Wajah Tak Pernah Berdusta

Mulut bisa berbohong, kata-kata bisa direkayasa, tapi ekspresi dan bahasa tubuh tak bisa dimanipulasi.

Penulis: M. Sholekhudin

Anda tentu masih ingat kesaksian Angelina Sondakh dalam persidangan tindak pidana korupsi bulan Februari lalu. Saat menjawab pertanyaan tentang kepemilikan BlackBerry, Angelina berkata, “Saya menggunakan BlackBerry pada akhir tahun 2010… Itu memang benar foto saya, tapi itu bukan BlackBerry saya.” Membuktikan Angie berbohong atau jujur tentu perkara peradilan. Namun, menurut psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, “Ada kesenjangan antara bahasa verbal dan nonverbal Angie.”

Metode mendeteksi kebohongan memang sudah lama menjadi bahan kajian akademis. Dalam psikologi ada sebuah postulat yang dinamai psycho-physical parallelism. “Kondisi fisik dan psikis itu seperti sepasang rel kereta api, paralel,” ujar akademisi di Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta ini. Gangguan pada satu rel akan berimbas pada sisi rel yang lain.

Kondisi “default” manusia adalah berkata jujur. Jujur itu natural. “Kalau kita jujur, kita tak perlu mengingat apa-apa,” kata satiris Mark Twain. Orang yang sedang berbohong secara sengaja keluar dari kondisi natural. Ini akan menciptakan ketidakharmonisan antara kondisi psikis dan fisik. Ketidakharmonisan ini bisa tampak antara lain dari gestur dan ekspresi wajah.

Contoh, saat seseorang sedang menciptakan kebohongan, ia berpikir keras merekayasa sebuah cerita. Proses ini akan berpengaruh terhadap aliran darah ke otaknya untuk mencukupi kebutuhan energi. Aliran darah ke otak ini akan menyebabkan suhu di lehernya meningkat. Secara tidak sadar, orang itu mungkin memegang bagian leher atau kepalanya.

Pada saat berbohong, seseorang secara otomatis akan menjadi lebih waspada terhadap kondisi di sekitarnya yang dianggap sebagai ancaman. Kewaspadaan ini bisa dilihat dari pupil mata yang membesar. Pupil ini ada di bagian dalam bola mata. Itu sebabnya di ruang interogasi biasanya dipasangi lampu di depan wajah orang yang diinterogasi. Cahaya lampu bisa membantu polisi melihat bagian dalam mata lawan bicaranya. Pembesaran pupil mata ini bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi hasilnya akan lebih akurat jika dianalisis dengan bantuan komputer.

Ekspresi makro dan mikro

Bahasa tubuh yang paling banyak memberi informasi adalah ekspresi wajah. Dalam psikologi, ada dua jenis ekspresi: makro dan mikro. Ekspresi makro misalnya tersenyum, terkejut, sedih, malu, marah, dan sejenisnya. Kita mudah mengamati dan membedakannya.

Adapun ekspresi mikro adalah ekspresi yang biasanya tidak disadari, terjadi sekejap, dan sulit diamati. Misalnya gerakan sudut mata pada saat seseorang tersenyum secara tidak tulus. Ekspresi mikro ini bisa terjadi dalam waktu setengah detik saja. Itu sebabnya jenis ekspresi ini lebih sulit diamati.

Kedua jenis ekspresi ini bisa selaras, bisa pula tidak. Seseorang yang sedang berbohong dan cemas mungkin saja menunjukkan ekspresi makro tenang dan tersenyum. Namun, ekspresi mikro biasanya tidak bisa dimanipulasi. “Kalau ada kontradiksi antara makro dan mikro, kita percaya yang mana? Saya percaya yang mikro,” kata Reza.

