Poros Dunia yang Selalu Bergolak


Penulis: M. Sholekhudin

Hingga hari ini perang saudara di Libia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Baku tembak di negeri Moammar Khadafi ini seolah melengkapi predikat Timur Tengah sebagai kawasan yang tak pernah berhenti bergejolak. Perang seolah-olah telah menjadi jalan hidup mereka, dari zaman ke zaman. —-

Kebiasaaan mencapai tujuan dengan jalan perang jelas bukan hanya kecenderungan masyarakat Timur Tengah. Orang-orang Eropa, Asia, Afrika, Amerika, Australia, semua punya riwayat perang. Namun, dari catatan sejarah perang-perang di dunia, tidak bisa diingkari bahwa kawasan yang paling sering bergolak hingga hari ini adalah Timur Tengah: Israel, Palestina, Iran, Irak, Mesir, Lebanon, sekarang Libia, dan seterusnya.

“Di sana ashobiyah, fanatisme kelompok, memang masih sangat mendominasi sistem kekuasaan,” kata Hamdan Basyar, Direktur Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), mengutip pendapat filsuf Ibnu Khaldun. Tradisi perang antarsuku-antarkelompok masih belum benar-benar hilang sekalipun mereka hidup di zaman modern.

Bukan Arab Saja

“Timur Tengah” sebetulnya adalah sebuah istilah yang bisa dipahami secara berbeda-beda. Batas wilayahnya tidak tegas. Pada umumnya yang dianggap sebagai Timur tengah adalah negara-negara anggota Liga Arab plus Iran, Turki, dan Israel. Anggota Liga Arab antara lain Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Lebanon, Kuwait, Irak, Sudan, Aljazair, Maroko, Otoritas Palestina, Yaman, Suriah, Tunisia, Somalia, Libia, Yordania, Mauritania, Oman, Qatar, Bahrain, Jibuti, dan Komoro.

Dari daftar negara ini kita bisa melihat, Timur Tengah bukan Arab saja. Di sebelah timur ada Iran yang Persia, di sebelah utara ada Turki yang sedikit Eropa, di sebelah barat ada Libia yang Afrika. Jangan lupa pula, di tengahnya ada Israel, yang sering kita anggap sebagai “musuh orang Timur Tengah” sekalipun negara ini sebetulnya adalah bagian dari Timur Tengah. Jadi, kalau selama ini kita menganggap Timur Tengah identik dengan Arab, itu adalah salah besar.

Karena banyaknya negara yang termasuk Timur Tengah, maka stempel budaya perang tentu saja adalah generalisasi yang terlalu sederhana. Namun, secara umum budaya ashobiyah (fanatisme kelompok) memang masih mendominasi masyarakat di sana.

Selama ini Timur Tengah juga sering diidentikkan dengan Islam. Padahal, kata Hamdan, ini pun salah kaprah. Memang Islam adalah agama mayoritas di sana. Tapi negara-negara di sana menganut ideologi yang bermacam-macam. Sebagian negara secara formal berbentuk negara Islam seperti Republik Islam Iran atau Kerajaan Islam Arab Saudi. Tapi sebagian besar negara tidak berideologi agama. Makanya stempel Islam akan membuat kita kesulitan memahami berbagai gejala di sana.

Timur Tengah adalah kawasan yang sangat heterogen. Bentuk negaranya bermacam-macam, mulai dari monarki (kerajaan) absolut, monarki konstitusional (kerajaan yang punya parlemen), republik presidensial, republik parlementer, hingga bentuk negara yang, kata Hamdan, “tidak jelas”.

Contoh kategori terakhir adalah Libia. Sejak diperintah oleh Khadafi tahun 1969, Libia menganut bentuk negara yang sulit dikategorikan. Secara formal, bentuknya jamahiriyah, sejenis republik rakyat. Tapi di sana tidak ada partai politik dan pemilu seperti yang kita kenal. Konstitusi yang digunakan di sana adalah kitab buatan Khadafi, Kitabul Akhdlar (Buku Hijau).

Gaya kepemimpinan pria yang sering mendakwahkan Islam secara terang-terangan kepada orang-orang Eropa ini persis seperti raja. Semua urusan negara ia kendalikan. Tapi ia tidak menyebut dirinya raja atau presiden melainkan “Pemimpin Libia” begitu saja. Lucunya, ketika Khadafi ditanya tentang sistem jamahiriyah di negaranya, ia mengatakan, “Tidak ada satu pun negara demokrasi di dunia kecuali Libia.”

