SENI MENULIS POPULER (4)

TULISAN

KOMENTAR

Aku bersamamu teman-teman yang kalah

Oleh: Razak

Geliat Ujian Akhir Semester (UAS) sudah mulai dikalangan mahasiswa. Banyak persiapan-persiapan yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk menghadapi UAS, mulai dari belajar ekstra, sampai memfotocopy catatan teman karena jarang atau bahkan tidak pernah mencatat.

Itulah hal-hal yang selalu mewarnai di kala UTS atau UAS akan dilaksanakan. Tapi yang paling membuatku  tergelitik geli adalah saat-saat UAS tersebut berlangsung. Dimana di kelasku ada 3 orang anak yang diberi julukan oleh teman-teman “ satu kelas,tiga orang”. Mengapa demikian?

Ternyata setelah aku mencari-cari kesana kemari, aku mendapat pertanyaan yang membuatku tergelitik. “satu kelas, tiga orang”, maksudnya bukan satu kelas hanya diisi tiga orang saja, tetapi dalam satu kelas mereka (tiga orang teman) seperti memiliki kehidupan sendiri-sendiri, seperti kelas itu hanya berisi tiga orang tersebut, padahal banyak orang di dalamnya, mereka tidak mau berbagi rasa dengan teman-teman lain. Padahal teman-teman sekelas pada suka mencontek. Wajarlah, karena di perguruan tinggi swasta kami bersekolah.

Hal  itu seolah menarik ingatan-ingatanku  di masa lampau (SD dan SMP), tentang tingkah pola anak-anak yang pandai ketika mengahadapi ujian atau ulangan harian. Mereka cenderung individualis, dan tak peduli pada lingkungan sekitarnya. Seolah mereka hidup sendiri di dalam kelas tersebut, maka jangan heran jika muncul lagi julukan “satu kelas, empat orang” lima orang bahkan sepuluh orang, tergantung jumlah orang pandai yang individualis di dalam kelas tersebut berapa.

Aku pernah mencoba berbincang dengan mereka yang pandai tapi individualis tersebut, alasan yang mereka lontarkan bermacam-macam ada yang beralasan itu (UTS/UAS) untuk mengukur kemampuan diri,  mencotek itu sifat buruk karena selalu mengandalkan orang lain. Ada juga yang bilang “ udah belajar capek-capek, enak aja di contoh”,  dan masih ada segudang atau bahkan segunung alasan-alasan seperti itu.

Mungkin mereka lupa hakekat dirinya sendiri sebagai manusia? Bukankah mereka adalah makhluk social yang mau tidak mau, suka tidak suka, pasti membutuhkan orang lain dalam kehidupannya? Dalam situasi apapun tak terkecuali pas UTS atau UAS. Atau mereka tidak pernah mendengarkan kata dosen pendidikan kewarganegaraan, dimana dosen pernah mengajar tentang manusia yang UTUH, itu manusia yang berakhlak, berilmu dan beramal. Jadi kenapa membantu orang waktu UTS / UAS tidak dijadikan sebagai “amal” mereka sebagai salah satu manusia yang utuh.

Aku membayangkan saja, bagaimana rasanya mereka yang tidak bisa dalam ujian dan tidak mendapat contekan. Sakit rasanya. Apalagi jika yang bersangkutan adalah anak yang rajin dan pintar, yang kebetulan waktu dilaksanakannya ujian tersebut menghadapi masalah dirumah atau di kantornya. Sungguh ironis, jika yang bersangkutan tidak lulus satu atau beberapa mata kuliah hanya gara-gara masalah rumah atau masalah kantor yang membelitnya. Dan hal tersebut juga diperparah oleh sifat-sifat manusia yang lupa akan hakikatnya sebagai makhluk social…

Ironis memang, tapi kembali lagi ke hati nurani masing-masing. apakah masih ada secercah cahaya nurani mereka yang masih memikirkan dirinya sendiri untuk sedikit menengok mereka yang tengah gusar menghadapi tulisan-tulisan membingungkan yang ada dihadapannya. Menatap dalam-dalam tulisan tulisan itu, dan coba memahaminya untuk kemudian menemukan jawaban yang pas dan cocok sesuai BUKU dan catatan yang ada. Catatan yang terkadang tidak lengkap karena pernah tidak masuk kuliah demi menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk atau karena rasa malas yang sering menghinggapi diri mereka.