Kenapa begitu? Ekspresi makro melibatkan otot-otot wajah yang relatif bisa dikendalikan. Artinya, ekspresi jenis ini mudah dimanipulasi. Saat seseorang cemas, ia dengan mudah menarik otot bibir ke kiri dan ke kanan, menciptakan ekspresi tersnyum. Itu bisa dilakukan siapa saja. Ekspresi mikro tidak demikian. Ekpresi ini melibatkan otot-otot wajah yang cenderung tidak bisa dikendalikan secara sadar oleh manusia. Sangat jarang orang yang terlatih mengendalikan otot sudut mata. Ketulusan dan kejujuran senyuman bisa dilihat dari ekspresi mikro di mata. “Benar kata orang-orang tua kita, mata adalah jendela hati,” kata Reza.

Menurut Paul Ekman, penulis buku legendaris Telling Lies, di wajah terdapat 43 jenis otot yang bisa membentuk kombinasi kira-kira 10 ribu jenis ekspresi. Senyuman spontan dan senyuman artifisial bisa dibedakan dari otot yang berkontraksi. Senyum spontan terjadi ketika otot zygomatic berkontraksi bersama otot-otot kecil di sekitar mata. Otot-otot ini sulit dikendalikan secara sadar. Senyuman artifisial dikendalikan oleh otot bernama zygomatic mayor yang mudah dikendalikan. Otot ini memanjang dari tulang pipi sampai pojok bibir.

Menghindar secara psikis

Contoh lain bahasa tubuh yang biasanya tidak disadari saat berbohong adalah gerakan tangan mengusap hidung. Saat seseorang berbicara bohong, ia merasa tidak nyaman berbicara. Secara psikis, ia ingin menjauh dari orang yang mengajaknya bicara. “Tapi karena secara fisik ia tidak bisa lari, ya paling tidak lari secara psikis,” kata Reza. Maka yang ia lakukan adalah membangun sebuah tembok imajiner, walaupun itu hanya berupa sebuah usapan hidung yang ia lakukan secara tidak sadar.

Ketidaknyamanan saat berbohong pada umumnya bisa terlihat dari bahasa tubuhnya. Mungkin dari caranya mengalihkan perhatian, seolah-olah sibuk dengan ponselnya, misalnya memencet-mencet tombol walapun tidak sedang menulis. “Lidah manusia bisa berdusta, mulut bisa terkunci, tapi pada saat yang sama, lumpur kehinadinaan akan menyembur dari jari-jarinya,” kata Reza menirukan ucapan ahli psikoanalisis Sigmund Freud.

Bahasa tubuh lain yang bisa menjadi indikasi kebohongan dan kecemasan adalah kontak mata. Reza memberi contoh adegan tanya jawab dengan Angie di sidang Tipikor. Di sidang itu, Angie ditanya oleh jaksa, hakim, dan penasihat hukum Nazaruddin. Ketika ditanya jaksa dan hakim, Angie menghadapkkan wajahnya ke arah yang memberi pertanyaan. Tapi ketika ia ditanya oleh penasehat hukum, dia tidak menghadapkan wajahnya ke yang bertanya. Ia menghindari kontak mata dan tetap menghadapkan wajah ke arah hakim. Bahkan ia menjawab pertanyaan pun secara tidak langsung lewat hakim.

“Mungkin itu kelihatan sepele, tapi kalau kita sepakat dengan psikoanalisis Sigmund Freud, perilaku sekecil apa pun sesungguhnya memiliki makna yang sangat besar. Dan itu tetap merupakan misteri selama belum terungkap,” kata Reza. Apakah itu indikasi bahwa Angie berbohong? Tentu saja tidak bisa langsung disimpulkan seperti itu. “Yang bisa saya simpulkan sebagai akademisi, ada kesenjangan antara yang verbal dan nonverbal. Kalau seseorang aman-aman saja, tenang-tenang saja, tak ada sesuatu yang ditutup-tutupi, ya tidak ada penyimpangan terhadap psycho-physical parallelism,” kata Reza.

