SENI MENULIS POPULER (3)

TULISAN

KOMENTAR

Berikan sedikit kasih sayangmu, Bapak…..

Oleh: Razak

 

Sejak aku masih dalam kandungan, kau tinggalkan aku. Kau telantarkan aku dengan ibu, yang harus bersusah payah membawa aku yang masih didalam kandungan, kemana-mana. Kau tidak menunjukkan rasa kasih sayangmu dengan cara memegang perut ibu yang membuncit, mendengarkan tendangan-tendanganku, yang masih dalam kandungan.

Disaat aku akan lahir ke dunia yang indah namun fana ini, tak pernah terbesit dibenakmu untuk menengok atau sekedar melihat proses kehadiran jagoan kecilmu ini. Sampai ibu dan paman mencarimu kemana-mana, untuk sekedar memberitahukan bahwa jagoan kecilmu akan segera hadir ke dunia ini.

Tapi untunglah kau datang juga disaat proses kelahiranku, itu mengisyaratkan kau masih mempunyai sedikit hati nurani, dan sedikit tanggung jawab. Mencurahkan sedikit kasih sayangmu untuk aku dan Ibu. Ya, memang kadarnya cuma sedikit. Tapi tak apa,yang terpenting kau ada disamping ibu, disaat ibu berjuang antara hidup dan mati,melahirkan anakmu ini.

Setelah kelahiranku, kau memberi Ibu segepok uang untuk keperluan rumah tangga, termasuk keperluanku yang masih bayi. Kau pergi mencari uang lagi, Tapi pernahkah terbesit dibenakmu untuk mencurahkan sedikit kasih sayangmu untuk keluarga kecil ini???

Mungkin jawabannya TIDAK, buktinya kau hanya pulang seminggu atau bahkan sebulan sekali untuk sekedar memberi nafkah lahiriyah saja. Atau mungkin, kau telah melampiaskan nafsu hewanimu ke orang lain? Entahlah aku tak tahu. Tetapi terkadang kau tidak pulang, sibuk mencari uang di negeri seberang. Seakan uang adalah segalanya bagimu, yang bisa menyelesaikan berbagai masalah. Yang mungkin diotakmu, uang bisa memberi kepuasan batin, tidak hanya kepuasan lahiriyah. Sungguh pemikiranmu sangat pendek.

Pun ketika kelahiran adikku, 3 tahun berselang dari kelahiranku. Kau tak hadir melihat pahlawan barumu lahir ke dunia, yang mungkin akan menyelamatkanmu kelak di akhirat. (Semoga adik, memakluminya).

Akupun tumbuh menjadi anak yang tegar dengan asuhan lembut seorang Ibu. Akupun masuk sekolah TK (Taman Kanak-kanak). Aku berangkat ke sekolah seorang diri, disaat teman-temnku diantar oleh Ibu mereka dengan membawa sepeda, sambil bercanda ria diatas sepeda, bahkan sampai memantau perkembangan anaknya di sekolah. Aku tak pernah merasakan hal yang seindah itu, bercanda dengan Ibu saat berangkat atau pulang sekolah. Karena Ibu harus banting tulang menghidupi keluarga (aku dan adikku).

Ah…..aku tak peduli dengan semua itu, aku akan memberikan yang terbaik untuk ibuku, dan itu terwujud. Walaupun perkembanganku di TK hampir tidak pernah dipantau, nilai akademisku tak pernah anjlok, buktinya aku berhasil menyabet beberapa gelar juara di tingkat kecamatan. Aku bersyukur mungkin ALLAH memberi karunia kepada ku otak yang cerdas.

Pun berlanjut sampai tingkat SD, aku selalu berhasil menyabet juara kelas. Dan berbagai perlombaan tingkat kecamatan dan kabupaten. Tapi, terasa ada yang kurang ketika pengambilan raport, hampir seluruh temanku yang mengambil adalah Bapaknya, tetapi yang mengambil raportku adalah Ibu. Lagi-lagi kau tak memberikan kasih sayangmu hanya untuk mengambilkan raportku. Bahkan terkadang untuk tanda tangan raport saja, diwakilkan ke tetangga. Karena ibu tidak bisa tanda tangan. Ironis memang.

Sampai suatu ketika terjadi sebuah bencana besar, kau mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan kaki kirimu pincang. Sontak kau tidak bisa bekerja lagi, tetapi dengan sabar, Ibu mengurusimu sembari mencari nafkah untuk keluarga kecil ini. Ibu mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk keluarga, termasuk untukmu, Bapakku.

