Para Hacker yang Bekerja di dalam Bungker [intisari]


Penulis: M. Sholekhudin

Beberapa bulan lalu WikiLeaks menciptakan kehebohan di dunia. Ribuan dokumen rahasia milik AS dicuri dan disebarluaskan. Sebagai organisasi para hacktivist (hacker sekaligus aktivis), WikiLeaks memang fenomenal. Mereka bisa mencuri rahasia negara adidaya sambil tetap bisa merahasiakan diri. Tak banyak yang diketahui oleh publik mengenai seluk-beluk internal jaringan para hacktivist ini.

WikiLeaks bahkan tak punya kantor permanen. Julian Paul Assange, pendiri WikiLeaks, biasa berkelana dan bekerja di mana saja. ”Kantor tetapnya” adalah sebuah tas ransel yang berisi laptop, telepon genggam, dan berbagai perlengkapan komunikasi-informasi. Bukan hanya Assange, para relawan penyokong WikiLeaks juga bekerja dari mana saja. Mereka ada di mana-mana. ”We are Everywhere. We are Everyone. We are Anonymous,” begitu semboyan mereka. Tipikal perilaku para peretas dunia maya yang selalu merahasiakan identitas mereka.

Jika menyangkut rahasia negara yang berhasil dicuri, mereka sangat terbuka. Tapi jika menyangkut seluk-beluk internal organisasi WikiLeaks, mereka cenderung tertutup. ”Kami adalah kumpulan para penderita skizofrenia paranoid,” kata Birgitta Jonsdottir, salah satu relawan WikiLeaks, seperti dikutip oleh Raffi Khatchadourian, wartawan majalah New Yorker AS. Khatchadourian adalah salah satu dari sedikit wartawan yang diperbolehkan meliput kegiatan sehari-hari Julian Assange dan kawan-kawannya langsung di markas WikiLeaks.

Ketika para relawan WikiLeaks bekerja mengedit dokumen rahasia AS dalam perang Irak, Assange menyewa sebuah rumah di Islandia, negara kecil yang terletak di ujung utara bola Bumi. Assange sengaja memilih Islandia sebagai markas karena ia menganggap negara itu paling aman bagi orang yang punya banya musuh seperti dia. Kebetulan ia juga punya banyak kawan di sana. ”Kami jurnalis yang akan meliput letusan gunung berapi,” kata Assange kepada pemilik rumah. Saat itu, Maret 2010, Islandia memang sedang diserang oleh asap vulkanik letusan Gunung Eyjafjallajokull.

Lokasi rumah yang mereka sebut ”bungker” ini hanya beberapa blok dari Samudra Atlantik Utara. Di sini angin laut sewaktu-waktu bertiup kencang bercampur es dan salju sekalipun tidak sedang musim dingin. Di rumah yang terletak di kota Reykjavik ini, Assange dan para relawan WikiLeaks bekerja siang malam menyelesaikan ”Proyek B”. Ini adalah kode yang mereka gunakan untuk dokumen video pembunuhan dua wartawan Reuters dan belasan warga sipil di Irak oleh tentara AS yang kemudian terkenal sebagai Collateral Murder.

Selalu berpindah-pindah

Di WikiLeaks, para staf bekerja tanpa bayaran. Di sini tidak ada bos atau bawahan. Assange sendiri hanya menyebut dirinya sebagai editor WikiLeaks sekalipun semua orang tahu ia adalah aktor utama di belakang WikiLeaks. Raffi Khatchadourian menuturkan, Assange tidak pernah menetap lama di suatu tempat. Ia bepergian dari satu negara ke negara lain. Saat berada di satu kota, biasanya tinggal di kediaman kawannya atau teman dari kawannya.

