Mentawai, Indonesia Pinggiran yang Terpinggirkan


Penulis: M. Sholekhudin

Sebelum gempa dan tsunami Oktober 2010 lalu, banyak dari kita tidak tahu di mana Mentawai berada. Setelah terjadi bencana yang menewaskan 500-an orang di sana, kita baru sadar bahwa Mentawai adalah bagian dari Indonesia yang selama ini terlupakan. Hingga kini, meskipun proses pemulihan sudah berjalan lebih dari enam bulan, masih banyak warga yang tinggal di pengungsian, hidup serbakurang.

—–


Mentawai adalah sebutan umum untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Berada di sebelah barat Pulau Sumatra, kabupaten ini secara administratif termasuk wilayah Sumatra Barat. Wilayah utamanya meliputi empat pulau besar, yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Bulan lalu Intisari mengikuti bakti sosial bagi korban tsunami di Sikakap, kecamatan di selat sempit yang memisahkan Pagai Utara dan Pagai Selatan. Bencana tsunami memang terjadi lebih dari enam bulan lalu. Tapi hingga kini kondisi para pengungsi di daerah ini masih sangat memprihatinkan.

Kendala transportasi memaksa penyelenggara bakti sosial yang diberi nama Mentawai Tersenyum ini berangkat dari Jakarta menggunakan kapal laut. Mentawai bukan daerah yang mudah dijangkau. Meskipun letaknya “cuma” 150 km di sebelah barat Pulau Sumatra, nasib Mentawai jauh berbeda dari nasib daerah-dearah di daratan Sumatra. Satu-satunya alat transportasi ke kepulaun ini adalah kapal laut dari Padang, yang cuma berlayar satu atau dua kali dalam seminggu.

Relawan bakti sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Pandang ke Timur dan Nasi Putih Production ini berangkat dari Tanjung Priok, Jakarta, menggunakan Kapal Motor Lawit. Dengan kecepatan rata-rata 11 knot melewati Laut Jawa, Selat Sunda, dan Samudra Hindia di barat Sumatra, KM Lawit membutuhkan waktu dua hari dua malam untuk sampai di Pelabuhan Teluk Bayur, menjemput relawan dari Padang.

Dari Padang, KM Lawit masih membutuhkan waktu satu malam untuk sampai di dermaga kecil Sikakap. Di dermaga ini, kapal dengan kapasitas seribu penumpang ini berfungsi sebagai markas sekaligus hotel terapung bagi sekitar 300-an relawan. Sebab, di sini hanya ada beberapa rumah penginapan kecil, yang bisa dihitung dengan jari.

Tak ada angkutan umum
Mentawai adalah potret wilayah pinggiran Indonesia yang nasibnya terpinggirkan. “Sebelum kena tsunami, daerah sini tidak pernah diperhatikan pemerintah. Padahal di sini sudah ada perusahaan HPH sejak zaman Orde Baru,” kata Dakta, seorang warga Sikakap. Dakta masih beruntung. Ia tinggal di Kecamatan Sikakap yang relatif mudah dijangkau. Sebagian besar penduduk di Pagai tidak seberuntung Dakta. Mereka harus tinggal di tengah hutan yang sulit dijangkau.

Satu-satunya jalan utama yang membelah Pagai adalah jalan makadam milik PT Minas Pagai Lumber, perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sini. Banyak ruas jalan yang rusak. Jembatan di jalan ini cuma berupa gelondongan kayu yang diletakkan melintang begitu saja di atas sungai.

Tak ada transportasi umum di sini. Satu-satunya “angkutan umum” yang digunakan masyarakat setempat adalah truk yang melewati jalan ini dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Penumpang berdiri berdesak-desakan tanpa tempat duduk. Di luar Rabu dan Sabtu, jalanan sepi. Jika harus bepergian di luar dua hari itu, warga harus menggunakan jasa ojek sepeda motor yang tarifnya sangat mahal karena harga bensin bisa mencapai Rp 15.000,-/liter.

Di Pagai, desa-desa bertebaran secara sporadis di sepanjang pantai. Dari laut, desa-desa ini memang tampak indah. Tapi di balik keindahannya, desa-desa ini menyimpan bahaya karena sangat rawan diterjang tsunami, terutama yang berada di pantai yang menghadap Samudra Hindia. Kita tahu, sepanjang barat Pulau Sumatra adalah pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang merupakan sumber gempa bumi pemicu tsunami.

