SENI MENULIS POPULER (2)

TULISAN

KOMENTAR

Apel dan Sebuah Keputusan

Oleh: Razak

Setelah mengikuti seminar dan workshop nasional yang bertajuk creative writing and story telling, gairah menulisku kembali menyeruak kedalam otakku. Aku merasa tersentil dengan salah satu latihan yang diberikan, salah satunya mendiskripsikan Apel yang telah sedikit termakan (kerowak kalau dalam bahasa jawa), Dalam bahasa yang se-menarik mungkin.

Ada tiga orang yang coba mendiskripsikannya, yang pertama seorang laki-laki dengan status mahasiswa, mendiskripsikan apel tersebut sebagai symbol dari teknologi system operasi computer “Apple Manchintos”. Seorang lelaki paruh baya coba mendiskripkannya, Dengan bahasa yang kurang enak & sedikit lucu, serta suara yang kurang lancer, namun pendiskripsiannya “kurang bermutu”, karena hanya mendiskripsikan apel sesuai dengan gambarnya, tidak mengambil sudut pandang (angle) yang lain. Terakhir seorang siswi SMA, mencoba mendiskripsikannya dengan ditambahi sedikit cerita. Cukup menarik, tetapi tetap saja tidak mendiskripsikan sudut lain tentang Apel tersebut.

Ketika dilakukan voting untuk menetukan sang pemenang, banyak orang yang mendukung laki-laki paruh baya ini, termasuk aku. Mungkin banyak dalam acara tersebut banyak temannya yang ikut hadir, sehingga perolehan suranya banyak. Selain itu mungkin karena orangnya agak lucu, dan membuat para peserta memilihnya, dan itu pula alasanku memilihnya. Karena semua terlalu monoton tapi yang satu ini ditambah dengan lucu. Namun keputusan Trinity pembicara sekaligus yang mengadakan games ini memutuskan pemenangnya adalah siswi SMA, yang deskrisinya ditambah dengan sedikit cerita.

Seandainya aku disuruh mendiskripsikan, maka aku akan mendiskripsikan Apel tersebut sebagai pilihan mengambil keputusan. Apel adalah buah yang kaya akan vitamin dan mineral disamping itu mempunyai tampilan yang hijau nan segar. Kalau kita memutuskan untuk memakannya, makanlah semuanya sehingga kita mendapatkan manfaat yang maksimal dari apel tersebut, dengan resiko tidak mempunyai lagi apel tersebut. Sama halnya dengan mengambil keputusan, kalau yakin dengan keputusan itu, ambillah jangan ragu. Karena kita akan mendapatkan sebuah pengalaman dari keputusan itu.

Namun jika kita tidak ingin memakannya, jangan makan sekalian. Temasuk mencicipi, dengan resiko tidak mendapatkan manfaat dari apel tersebut, tetapi mendapat keuntungan bisa “dipajang” karena tampilan luarnya yang menarik, hijau nan segar. Jangan mengambil keputusan jika tidak yakin dengan keputusan tersebut, kalau tidak, ya tidak sama sekali. Karena jika keputusan itu salah, kita tidak akan terjerumus pada kesalahan yang tak berkesudahan.

Kalau keputusan kita setengah-setengah, ibarat apel yang dimakan setengah. Maka, kita tidak akan mendapatkan manfaat maksimal dari apel, dengan segala vitamin dan mineralnya, juga tidak bisa “dipajang” karena sudah ada bekas gigitan. Apel tesebut akan menjadi kecoklatan dan lama-lama akan busuk, ujung-ujungya akan dibuang. Apakah pilihan kita jatuh kepada yang terakhir? Apakah mau nasib kita seperti apel yang dimakan setengah kemudian ditelantarkan, dan menjadi busuk? Jangan setengah-setengah dalam mengambil keputusan.

Putuskanlah “YA” atau “TIDAK SAMA SEKALI”

 Hal pertama yang perlu dikritik dari tulisan ini adalah deskripsi yang tidak jelas. Ketika menceritakan deskripsi lelaki paruh baya, Mas Razak menulis, “… Dengan bahasa yang kurang enak & sedikit lucu, serta suara yang kurang lancar, namun pendiskripsiannya “kurang bermutu...”  Begitu pula ketika menceritakan deskripsi si anak SMA itu, Mas Razak menulis, “… mendiskripsikannya dengan ditambahi sedikit cerita. Cukup menarik…”Ini adalah kalimat-kalimat yang tidak jelas. Apa yang dianggap kurang enak, kurang bermutu, sedikit lucu, cukup menarik? Cerita apa yang dituturkan oleh siswa SMA itu? Penulis haruslah seorang pencatat yang baik. Ia harus mengingat detail dan menceritakannya kembali dengan baik sehingga membuat pembaca seolah-olah ikut hadir dalam acara itu. Hal kedua, soal kreativitas pemilihan sudut pandang (angle). Pemilihan angle tulisan sangat dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan daya imajinasi penulis. Pemilihan sudut pandang Mas Razak (Ya atau Tidak) menurut saya cukup bagus, orisinal, dan khas. 