Tak jarang ia tinggal di bandara. Jumlah relawan yang membantunya diperkirakan ratusan sampai ribuan orang di seluruh dunia. Ini setidaknya bisa kita lihat dari banyaknya situs mirror WikiLeaks yang bermunculan di berbagai negara setelah penyedia domain di AS membunuh situs WikiLeaks.org. Banyak di antara relawan itu tidak saling kenal. Mereka berkomunikasi dengan identitas rahasia berupa inisial dan kode. Komunikasi dilakukan lewat chatting dalam bahasa enkripsi (disandikan). Saat wawancara untuk majalah New Yorker pun para relawan WikiLeaks itu berkomunikasi dengan reporter lewat cara ini.

Assange tak kalah misterius dari para relawan WikiLeaks. Nomor telepon dan alamat surat elektroniknya (e-mail) selalu berganti-ganti. Bahkan kawan-kawan dekatnya pun sering dibuat kerepotan dengan perilakunya ini. Ia selalu berpindah-pindah tempat dan selalu menyembunyikan lokasi keberadaannya. Setiap kali para relawan WikiLeaks berkomunikasi dengan sesama relawan, mereka punya pertanyaan yang sama, ”Di mana Julian sekarang?”

Diunggah di 20 server

Sebelum mendirikan WikiLeaks, Assange sudah membangun jaringan relawan di Australia, negara kelahirannya. Tahun 2006, ia menyewa rumah di dekat kampus University of Melbourne, tempat ia pernah kuliah di bidang fisika dan matematika. Ia mempersilakan para backpacker menginap di rumah ini. Syaratnya, mereka harus mau membantu Assange mengelola situs yang menjadi cikal-bakal WikiLeaks. Lewat cara perkawanan inilah Assange merekrut para relawan yang bersedia bekerja tanpa gaji.

Di WikiLeaks, Assange memegang kendali penuh dalam mengambil keputusan. Ia sendiri yang memastikan bahwa semua dokumen WikiLeaks disimpan dengan cara seaman mungkin. Sekali data WikiLeaks diunggah (upload) di internet, maka data itu praktis tidak mungkin dihapus dari internet. Caranya, data itu itu diunggah ke lebih dari dua puluh server dengan ratusan nama domain yang berbeda-beda di negara yang berbeda-beda. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa data itu tidak akan hilang. Jadi, sekalipun ada beberapa data yang dibuang dari internet, maka masih ada puluhan data lain sebagai cadangan. Praktis tidak mungkin menghilangkan data itu dari internet.
Ketika sebuah video hendak diunggah ke Youtube, Assange menyuruh relawan WikiLeaks untuk menghubungi pihak Google. Tujuannya untuk mendapat jaminan bahwa video itu tidak akan dicabut atas tekanan pihak ketiga yang merasa dirugikan.

Untuk menjaga server WikiLeaks dari serangan siber musuh-musuhnya, Assange menerapkan sistem keamanan yang berlapis-lapis. ”Sistem ini lebih aman daripada sistem bank mana pun,” katanya. Setelah didepak dari AS, situs WikiLeaks menggunakan jasa penyedia layanan internet (ISP) Bahnhof di Swedia yang servernya disimpan di dalam bungker antinuklir sisa era Perang Dingin.

Bungker ini dibangun di kedalaman 30 m di bawah permukaan bebatuan cadas. Dalam dunia hacking, lokasi server di dalam tanah atau di gedung biasa memang tak ada bedanya. “Tapi bungker ini adalah metafora bahwa kami berkomitmen penuh untuk melindungi data dari para penyusup,” kata Jon Karlung, pejabat eksekutif di Bahnhof. Server utama di Swedia ini dihubungkan dengan server di Belgia dan di beberapa negara lain yang memperbolehkan penggunaan jasa internet tanpa identitas alias anonim. Sistem keamanan ini demikian rumit. Tidak semua relawan punya hak mengakses sistem jaringan ini.