Aku memang tidak bisa berbuat banyak untuk menyadarkan mereka yang individualis itu. Hanya dengan tulisan ini aku berkata, berseloroh kepada mereka yang masih memiliki rasa individualis yang mengental dalam jiwa mereka. Mereka yang lupa akan teman yang bisa meminjami pundaknya ketika mereka menangis, teman yang selalu mengulurkan tangannya ketika mereka butuh bantuan, yang selalu menengadahkan tangan ke atas untuk memintakan yang terbaik buat mereka.

Siapa yang salah atas hal ini? Tidak ada, semuanya berada dipihak yang benar sesuai dengan pikiran masing-masing. Tapi aku bersamamu teman-teman yang kalah. Aku yakin kalian bukanlah para pecundang yang hanya bisa numpang nebeng absen, ketika tidak masuk kuliah. Kalian tidak masuk kuliah demi mengejar rupiah yang nantinya menjadi tumpuan keluarga kalian. Kalian mengorbankan sedikit ilmu kuliah untuk keluargamu, itu hal yang luar biasa. Daripada para wakil kita di senayan yang kita bayar dengan hasil keringat kita, enak-enakan bolos tapi minta gaji selangit.

Wajarlah kalian terkadang tidak bisa mengerjakan satu dua soal, karena konsentrasimu terpecah dengan urusan lain. Hebatnya kalian masih punya semangat untuk mengejar nilai yang sebaik mungkin. Ya, mungkin caranya dipandang kebanyakn orang kurang benar dan kurang pantas, mencontek. Itu karena mereka tidak berada diposisi yang sama seperti kalian. Atau setidaknya merasakan sedikit rasanya menjadi orang yang tidak bisa atau sedang blank waktu ujian. Pasti mereka akan melakukan hal yang sama, dan sikap individualis itu akan segera sirna.

Bagaimana mungkin bisa menjadi generasi penerus yang baik, bagi bangsa yang sangat menjujung tinggi rasa gotong royong ini? Jika dalam hal-hal yang sepele seperti ini tiudak mau “bergotong royong”. Memang gotog royong yang satui ini tidak baik, namun jika nanti hasilnya baik atau malah memuaskan dan demi kebaikan orang banyak, kenapa tidak??? Jadi jangan heran jika nanti banyak generasi penerus yang bias berfoya-foya dan hidup layak, sedangkan nasib rakyat jelata yang harus mengais sesuap nasi di tempat sampah yang kotor nan kumuh.

Atau nanti wakil kita yang melenggang ke kursi panas, tidak akan mendengarkan aspirasi rakyat yang telah mengantarkan mereka ke kursi panas tersebut. Walaupun rakyat menjerit sampai mulut berbusa, atau bahkan pita suaranya hilang, para wakil rakyat itu cuek-cuek saja, seperti yang dilakukannya di bangku pendidikan yang cuek akan temannya yang tidak bisa dan meminta bantuannya.

Sekali lagi, aku bersamamu teman-teman yang kalah. Ya, memang kita kalah, kalah pandai, kalah encer otaknya, kalah dalam hal catat-mencatat, kalah dalam memahami setiap mata kuliah yang diberikan bapak/ibu dosen, kalah dalam mengejar nilai A. Namun setidaknya kita tidak kalah dalam hal gotong royong, yang selalu dijunjung tinggi di negeri ini.

Mari hadapi UAS atau ujian apapun yang ada di depan mata kita dengan semangat dan optimisme. Jangan sampai kita terkontaminasi oleh sifat-sifat individualis yang mungkin akan merugikan diri kita sendiri, lebih-lebih merugikan orang lain.

 

  

 

Tulisan “Nyontek” ini memberi perspektif lain tentang budaya nyontek yang lazimnya dianggap sebagai hal negatif. Tulisan ini mencoba melihat dari sisi lain. Dalam beberapa hal, saya pribadi sependapat dengan pandangan Mas Rahmad, bahwa kebanyakan mahasiswa cerdas terlalu serius, individualistis, dan bukan jenis teman begejekan yang menyenangkan.

 

Sebetulnya sudut pandang tulisan ini cukup baik. Cuma, pemilihan sudut pandang yang bagus ini harus disertai dengan penjelasan dan alasan yang rasional untuk meyakinkan kebanyakan orang yang mengangggap bahwa menyontek itu buruk. Kalau kita gagal mempertahankan argumentasi kita, tulisan itu bisa sangat menyebalkan buat kebanyakan orang.