Urusan agama dan demokrasi di Timur Tengah memang sedikit unik. Di Lebanon, yang menganut sistem demokrasi, presiden selalu berasal dari kalangan Kristen Katolik Maronit. Perdana menteri selalu dari golongan Islam Sunni. Ketua parlemen selalu dari kelompok Islam Syiah. Sistem penjatahan ini diterapkan sejak 1943 sampai sekarang lewat sebuah kesepakatan konfesionalisme, penjatahan kekuasaan. Cara ini ditempuh tak lain untuk mencegah pertikaian antarkelompok.

Begitu pula di Irak sekarang. Setelah era Saddam Hussein, dua kali pemilu selalu menghasilkan presiden dari kelompok Kurdi, perdana menteri dari golongan Islam Syiah, ketua parlemen dari Islam Sunni. Di Suriah lain lagi. Secara formal, negara ini berbentuk republik, bukan kerajaan. Tapi pola pergantian pemimpin mirip dinasti. Sejak 1971, Suriah dipimpin oleh Hafez al-Assad yang kemudian diganti oleh anaknya, Bashar al-Assad.

Sebagaimana negara-negara di belahan dunia lainnya, Timur Tengah juga terkena pengaruh gelombang demokratisasi. Tapi demokrasi yang diadopsi di kawasan ini tidak sepenuhnya sama dengan demokrasi di dunia Barat. Di Timur Tengah, demokrasi diadopsi dan dimodifikasi dengan unsur lokal. Demokrasi gaya lokal juga diterapkan di Iran. Di sana, presiden dan anggota parlemen dipilih lewat pemilu. Tapi di sana juga ada pemimpin spiritual, sekarang dijabat oleh Ali Khamenei, yang tidak punya kekuasaan politik tapi perannya sangat menentukan. Ia bisa memfatwakan perang atau damai tapi posisinya tidak bisa diutak-atik lewat mekanisme pemilu.

Pusat Peradaban Dunia

Saat ini kawasan Timur Tengah memang sedang dirundung banyak pertikaian. Konflik Israel-Palestina dan sekitarnya hingga saat ini masih belum selesai dan setiap saat bisa saja meletus kembali. Irak baru saja porak poranda setelah era Saddam Hussein, perang saudara juga belum benar-benar usai di sana. Mesir dan Tunisia baru saja mengalami revolusi. Sekarang, Libia menjadi medan perang saudara. Seolah-olah kawasan ini dibangun untuk dihancurkan lewat perang.

Padahal di masa lalu, kawasan ini adalah pusat peradaban manusia. Ahli sejarah Saul S. Friedman, dalam bukunya A History of Middle East, menyebut kawasan Timur Tengah sebagai the cradle of civilization, ibu kandung peradaban. Julukan ini tidak berlebihan mengingat di kawasan inilah dibangun peradaban Mesopotamia (di wilayah Irak) dan Mesir kuno.

Di tempat ini pula lahir agama-agama utama dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Pada era kejayaan Arab-Islam, orang-orang Eropa belajar matematika, astronomi, ilmu kedokteran kepada kepada orang-orang Timur Tengah yang datang ke Eropa lewat Spanyol. Tapi sejak runtuhnya Dinasti Ottoman (Utsmani) Turki tahun 1923, kondisi Timur Tengah berbalik. Mereka tercerai-berai akibat perang yang tak henti-henti.

Di Libia sendiri, hingga hari ini belum ada tanda perang akan berhenti. Perang di Libia kali ini berbeda dari Perang Irak tahun 2003 yang langsung dipimpin oleh AS saat menumbangkan Saddam Hussein. Saat ini, menumbangkan Khadafi adalah pilihan yang sulit bagi NATO. Sebab, yang diamanatkan oleh PBB adalah melindungi warga sipil. Menumbangkan sebuah rezim sudah termasuk kategori mencampuri urusan negara lain.

Hingga hari ini kesepakatan damai antara Khadafi dan kaum oposisi belum tercapai. Khadafi bersedia menerima usulan reformasi kecuali satu hal: turunnya dia dari kursi Pemimpin Libia. Padahal itulah tuntutan utama kaum oposisi. Keduanya menetapkan harga mati. Tak ada tawar-menawar jika menyangkut kelompoknya.