Sistem yang tertutup ini memang bisa menjamin dokumen-dokumen WikiLeaks tetap aman. Namun, di sisi lain, sistem yang tidak sepenuhnya terbuka ini menyebabkan banyak relawan yang kemudian hengkang dari WikiLeaks. Mereka menganggap WikiLeaks adalah sebuah ironi. Assange mendengung-dengungkan kebebasan informasi, tapi pada saat yang sama ia menyembunyikan informasi, bahkan bagi relawan WikiLeaks sendiri.

Selalu paranoid

Raffi Khatchadourian menggambarkan, Assange adalah maniak komputer yang sangat cerdas. Jika ia sudah berkonsetrasi di depan komputer, ia bisa lupa urusan apa pun. Ia bisa berkonsentrasi penuh selama beberapa hari di depan komputer tanpa istirahat. Saat menyelesaikan salah satu proyek WikiLeaks di Paris, Prancis, Assange pernah berada di dalam kamar selama dua bulan penuh tanpa pernah keluar. Para relawan WikiLeaks memastikan semua kebutuhannya tercukupi selama dua bulan itu. Urusan makan, kartu kredit, pembelian tiket pesawat, dan lain-lain dikerjakan oleh relawan.

Tapi di balik sifat cerdasnya, Assange adalah seorang pelupa, ter
utama dalam urusan pemesanan tiket pesawat terbang. Sebagai orang yang hidup nomaden, ia jelas sering bepergian dengan pesawat terbang. Tapi ia sangat payah dalam urusan ini. Kadang ia lupa memesan tiket, kadang lupa membayar pesanan tiket, kadang sudah memesan tiket tapi lupa jam keberangkatan, kadang lupa nama samaran yang ia gunakan untuk memesan tiket.

Sebagai hacker yang punya banyak musuh, Assange mau tidak mau harus hidup dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Saking waspadanya, ia cenderung menjadi paranoid. Ke mana-mana ia merasa dibuntuti orang lain. Biasanya, orang yang bersamanya pun ketularan menjadi paranoid. Suatu kali ia berada di Swedia untuk sebuah urusan. Di sana ia menginap di tempat tinggal seorang wartawati relawan WikiLeaks. Tanpa sepengetahuan Assange, wartawati itu kabur meninggalkannya sendirian di rumah karena ia merasa dibuntuti oleh agen CIA.

Assange beruntung punya kawan relawan yang bisa diandalkan dalam urusan ini, Rop Gonggrijp. Ia seorang aktivis, pengusaha, juga peretas asal Belanda. Di WikiLeaks, ia menjadi manajer tak resmi sekaligus donatur. Dialah yang memastikan bahwa para relawan bisa bekerja dengan baik tanpa harus berpikir mengenai urusan logsitik. ”Julian sudah biasa kurang tidur dan menghadapi situasi kacau, tapi bagaimanapun dia tetap punya keterbatasan. Saya bergabung dengannya untuk membuat dia lebih santai,” katanya.

Kehidupan Assange mirip tokoh mata-mata di film Hollywood. Ke mana pun pergi, ia hanya membawa tas ransel berisi perlengkapan penting seperti laptop dan telepon genggam. Dalam kondisi ringkas tanpa banyak bawaan itu, ia bisa dengan mudah pergi dari satu tempat ke tempat lain. Jika naik taksi, ia tidak pernah berhenti di depan gedung yang dituju. Ia biasanya minta turun beberapa blok dari gedung lalu berjalan kaki menuju tempat yang dituju.

Hanya demi kebebasan informasi

Relawan WikiLeaks tidak hanya berasal dari kalangan peretas atau ahli teknologi informasi-komunikasi, tapi juga aktivis politik, wartawan, pengusaha, penerjemah, hingga pembuat film. Salah satu aktivis politik yang bergabung dengan WikiLeaks adalah Birgitta Jonsdottir, anggota parlemen Islandia, yang juga seorang seniman dan sastrawati.

