CUPARMAN dan MICROWIFE

 

Tulisan ini dimuat di Voxpop.id/

Jangan pernah bicara tentang emansipasi wanita dan kesetaraan jenis kelamin kalau tidak berani bicara soal dapur! Teori sosiologi terlalu abstrak sementara urusan dapur terlalu konkret dan mendasar. Maka, mari kita bicara tentang dapur lebih dulu.

 

Dalam urusan dapur, kita mungkin bisa mengambil analogi soal ASI. Dulu kampanye pemberian air susu ibu (ASI) selalu ditujukan kepada kaum hawa. Tetapi belakangan kita sadar ternyata ada pihak yang peranannya tidak kalah penting tapi selalu diabaikan, yaitu Adam. Sejak itu, kampanye pemberian ASI juga melibatkan kaum laki-laki. Dan hasilnya kita tahu, gerakan Ayah ASI memang terbukti berhasil membuka wawasan baru per-ASI-an.

 

Hal yang sama sebetulnya juga berlaku dalam urusan dapur, hanya saja sampai sekarang kita, kaum lelaki, selalu berusaha mengingkarinya. Selama ini kita selalu menganggap bahwa dapur adalah urusan emak-emak. Bahkan, dalam budaya Jawa, laki-laki yang gemar ikut campur urusan dapur biasa disebut dengan istilah ejekan: cupar.

 

Dapur alias pawon, dalam anggapan budaya Jawa kuno, adalah wilayah wong wadon yang tak boleh diintervensi wong lanang. Masak adalah kewajiban eksklusif perempuan sebagaimana macak dan manak. Tapi kini kita tahu bahwa tidak semua budaya orang tua kita zaman dulu harus terus dipelihara. Manak memang tugas perempuan yang tidak tergantikan, macak juga bawaan perempuan, tetapi masak jelas bukan wilayah perempuan saja.

 

Maka, sekarang saya mengajak para lelaki: mari menjadi orang-orang cupar. Dapur bukan daerah kekuasaan perempuan saja. Laki-laki harus tahu urusan masak-memasak. Kita sudah punya gerakan Ayah ASI, maka sudah semestinya juga punya gerakan serupa: Ayah Dapur, Ayah Pawon, atau Ayah Cupar :p

 

Tak sekadar tahu urusan dapur, laki-laki juga harus bisa memasak sendiri, minimal untuk survival. Tentu tak perlu harus memiliki keterampilan memasak seperti Rudy Choirudin atau William Wongso. Cukuplah kemampuan dasar memasak nasi, sayur, dan lauk. Jadi, tidak sekadar bisa memasak mi instan atau menanak nasi dengan “panci ajaib”, tapi juga harus bisa membuat sambal tomat, menggoreng ayam, membuat sayur asem dan sayur bening, serta menumis kangkung dan wortel.

 

Jangan takut kejantanan Anda akan berkurang. Justru sebaliknya, laki-laki yang bisa memasak, konon, tampak lebih seksi di depan wanita. Entah ini benar entah tidak. Yang jelas, seorang suami, sekalipun tidak semacho chef Juna, akan lebih dicintai istrinya jika ia bisa menggantikan tugas-tugas rutin perempuan. Bukankah kata orang-orang bijak, a happy family is but an earlier heaven? Surga dunia bisa diwujudkan lewat sambel, jangan asem, jangan lodeh, dan jangan-jangan yang lain, termasuk jangan menyakiti istri :p

 

Mengapa laki-laki harus bisa memasak? Sebab dengan keterampilan ini, ia bisa meringankan beban istrinya. Kita tahu, perempuan zaman sekarang berbeda dengan perempuan zaman dulu. Sekarang banyak perempuan sibuk bekerja padahal mereka juga harus mengasuh anak. Maka wajar jika kini makin banyak perempuan yang tidak terampil memasak.

 

Bisa jadi istri kita termasuk kategori “microwife” alias perempuan yang cuma jago menghangatkan masakan, apalagi jika ia sewaktu perawan begitu dimanja ibunya sampai tidak pernah mencuci piring sendiri. Kalau kaum laki-laki tak punya pengetahuan dan keterampilan memasak, bagaimana kita bisa membantu meringankan beban istri?

 

Ah, serahkan saja ke pembantu. Kenapa repot-repot? Mungkin begitu alasan kita. Harap diingat, asisten rumah tangga pada umumnya tidak begitu paham aspek gizi makanan. Mungkin mereka mahir membuat sayur lodeh yang enak tapi pada umumnya mereka kurang paham perihal asam amino, antioksidan, dan mineral.

 

Keterampilan memasak punya banyak manfaat, lebih-lebih buat kita yang penghasilan bulanannya selalu habis untuk membayar cicilan rumah. Walaupun tak punya uang, kita tetap bisa mentraktir istri. Tak perlu mengajaknya ke rumah makan yang pernah didatangi Pak Bondan. Cukup buatkan saja sup tomat yang sedap. Dijamin dia akan kesengsem dan bergumam, sekalipun mungkin secara diam-diam di belakang Anda, “Wah, jelek-jelek gini rupanya laki gue pinter masak ya.” (:p) Setelah makan nasi goreng itu, dia pasti akan segera mengisi status baru di Facebooknya.

 

Menu Primer

Ada dua jenis menu dasar yang menurut saya semua laki-laki sebaiknya bisa membuatnya, yaitu sayur bening dan sayur asem. Nasi goreng? No! Obama bukan ahli gizi.

