Seandainya saya harus membuat tulisan tentang pengalaman itu, pilihan saya adalah menulis renungan kontemplatif, betapa sebuah persahabatan yang begitu karib bisa putus hanya karena masalah yang sangat sepele seperti pinjam-meminjam mobil. Betapa kita begitu sulit menebak sikap seorang kawan, bahkan kawan paling dekat sekalipun. 

Meskipun kita benar-benar jengkel saat kejadian itu, kejengkelan tersebut tidak boleh terbawa saat kita menulis. Ketika sedang menulis dan menceritakan pengalaman masa lalu, kita harus bisa mengambil jarak dari kejengkelan itu sehingga kalimat yang kita tuliskan bisa lebih terkontrol. Jadi, sekalipun kita menuliskan sebuah perasaan sakit hati, tulisan tetap bisa kita buat bernada jenaka atau bijaksana, tanpa harus terkesan sok bijaksana. 

Untuk menguatkan efek kontemplatif, mungkin saya akan menambahinya dengan kata-kata bijak, misalnya ucapan Ali Bin Abi Thalib, ”Cintailah seseorang sekadaranya saja karena bisa jadi engkau akan membencinya suatu hari.” 

Pilihan kedua, kalau tidak berupa tulisan kontemplatif, saya akan membuat tulisan yang jenaka tentang kelakuan kawan saya itu. Selama ini saya menyangka dia seorang kawan sejati. Tak tahunya ternyata anggapan saya salah seratus persen. Saya akan menuliskan betapa naifnya teman saya itu, yang telah menganggap mobil dinas itu sebagai mobil pribadi. Mungkin di negaranya, orang-orang biasa menganggap mobil dinas sebagai mobil pribadi. Mungkin dia memang tidak pernah membaca nama yang tertera di dalam STNK mobil. Supaya menguatkan efek jenaka, mungkin tulisan itu akan saya tambahi pantun atau parikan ala Suroboyoan buatan saya sendiri. (Emshol)

 

Apakah seorang penulis tidak boleh meluapkan emosi waktu membuat tulisan? Bukankah itu kebebasan berekspresi, Mas? (Razak)

Menurut saya, meluapkan emosi saat menulis TIDAK DILARANG. Tulisan yang baik justru harus bisa membangkitkan dan menggiring emosi pembaca, sehingga seolah-olah si pembaca sedang berada dalam kondisi yang sedang kita ceritakan. Tetapi, untuk bisa melukiskan emosi itu, kita tidak harus terbawa emosi kita sendiri. Sebaliknya, kita harus bisa mengendalikan emosi. Ini sangat penting terutama ketika kita menulis fiksi. Jika kita punya kemampuan mengendalikan suasana hati, maka kita bisa melukiskan keadaan marah dengan sangat emosional meskipun sebetulnya kita tidak sedang marah. Kita bisa melukiskan keadaan sedih secara menghanyutkan meskipun sebetulnya kita tidak sedih. Itu yang saya maksud sebagai “mengambil jarak” dari pengalaman nyata.

 Kalau kita marah dengan seseorang, kita tak perlu membawa-bawa kemarahan itu saat menulis. Jika kita terbawa oleh emosi marah itu, maka besar kemungkinan tulisan kita akan menjadi sebatas ungkapan kemarahan saja. Tak lebih dari itu. Dalam posisi itu, pembaca hanya seolah-olah menyaksikan seseorang yang sedang marah-marah di depannya. Saya pribadi tidak suka berada dalam kondisi itu.

 Sebelum berangkat menulis, pertama-tama kita harus menentukan termasuk jenis apakah tulisan kita, fiksi atau nonfiksi. Jika itu nonfiksi, kita harus menentukan lebih dulu tujuan yang hendak dicapai dari tulisan itu. Apakah sekadar memberitahukan sesuatu ataukah ingin mempengaruhi opini pembaca.

Sekadar contoh: sebagai wartawan, saya ditugaskan menulis berita tentang kasus video mesum yang diduga melibatkan Ariel Peterpan. Sekalipun saya yakin seratus persen bahwa pelaku dalam video itu adalah Ariel, saya tidak boleh sama sekali memasukkan keyakinan saya ini di dalam tulisan. Saya harus tetap memosisikan diri sebagai orang yang sungguh-sungguh (tidak sekadar pura-pura) tidak tahu apakah pelaku video itu Ariel atau bukan. Inilah yang saya maksud sebagai “mengambil jarak” dari pengalaman nyata. Dalam kehidupan nyata, saya yakin orang di dalam video itu Ariel. Tapi sebagai penulis berita, saya tidak boleh membawa keyakinan itu saat menulis. 

Teknik “mengambil jarak” ini bisa juga kita terapkan dalam menulis fiksi. Dengan cara mengambil jarak, kita bisa menjadi siapa saja di dalam cerita fiksi. Kita bisa menjadi pahlawan yang pemberani sekalipun kita dalam kehidupan sehari-hari adalah seorang penakut. Kita bisa menjadi tokoh yang arif bijaksana di dalam cerita meskipun sebetulnya kita adalah orang yang gampang marah dan tidak sabaran. Kita bisa menjadi orang yang romantis di dalam cerita meskipun kenyataannya kita sama sekali bukan orang yang romantis. (Emshol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s