Kau mulai perhatian terhadap keluarga, telah berubah menjadi orang yang sangat jauh berbeda. Kau mulai mencurahkan kasih sayangmu kepada keluarga ini,disaat kau tidak bisa memberi segepok uang, yang selalu kau jadikan senjata untuk mengelak dari kewajibanmu sebagai seorang Bapak.

Saat itu aku merasa lengkaplah keluarga ini, walaupun terkesan aneh. Ya, aneh karena ibu harus bekerja ekstra sebagai tumpuan keluarga juga sebagai Ibu rumah tangga. Tapi Ibu adalah orang yang sangat tegar, mampu menjalani ini semua dengan hati yang ikhlas tanpa pernah sedikitpun mengeluh.

Hal ini tak berlangsung lama, ketika kau mulai sedikit sembuh. Tingkah laku mu kembali lagi, bekerja di tempat yang jauh dan jarang pulang.

Saat aku beranjak masuk SMP, aku berusaha ikut membantu Ibu mencari nafkah dengan jalan menjai guru Les. Dan hasilnya cukup lumayan untuk mengurangi beban Ibu.

Kehidupan seperti ini berlangsung sampai aku dan adikku dewasa. Kami pun hidup tentram tanpa seorang bapak (yang juga kepala kelurga), di tengah-tengah keluarga kami. Tiba-tiba kau datang, bak tamu tak diundang, menerobos masuk ke kehiduapn kami yang telah tenteram ini.mengusik ketentraman yang telah lama bersemi di keluarga ini. Mungkin sudah tidak ada yang mau menerimamu bekerja, karena kelakuan bejatmu itu.

Awal-awal kau masuk ke kelurga kecil ini, sikapmu sungguh nista bagai binatang. Karena atmosfir keluarga ini yang tentram dan damai, sedikit demi sedikit sifat bejatmu itu terkikis, tapi belum hilang seutuhnya.

Aku dan adikku canggung menghadapimu, dan kau mungkin sama. Tapi kau tidak pernah menunjukkan niat baikmu untuk berubah dan berbenah diri. Untuk meluluhkan hati ku dan adikku, serta melebur kecanggungan ini., dengan memberikan sedikit kasih sayangmu pada keluarga kecil ini. Keluarga yang telah porak-poranda oleh kelakuanmu dan dibangun kembali oleh tangan lembut Ibu. Semoga kau bisa memberikan sedikit kasih sayangmu, Bapakku…

   

Di cerita itu, Mas Razak seolah-olah bicara kepada tokoh Bapak, yang dalam cerita ini dilukiskan sebagai orang yang berkelakukan bejat. Cara bertutur seperti ini sangat baik. Jadi, seolah-olah kita sedang bicara dengan seseorang. Saya sendiri menyukai gaya berbicara kepada seseorang. Tapi, menurut saya, kalau Mas Razak memilih tokoh Bapak sebagai orang yang diajak bicara, maka tulisan itu (sekali lagi) akan banyak berisi caci maki yang tidak enak dibaca.

 

Akan lebih enak, misalnya, jika tokoh yang diajak bicara itu bukan Bapak tapi Ibu. Dalam cerita ini ibu dilukiskan sebagai tokoh baik, korban kezaliman. Dengan begitu, tulisan kita akan terdengar empatik dan enak dibaca. Tidak sekadar berisi caci maki. Emosi pembaca juga mudah digiring untuk ikut merasa berempati kepada tokoh Ibu.

 

Dalam kepenulisan, saya percaya satu hal: kepribadian penulis bisa sedikit dilihat dari tulisannya. Jangan sampai pembaca menyangka kita sebagai orang yang gampang marah hanya karena membaca tulisan kita. Saya mengamati, dua kali Mas Razak mengirimkan dua cerita fiksi, KAWAN PALSU dan BAPAK BEJAT. Dua-duanya, menurut saya, merupakan ungkapan kemarahan kepada tokoh yang buruk. Padahal, dalam fiksi banyak sekali imajinasi yang bisa dibangkitkan, bukan hanya perasaan marah, bisa juga sedih, cinta, takjub, humor, takut, semangat, pengalaman seru, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi kalau cerita fiksi kita banyak memberi kejutan yang tidak disangka-sangka oleh pembaca. (Emshol)

 

Sebetulnya tulisan saya ini non fiksi (fakta) dari pengalaman pribadi saya. Apakah tulisan saya yang terkesan marah ini bisa diedit? Oh ya, apakah ada buku panduan menulis fiksi yang bisa direkomendasikan buat saya? (Razak)

 

Oh, maaf, saya kira ini fiksi. Kami (editor) punya dua tugas. Pertama, membuat tulisan yang tidak memenuhi kaidah tata bahasa menjadi tulisan yang taat tata bahasa. Kedua, membuat tulisan yang tidak menarik dibaca menjadi tulisan yang menarik. Secara umum, tugas pertama (membakukan ejaan) jauh lebih mudah daripada tugas yang kedua. Terus terang saya kesulitan mengutak-atik tulisan Mas Razak karena tulisan itu adalah cerita yang bersumber dari pengalaman pribadi. Sedangkan saya tidak tahu bagaimana pengalaman pribadi Mas Razak.

