Duta Besar Donor Darah

Aktif di kegiatan sosial membuat Valencia Mieke Randa sadar, “Keindahan hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa bahagia kita, melainkan oleh seberapa bahagia orang lain karena kita.”

Penulis: M. Sholekhudin

Silly, demikian Mieke Randa menyebut dirinya, percaya bahwa untuk bisa berempati kepada penderitaan orang lain, kita tidak harus menderita lebih dulu. Itu sebabnya ketika ia melihat seorang ibu meninggal dunia karena perdarahan, ia segera bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa aku lakukan untuk orang-orang seperti ini?”

Waktu itu tahun 2009, ia sedang menunggui ibunya menjalani cuci darah di sebuah rumah sakit. Seorang pasien wanita di ruang sebelah mengalami perdarahan hebat dan akhirnya meninggal dunia hanya karena tidak mendapatkan darah donor. “Saya tidak kenal siapa ibu ini, tetapi saya tergetar sedih melihat tangis anak-anaknya,” katanya. Kesedihan ini mestinya tak perlu terjadi sebab di luar rumah sakit itu pasti ada banyak orang yang bersedia menjadi donor seandainya mereka tahu.

Masalahnya sangat jelas. Ada yang butuh darah, ada yang bisa menyumbang darah, tapi tak ada jembatan yang menghubungkan keduanya. “Kenapa bukan kamu saja yang memulai? Kita tidak harus menjadi orang besar untuk bisa melakukan hal-hal besar. Mulailah dari sahabat-sahabat kamu, lingkungan kamu, pokoknya siapa pun yang ada di sekitar kamu,” kata sang ibu kepada Silly waktu itu. Ucapan itulah yang menguatkan tekad Silly memulai langkah kecil sebuah gerakan yang ia namai Blood For Life (BFL) di bulan April tahun 2009.

Memanfaatkan internet, Silly menerapkan sistem jemput bola, mencari orang-orang yang membutuhkan darah lewat mesin pencari dan maliling list. Bukan perkara mudah mengajak orang untuk peduli dengan urusan seperti ini. BFL waktu itu eksis tapi tidak begitu aktif. Tahun 2010, BFL bahkan sempat vakum karena kesibukan Silly sebagai manajer di salah satu perusahaan logistik. Waktu itu BFL memang belum terorganisasi dengan baik dan sangat tergantung pada Silly. Hingga akhirnya sebuah peristiwa penting terjadi dan menjadi titik balik perjalanan Silly dan BFL.

Satu hari, Silly menerima telepon dari seseorang. Karena saat itu ia sedang rapat, telepon itu ia abaikan. Ponsel ia matikan. Penelepon itu kemudian mengirim pesan bahwa dia butuh darah donor untuk ibunya. Karena masih sibuk, Silly tak langsung merespons pesan itu. Begitu urusan pekerjaan selesai, Silly menelepon orang itu, bertanya apakah sudah mendapat donor. Jawaban orang itu kembali membuatnya tergetar. Ibu yang butuh darah itu sudah meninggal dunia.

Dua bulan setelah itu, Februari 2011, ia harus mengalami penderitaan serupa yang dirasakan oleh penelepon yang ia abaikan itu. Ibunda Silly meninggal dunia. “Kehilangan ibu saya adalah hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidup saya,” kata Silly melukiskan kesedihannya saat itu. Seolah-olah ia diingatkan kembali bahwa untuk bisa berempati kepada penderitaan ditinggal mati ibu, seseorang tidak harus kehilangan ibunya lebih dulu.

Silly kemudian memutuskan keluar dari pekerjaan dan mulai sepenuhnya mencurahkan energi untuk BFL. “Money is not everything. The beauty of life doesn’t depend on how happy I am, but on how happy others can be because of me,” katanya. Setelah terjun sepenuhnya mengurus BFL, ia memang benar-benar melihat keindahan hidup dari sisi lain yang jarang ia lihat sebelumnya.