Fanatisme kelompok inilah yang mungkin paling bisa menjelaskan fakta banyaknya perang di Timur Tengah. Penjelasan lain, seperti anggapan bahwa orang Timur Tengah itu keras, penuh kebencian, dan tidak punya selera humor mungkin lebih dekat kepada stereotip. Fred Halliday, penulis asal Irlandia, di dalam bukun
ya, 100 Myths about the Middle East, mengatakan, pandangan di atas tidak sepenuhnya benar. Jika masyarakat Timur Tengah dianggap penuh kebencian dan tak punya selera humor, bagaimana kita memahami fakta bahwa salah satu sumber humor paling banyak direproduksi di dunia adalah anekdot Nasruddin Hoja, yang berasal dari wilayah Turki-Iran?

Perang Mungkin Lama

Di Timur Tengah, tarik-menarik antara nilai-nilai tradisional dan pengaruh budaya modern membuat mereka menjadi masyarakat yang unik. Sebagian negara awalnya berbentuk kerajaan lalu setelah Perang Dunia II berubah bentuk menjadi republik. Tapi budaya kerajaan masih belum benar-benar hilang. Seorang kepala negara bisa memerintah puluhan tahun. Tiga negara yang terakhir bergolak (Tunisia, Mesir, dan Libia) adalah contohnya. Zainal Abidin bin Ali menjadi presiden Tunisia selama 24 tahun. Hosni Mubarak memerintah selama 30 tahun. Bahkan, Khadafi sudah menguasai Libia selama 42 tahun.

Selama puluhan tahun rakyat negara-negara itu terbiasa melihat foto kepala negara yang tidak berubah. Mirip nasib kita pada masa Orde Baru. Kalaupun mereka benci, kebencian itu mereka pendam dalam bentuk rasa takut. Tapi gelombang informasi dari dunia luar membuat mereka bisa melihat bahwa di belahan dunia lain, kepala-kepala negara lumrah saja diganti setiap beberapa tahun.

Maka ketika ada pemuda melakukan aksi bakar diri, mereka melihat itu sebagai saat yang tepat melakukan revolusi. Dalam hitungan minggu, Bin Ali tumbang, Hosni Mubarak pun berhasil diturunkan. Tapi Khadafi, yang berani melakukan kudeta pada usia 27 tahun, jelas sangat berbeda dari kedua kepala negara tetangganya. Ia adalah “konsultan perang” yang melatih kelompok-kelompok gerilya dari berbagai negara, termasuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Saya akan bertahan sampai mati sebagai martir. Rakyat Libia masih mencintai saya,” katanya berapi-api. Di bawah pemimpin bertangan besi, rasa cinta dan takut memang kadang sulit dibedakan.

Kita, yang hanya biasa melihat citra Khadafi dari media massa, mungkin menganggap Khadafi sebagai diktator kejam seperti Saddam Hussein. Tapi kita tak tahu apa yang membuat sebagian rakyat Libia masih loyal kepada pemimpin paling eksentrik di dunia ini. Sekalipun mengkritik sosialisme, dia termasuk pemimpin yang sosialis. Dengan uang hasil penjualan minyak, dia berusaha memastikan kebutuhan rakyatnya tercukupi lewat mekanisme subsidi—meskipun sebagian uang itu juga ia timbun.

Kepemimpinan gaya sosialis inilah salah satu alasan Khadafi masih punya banyak loyalis. Tanpa bantuan asing, pihak oposisi tampaknya akan sulit menumbangkan Khadafi dan para loyalisnya. Maka lamanya perang sangat ditentukan oleh besarnya tekanan NATO.

Ketika NATO mulai menyerang pangkalan militer Khadafi, sebagian pihak menganggap bahwa masa berkuasa Khadafi tinggal menghitung hari. Tapi nyatanya hingga hari ini pria yang dicemooh “punya selera berbusana seperti Lady Gaga” ini masih tak terkalahkan. Mungkin saja perang ini akan memperpanjang daftar perang besar di Timur Tengah.

Kalaupun kelak Khadafi bernasib seperti Saddam Hussein, tak ada yang bisa menjamin perang akan berhenti. Kemungkinan perang saudara setelah Khadafi tumbang bisa saja terjadi seperti di Irak. Dan Timur Tengah masih akan terus bergolak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s