JAGA KESEHATANNYA: TUBERKULOSIS dan CACINGAN

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:

Tuberkulosis
Penyakit lain yang juga bisa menjadi penyebab anak susah makan adalah tuberkulosis (TB). Orangtua harus mewaspadai penyakit ini. “Waspada” di sini punya dua pengertian. Pertama, jangan sampai anak menderita TB tapi kita tidak tahu. Ini berbahaya. Waspada yang kedua, jangan sampai anak divonis TB padahal sebetulnya dia tidak menderitanya. Ini sama bahayanya.
Mari kita bahas kewaspadaan yang pertama lebih dulu. TB anak, atau yang biasa disebut orang awam sebagai “flek paru” memang membuat anak susah makan, kurus, berat badan tidak naik-naik, dan sakit-sakitan. Jika si kecil mengalami gejala-gejala di atas, apalagi jika ada anggota keluarga yang menderita TB, kita harus segera membawanya ke dokter. Pada anak, TB tidak ditularkan dari anak ke anak, melainkan dari orang dewasa ke anak. Entah dari orangtuanya, pamannya, bibinya, atau pembantu rumah tangga.
Orang dewasa bisa menularkan TB, bahkan ketika sedang mendongeng.
Sumber: Pedtb.gr/
Jika ternyata dokter mendiagnosis si kecil menderita tuberkulosis, kita sebagai orangtua sebaiknya mencari second opinionke dokter lain. Jika bisa, dokter spesialis anak. Lebih bagus lagi spesialis anak yang mengambil subspesialisasi paru anak. Kenapa sebaiknya mencari pendapat kedua? Sebab diagnosis TB pada anak tidak begitu mudah.
Tes Mantoux saja tidak cukup. Hasilnya bisa menipu karena tes ini hanya mengira-ngira ada tidaknya infeksi TB tapi tidak bisa memastikannya. Bahkan tes Mantoux plus tes ronsen pun masih belum cukup. Bisa saja hasil ronsen menunjukkan adanya flek di paru padahal si anak tidak menderita TB. Hasil ronsennya bisa saja jelek seperti kena TB jika si anak sedang batuk grok-grok.
Lebih repot lagi, batuk bukan gejala TB yang khas pada anak. Sekali lagi, TB anak berbeda dengan TB orang dewasa. Pada orang dewasa, TB biasanya ditandai dengan gejala batuk terus-menerus. Jika dahaknya diperiksa dengan mikroskop, akan ditemukan kuman TB di sana.
Pada anak, diagnosis TB tidak semudah itu. Untuk mengetahui apakah si anak menderita TB atau tidak, dokter harus melakukan banyak sekali pemeriksaan. Jika dokter salah mendiagnosis, anak kita akan menanggung akibatnya. Sebab, selama berbulan-bulan, dia harus minum obat yang akan memperberat kerja ginjalnya padahal sebetulnya dia tidak sakit TB.
Jika ternyata dokter kedua juga memvonis TB, kita harus mengikuti semua petunjuk dokter mengenai pemberian obat. Pengobatan penyakit ini membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi karena anak harus rajin minum obat setiap hari selama berbulan-bulan. Tidak boleh lupa satu kali pun. Jika orangtua lupa meminumkan obat tersebut, bisa jadi kumannya akan menjadi kebal dan akan lebih sulit dibasmi.
Pengobatan TB biasanya membutuhkan waktu enam hingga delapan bulan. Ketika si anak sudah selesai menjalani terapi ini dan TB sudah sembuh total, nafsu makannya biasanya akan membaik dengan sendirinya. Karena nafsu makannya membaik, kebutuhan gizinya akan tercukupi, dan badannya akan menjadi lebih berisi dari sebelumnya.
Jangan lupa, jika masih ada anggota keluarga yang menderita penyakit ini, dia juga harus menjalani terapi sampai sembuh tuntas. Selama masih ada anggota keluarga yang menderita TB, anak-anak masih belum aman dari penyakit ini. Oh ya, untuk pencegahannya, jangan lupa beri anak imunisasi dasar lengkap di Posyandu seperti anjuran pemerintah.
Cacingan
Penyakit lain yang juga sering dicurigai sebagai biang keladi GTM adalah cacingan. Banyak orangtua yang secara gampang membuat kesimpulan bahwa anaknya cacingan, lalu langsung saja memberinya obat cacing. Tak perlu pikir panjang karena toh obat cacing murah harganya.
Tiap kali anak tidak doyan makan, langsung saja ia diberi obat cacing. Sebetulnya ini adalah cara pemberian obat yang salah. Obat cacing memang harganya murah dan relatif aman. Tapi bagaimanapun penggunaannya harus tetap rasional.

Obat cacing tetaplah obat, yang hanya perlu diminum ketika sakit. Walaupun “cuma” urusan cacingan, untuk memastikannya, kita sebaiknya membawa anak ke dokter. Dengan begitu, si kecil hanya akan minum obat cacing kalau memang benar-benar sakit cacingan. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s