ANTIBIOTIK (2)

Jenis-jenis Antibiotik

Kebanyakan orang awam mungkin hanya tahu beberapa nama generik atau merek antibiotik, misalnya ampisilin, amoksisilin, Super Tetra (tetrasilkin), kloramfenikol, dan ciprofloksasin. Lima nama ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan antibiotik yang beredar di pasar karena jumlah seluruhnya ada puluhan jenis. Masing-masing antibiotik memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda, digunakan untuk jenis bakteri yang berbeda-beda. Ilmunya terlalu rumit untuk kebanyakan orang. Bahkan para tenaga kesehatan pun mungkin tidak paham sepenuhnya.  
Di bawah ini adalah contoh nama-nama generik dan merek dagang antibiotik. Penjelasan di bawah ini jangan dijadikan sebagai pedoman melakukan swamedikasi. Cukup jadikan saja sebagai bekal pengetahuan, mungkin suatu hari Anda mendapat resep ini dari dokter. Konsumen cerdas tahu apa yang ia minum.
Sekali lagi, untuk urusan antibiotik, serahkan kepada dokter yang tepercaya. Kalau biaya berobat ke dokter dianggap terlalu mahal, saran saya, silakan datang ke Puskesmas. Saat ini, layanan Puskesmas sudah jauh lebih baik daripada layanan lima tahun lalu. Biayanya pun relatif murah, bisa sepersepuluh dari biaya berobat ke klinik atau praktik dokter swasta.

1.       Ampisilin. Sekarang dokter jarang meresepkannya karena memang saat ini sudah banyak sekali bakteri yang kebal dengan ampisilin akibat terlalu sering digunakan.
Secara umum, obat ini aman, termasuk bagi ibu hamil. Meski begitu, ada sebagian kecil orang yang alergi berat terhadap antibiotik ini. Untuk memastikan alergi atau tidak, kita bisa meminta dokter melakukan tes.
Penyerapan obat ini bisa berkurang oleh adanya makanan di lambung. Itu sebabnya obat ini sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong, misalnya satu jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan. Akan tetapi jika kita merasa mual minum obat dalam keadaan perut kosong, kita boleh meminumnya bersamaan dengan makan.
Contoh merek dagang obat yang mengandung ampisilin: Ampi, Binotal, Kalpicilin, Sanpicillin, Standacillin.  
2.      Amoksisilin. Obat ini merupakan “saudara kandung” ampisilin. Struktur kimianya mirip, juga sama-sama dikembangkan oleh pabrik farmasi Inggris, Beecham. Amoksisilin merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan di dunia.
Dibanding ampisilin, amoksisilin lebih banyak digunakan karena sifat kerjanya lebih baik. Penyerapannya tidak dipengaruhi oleh makanan. Bisa diminum saat perut kosong maupun saat makan.
Namun, amoksisilin punya kekurangan dalam hal ia punya kemungkinan lebih besar menyebabkan diare. Kadang diare bisa berlangsung lama dan tidak kunjung sembuh walaupun konsumsi amoksisilin sudah dihentikan. Ini merupakan salah satu alasan, kenapa kita sebaiknya tidak mudah melakukan pengobatan sendiri dengan antibiotik.   
Merek dagang obat yang berisi amoksisilin jumlahnya banyak sekali. Sekitar 200 buah. Empat kali lipat jumlah merek dagang ampisilin. Maklum, obat yang oleh orang awam disebut “amok” ini adalah antibiotik yang paling banyak dikonsumsi. Sebagian besar pabrik farmasi memproduksinya dengan berbagai merek.
Karena banyaknya kuman yang kebal, sebagian produk amoksisilin dikombinasikan dengan klavulanat. Klavulanat juga golongan antibiotik, yang diciptakan karena amoksisilin makin lama makin tidak ampuh.
Contoh merek dagang yang berisi amoksisilin: Amoxil®, Amobiotic®, Amoxillin®, Amobiotic®, Amoxsan®, Arcamox®, Bellacid®, Corsamox®, Dexymox®, Erphamoxy®, Ethimox®, Farmoxyl®, Ikamoxyl®, Intermoxil®, Kalmoxillin®,Kimoxil®, Lactamox®, Lapimox®, Leomoxyl®, Moxigra®, Opimox®, Ospamox®, Pritamox®, Scannoxyl®, Solpenox®, Supramox®, Topcillin®, Wiamox®.
Contoh merek dagang yang berisi kombinasi amoksisilin dan klavulanat: Augmentin®, Aclam®, Amocom®, Auspilic®, Bellamox®, Betaclav®, Clabat®, Claneksi®, Clavamox®, Claxy®, Danoclav®, Daxet®, Dexyclav®, Improvox®, Lansiclav®, Nufaclav®, Palentin®, Surpas®, Viaclav®, Vulamox®.
Pusing melihat banyaknya nama dagang di atas? Ini baru sebagian kecil. Belum semua. Ini hanya gambaran betapa pasar farmasi Indonesia hiruk-pikuk dengan merek dagang.
Sekalipun hingga saat ini amoksisilin masih cukup sering diresepkan oleh dokter, obat ini sudah mulai berkurang keampuhannya. Kini makin banyak bakteri yang kebal terhadap amoksisilin akibat penggunaannya yang berlebihan. Bahkan, di rumah-rumah sakit, amoksisilin sekarang sudah mulai jarang dipakai. Di sini, amoksisilin sudah tak beda jauh dengan tepung.
Sebagai gantinya, dokter sering terpaksa harus meresepkan generasi terbaru turunan amoksisilin yang harganya selangit. Contoh generasi baru amoksisilin adalah meropenem. Merek dagangnya antara lain Meronem®, Merobat®, Merofen®, Merosan®, Tripenem®, Meropex®, Caprenem®.
Tahu harganya? Benar-benar bikin kantong jebol.
Sebagai perbandingan, amoksisilin satu “emplek” (satu setrip) bisa didapat dengan uang beberapa belas ribu rupiah. Sementara meropenem satu resep bisa mencapai beberapa juta rupiah. Ini bukti bahwa ongkos mahalnya obat akan ditanggung oleh konsumen. 

———————————————————————-
Dapatkan buku karya pemilik blog ini, BUKU OBAT SEHARI-HARI,

terbitan Elex Media Komputindo, di Gramedia dan toko-toko buku.

Buku Obat Sehari-Hari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s