Atasi Masalah dengan Mengubah Persepsi

Penulis: M. Sholekhudin dan Benedictine Widyasinta

Anda mungkin pernah menjumpai kasus seperti berikut. Siswa yang ber-IQ bagus tapi banyak angka merah di rapornya. Remaja yang tidak bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis. Anak yang sangat tidak percaya diri. Atau, orang dewasa yang selalu merasa pesimis dalam hal apa saja. Penyebab masalah ini bisa bermacam-macam, mungkin saja karena persepsi yang dibentuk oleh pengaruh lingkungan. Jika memang penyebabnya itu, teknik terapi psiko-kinesiologi ala PSYCH-K mungkin bisa menjadi menjadi solusi. —–

Jangan sepelekan persepsi. Sebab, realitas hidup bisa kita sangat tergantung kepada persepsi di pikiran kita. Demikian pesan Hanny Muchtar Darta, praktisi PSYCH-K di Jakarta. Ia punya banyak pengalaman menangani partner (istilah yang ia gunakan untuk “klien”) yang mengalami masalah gara-gara persepsi yang negatif.

Seorang partner ibu pernah datang kepadanya dengan membawa masalah keluarga. Dia punya dua orang anak, perempuan sulung dan laki-laki bungsu. Si sulung bermasalah di sekolah. Dia sebetulnya anak yang pintar tapi tiap kali menghadapi ujian dia merasa begitu tegang sampai telapak tangannya berkeringat dingin. Di kalangan teman-temannya ia terkenal judes bukan main, lebih-lebih kepada teman laki-laki.

Si bungsu yang cowok menghadapi masalah lain lagi. Sejak SD ia sudah kehilangan rasa ketertarikan pada lawan jenis. Secara seksual ia lebih tertarik kepada sesama laki-laki. “Masalah seperti ini tidak selalu karena si anak sendiri. Bisa saja karena pengaruh orangtua,” kata Hanny.

Bagaimana mungkin orangtua bisa menyebabkan anak berperilaku seperti itu? Ini bisa dijelaskan lewat mekanisme pembentukan persepsi. Setelah melakukan pemeriksaan riwayat keluarga, Hanny menyimpulkan bahwa memang masalahnya terletak di dalam hubungan keluarga. Si ayah adalah seorang kepala keluarga yang sangat keras dan pemarah.

Jika sedang marah, ia bisa kehilangan kendali sampai membuat anak-anaknya menggigil ketakutan. Bahkan, hanya karena mengetahui nilai ujian anaknya tidak bagus pun bisa sampai membuat dia murka dan tega menyakiti anaknya. Perilaku si bapak yang sering menyakiti ini membuat si sulung yang perempuan punya persepsi buruk tentang laki-laki. Ini menyebabkan ia benci kepada semua laki-laki, termasuk kawan-kawan sekolahnya.

Tak hanya mempengaruhi si sulung, perilaku buruk si bapak ini juga mempengaruhi kepribadian si bungsu yang laki-laki. Tiap kali ayahnya marah kepada ibu dan kakaknya, ia merasa sebagai laki-laki yang tidak bisa melindungi perempuan. Pandangan ini terus-menerus terbentuk di dalam pikirannya sampai ia menganggap bahwa dirinya bukan laki-laki sejati dan karena itu tidak pantas menyukai lawan jenis.

Akhirnya ia menjadi dingin kepada kawan-kawan perempuannya dan malah lebih suka kepada sesama jenis. Saat jam olahraga di sekolah pun ia malu membuka baju karena merasa dirinya bukan cowok tulen. “Pada kasus seperti ini, yang harus dibenerin bukan hanya anaknya saja, tapi orangtuanya juga,” kata Hanny.

Untuk membuktikan bahwa ini adalah masalah persepsi di pikiran, bukan masalah genetik, Hanny menganjurkan ibu itu untuk memeriksakan anaknya ke dokter. Pemeriksaan medis yang dilakukan kemudian memang menunjukkan bahwa kadar hormon testosteron anak ini normal. Artinya, kelainan itu bukan problem genetik yang dibawa sejak lahir.


Pikiran bawah sadar

Jangan remehkan persepsi, terutama pada anak-anak. Mengutip hasil sebuah penelitian, Hanny mengatakan, dalam satu hari seorang anak rata-rata mendengar 432 kata negatif dan hanya 32 kata positif. Pada anak-anak, semua hal negatif yang ia terima akan dengan mudah membentuk pandangan mereka. Celakanya, orangtua sering tidak sadar menanamkan persepsi buruk ini kepada anak-anak.

Sekadar contoh, saat mengetahui anaknya memperoleh nilai buruk di sekolah, orangtua kadang dengan mudah bilang, “Kamu memang malas belajar!” Jika anak terus-menerus mendengar kalimat ini, maka pikiran bawah sadarnya akan menganggap dirinya memang anak pemalas. Maka seterusnya ia akan menjadi pemalas.

Akan sangat berbeda jika orangtua bilang, “Lain kali kamu pasti bisa memperoleh nilai bagus asal kamu rajin belajar.” Pada anak-anak, terutama di bawah sebelas tahun, persepsi sangat mudah terbentuk oleh ucapan yang mereka dengar. Pasalnya, pikiran rasional mereka belum berkembang sempurna. Ini sedikit berbeda dari orang dewasa yang sudah lebih rasional dalam mengolah informasi.