Di Pagai, sebagian besar daratan didominasi oleh hutan belantara. Di sepanjang jalan utama milik PT Minas yang menembus hutan ini hanya ada beberapa desa. Tak ada penjual bensin di pinggir jalan. “Kalaupun ada yang jual bensin, harganya bisa tidak masuk akal. Kalau ban bocor di tengah jalan, ya mau tidak mau harus nuntun motor sampai rumah,” kata Dawal, tukang ojek yang mengantar kami sampai di kilometer 37.

Untuk menempuh jarak 37 km ini kami membutuhkan waktu hampir dua jam perjalanan karena medan tempuh yang sulit. Sepanjang perjalanan sejauh itu hanya ada satu desa di KM 22. Itu pun desa pengungsian. (Di sini tempat-tempat pengungsian biasanya dinamai dengan menurut jarak kilometer di jalan utama milik PT Minas.)

Kebetulan hari itu Sabtu. Beberapa kali kami menjumpai warga setempat menunggu truk penumpang lewat. Mereka berasal dari desa-desa yang jauh dari jalan utama, berjalan menembus hutan hanya untuk menunggu truk lewat. Di tengah hutan itu, mereka harus menunggu berjam-jam. Sebab, jika truk penumpang keburu lewat sebelum mereka tiba di situ, maka mereka harus menunggu empat hari lagi untuk bisa pergi ke Sikakap.

Hidup cemas

Kini orang-orang Mentawai hidup dengan perasaan waswas. Bencana tsunami tahun lalu membuat mereka harus waspada setiap saat. Selama ini mereka telah terbiasa tinggal di pantai. Dari laut mereka bisa mendapat ikan. Dengan perahu motor bercadik, mereka biasa bepergian ke desa lain untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Tapi bahaya tsunami membuat mereka kini sadar bahwa laut tidak hanya memberi ikan yang melimpah dan panorama alam yang indah, tapi juga air bah yang bisa menyeret rumah-rumah.

Setelah tersapu tsunami tahun lalu, desa-desa di pantai dipindah ke tempat pengungsian yang jauh dari laut. Namun, relokasi ini sampai sekarang masih meninggalkan masalah yang belum berhasil diselesaikan. Salomon, salah satu pengungsi, menuturkan, sejak pindah ke tempat relokasi, ia kesulitan berladang. Dulu tempat tinggalnya tidak jauh dari ladang. Setelah desanya tersapu tsunami, ia harus pindah tinggal di hunian sementara (huntara) buatan Palang Merah Indonesia di tempat relokasi KM 37.

Lokasi pengungsian ini sangat jauh dari ladang. Tidak cukup ditempuh setengah hari berjalan kaki. Ia mengaku, sejak Natal tahun lalu, keluarganya sudah tidak menerima bantuan bahan pokok lagi. Untungnya, mereka tidak begitu tergantung pada beras. Sebagai sumber karbohidrat, orang Mentawai biasa makan keladi (talas) yang mudah ditanam di mana saja.

Sekalipun tinggal di dekat pantai, orang-orang Mentawai lebih mengandalkan hidup dari hasil bumi. Selain bertanam keladi, mereka juga menanam nilam, kakao, cengkih, karet, lada, dan tanaman-tanaman perkebunan lain. “Sekarang kami juga menanam lagi di ladang baru. Tapi kalau menanam sekarang kan panennya masih lama,” kata Salomon.

Riduan, pengungsi lain, menuturkan cerita yang tak jauh berbeda. Desanya sebetulnya tidak parah diterjang tsunami. Tapi untuk mencegah bencana, semua warga kampung harus bedol desa, pindah ke pengungsian. Di sini mereka tinggal di tenda-tenda yang bocor di kala hujan dan panas memanggang saat matahari terik.

Kadang mereka kembali ke ladang di dekat desa lama dan menginap di rumah yang mestinya sudah mereka tinggalkan. Tentu saja mereka tinggal di situ dengan perasaan cemas. Saat cuaca buruk, mereka segera meninggalkan rumah, kembali ke pengungsian karena takut tsunami. Bagi mereka, cuaca diyakini berkaitan langsung dengan gempa dan tsunami. Pendek kata, selama lebih dari enam bulan, status mereka masih tetap pengungsi yang serbakekurangan yang belum bisa tersenyum.