Tulisan ini melawan arus karena norma di masyarakat kita mengatakan bahwa menyontek itu buruk. Agar argumentasi kita kuat, kita bisa membahas sistem ujian dan kelulusan, psikologi mahasiswa yang cerdas tapi egois, alasan kenapa menyontek dianggap  baik-baik saja, dan seterusnya. Argumentasi “gotong royong dalam menyontek”, menurut saya, sangat konyol. Tapi hal-hal konyol seperti ini tetap bisa kita masukkan ke dalam tulisan, dengan syarat tulisa kita juga bergaya konyol.

 

Kalau kita bermaksud serius, akan lebih baik jika argumentasinya melibatkan sistem dan kondisi riil perkuliahan. Kalau para mahasiswa menyontek di ujian, mungkin sistem ujian itu patut dipertanyakan. Jangan-jangan soal ujian itu hanya menguji hafalan.  

Dan satu hal lagi, menurut saya, tulisan ini tidak boleh mengesankan bahwa Mas Rahmad (sekali lagi) marah kepada para mahasiswa yang cerdas itu. Mereka punya hak untuk menolak permintaan mahasiswa lain yang ingin menyontek. Itu seratus persen hak mereka yang bahkan dijamin oleh aturan tegas di dunia akademis.

Seandainya saya harus menulis tema ini, saya akan memilih gaya bahasa satire. Seolah-olah saya ingin berkata kepada kawan-kawan yang cerdas itu, ”Jangan terlalu seriuslah, Kawan! Kalau kau mau bermurah hati membantu kami nyontek, kujamin kamu akan lekas dapat pacar. Ayolah, kau tak rugi sedikit pun memberi kami sontekan. Kamu tentu masih ingat pelajaran biologi di SMA tentang simbiosis komensalisme. Bayangkan kamu adalah kerbau berkutu dan kami adalah para burung jalak yang akan memangsa kutu-kutu di badanmu.” Dan seterusnya. (Emshol)

 

 

Sebetulnya di tulisab nyontek ini saya bicara kepada orang-orang yang tidak mendapat contekan, bukan orang yang pintar itu, Mas. Oh ya, apakah  saya masih terkesan marah-marah? (Razak)

 

 

Saya lebih memilih gaya berbicara kepada kawan yang pintar karena dengan begitu saya bisa membuat tulisan bergaya humor satire dan bisa memasukkan argumen-argumen yang konyol seperti simbiosis komensalisme, “gotong royong”, dan seterusnya. Sebetulnya gaya tulisan seperti sedang bicara kepada seseorang itu hanya merupakan salah satu gaya. Gaya ini jarang digunakan dan memang sebaiknya hanya digunakan sesekali saja. Yang paling banyak kita temui dan akan banyak kita pakai saat menulis populer adalah gaya bercerita seperti mendongeng atau liputan wartawan.

 

Sebetulnya unsur kemarahan di tulisan NYONTEK itu tidak begitu kuat. Cuma, saya termasuk tipe penulis sekaligus pembaca yang sangat tidak menyukai tulisan berisi kemarahan. Kemarahan menunjukkan ketidakdewasaan. Ada kalanya kita boleh menulis dengan marah. Misalnya saat kita menulis tentang para koruptor yang merampok uang rakyat. Topik seperti ini bisa menjadi alasan kuat bagi kita untuk menulis dengan unsur kemarahan. Tapi kalau hanya urusan nyontek, saya kira itu terlalu sepele untuk ditulis dengan rasa jengkel.

 

Kalau sampeyan ingin belajar menulis topik-topik yang melibatkan kejengkelan, sampeyan bisa belajar dari Prie GS. Silakan googling tulisan-tulisannya. Dia termasuk penulis dengan karakter khas dalam urusan-urusan sepele seperti ini. Dia sering menuliskan pengalaman-pengalaman pribadi yang sederhana, tentang rasa kecewa ditipu penjual keliling, tentang rasa jengkel berada di antrean yang tidak disiplin, tentang rasa marah saat diserobot jalannya di jalan raya, dan sebagainya. Meskipun yang ia tuliskan adalah perasaan jengkel dan marah, tulisannya tetap bisa berkesan jenaka, bijaksana (tanpa terkesan sok bijak), dan selalu berbobot karena disertai dengan perenungan. (Emshol)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s