Boks: Ungkapan Berjarak

Paul Ekman, pakar psikologi emosi University of California, San Francisco, AS, mengatakan bahwa salah satu ciri orang yang sedang berbohong adalah bicara menggunakan distancing language (ungkapan berjarak). Ekman memberi contoh kata-kata Bill Clinton ketika menegaskan tak melakukan hubungan seksual dengan Monica Lewinsky. Saat itu, Clinton bilang, “I did not have sexual relations with that woman, Miss Lewinsky.” Clinton menggunakan kata-kata berjarak “that woman” (perempuan itu) padahal jelas-jelas ia kenal dengan Lewinsky. Lewinsky bukanlah orang asing baginya. Pada akhirnya memang terbukti dia sedang berbohong. Tujuh bulan setelah itu ia mengaku, “I did have a relationship with Miss Lewinsky that was not appropriate.”

Bentuk ekspresi lain saat menutupi kebohongan adalah reaksi formasi. Ini mekanisme psikologis ketika seseorang menutup-nutupi sesuatu yang ekstrem dengan cara yang berseberangan. Misalnya, seseorang yang sifat aslinya tidak begitu ramah dan bersahabat menutupi kebohongannya dengan cara bersikap sangat ramah dan bersahabat.

Teori psycho-physical parallelism ini merupakan kajian akademis dalam psikologi. Jadi, sekalipun tidak bisa memberi hasil dengan akurasi 99,9% seperti analisis kimia, kategorinya sudah ilmiah. Kata Reza, pendeteksian kebohongan harus dilakukan berdasarkan empat faktor, yaitu kata-kata verbal, gestur, ekspresi wajah, dan konteks situasinya. Keempat unsur ini saling terkait. Itu sebabnya Reza menyarankan kita tidak mudah menghakimi seseorang berbohong hanya karena melihat gestur tubuhnya. “Bisa saja orang berkata jujur tapi tampak berbohong. Keempat faktor di atas harus diperhatikan,” katanya. (*)

Boks: “Kebohongan” Pendeteksi Kebohongan

Teori paralelisme fisiologi-psikologi ini juga yang menjadi dasar kerja poligraf, alat yang biasa kita sebut secara populer sebagai pendeteksi kebohongan (lie detector). “Itu salah kaprah,” kata Reza. Alat ini tidak mendeteksi kebohongan, melainkan mendeteksi perubahan fisiologis seseorang.

Dasar teorinya, ketika seseorang berbohong, emosinya mengalami perubahan. Napasnya menjadi lebih cepat, denyut nadinya meningkat, dan tangannya berkeringat. Perubahan-perubahan inilah yang diperiksa poligraf. Hasil pemeriksaan ini selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk melihat adanya kesenjangan antara apa yang diucapkan dengan respons yang ditunjukkan. Ini selanjutnya digunakan sebagai dasar dugaan seseorang berbohong atau tidak.

Dugaan ini mungkin saja salah—istilahnya, positif palsu. Seseorang yang merasa grogi atau cemas saat diinterogasi akan kelihatan seperti berbohong meskipun ia sedang berkata jujur. Soalnya, pada saat ia grogi, denyut nadinya meningkat, napasnya lebih cepat, tangannya juga berkeringat. Sebaliknya, orang yang sangat terlatih berdusta bisa saja lolos di pemeriksaan lie detector karena kebohongan tidak membuat denyut jantungnya meningkat, napasnya lebih cepat, maupun berkeringat.

Seorang penjahat yang terlatih bisa juga mengecoh lie detector dan mengelabui polisi agar memperoleh informasi yang salah. Misalnya, ia bercerita tentang kejadian yang sebenarnya sambil menggigit lidah. Karena lidah terasa sakit, maka jantung otomatis akan memompa darah lebih cepat ke arah kepala. Denyut nadi meningkat, napasnya juga lebih cepat sehingga poligraf akan menyangka dia sedang berbohong.

Boks: Lie To Me
Jika Anda tertarik dengan piskologi kebohongan, Anda bisa belajar dari serial film Lie to Me, yang ditayangkan di jaringan televisi kabel Fox. Mendeteksi kebohongan tentu saja tidak sesederhana dan semudah seperti yang digambarkan oleh Dr. Cal Lightman, tokoh utama serial film ini. Meski begitu, di film fiksi dengan tagline “The truth is written all over our face” ini kita bisa belajar secara populer kajian ekspresi wajah manusia yang diperkenalkan oleh Dr. Paul Ekman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s