JANGAN PAKSA MAKAN

Buku lengkap SOLUSI ANAK SUSAH MAKAN bisa diunduh dengan mengklik gambar berikut:

Jika anak tidak mau makan, siapa yang salah? Orangtua ataukah si anak? Orangtua mungkin bersalah. Anak-anak tidak mungkin. Mereka hadir ke dunia dengan membawa sifat-sifat yang bukan pilihan mereka sendiri. Ada memang anak yang sangat doyan makan sejak bayi, tapi ada sebagian anak punya masalah serius dengan nafsu makannya. Jika itu memang bawaan bayi, orangtua harus mau menerimanya apa adanya. Orangtua tidak perlu membanding-bandingkannya dengan anak lain yang doyan makan. Ini hanya akan membuat orangtua tidak telaten mengurus anak. Bukankah cinta adalah kesediaan menerima apa adanya? J 
Dalam hal ini orangtua sering melakukan kekeliruan. Karena tidak sabar melihat anaknya yang terus menutup mulutnya, mereka kadang memaksa memasukkan makanan ke dalam mulut si kecil. Padahal, semua referensi kesehatan anak menyatakan hal yang sama: jangan memaksa dan memarahi anak dalam urusan seperti ini.
Sekali lagi, kegiatan makan harusnya menyenangkan. Jika anak-anak dimarahi dan dipaksa-paksa, bisa jadi dia malah mengalami trauma psikis dan menyebabkan dia makin tidak suka kegiatan makan. Paksaan dan marah-marah tak pernah menyelesaikan masalah.
Orangtua juga disarankan agar tidak menghukum anak untuk urusan ini. Tujuan kita adalah tujuan jangka panjang, yaitu melatih anak agar dia suka makan makanan bergizi, bukan tujuan jangka pendek agar dia mau menelan makanan. Kalau dia makan dengan paksaan dan hukuman, itu justru akan membuat dia benci dengan kegiatan makan. Orang dewasa saja tidak mau dipaksa-paksa atau dihukum, apalagi anak-anak.
Suapan Kecil-Kecil Saja
Sebagian orangtua punya kebiasaan menyuapi anak dengan porsi suapan yang besar-besar sampai si anak molo-molo (mulutnya penuh) dan kesulitan mengunyah makanan. Alasan mereka, agar jumlah makanan yang masuk ke mulut si anak lebih banyak. Ini sebetulnya bukanlah kebiasaan baik. Orang dewasa saja tidak dianjurkan makan dengan suapan melebihi kapasitas mulutnya, apalagi anak-anak.
Mulut manusia mirip corong. Kalau kita mengisi corong dengan terlalu banyak pasir, mungkin saja pasir itu justru akan macet, tidak bisa mengalir. Begitu pula mulut bayi. Suapan besar-besar akan menyebabkan bayi tidak nyaman makan. Ini justru akan meningkatkan kemungkinannya mogok makan.
Sekali lagi targetnya adalah agar anak doyan makan, bukan agar dia menelan makanan. Ini dua hal berbeda yang sering tidak disadari oleh orangtua.
Suapan besar-besar adalah bentuk ketidaksabaran orangtua menghadapi anak. Porsi suapan mestinya secukupnya saja sesuai dengan kapasitas mulutnya. Tugas orangtua berikutnya adalah membuat si anak tetap mau membuka mulutnya sampai gizinya tercukupi. Tanpa paksaan.
Paksaan lebih banyak mudaratnya bagi anak. Tidak hanya dalam urusan makan tapi juga dalam urusan pengasuhan anak secara umum. Sekadar contoh, anak yang baru usia playgroup tidak perlu dipaksa belajar baca-tulis-hitung karena usia itu adalah usia bermain. Kalaupun dia perlu belajar, proses itu harus dilakukan dengan bermain. Pemaksaan dan ancaman hanya akan membuat anak justru tidak menyukai kegiatan playgroup.
Hal yang sama juga berlaku dalam urusan makan. Paksaan dan ancaman hanya akan membuat si anak justru tidak menyukai kegiatan makan. Padahal itu adalah tujuan utama kita.
Setop Tipuan
Kadang untuk menyiasati agar anak mau makan, orangtua melakukan trik tipuan. Misalnya, si kecil dibiarkan menonton film kartun di televisi, lalu pada saat dia melongo menyaksikan Masha bermain petak umpet dengan Beruang, kita menyuapkan nasi ke dalam mulut si bayi.
Kami pun dulu melakukannya. Kebetulan anak kami sejak usia setahun sangat menyukai Pigloo, tokoh kartun pinguin yang mungkin merupakan kartun pinguin paling lucu di dunia. (Kalau penasaran, silakan cari di Youtube). Dalam sehari, si kecil bisa minta diputarkan video Pigloo belasan kali di ponsel.
 
Sumber: Centerblog.net
Kalau sedang melihat Pigloo berjoget di lagu Ca Plane Pour Moi, dia bisa begitu terkesima sampai mulutnya melongo. Di saat itulah sendok berisi nasi diam-diam mengendap-endap lalu menyelinap masuk ke dalam mulutnya.
Belakangan kami menyadari, cara ini sebetulnya termasuk kategori penipuan. Kalau si anak kemudian mau mengunyah dan menelannya, mungkin tidak ada masalah. Tapi jika ia ternyata benar-benar tidak menyukai makanan itu lalu melepehnya, ini bisa menjadi sumber trauma. Sangat mungkin itu justru akan membuat dia makin tidak suka dengan kegiatan makan.

Sekali lagi, tujuan kita adalah membuat anak menyukai kegiatan makan, bukan agar dia menelan makanan. Tujuannya adalah agar dia menyukai ikan dan brokoli, bukan agar dia menelan keduanya. Namanya saja “latihan”, bisa gagal, bisa berhasil. Kalau gagal, harus dicoba lagi sampai berhasil. Itu inti dari latihan. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s