Para relawan ini bisa bekerja sama dengan Assange karena dipersatukan oleh ideologi yang sama, yaitu kebebasan informasi. Assange dan para peretas WikiLeaks bukan tipe penyusup dunia maya yang suka membobol rekening bank. Mereka bekerja tanpa bayaran demi ideologi kebebasan informasi. Namun, banyak pihak menyangsikan hal ini.

Mereka menganggap pasti ada agenda tersembunyi dan penyandang dana di belakang WikiLeaks. Assange sendiri berulang-ulang menegaskan bahwa dana operasional WikiLeaks sepenuhnya diperoleh dari donasi. Tak ada agenda lain selain kebebasan informasi, juga tak ada penyandang dana tetap.

Bahkan ia menyebutkan, setelah mempublikasikan video Collateral Murder, WikiLeaks mendapat donasi lebih dari AS $ 200.000,- (sekitar Rp 1,8 miliar). Dengan hasil donasi inilah WikiLeaks membayar biaya hosting internet dan semua keperluan operasional lain. WikiLeaks sepenuhnya tergantung kepada donasi. Itu sebabnya mereka cukup kerepotan ketika Visa, MasterCard, dan PayPal menutup saluran donasi atas tekanan pemerintah AS.

WikiLeaks bekerja tidak seratus persen mengandalkan kemampuan hacking. Mereka juga dibantu orang dalam yang bersedia membocorkan dokumen rahasia. Assange sendiri mengakui ini. Ketika dua wartawan Reuters terbunuh di Irak, pihak Reuters menggunakan hukum Freedom of Information Act yang berlaku di AS untuk menuntut agar mereka bisa mendapatkan video kejadian itu.

Tapi mereka tak pernah mendapatkannya. Justru WikiLeaks yang mendapatkan video itu dengan bantuan orang dalam, yang diyakini adalah Bradley Manning, analis intelijen Angkatan Darat AS. Video itu dibocorkan ke WikiLeaks dalam bentuk data yang sudah dienkripsi. Assange mengaku membuhkan waktu beberapa bulan untuk memecahkan enkripsi itu.

Sekalipun Assange beberapa kali memenangi penghargaan di bidang media, banyak pihak menganggap Assange tidak bisa disebut sebagai wartawan, dan WikiLeaks bukanlah produk jurnalistik. Namun, Assange tidak peduli. Baginya, tidak penting apakah ia dianggap sebagai wartawan atau tidak. Juga tidak penting apakah WikiLeaks disebut media, media baru, media alternatif, atau apa pun istilahnya. Yang penting bagi dia adalah bahwa ia melakukan tugas yang mestinya dilakukan oleh wartawan.

Dalam sehari, WikiLeaks rata-rata menerima beberapa puluh dokumen rahasia yang dikirim oleh simpatisannya dari seluruh penjuru dunia. Tapi tidak semua data itu akurat. Untuk menyaring data-data itu, WikiLeaks menerapkan standar seperti yang digunakan di dunia jurnalistik. Misalnya, saat hendak memublikasikan video Collateral Murder, WikiLeaks mengirim dua orang wartawan untuk melakukan verifikasi di lokasi peristiwa. Kedua wartawan ini berangkat ke Irak dan melakukan wawancara dengan keluarga korban, pihak rumah sakit, dan saksi-saksi untuk memastikan bahwa kejadian di dalam video itu memang benar.

Dalam menganalisis sebuah dokumen rahasia, terutama yang berkaitan dengan dunia militer, para pentolan WikiLeaks kadang hanya bisa berspekulasi dan bertindak sok tahu tanpa berdiskusi lebih dulu dengan ahli di bidang militer. Mereka melakukannya karena masalah keamanan. Suatu kali Assange pernah berdiskusi dengan pihak militer. Namun ketika mereka tahu bahwa Assange adalah orang di balik WikiLeaks, mereka pun menjadi paranoid. ”Orang-orang militer itu lebih sering membahayakan daripada membantu,” katanya.

Advertisements

2 thoughts on “Para Hacker yang Bekerja di dalam Bungker [intisari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s