 

Ada satu hal yang harus dicatat: tidak semua pengalaman pribadi kita layak ditulis dan diceritakan kepada banyak orang. Saya sendiri, kalau punya ayah bejat seperti itu, atau punya kawan yang menyebalkan, saya memilih untuk tidak menceritakannya. Saya hanya akan menjadikan itu sebagai inspirasi untuk menemukan ide tulisan. Jadi, tulisan saya tidak harus tentang ayah yang bejat atau kawan yang tidak tahu diri.

 

Seandainya pun harus menceritakannya, dan seandainya saya boleh mengarang, mungkin saya akan mengubah sudut pandangnya. Bukan berbicara kepada tokoh Bapak, tetapi pada tokoh Ibu. Dan tulisan saya mungkin akan dimulai seperti ini:

 

Ibu, masih ingatkah engkau saat pertama kali bertemu dengan Bapak? Apakah Ibu dipaksa untuk menikah dengannya seperti perempuan-perempuan zaman dulu yang diceritakan di roman-roman zaman pujangga baru? Ataukah Ibu memilihnya sendiri seperti para perempuan zaman sekarang yang mencari suami lewat acara kontak jodoh ala stasiun televisi Amerika?

 

Ibu, setelah beranjak dewasa, aku baru tahu bahwa menjadi perempuan ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi laki-laki. Kini aku paham mengapa Kanjeng Nabi Muhammad mewasiatakan kepada kami agar memuliakan ibu tiga derajat di atas bapak.

 

Dan seterusnya…

 

Atau, pilihan lainnya, saya akan menulis dengan sudut pandang seolah saya sedang bicara kepada adik saya. Saya anggap saja adik saya seorang perempuan, usia remaja, namanya Rahmah. Dan tulisan saya akan dimulai kira-kira seperti ini:

 

Dik, tahukah kamu bahwa tiap kali aku memandang matamu yang cantik itu dalam-dalam, sebetulnya aku sedang berdoa di dalam hati agar engkau kelak tidak salah memilih suami seperti yang dilakukan oleh ibu. Kita memang tak bisa membedakan kebaikan dan keburukan di masa depan. Tapi kita selalu punya kebebasan untuk memilih. Dan pilihanmu dalam perkara ini akan sangat menentukan hidupmu selanjutnya.

 

Aku tidak lebih bijaksana daripada dirimu, Dik. Tapi engkau tak perlu ragu sedikit pun bahwa aku sungguh mencintaimu. Nanti ketika tubuhmu mulai ranum, Dik, para lelaki akan datang kepadamu seolah engkau adalah bunga yang siap dipetik. Kau akan dianggap serupa benda-benda yang bisa dimiliki dan dikuasai. Sebagian mereka mungkin akan menggunakan muslihat yang bisa menipumu. Aku mengatakan demikian karena aku seorang laki-laki, Dik. Aku paham perilaku kaumku karena kami sama-sama dikendalikan oleh hormon testosteron.

 

 Dan seterusnya…

 

Tentang buku menulis fiksi, saya tidak begitu giat menulis fiksi. Jadi, saya tidak begitu tahu buku panduan penulisan fiksi yang layak direkomendasikan. Memang saya pernah membaca beberapa buku panduan penulisan fiksi. Tapi menurut saya, sekali lagi, buku-buku panduan itu biasanya terlalu teoretis.

 

Saya termasuk tipe orang lebih suka learning by doing. Menurut saya, pertama-tama yang amat sangat penting untuk dilakukan adalah banyak membaca contoh tulisan yang kita kehendaki. Kalau kita ingin terampil menulis fiksi, pertama-tama kita harus banyak membaca contoh tulisan fiksi. Kalau kita ingin terampil menulis artikel, kita harus banyak membaca contoh artikel. Dari contoh langsung itu kita bisa belajar secara langsung tanpa harus bergulat dengan teori-teori. (Emshol)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s