Agar kita kaya pengetahuan dan imajinasi, pertama-tama kita harus banyak (lebih tepatnya, amat sangat banyak) membaca. Riset, riset,riset! Seorang penulis haruslah seorang pembaca yang tekun. Kalau kita tak suka membaca, kita tak akan punya banyak pengetahuan. Kalau kita tak punya banyak pengetahuan, tulisan kita akan cenderung kosong tak berbobot. Kata orang Jawa Timuran, isinya cuma “gedabrusan ora mutu”. Agar bisa menulis satu halaman, setidaknya kita harus membaca bahan paling tidak dua puluh halaman. Jika perlu, seratus halaman.

Jika kita punya banyak pengetahuan cerita, kita akan punya imajinasi yang lebih kreatif. Salah satu cara mengembangkan imajinasi adalah menghubungkan apa yang kita lihat (dalam hal ini apel kerowak) dengan sebuah cerita lain yang terkenal. Saat melihat apel yang kerowak, kita bisa menghubungkannya dengan rasa bersalah Nabi Adam yang baru saja menggigit buah terlarang di surga. Kita juga bisa menghubungkannya dengan hukum gravitasi yang konon Isaac Newton menemukannya setelah mengamati buah apel yang jatuh—kita bayangkan saja ia merenung sambil makan buah apel. 

Agar kita bisa membuat tulisan tentang topik yang abstrak ini, kita harus membaca puluhan hingga ratusan halaman tentang hikayat Nabi Adam dan Isaac Newton. Di sinilah pentingnya riset. Riset, riset, riset! 

Riset akan sangat berguna ketika kita menulis topik yang biasa-biasa saja. Angle apel Macintosh, menurut saya, adalah sudut pandang yang biasa sebab mungkin itulah yang dipikirkan oleh sebagian besar orang ketika melihat gambar apel kerowak. Meski begitu, angle yang biasa ini tetap saja bisa menghasilkan tulisan yang menarik asalkan isinya tidak biasa. 

Angle “Ya atau Tidak” pun bisa dibuat menjadi lebih menarik dengan cara, misalnya, digabungkan dengan hikayat Apple Mac, khususnya tentang momen-momen “Yes or No” ketika Steve Jobs membuat keputusan-keputusan penting dalam perusahaanya. Kita tak perlu takut kekurangan bahan tulisan tentang Steve Jobs karena internet menyediakan bahan tersebut secara hampir tak terbatas. Tentu saja kita harus memilah bahan-bahan yang tepercaya dari referensi-referensi yang kredibel. Saat membaca bahan-bahan tentang Steve Jobs, radar pikiran kita harus menyala, mencari-cari momen “Yes or No” yang akan kita masukkan ke dalam tulisan.

Kisah berikut bisa menjadi salah satu contoh. Ketika para insinyur Apple membawa prototipe iPad, Jobs merasa ukuran iPad itu masih terlalu besar. Para insinyur itu beralasan, itu ukuran paling kecil yang bisa dibuat. Jobs tetap bersikukuh, kalau iPad masih seukuran itu, lebih baik Apple tidak memproduksinya. Lalu ia cemplungkan iPad itu ke dalam akuarium. Saat menyentuh dasar akuarium, iPad itu mengeluarkan gelembung udara. Lalu ia bilang, “Kalau masih ada udara, berarti masih ada ruang kosong.” 

Cerita orang terkenal, dalam hal ini Jobs, kita gunakan sebagai alat untuk mendongkrak bobot tulisan kita. Kita numpang beken. Kalau tulisan Mas Razak hanya seputar pengalaman ikut seminar, terus terang saya tak begitu berminat membacanya. Tapi kalau tulisan itu dibumbui dengan hikayat Steve Jobs, orang di balik sukses iPod, iMac, iPhone, iPad (iWon’tbuythem), saya mungkin akan lebih tertarik untuk membacanya. Kisah kenapa Jobs memilih nama apel untuk komputernya pun bisa menjadi bumbu tulisan yang menarik. 

Kesimpulan saya, maaf, masih ada banyak “gelembung udara” jika tulisan ini dicemplungkan ke dalam akuarium :p (Emshol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s