Orang-orang Mentawai memang punya alasan untuk cemburu kepada korban gempa Padang atau korban letusan Merapi, yang mengalami bencana hampir bersamaan dengan tsunami Mentawai. Padang dan Sleman relatif mudah dijangkau bantuan. Tapi Pagai? Kapal laut cuma berangkat seminggu sekali ke pulau ini. Tak ada jalan raya apalagi angkutan umum di pulau ini. Maka wajar jika lembaga-lembaga kemanusiaan mengalami kesulitan menyalurkan bantuan ke sana.

Indah tapi rawan

Diakui atau tidak, Mentawai memang bagian dari Indonesia yang terlupakan. Sebelum terkena tsunami, Mentawai tak banyak dikenal. “Jangankan orang Jawa, orang Sumatra Barat saja banyak yang tidak tahu Mentawai itu di mana,” kata Yohanes Tahileleu, staf Dinas Pariwisata Mentawai.

Sebelum terkena tsunami, Mentawai justru lebih dikenal oleh orang-orang asing, terutama penggemar olahraga selancar. Di kalangan pencinta surfing, ombak di Mentawai dianggap sebagai salah satu ombak terbaik di dunia, sedikit di bawah Hawaii. Letak Mentawai yang berada di Samudra Hindia memang membuat pantai-pantai di wilayah ini punya ombak yang besar dan tinggi.

Namun, kini orang Mentawai sadar bahwa ombak yang besar dan tinggi ini juga bisa berarti bahaya yang dahsyat jika didahului oleh gempa. Samudra Hindia memang terkenal dengan ombaknya yang besar. Bahkan kapal penumpang sebesar KM Lawit dengan panjang 100 m dan lebar 18 m pun bisa dibuat oleng sampai membuat para relawan mabuk laut dalam perjalanan pulang. Ombak besar itu telah menjadi bagian hidup sehari-hari orang-orang Mentawai.

Pagai adalah tempat yang indah tapi rawan bahaya. Tanpa memperhitungkan risiko tsunami, Pagai lebih kelihatan sebagai tempat wisata. Daratannya hijau pepohonan, air pantainya tembus pandang. Bahkan di pantai Sikakap, yang berpenduduk padat dan sebagian warganya membuang sampah ke laut, ikan di kedalaman lebih dari setengah meter masih bisa terlihat jelas. Meski kaya sumber daya laut, orang Mentawai tidak bisa dengan mudah menikmatinya. Kendala transportasi membuat semua biaya menjadi mahal. Solar mahal, bensin tak terjangkau.

“Kasihan orang Mentawai. Sampai sekarang rumah mereka yang kena tsunami masih belum dibangun. Padahal Mentawai kan masih termasuk Indonesia,” kata Umik, pemilik warung lontong gulai yang kami kunjungi di Bukit Malin Kundang, Teluk Bayur. Ia berkomentar dengan polos, seolah-olah status Mentawai sebagai bagian dari Indonesia masih diragukan. Umik seolah hendak mengingatkan kita semua bahwa merawat Indonesia adalah merawat ratusan ribu pulau. Mulai dari pulau-pulau yang betebaran di Samudra Pasifik dekat Filipina sampai pulau-pulau di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra. (*)


Suku Tradisional di Zaman Modern

Selain dikenal dengan ombaknya, Mentawai juga terkenal dengan budaya suku pedalamannya yang punya ciri khas tato di sekujur tubuh. Orang-orang asli Suku Mentawai ini hidup di hutan pedalaman di Pulau Siberut. “Tapi generasi muda Mentawai sekarang sudah mulai meninggalkan budaya tato,” kata Johanes Tailelelu.

Berbeda dengan tato dalam budaya modern yang lebih bernilai artistik, rajah Mentawai lebih bersifat fungsional, misalnya untuk menunjukkan status sosial dan pekerjaan. “Contohnya, tato seperti ini menunjukkan pemiliknya adalah seorang sikerei (dukun),” kata Johanes sambil menunjuk tato berbentuk matahari bersinar di lengan Aileko, seorang dukun Mentawai yang hadir di acara Mentawai Tersenyum.

Saat ini budaya tradisional di Mentawai sudah bercampur dengan gaya hidup modern. Sikerei Aileko adalah contoh paling nyata. Di tangannya, tak hanya melingkar gelang manik-manik, tapi juga arloji yang biasa dipakai anak-anak muda. Bahkan, di balik ikat pinggang yang menjaga cawatnya tidak melorot, ia menyimpan korek api dan sebungkus rokok yang di iklan-iklan teve dicitrakan sebagai rokok anak muda yang kreatif. Sikerei yang kreatif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s