 

Sayur bening adalah sayuran yang paling gampang dibuat, bahkan oleh mereka yang tidak bisa membedakan merica dan ketumbar. Sayur bening cocok digunakan sebagai eksperimen awal untuk belajar membuat sayur. Kemungkin gagalnya kecil sekali sehingga bisa membuat kita lebih percaya diri masuk kembali ke dapur.

 

Biasanya yang digunakan sebagai sayurannya adalah bayam. Bisa juga ditambah wortel, jagung muda, dan oyong. Tapi untuk tahap awal, singkirkan sayuran selain bayam. Bumbunya sederhana sekali, hanya garam, gula, bawang merah, dan temu kunci. Tak perlu penyedap rasa. Silakan googling cara membuatnya.

 

Sayur bening biasanya disarankan buat ibu hamil karena bayam memang banyak mengandung asam folat dan zat besi. Dengan kelebihan ini, sayur bening buatan suami bisa menjadi traktiran terbaik buat istri yang sedang hamil. Sayur ini tidak hanya memberi vitamin dan mineral tapi juga bisa meningkatkan hormon kasih sayang pada si calon ibu. Yang terakhir ini adalah faktor penting pertumbuhan janin yang biasanya tidak kita perhitungkan padahal sama pentingnya dengan vitamin dan mineral.

 

Sayur Asem

Ini jenis sayur yang sangat populer dan tidak begitu sulit membuatnya. Sayur asem punya kelebihan dalam hal isinya bisa bermacam-macam. Ini memungkinkan kita memperoleh gizi secara variatif dari berbagai jenis sayuran, mulai dari kangkung, kacang panjang, labu siam, labu air, jagung muda, nangka, kubis, kacang tanah, kecipir, pepaya muda, buah kelor, terong, kacang bogor, hingga daun dan buah melinjo.

 

Dalam ilmu gizi, ada pedoman umum yang berlaku untuk semua jenis bahan pangan: makin variatif makanan kita, makin lengkap gizi yang kita dapatkan. Sayur asem memenuhi kriteria ini.

 

Jika kita googling, mungkin kita akan mendapatkan resep yang bermacam-macam. Ini bisa dimaklumi karena tiap daerah memiliki ciri khas. Sayur asem ala Jawa Timur berbeda dengan sayur asem ala Betawi, Sunda, atau Solo.

 

Sebagai coba-coba, kita bisa memilih resep sayur asem sederhana dengan isi kangkung saja. Di eksperimen pertama ini mungkin kita gagal. Itu wajar karena sayur ini relatif lebih sulit dibuat daripada sayur bening. Ibu-ibu yang sudah terbiasa memasak pun kadang-kadang gagal. Dalam bahasa Jawa bahkan ada idiom khusus untuk mengejek sayur asem yang gagal: koyok uyuhe jaran. Rasanya seperti air kencing kuda.

 

Tak perlu berkecil hati kalaupun hasilnya belum memuaskan. Toh menurut ilmu gizi, rasa masakan tidak berbanding lurus dengan kandungan gizinya. Sayur asem yang rasanya seperti uyuh jaran bisa saja memiliki gizi yang lebih baik daripada sayur asem kelas restoran.

 

Sambal

Bung Karno, dalam lagu ciptaannya, Bersuka Ria, memberi resep sederhana dalam memilih pendamping, “Kalau niat mencari istri, saya pilih yang pinter nyambel.” Kita tahu Bung Karno tidak sepenuhnya bisa dipercaya dalam urusan perempuan dan kawin-mawin, tapi fakta bahwa sambal merupakan salah satu makanan Indonesia paling ajaib di dunia barangkali kita sepakati. Kombinasi antara garam yang asin dan cabai yang pedas bisa menghasilkan citarasa baru yang bisa membuat hampir segala masakan menjadi enak.

 

Lebih ajaib lagi, aneka jenis bumbu dapur dapur lainnya bisa menciptakan variasi sambal yang khas. Ditambah tomat dan terasi bisa menjadi sambal tomat-terasi yang lezat untuk dinikmati bersama ayam goreng, tempe, tahu, ikan, dan sebagainya. Ditambah kecap jadi sambal kecap yang cocok dinikmati dengan ikan bakar atau sayur sup. Ditambah tomat, jeruk nipis, dan minyak goreng bisa menjadi sambal dabu-dabu. Dan masih banyak lagi. Indonesia punya puluhan, bahkan mungkin ratusan jenis sambal. Ini adalah kekayaan kuliner yang jauh lebih layak dimasyarakatkan daripada ayam goreng ala Amerika.

 

Mengingat betapa pentingnya sambal di meja makan, laki-laki harus bisa membuat paling tidak beberapa jenis sambal dasar yang mudah diracik, misalnya sambal terasi-tomat, sambal kecap, dan sambal dabu-dabu. Dengan keajaibannya, sambal bisa sangat berguna sebagai penyelamat untuk masakan-masakan yang tidak begitu enak. Dengan tambahan sambal, sayur asem yang rasanya seperti uyuh jaran bisa menjadi lebih enak.

 

Jika kita sudah bisa membuat sambal yang enak, boleh dibilang kita sudah layak menyandang gelar laki-laki cupar alias cuparman. Setelah itu, ia baru layak bicara tentang kesetaraan jenis kelamin.

 

Selamat datang di pawon.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s