Dalam tinjauan PSYCH-K, realitas seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinannya. Jika ia yakin sanggup melakukan sesuatu, maka ia akan benar-benar sanggup melakukannya. Begitu pula jika ia yakin tidak sanggup melakukan sesuatu, maka ia akan benar-benar tidak sanggup melakukannya.

Lantas, jika persepsi sudah telanjur tertanam di dalam otak, bagaimana cara mengubahnya? Dalam PSYCH-K, proses pengubahan persepsi ini disebut balancing, penyeimbangan. Dasar kerjanya, mirip dengan proses menghapus (uninstall) sebuah program lama di komputer lalu diganti dengan memasang (install) program baru. Dalam PSYCH-K, persepsi atau cara pandang dianalogikan dengan sebuah program komputer yang bisa dihapus dan ditanam ulang. Bedanya, proses menghapus persepsi lama dan menanam persepsi baru tidak bisa dilakukan dalam hitungan menit, melainkan dalam hitungan beberapa bulan.

Proses penyeimbangan dibantu dengan serangkain gerakan khusus yang melibatkan kinesiologi (ilmu tentang gerakan). Itu sebabnya metode ini disebut psiko-kinesiologi. Gerakan ini dirancang oleh Robert M. Williams, pencipta PSYCH-K asal Amerika Serikat.

Teknik ini dikembangkan berdasarkan beberapa asumsi. Pertama, bahwa persepsi disimpan di bagian otak kanan yang mengatur kerja bawah sadar. Kedua, bahwa ada hubungan antara otak kanan dengan sistem motorik (gerak) tubuh. Dengan kata lain, ada hubungan antara gerakan badan dengan proses pembentukan persepsi. Gerakan-gerakan di dalam PSYCH-K berfungsi membantu mengharmoniskan bagian otak kiri dan kanan, sehingga memudahkan proses menghapus persepsi lama dan menulis ulang persepsi baru.

Bisa diwakilkan
Yang unik, proses terapi di dalam PSYCH-K bisa diwakili oleh orang lain. Dalam kasus keluarga di atas, anak bisa diwakili oleh ibunya lewat proses surrogation. Begitu pula istri bisa mewakili suaminya.

Salah satu bagian dari teknik ini adalah tes otot (muscle test) yang sekilas mirip tes kebohongan. Lewat tes ini, Hanny bisa mengetahui apakah ucapan partner salah atau benar. Lewat proses ini, Hanny mengaku mengetahui bahwa si anak laki-laki mulai menyukai sesama jenis sejak kelas 6 SD. “Saya tidak menggunakan hipnoterapi,” kata Hanny.

Bagaimana ia bisa tahu?

Proses ini melibatkan tes otot lengan. Dalam PSYCH-K, diyakini bahwa hal negatif akan melemahkan sistem tubuh, termasuk sistem otot. Saat seorang partner mengatakan sesuatu yang salah, maka sistem ototnya akan menjadi lemah. Tes otot ini juga bisa digunakan untuk mengetahui seberapa kuat persepsi baru sudah tertanam di dalam pikiran. Kalau seseorang membayangkan hal-hal baik lewat persepsi positif, maka otot motoriknya akan kuat. Sebaliknya, kalau ia membayangkan hal-hal buruk, maka otot m
otoriknya akan lemah. Kuat tidaknya otot ini terlihat saat tes.

Kata Hanny, biasanya partner yang ia tangani membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk menghapus persepsi lama dan menggantinya dengan yang baru. Khusus untuk kasus yang agak berat seperti kasus keluarga di atas, ia butuh waktu lebih lama dari itu. Setelah menjalani terapi PSYCH-K, Hanny menuturkan, sekarang keluarga partner yang ia tangani itu sudah bisa saling menghapus masa lalu. Si bapak sudah tidak lagi suka marah-marah. Kedua anaknya juga sudah bisa memaafkan bapaknya. Keduanya juga sudah bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Boks-2:
Psikologi dengan Pendekatan Biologi

PSYCH-K (ditulis dengan huruf kapital semua) adalah nama paten sebuah merek. Keseluruhan teknik yang dipakai dalam terapi ini, termasuk gerakannya, memiliki hak cipta. PSYCH-K dikembangkan di AS tahun 1980 oleh Robert M. Williams dan Bruce Lipton, ahli biologi penulis buku The Biology of Belief.

Dalam PSYCH-K, metode kinesiologi digunakan untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar. Postur tubuh dan gerakan-gerakan tertentu diyakini dapat memicu neuron-neuron di kedua bagian belahan otak, yang memudahkan proses pembentukan persepsi. Hanny adalah orang Indonesia pertama yang memperoleh lisensi PSYCH-K setelah mempelajari teknik ini di Amerika Serikat tahun 2007 dan 2008.

Boks-3:
Sadar – Bawah Sadar

Kehidupan kita banyak dipengaruhi pikiran bawah sadar ( subconscious mind). Melalui pikiran bawah sadar pula kita bisa mengubah persepsi yang merugikan. Pikiran sadar (conscious mind) memiliki kapasitas mengolah informasi sebesar dua ribu bita per detik, sedangkan pikiran bawah sadar bisa mengolah empat miliar bita per detik alias dua juta kali lipatnya.

Jadi, apabila pikiran sadar seseorang ingin meraih suatu tujuan namun pikiran bawah sadarnya tidak menghendaki, maka bisa ditebak siapa yang akan menang. Menurut Emmanuel Donchin, direktur Laboratorium Psikofisiologi Kognitif di University of Illinois, perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar. Sekitar 99% aktivitas berpikir manusia itu tidak disadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s