“Urgent, Yogya, butuh darah  AB untuk Miracle, 5 tahun, kanker darah, di RS Sardjito. Hubungi Angga 0856405xxxxx.” Demikian salah satu pengumuman di Facebook dan Twitter BFL. Lalu tak lama setelah itu disusul pengumuman bahwa kebutuhan darah sudah terpenuhi.  BFL benar-benar menjadi penghubung yang efektif antara pasien dan donor.

Lewat BFL itu, orang-orang saling berbagi darah. Sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan, dan tak akan habis walaupun berulang-ulang disumbangkan. “Sekantung darah tidak akan membuat kita kehilangan apa pun, tetapi bisa berarti nyawa buat orang lain dan masa depan bagi anak-anak mereka,” katanya.Lewat BFL, Silly bisa melihat orang-orang tersenyum bahagia karena memberi dan menerima. “Mari berbagi. Kebahagiaan hanya akan bermakna kalau dibagi. Feel good by doing good,” ini pelajaran hidup yang Silly tularkan kepada semua orang lewat BFL.

Kini, dengan pengikut Twitter lebih dari 12 ribu dan pengikut Facebook lebih dari 10 ribu, BFL adalah komunitas swadaya donor darah yang sangat aktif. Setiap hari, kedua akun media sosial ini menampilkan sekitar 20-an informasi tentang kebutuhan darah donor. “Tidak semua orang punya harta untuk dibagikan, tapi kita semua punya darah yang mengalir gratis di dalam tubuh,” katanya.

Komunitas Malaikat Kecil

Aktif di BFL membuat Silly sering masuk-keluar rumah sakit bertemu pasien. Sebagian di antaranya pasien miskin di rumah-rumah sakit pemerintah seperti di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta atau RS dr. Sutomo Surabaya. Pasien-pasien msikin ini tidak hanya butuh darah tapi juga butuh bantuan dana.

Lewat blog dan Twitter, Silly mencoba menggalang sumbangan dari teman-temannya di internet. Respons gerakan sosial yang ia namai 3 Little Angels (3LA) ini ternyata luar biasa. Banyak sekali orang yang menyumbang. Tiap kali menggalang dana, Silly bisa mengumpulkan beberapa puluh sampai beberapa ratus juta. Silly menganggap ini semua adalah keajaiban mengingat dirinya bukan siapa-siapa. “I’m just a silly person,” katanya. Seorang perempuan biasa, cenderung konyol, ternyata berhasil membangkitkan gerakan sosial sehebat itu.

Apa rahasianya? “Sebetulnya banyak sekali orang yang rindu berbuat baik, tapi mereka tidak tahu caranya,” kata Silly menjelaskan. Ia menyebut para penyumbang ini sebagai orang-orang yang punya “frekuensi” sama untuk berbagi.Mereka bisa digerakkan oleh satu hal: ajakan yang tulus. “Everything comes from the heart touches the heart,” katanya. Sesuatu yang keluar dari hati mudah masuk ke dalam hati.

Makin lama, jumlah pasien anak miskin yang dibantu makin banyak. Penggalangan dana pun makin sering dilakukan. Tapi lama-lama Silly sadar bahwa tidak semua pasien harus dibantu dengan uang sumbangan. Sebagian dari mereka lebih membutuhkan pendampingan, misalnya untuk menguatkan hati mereka atau membantu mereka mengurus ruwetnya birokrasi jaminan kesehatan buat orang miskin. “Ketika orang-orang sibuk memperkaya diri, di 3 Little Angels orang-orang saling menawarkan diri untuk melayani,” kata Silly. Berbagi adalah cara mereka menemukan kebahagiaan.

Boks:

Twitter            @justsilly, @blood4lifeID, @3_little_Angels

Facebook         Facebook.com/Blood4LifeId

Blog                Bloodforlife.wordpress.com, 3littleangels.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s